The Blue Eyes

The Blue Eyes
apa bagimu nyawa tidak ada harga nya?


__ADS_3

"lepaskan aku!!!" Amaya merontakan tangan nya yang di genggam erat oleh Rey, namun Rey tetap optimis menarik amaya memaksa nya masuk ke dalam mobil


"apa an sih kamu" bentak Amaya setelah Rey masuk mobil, dia tak mempedulikan supir yang ada di kemudi depan."jalan pak" tanpa pedulikan ucapan Amaya


"baik"


"tidak.tunggu dulu" Amaya menghentikan si supir yang hendak menyalakan mesin mobil


"apa kamu. kesal" lanjut Amaya kemudian menatap Rey dengan penuh kebencian


"hey, mata biru.. kenapa aku harus kesal.. apa kamu berpikir kalo aku cemburu. melihat mu dengan peria lain?"


"tidak, kamu kesal karna aku tidak di penjara"


"apa? apa maksud mu" Rey mengerutkan halis nya tidak mengerti maksud nya


"jangan berpura-pura tidak tau, aku tau kamu yang melaporkan ku" suara Amaya meninggi membuat si supir merasa tidak nyaman berada di dalam mobil, dia memilih keluar mobil tanpa harus meminta ijin dari si bos... Rey menghela nafas


"atas dasar apa aku melaporkan mu?"


"pencemaran nama baik" Amaya meluruskan pandangan nya wajah kesal nya membuat Rey mengerti


"aku tidak melaporkan mu,aku sungguh-sungguh tidak melaporkan mu"


"heumm masih saja bermuka dua"


"dan kamu, masih saja membenci ku" jelas Rey


" kemarin setelah kamu pergi, aku baru tau kalo apa yang di ucapkan kamu itu benar. seorang peria membawa istri nya yang hamil tua dan hendak melahirkan harus membayar administrasi dulu baru bisa di tangani sementara si peria tidak membawa uang sepersen pun dia berpikir istri dan anak nya selamat terlebih dahulu baru akan di bayar tapi..dia di paksa harus membayar administrasi dulu. hal itu di lihat langsung dengan mata kepala ku sendiri, sekarang ini anak buah ku sedang menyelidiki masalah ini " tutur Rey Amaya hanya diam, lalu hendak membuka pintu mobil tapi tertahan dengan ucapan Rey..", apa kamu masih membenci ku?" tanya Rey pelan namun penuh harapan


"kejadian itu.. sungguh aku tidak sengaja, aku bahkan..." dengan terbata-bata


"cukup,!!!" potong Amaya, jujur hati nya merasa sakit bila dekat dengan Rey apalagi dia mengungkit tentang kejadian itu, kenapa harus bertemu dengan nya lagi sungguh ia tak menyukai takdirnya apapun tentang hidup nya dia tidak menyukai nya, bertemu dengan roh-roh itu dan melihat orang yang akan mati lalu kembali di takdirkan bertemu dengan Rey


"aku, tau kamu melihat tunangan ku lita, yang sekarang sedang koma?" pernyataan nya rey mengejutkan Amaya,


tunangan? balas dendam? seorang anak? dan wanita itu koma?


mungkinkah Rey peria yang di maksud Lita, ? jadi lita koma, pantas dia bisa menyentuh nya, dia rupa nya masih hidup tapi roh nya itu di kelilingi oleh asap hitam apakah lita sebentar lagi akan mati, lalu kalo benar Rey adalah peria yang menghamili kakak nya dan Lita bermaksud untuk balas dendam pada nya ini jelas membuat diri nya semakin tidak bisa jauh dari peria ini, dia tak mungkin bisa melupakan perjanjian nya dengan Lita, dia tau betul rasa sakit saat di ingkari janji apalagi dia tau kalo lita akan segera mati, lita tidak akan meninggal dengan tenang kalo dia tidak mengabulkan balas dendam nya pada rey


namun Amaya sungguh tidak ingin berurusan lagi dengan Rey, rasa nya sudah sangat sakit bahkan berada dekat dengan nya seperti ini pun seperti mengkorek luka yang hampir sembuh di hati malah kembali berdarah dan semakin dalam dan pedih karna di beri perasan air lemon.


tapi takdir nyatanya membawanya pada kisah masa lalu nya lewat mata biru nya dia bertemu dengan Roh-roh yang menuntun nya kembali ke kehidupan rey


"mata biru?" suara Rey berat dia penasaran apa Amaya melihat Lita atau tidak


"aku melihat nya,!! tapi dia tetap akan mati!!"


