The Blue Eyes

The Blue Eyes
takdir tak bisa di ubah


__ADS_3

tubuh ibu nya masih di selimuti oleh asap hitam dia coba menguatkan diri nya, menahan kehancuran hati nya. tampak jelas di wajah Amaya kalo saat ini dia sangat kacau adik nya yang masih duduk di bangku sekolah dasar kebingungan ada apa dengan kakak nya kenapa dia terlihat kacau.. makanan di meja makan tak di sentuh oleh kakak nya sedikitpun


"ada apa kenapa hari ini terasa berbeda"


"sayang, makan lah yang banyak, kamu masih dalam pertumbuhan makanlah makanan yang seimbang ya, ibu sangat menyayangi kalian, hiduplah dengan bahagia meskipun nanti ibu tidak ada di sisi kalian" ibu nya menambahkan makanan pada piring Adit mendengar ucapan ibu nya ,Adit malah bertanya


"kenapa ibu malah berbicara seakan mau pergi selama nya?" pertanyaan itu malah membuat perasaan Amaya semakin hancur, mau tidak mau dia harus terima takdir ini, takdir yang tak mungkin bisa di ubah oleh nya,.. tapi yang membuat nya sakit adalah ketidak siapan nya harus merasakan pil pahit di tinggal kembali orang yang dia sayangi dalam hidup nya, setelah kematian ayah nya dia hanya dekat dengan ibu dan adik nya lalu Rey hadir, dan memberi bumbu di hidup nya yang awal nya terasa hambar


kehadiran Rey yang ia percayai tidak akan mengecewakan nya atau menyakiti perasaan nya justru ternyata sebalik nya.


" apa aku tidak harus masuk sekolah agar bisa menjaga ibu " keluh nya pelan. menunduk, pikiran nya penuh dengan pemikiran ingin menghilangkan asap kematian itu. tapi meskipun dia menjaga ibu sekuat tenaga pun ibu tetap akan meninggal.. takdir tak bisa di ubah ini sudah ketentuan dari sana nya


"sayang ko belum berangkat" tanya ibu nya membelai rambut Amaya, ia duduk di depan rumah pakaian sekolah di kenakan rapih oleh nya


"aku hari ini tidak sekolah ya Bu"


"sayang, dengarkan ibu, kamu harus siap, ibu juga udah siap dan ikhlas.ini sudah ketentuan kamu tidak bisa mengubah nya" ibu nya duduk di samping Amaya merangkul tangan Amaya


"tapi Bu, setidak nya aku ada di sisi ibu, di akhir hayat ibu" pernyataan Amaya membuat ibu nya berkaca-kaca dan mengangguk


akhir nya hari itu Amaya tidak masuk sekolah, membuat Rey kuatir, tak ada kabar dari Amaya. seorang laki-laki menepuk pundak Rey dan mengajak nya untuk pergi menyelesaikan taruhan nya dengan Gibran


waktu terasa begitu cepat Amaya menghabiskan waktu nya bersama ibu nya hari itu, mereka berdua berjalan menuju sekolahan Adit.. tangan Amaya menggenggam erat tangan sang ibu, ibu nya masih terlihat sehat dan kuat tapi asap hitam masih menyelimuti ibu nya


sebenar nya apa yang akan terjadi pada ibu? batin nya bertanya sendiri dia menatap ibu nya tanpa berkedip


waktu menunjukan 16:30 Amaya, ibu dan adik nya menikmati hari dengan bersenang-senang asap hitam semakin pekat tawa dan candaan mereka bertiga bergulir dengan cepat sampai akhirnya ibu nya berkata


" dengarkan ibu, kedepan nya kehidupan tidak semudah yang di bayangkan, ibu minta kalian menjalani nya dengan kuat dan sabar jaga diri kalian ibu menyayangi kalian"


"berhenti berbicara seperti itu aku gak mau mendengar nya lagi.."


sambil menangis terisak-isak Adit membantah ibu nya sementara Amaya hanya diam tanpa kata....


karna kesal dengan takdir yang akan di alami nya adit pergi meninggalkan kakak dan ibu nya terlebih dahulu hendak menyebrangi jalanan yang saat itu entah kenapa tiba-tiba terasa sepi padahal di tepian jalanan itu ada beberapa orang menepi tapi jalan tak ada satupun motor atau mobil yang lewat.


lalu tiba-tiba terdengar suara mobil kencang dari ujung jalan sana menuju Adit. sepontan sang ibu segera berlari mendorong Adit agar tidak tertabrak mobil yang melaju kencang Amaya tak bisa menghentikan ibu nya karna terlalu cepat jika pun dia menahan ibu nya adik nya Adit ke buru tertabrak mobil itu dia mencoba meraih lengan ibu nya yang tak sampai. alhasil yang tertabrak adalah ibu nya ia terpental jauh ke sebelah kanan lalu kepala nya terbentur trotoar jalan dengan keras. jeritan beberapa orang begitu keras sehingga tak dapat mendengar mobil lain datang dari arah yang sama. mobil dengan kecepatan tinggi itu sedikit melindas kaki ibu nya sebelum ia banting kemudi setir ke kiri dan membiarkan mobil nya menabrak pohon besar di tepi jalan dengan keras sementara mobil yang menabrak ibu nya terus melaju begitu saja, semua orang yang ada di tempat kejadian segera menolong.. mereka dengan cepat memanggil ambulan dan polisi.


