The Blue Eyes

The Blue Eyes
mata biru


__ADS_3

dua bola mata indah yang mempesona, sayang nya.. penglihatan nya tak seindah kedua bola mata itu. air mata sering keluar di mata itu, raut wajah takut sering di tampakan oleh nya


rasa takut itu..semua karna mata itu, melihat semua yang tak terlihat roh dan kematian


beberapa orang yang berlalu lalang di hadapan Amaya di selimuti asap hitam dia tau asap itu adalah tanda bahwa orang itu akan mati.


roh-roh yang berterbangan menampakan wajah yang menyeramkan, mata indah nya ia tutup dengan kaca mata hitam.untuk melindungi diri nya agar tidak bertatapan mata dengan roh roh itu


memang ini tidak nyaman tapi mau bagaimana lagi,jika kaca mata ini di buka mata sialan ini memikat mereka dan ingin masuk ke tubuh ini.


hari ini dia mendapat panggilan interviu di salah satu perusahaan tapi sesutau tiba" saja terjadi saat dalam perjalanan bis yang ia naiki berhenti di tengah jalanan yang macet


"sial" gerutu nya sambil bergegas keluar bis dia berlari menabrak beberapa roh di hadapan nya, diiringi dengan sirine ambulan dan mobil polisi Amaya terus berlari hingga sampai pada titik dia melihat penyebab dari kemacetan parah itu adalah kecelakaan antara mobil sedan dengan truk.


Amaya terdiam sejenak. melihat roh dari supir truk yang melihat jasad nya sendiri terjepit oleh kepala truk yang ringsek,dia juga melihat seorang peria berpakain rapih memakai jas hitam putih yang kebingungan memegang kepala nya peria itu terus di ikuti oleh seorang wanita bergaun putih Amaya tau wanita itu adalah roh tapi seperti nya si wanita itu tidak tau kalo dia sudah mati.


sudah terlalu sering melihat sepeti ini.dia tidak peduli dan hanya menghela nafas, mendorong kacamata nya yang hitam. bagi nya saat ini urusan nya lebih penting dari hal ini mendapatkan pekerjaan saat ini begitu sulit maka saat ada panggilan interviu seperti sekarang ini dia tak mau mensiasia kan kesempatan ini tanggung jawab nya untuk membiayai adik nya yang saat ini duduk di bangku SMA kls 2 begitu besar semenjak kedua orang tua nya meninggal dia adalah kakak sekaligus orangtua bagi adik nya hidup adik nya bergantung pada nya.. bukankah menjalani hidup di jaman sekarang ini begitu mahal walau tidak mengikuti trend tapi kan kebutuhan sehari-hari juga sangat mahal belum lagi biaya sekolah adik nya..


...belum sampai ke tempat dia interviu.....


tiba-tiba saja angin dingin menggelitik telinga nya dia tak menghiraukan langkah nya semakin cepat tapi semakin dekat juga angin dingin itu mendekat pada nya


"jangan berlari itu percuma saja" suara serak yang mengerikan berbisik pada nya


Amaya tak menghiraukan bisikan itu dia lebih memilih memakai headset ketelinga nya dan menyalakan musik yang begitu keras..


" baiklah kalau itu mau mu.aku akan memaksamu!!" kesal si roh perempuan itu. yang kemudian menghilang dan tiba-tiba muncul di depan Amaya.


...Amaya sama sekali tidak terkejut...


"apa mau mu?" tanya nya dingin


roh itu tersenyum sinis


"sudah ku duga.. dari awal aku lihat kamu, aku tau kamu bisa lihat roh"


Amaya terdiam mengingat kalo dia tadi tidak sengaja menurunkan kaca mata nya saat memperhatikan kecelakaan itu. dia menarik nafas. astaga apa tidak boleh lengah sedikitpun pikirnya..