"apa dia mengatakan sesuatu? kenapa hari itu dia pergi?"


" ya, tapi tidak bisa aku beri tau, dan aku tidak tau alasan dia pergi"


" tadi kata polisi. ada seseorang yang sengaja mencelakai nya, waktu itu, aku ingin tau alasan dia pergi dan apa motif orang yang sengaja mencelakai nya" jelas Rey


dia sepanik ini mendengar ada orang yang sengaja mencelakai Lita, yang bahkan dia tidak tau kalo lita hanya ingin balas dendam,,, hati Amaya menggerutu


tanpa berkata apapun Amaya membuka pintu mobil


"bisa beri tau aku..." ucapan Rey terhenti saat Amaya keluar dan membanting pintu mobil..


"aku putuskan untuk melupakan janji ku pada Lita lebih baik aku tidak bertemu dengan nya lagi" ucap nya pelan


Amaya berjalan menunduk, kaos oblong nya yang kegedean berpadu dengan celana jeans pendek nya membuat nya leluasa melangkah cepat mesti angin bertiup kencang, dia melihat langit yang mendung cepat ia menuju halte bus, dan benar saja begitu sampai hujan turun begitu lebat


sementara itu di ujung sebrang sana mobil Rey berhenti, sepertinya Rey mengamati Amaya yang terlihat kedinginan dengan pakain seperti itu.


hujan sepeti ini membuat nya semakin ingat ke tujuh tahun yang lalu


dimana dia masih duduk di bangku SMA. semua orang menganggap nya gila sejak dulu Amaya memang tak memiliki teman karna mereka menganggap Amaya gila tak jarang ada juga yang memanggil nya dukun karna tau kematian seseorang, satu sekolahan terus mencibir nya sampai suatu hari saat turun hujan dia tidak sengaja membawa payung untuk pulang ke rumah


"nih" suara laki-laki berambut coklat tersenyum manis pada nya sambil menjulurkan payung " pake payung ku" saat itu Amaya masih memiliki poni di rambut nya dan dia sudah memakai kacamata hitam, memang kaca mata hitam itu di pakai nya sejak dia melihat para roh di usia nya yang ke 6 tahun

__ADS_1


"terimakasih" Amaya tersenyum dan mengambil payung yang Rey berikan "tapi kamu bagai mana?" dia melihat Rey yang sibuk membuka ransel nya


"aku ada jas hujan keluaran terbaru...mahal loh harga nya" sombong nya memamerkan jas hujan berwarna kuning " payung butut itu buat kamu aja.."


"oh" astaga ada ya peria sesombong ini


"oh ya.. hujan-hujan begini ngapain pake kaca mata hitam apa kamu sedang sakit mata?" tanya Rey yang malah membuat Amaya heran


"apa kamu murid baru di sini?"


"iya.. aku pindahan dari Jepang" Rey sibuk memakai jas hujan nya


"oh"


" nama kamu siapa?"