"jangan ganggu aku.!!" kembali dia menjawab dingin dan tegas, lalu melanjutkan langkah nya,tapi roh itu terus halangi langkah nya hingga akhirnya dia terlambat untuk interviu


"apa mau mu ..!!!" kesal nya


"bantu aku.?" si roh memelas, darah tak hentinya mengucur di leher nya, itu sama sekali tidak membuat nya jijik. karna sudah terbiasa melihat darah..asalkan, tidak mengeluarkan bola mata dan belatung yang tercampur nanah saja. karna itu menakutkan kadang jika ada beberapa roh yang mengganggu nya dalam keadaan yang menakutkan dia bisa sampai terbawa mimpi dan menangis,ingin rasanya mata ini dia keluarkan, andai saja dia tak punya tanggung jawab untuk menghidupi adik nya dia lebih memilih buta.


"aku tidak bisa membantu mu!!" ketus Amaya sambil duduk..hati nya saat ini begitu kesal karna gagal interviu,dia bingung harus bagaimana lagi untuk mencari uang sementara roh-roh ini terus mengganggu nya


" kenapa kamu terus pakai kaca mata?" roh itu menatap nya heran "apa karna mata indah mu itu?" dia menunjuk mata Amaya


" bukan urusan mu.. pergilah" usir nya tegas


"aku mohon tolong aku"


"aku tidak mau"


"aku mohon"


"tidak"


"aku mohon"


"tidak" Amaya membuang muka dari roh itu


"dengar ya.! tubuhku ini, nyawaku ini, berharga bagiku. aku tidak mau menyia-nyiakan kehidupan ku, seperti kalian.!" tegas nya lalu hendak berjalan pergi meninggalkan nya,


roh itu tersenyum


"apa kamu tidak lihat luka di leherku ini? apa kamu pikir aku menggorok leherku sendiri, karna ingin mati? kalo aku ingin mati kenapa


aku harus meminta tolong pada mu.lebih baik aku diam dan menikmati kematian ku.. hidupku berharga sama sepertimu..takdir yang buruk tiba-tiba datang di kehidupan ku, memaksaku meninggalkan anak ku yang sekarang berbaring di rumah sakit...."


"aku harus apa?" potong Amaya seketika entah kenapa dia langsung setuju untuk membantunya


mata sialan ini terus mengubah pendiriannya.mau bagaimana lagi roh wanita ini bercerita kalo dia di bunuh oleh suami nya sendiri hanya karna tak memberi nya uang untuk berpesta dengan selingkuhan nya, saat ini anak nya masuk rumah sakit karna DBD..dia inginkan roh nya masuk ke tubuh Amaya untuk mendatangi suami nya agar membayar biyaya rumah sakit yang semakin menunggak pihak rumah sakit tidak bisa ambil tindakan pemberian obat yang bagus untuk anak nya,


Amaya membuka mata nya perlahan. dia duduk di ranjang rumah sakit entah apa yang terjadi dia merasa pusing dan sakit di lengan nya


terluka?, batinnya melihat tangan yang sudah di perban


"maaf, kamu jadi terluka karna aku,?"


suara roh wanita itu, mengingatkan nya dari kejadian sebelumnya.

__ADS_1


"apa yang terjadi?" tanya nya


beberapa orang di ruangan itu menengok ke arah Amaya berpikir knapa dia bicara sendiri


"aku menemui suamiku yang sedang bercinta dengan selingkuhan nya, untuk mengambil kembali uang ku. tapi si berengsek itu malah mengira kalo kamu adalah wanita penggoda dan sengaja datang untuk menemuinya tentu itu membuat si pelakor marah, ternyata bajingan itu juga membuat si pelakor rugi,karna marah pada mu dan merasa rugi si pelakor itu hendak memukul kepala mu dengan vas bunga dari kaca tapi aku tahan, tanganmu jadi terluka, aku sudah menghubungi polisi untuk menangkap nya dan jasad ku sudah di urus oleh Tante ku, andai aku tau kalo aku akan mengalami kejadian separti ini aku pasti akan menghubungi Tante ku terlebih dahulu"


Amaya hanya diam berpikir kalo wanita ini ternyata baru saja mati sambil menurunkan kedua kaki nya di ranjang,


"kamu awalnya pasti berpikir kalo kamu bisa mengatasi semua"


"iya. aku tidak peduli soal suamiku yang selingkuh tapi setelah dia mengambil uang untuk biyaya anak nya. aku kesal bahkan dia tidak memikirkan darah daging nya sendiri, sedikitpun"


"lalu bagaimana dengan anak mu?"


"aku sudah ambil kembali uang ku yang di ambil, dia sudah di tangani oleh dokter, dan kamu jangan kuatir Tante ku akan datang menemui nya....ngomong-ngomong apa boleh aku tau satu hal?"


mendengar hal itu Amaya merasa miris dengan dunia medis sekarang. ternyata bagi mereka nyawa gak ada apa apa nya di banding harta.. ia menggeleng pelan tersenyum sinis


"apa?"


" kenapa tadi pagi kamu turunkan kaca mata kamu, kalo kamu tidak ingin mata itu di lihat oleh roh..aku yakin bukan karna kamu melihat roh supir itu kan?"


seketika Amaya terdiam. karna apa?


"tapi bagaimanapun aku sangat berterima kasih ke kamu, terimakasih banyak sekarang aku bisa pergi dengan tenang."


roh perlahan menghilang


seorang peria berpakain dokter terkejut melihat Amay yang sedang bersiap-siap untuk pergi .


"oh.. kamu udah bangun?" dia berlari kecil mendekati Amaya membantu Amaya turun dari ranjang nya.


"apa kepalamu masih pusing?" tanya nya tersenyum melihat wajah Amaya


"tidak?" seperti biasa di jawab dengan dingin


"mmm tadi kamu pingsan di ruangan pasien anak." jelas nya kini dia menghadap Amaya


"ya"


"eum apa boleh aku tau siapa nama mu?"


"apa itu penting" Amaya melirik ke arah dokter


Amaya menghela nafas


"keluarganya sebentar lagi datang. jadi tidak perlu mengetahui namaku."


"oh,ok.... tapi ngomong-ngomong mata kamu, indah ya?"


Amaya segera membuang muka dan memakai kaca mata nya, bergegas pergi meninggalkan si dokter.


"hey tunggu!"


langkah Amaya berhenti,


"apa masih ada masalah?"


"eum resep obat" si dokter sambil tersenyum memberikan selembar kertas ke Amaya, tentu Amaya mengambil keretas itu dengan jengkel tapi si dokter dengan santai nya menunjukan nama nya yang menempel di kemeja putih nya


GIO PRASETIO


dengan wajah dingin nya Amaya tak pedulikan itu, dia malah memikirkan pertanyaan si hantu. siapa yang dia lihat ,apa mungkin orang yang dia kenal, lalu kenapa dia sampai menurunkan kaca mata hingga si roh wanita itu melihatnya membuat nya terluka.


dia terdiam,sejenak bukan karna merasa sakit di tangan nya tapi karna lelaki yang di hadapan nya ternyata dia..


"Rey Malik ." gumam nya pelan,mengejutkan nya, peria yang dia lihat sebelumnya di kecelakaan tersebut adalah dia..dia yang membuat Amaya menurunkan kacamata nya, peria tampan yang berpenampilan berantakan itu sedang menelepon seseorang dengan nada marah." hari tunangan ku malah menjadi duka seperti ini !! dan kamu malah membicarakan pekerjaan apa gunanya sekertarisku..!!! bicarakan itu pada nya!!!! " kesal nya memaki


" tapi pak, sekertaris anda..." jawaban di sebrang sana terdengar gugup


"jangan hubungi aku lagi tentang pekerjaan atau kamu ku pecat!!!" ancam Rey, lalu menutup telepon nya melihat ke arah Amaya