"aku Amaya Hartono"


"aku Rey Malik "


semenjak hari perkenalan itu mereka semakin dekat dan akrab, rey menceritakan semua tentang kehidupan nya dengan sombong namun dia tetap merendahkan hati nya saat bertemu orang yang membutuhkan


dia juga bercerita kehidupan nya di Jepang bersama teman teman nya melakukan uji nyali di gedung tua dan memanggil arwah yang sudah meninggal namun arwah yang di panggil tidak kunjung datang malah yang datang anjing gila, alhasil mereka di kejar-kejar oleh anjing itu Amaya tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Rey, di saat itu lah dia berpikir kalo mungkin tidak apa-apa jika Rey mengetahui yang sebenar nya tentang dirinya dan apa yang dia lihat


"Rey aku, mau memberitahu kamu sesuatu tentang hidup ku dan alasan aku memakai kaca mata ini"


" apa ? oh tunggu, aku tau. mata mu itu pasti jereng ya, kaya gini" Rey menunjukan kedua bola mata hitam nya ke arah yang berbeda


" iiihh apa.an sih gak gitu"


" hahahaha " kedua nya tertawa riang, lalu terhenti saat Amaya perlahan menurunkan kaca mata nya


"waw" gumam Rey yang kagum melihat mata Amaya yang indah berwarna biru. dia heran knapa amaya miliki warna mata biru padahal dia tidak ada turunan dari barat sangat jarang orang di Asia ini yang memiliki mata biru terkecuali ada turunan


"mata kamu? apa kamu punya turunan?"


"aku dan keluarga ku asli orang Asia tidak ada keturunan dari keluarga ku yang memiliki warna mata biru...ayah,ibu dan adik ku memiliki mata coklat seperti orang Asia pada umum nya, "


"waaw mungkin karna gen atau hormon"


"hah maksud nya"


"aku melihat apa yang mereka tidak lihat, aku merasakan apa yang mereka tidak rasakan ,dan mengetahui apa yang tidak di ketahui oleh kalian... seperti mereka"


Amaya menunjuk tiga hantu yang berdiri di belakang Rey, Rey terdiam memaku dia dengan tubuh nya yang kaku mengikuti telunjuk Amaya .... hantu-hantu itu tersenyum lebar pada Amaya, hantu berseragam sekolah itu mendekati nya mencoba masuk ke tubuh Amaya namun Amaya berkata


"jangan mendekat atau aku, akan mencium peria ini"


"jangan.. dia milik kami" jawab kompak si hantu


"apa kamu..bicara yang sebenar nya"


" tiga hantu yang ada di belakang mu itu dingin seperti es,dingin sekali, mereka menyukai mu"


"apa? kenapa harus aku, aku kan keren, ganteng kenapa yang suka pada ku malah hantu" kesal Rey,


" tapi mata indah mu itu beneran bisa lihat hantu"


lanjut Rey penasaran. Amaya menghela nafas dan memalingkan wajah nya dia melihat dua sejoli yang bertengkar, di ujung atap sekolahan.. dimana atap sekolahan adalah tempat paporit Rey dan Amaya


melihat Amaya yang menatap dua sejoli yang bertengkar itu Rey mengikuti tatapan nya


"alasan kenapa mereka menyebut ku dukun atau wanita gila dan menjadikan aku sebagai bahan lolucon adalah aku benar-benar bisa lihat hantu dan kematian " jelas Amaya


"lihatlah wanita itu dia... akan... mati." tambah nya Rey semakin tak percaya dengan ucapan nya


"astaga omong kosong apa ini"


Amaya tak pedulikan omongan Rey dia kembali memakai kaca mata nya dan menatap langit yang cerah


"nggak Jhon kamu harus tanggung jawab" bentak wanita yang bertengkar dengan kekasih nya

__ADS_1


"heh denger ya,. aku itu masih muda masa depan aku juga masih jauh, aku gak mau jadi bapak di usia muda.. mendingan ikutin kata aku gugurin tuh kandungan"


" Jhon ini darah daging kamu, kenapa kamu mau bunuh dia," si wanita memohon


"alah.. lagian tu anak masih Segede kacang Mede. belum jadi apa-apa.. udah gugurin aja" Jhon melepas tangan Vina dengan kasar sementara itu Rey terus terdiam dan menonton pertunjukan itu


" heh, dasar laki-laki pengecut" ketus Amaya


" aku gak mungkin gugurin anak ini aku gak mau Jhon"


" ya udah kalo gitu, asuh aja sendiri "