"tak di sangka ternyata aku bertemu lagi dengan nya, orang yang aku lihat pagi tadi itu dia" tutur Amaya pelan, jantung nya berdetak hebat saat Rey mendekat pada nya di ikuti oleh satu roh wanita yang penuh darah di sekujur tubuh nya, Amaya tak bisa berkata apapun saat wajah tampan Rey yang kini berantakan itu tepat di hadapan nya dia dengan sengaja menyenggol bahu Amaya, ia berjalan cepat menuju seseorang yang ada di belakang Amaya, saat itu pula tanpa sengaja Amaya melihat si roh wanita dengan jelas luka di sekujur tubuh nya perlahan menghilang roh wanita itu juga di kelilingi asap hitam, sungguh kejadian yang sangat aneh. Amaya belum pernah melihat itu sebelumnya


apa itu?, bukankah dia sudah mati? kenapa terus di ikuti asap hitam?, pikirnya dia melangkah menuju tempat farmasi,


"silahkan, selesaikan dulu administrasi nya, atas nama siapa, kemudian nanti bisa mengambil obat nya di sini"


jelas petugas di rumah sakit itu tanpa basa basi Amaya pun mendekati meja administrasi


dan duduk di depan petugas yang sedang sibuk dengan komputer nya,

__ADS_1


"atas nama siapa?"


"Amaya Hartono"


"sebentar ya, harga obat dan pemeriksaan nya jadi satu juta" jelas si petugas


Amaya menggigit bibir bawah nya, lupa jika dia tidak memiliki uang sepersen pun bahkan dia tidak tau di mana tas dan head phone nya sekarang ..


" aku tidak ada uang" jelas Amaya, si petugas memutar kedua bola mata nya terlihat jelas di wajah nya kalo dia males melayani orang yang datang berobat tapi tak punya uang


" haduh bak, kalo gak punya uang kenapa berobat ke sini, urut aja sana ke tukang urut,udah tau miskin datang ke tempat kaya gini, malu dong"


"astaga, orang-orang medis di sini mulut nya tidak berpendidikan ya?"


" apa?"


"apa ucapan ku kurang jelas, perlu aku ulang?"


"heh bak, kalo gak punya uang jangan ngatain orang dong!!"


"bukan nya kamu yang duluan, lagian rumah sakit ini sepertinya hanya melihat uang baru mau menangani pasien kan?"


" a.. a apa maksud mu?" si petugas terbata-bata terlihat jelas kalo dia takut ada orang yang mendengar ucapan Amaya, Amaya terdiam melihat hantu yang ada di samping si petugas,dengan mata yang masih di lindungi oleh kaca mata Hitam nya dia terus memperhatikan hantu itu yang terus mencium bau dari si petugas


" ngomong-ngomong, menurutku minyak wangi mu itu seperti bau bunga kantil"


" apa?! ka kakamu mengatai ku lagi.!! kamu pikir kamu wangi hah!!" si petugas tak terima dan membentak Amaya hal itu membuat semua orang yang ada di tempat itu tertuju ke arah mereka ber dua termasuk rey


"aku tidak bilang kalo aku wangi, tapi aku sarankan kalo kamu harus ganti parfum, karna kalo tidak pegal-pegal di tubuhmu itu tidak akan sembuh" jelas Amaya lalu berdiri


"aku tidak butuh saran kamu!! sekarang begini saja kalo kamu tidak mau bayar cepat pergi dari sini!!"


"ada apa ini?" tanya Rey mengejutkan Amaya dan si petugas


"bo...bos?" kejut si petugas, sementara Amaya tetap diam bertanya-tanya dalam hati nya apa peria tampan ini mengenali nya atau tidak? mudah-mudahan tidak, lalu mengapa si petugas memanggil nya dengan bos? apa mungkin ini rumah sakit milik nya.? Amaya mengangguk mengerti...si roh yang mengikuti Rey menatap Amaya, Amaya yang menyadari itu segera mendorong kaca mata nya dan membuang muka


" jelaskan padaku apa yang terjadi"


"ini, bos, nona ini berobat ke sini tidak mau bayar, tapi dia malah mengatai ku.." jelas si petugas, Amaya tersenyum sinis tak menyangka ada petugas seperti dia padahal jelas-jelas dia yang mengatai Amaya lebih dulu


"nona kenapa anda tidak mau bayar, ?" tanya Rey, melihat Amaya


"aku tidak ada uang"


"lalu kenapa anda berobat ke sini kalo tidak ada uang?"