"aku mau kamu tanggung jawab"


"gak bisa,!!! ilangin tuh anak!! atau aku akan menyuruh ayah aku buat pecat ayah kamu di pekerjaan nya sekarang juga" ancam Jhon, melotot Vina tiba-tiba saja berlutut dengan air mata yang tak henti nya mengalir


"nggak jhon, aku mohon jangan bawa-bawa orang tua. Jhon ini anak kamu, kamu mau jadi orang tua,ayo kita urus bersama anak ini.." rengek Vina memegang kaki Jhon "aaah aku tidak peduli. udah di kasih pilihan tentukan sekarang" Jhon menarik kaki nya dari gengaman tangan Vina yang lemah sambil terisak Vina mengangkat tubuh nya


" baiklah Jhon kamu ingin anak ini menghilang, maka aku juga akan menghilang"


"hah apa maksud mu,?" wajah Jhon yang marah berubah menjadi takut Vina terus berjalan mundur mendekati tepi gedung,


"Vin, jangan berpikir yang aneh-aneh, " Jhon tetap diam melihat kekasih nya yang terus berjalan mundur, dia sendiri merasa takut kalo sampai Vina bunuh diri


" Vin, berhenti,, jangan lakuin itu!!" bentak Jhon


Rey yang melihat mereka kebingungan harus bagaimana


" mata biru, dia..."


"mau bunuh diri?" tanya Amaya santai


"kenapa kamu dia saja ayo kita tolong mereka!!"


Amaya menghela nafas " wanita itu tidak mau mendengar ku dia sama saja seperti yang lain nya menganggap ku gila, aku sudah peringati dia untuk tidak melakukan hal bodoh, tapi dia tidak mau mendengar nya." amaya kemudian memasukan kedua tangan nya ke saku kemeja sekolah nya lalu bejalan santai meninggalkan Rey dan


Bruuuuukkkkk


sesuatu yang jatuh seperti karung berisian padat terjatuh dari tempat yang atas, Rey tidak sempat selamatkan Vina sementara Jhon pergi berlari ketakutan seketika semua orang yang ada di bawah gedung sekolahan itu berkumpul melihat jasad Vina dengan kepala yang hancur dan darah yang tak berhenti keluar dari kepala nya


"astaga apa yang terjadi" kerumunan orang-orang bergumam terkejut melihat jasad Vina


Rey segera turun mencari Amaya


selang sejam kemudian jasad itu di bawa oleh ambulan, sementara Rey masih dalam posisi mencari keberadaan Amaya yang ternyata sedang asik menyedot minuman di kantin


" waw hebat ya kamu, setelah membiarkan orang mati kamu malah dengan santai nya menyedot minuman di sini"


" kenapa? apa salah nya?"


" hah, aku gak habis pikir sama kamu.. apa bagimu nyawa tidak ada harga nya?"


"Rey, dia tidak mau dengar aku, aku sudah bilang jangan lakukan hal yang bodoh tapi dia tidak mau dengar."


" setidak nya ada usaha untuk menghentikan dia" nada suara Rey meninggi, pupil mata nya bergetar Amaya mengangkat wajah nya


"kamu marah karna aku tidak menghentikan nya,?"


"ya!!" tegas rey


"aku sudah mengatakan pada nya jangan lakukan hal bodoh apa itu bukan usaha untuk menghentikan nya? sekalipun aku minta dia untuk tidak melompat dia tetap akan mati.. aku bukan tuhan yang mengatur hidup dan mati seseorang". jelas Amaya lalu pergi meninggalkan Rey,


Hay para pembaca 😀


terimakasih sudah membaca novel the blue eyes


jangan lupa vote, komen dan share


maaf sebelum nya kalo ada salah-salah kata 😣🙏


dan update yang lambat harap maklum 🤗

__ADS_1


episode selanjut nya akan lebih seru


oh ya maaf juga kalo tidak horor aku baru belar membuat novel 😀😀 tolong di maklum😣🙏


__ADS_2