"aku ke sini bukan karna kemau.an ku, aku ke sini karna...." seketika ia terdiam tak mungkin harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi "lupakan" lanjut Amaya


" oke, kalo kamu ke sini bukan karna kemau.an mu lalu kenapa kamu ada di sini,? tentu karna kamu terlukakan mangkannya kamu ada di sini.?" tekan Rey , peria ini benar-benar tidak berubah batin Amaya, ia menghela nafas


" baiklah, aku tidak sadarkan diri.. tiba-tiba saja aku ber ada di rumah sakit ini"


"oh, korban tabrak lari."


" terserah.. apa kata mu"


" lalu bagaimana ini bos?" tanya si petugas


" tahan dia"


"apa?"


"dengar ya, kamu banyak kesalahan nya, pertama kamu berbicara denganku itu sangat tidak sopan bahkan kaca mata butut mu itu tidak di buka. kamu pikir kamu siapa? lalu kedua kamu mengatai pegawai ku, kemudian yang terakhir kamu berobat di sini tidak mau bayar kamu pikir ini rumah sakit nenek moyang mu? lihat lah tangan mu yang terluka sudah di obati dan di perban dengan rapih bukan nya berterima kasih malah membuat gaduh di rumah sakit ku!" jelas Rey yang kemudian hendak pergi namun tertahan dengan ucapan Amaya


" astaga.. rumah sakit sebesar ini ternyata memiliki pemimpin seperti mu sungguh tak di sangaka, pantas pegawai nya tidak sopan," Amaya melirik Rey yang kemudian menengok kesal ke arah amaya kini jarak mereka begitu dekat "apa maksud mu? kamu meledek ku?"


" lihat lah dirimu, yang hanya melihat harta di banding nyawa seseorang, aku tau jelas kalo rumah sakit ini hanya mau menangani pasien jika sudah di bayar, lalu bagaimana kalo pasien itu miskin sepertiku dan dalam kondisi sekarat, mereka akan mati lebih dulu sebelum kalin tangani, apa menurut kalian nyawa seseorang itu lolucon, "


"hari ini aku benar-benar mengalami hal buruk.. jadi sebelum aku semakin marah ke kamu, lebih baik kamu cepat urus administrasi mu dan pergi dari sini sebelum aku melaporkanmu karna pencemaran nama baik rumah sakit ini!!!"


tegas Rey, menatap Amaya dengan penuh amarah karna berpikir apa yang di ucapkan Amaya itu sama sekali tidak benar.. tapi Amaya tersenyum sinis karna tau betul kalo memang rumah sakit itu memiliki citra buruk


"apa kamu tuli? aku tidak ada uang!!! "


"kalo begitu bersiaplah aku akan melaporkan mu!!" ancam Rey


" tidak perlu repot-repot melaporkan ku, aku tidak akan ambil obat mu dan pengobatan ini..." Amaya membuka perban yang membalut luka di tangan nya dengan kasar lalu tanpa ragu dia melempar bekas perban itu ke muka Rey, tentu ini membuat Rey semakin murka apalagi kejadian ini di saksikan oleh beberapa pegawainya di hari terburuk nya ini, dia menahan tangan Amaya yang hendak pergi lalu menariknya dengan kasar sampai-sampai kacamata amaya hendak copot, saat itu pula mata biru nya yang indah terlihat oleh Rey dan membuat Rey terdiam entah kenapa


"mata biru" ucap Rey pelan,


namun apa yang di kawatirkan Amaya saat itu bukan Rey yang mungkin mengenali nya.. melainkan roh yang ada di samping Rey, tanpa sengaja pandangan mereka bertabrakan, buru-buru Amaya mendorong kaca mata nya.

__ADS_1


" kamu...... bisa ...lihat aku?" ucap si roh tak percaya


__ADS_2