Adit menangis sejadi-jadinya memeluk jasad ibu nya yang di penuhi oleh darah sementara Amaya hanya diam tanpa kata ia tak mampu menahan tangis nya melihat sang ibu di hadapan nya yang kini sudah menjadi hantu bibir ibu nya melengkung tersenyum melihat anak nya yang di rasa sudah mampu dan siap untuk di tinggalkan oleh nya roh ibu nya perlahan menghilang tanpa kata.


mata Amaya kemudian melihat si pengemudi mobil yang menabrak pohon besar itu ia di bopong oleh dua orang peria yang menolong nya


"Rey"


Rey terluka di ujung jidat dan tulang pipi nya, ternyata Rey balap mobil dengan Gibran dan taruhan nya adalah amaya


hati Amaya semakin terluka dan teriris melihat nya kenapa di antara ribuan orang di dunia ini kenapa harus Rey,


andai Rey tidak melakukan taruhan ini mungkin ibu tidak akan mati sesadis ini.pikir nya


ia tidak hanya membuat nya kecewa tapi membuat Amaya semakin tak ingin lagi mengenal sosok Rey dan tak mau lagi melihat nya


di rumah sakit

__ADS_1


jasad ibu nya di tutup oleh sehelai kain putih


Adit dan Amaya kini berada di depan kamar mayit, dia melihat Adit yang tak henti nya menangis duduk di kursi sambil menunduk seragam putih nya di penuhi oleh darah ibu nya


"berhentilah menangis, kita harus menerima nya dengan ikhlas"


" kakak bisa bicara seperti itu karna kakak tidak ada di posisi ku"


"maksud mu?"


" andai kakak saat itu menghalangi ibu untuk tidak mengejar ku mungkin ibu tidak akan mati"


Amaya membuang nafas menoleh


"dengar ya meskipun aku menghalangi ibu, ibu tetap akan meninggal kamu harus terima kenyataan ini sudah takdir dan gak mungkin bisa di ubah"


" tapi setidaknya nggk setragis ini, ini semua salah aku kenapa aku harus lari,, aku gak tega liat jasad ibu yang kaya gitu... ini semua salah aku" Adit kembali menangis sejadi-jadinya


Amaya hanya bisa diam menahan perih dan amarah nya di sisi lain polisi yang tadi di hubungi oleh warga sekitar datang menghampiri Amaya


" selamat sore," sapa polisi dengan tegas petugas polisi itu membawa buku catatan kecil hendak bertanya-tanya tentang keronologi yang sebenar nya Amaya pun menceritakan semua nya termasuk balapan liar yang di lakukan Rey dan Gibran hingga memakan satu nyawa


di sekolahan meski hati nya yang hancur ini terasa berat untuk dia. ia harus menjalankan aktifitas seperti biasa walau memang rasa sedih yang amat teramat dalam ini tak bisa untuk di sembunyikan tapi harus bagaimana lagi dia harus buktikan pada ibu nya kalo dia mampu dan bisa menjalani hidup dengan kuat dia harus yakinkan adik nya Adit kalo ini bukan salah nya tapi ini memang sudah jalan nya


namun yang membuat Amaya tidak terima adalah Rey melakukan balap mobil liar Karana bertaruh dengan Gibran dan yang lebih parah nya taruhan nya itu adalah dirinya hingga menyebabkan ibu nya meninggal meski memang harus meninggal tapi setidak nya jangan setragis ini membuat adik nya terpuruk karna merasa ini semua salah dia..


Amaya berjalan cepat dengan hati nya yang penuh amarah seakan ingin meledak


"Rey jadi mulai sekarang gak temenan lagi dong sama si wanita gila itu karna kan kamu kalah" tanya tobi


"tapi gimana ya nasib nya Gibran secara dia kan juga gak di pastikan menang, denger-denger yang nabrak ibu-ibu itu Gibran bukan Rey" ucap Doni peria bertubuh tinggi


"iya lah bukan Rey. orang Rey juga terluka tuh" Tobi nunjuk rey


"kayanya si Gibran bakalan masuk penjara deh, kan katanya ibu -ibu itu juga di kabarkan meninggal, terus kamu bakalan jadi saksi deh sayang" tambah Tika menopang dagu nya di bahu Rey yang masih tetap saja terdiam memikirkan Amaya ... kenapa sampai saat ini masih saja belum terlihat.


pikiran nya berpikir kalo Amaya sudah mulai gak peduli pada nya tapi apa dia tau kalo dirinya kecelakaan hati nya teraduk-aduk dengan rasa bersalah dan kekecewaan karna sikap Amaya yang tak peduli pada nya......di sisi lain Amaya berjalan dengan hati yang penuh amarah dia akan menegur Rey, mengeluarkan seluruh isi hati nya yang sudah tak bisa ia bendung lagi, langkah nya terhenti saat mendengar ucapan Tika.


"sayang kamu gak bakal ketemu lagi sama si wanita gila itu kan ?" Tika memandang wajah Rey


" kaya nya nggak" jawab Rey ketus pandangan nya kosong dia merasa orang yang paling berharga untuk nya malah gak peduli dengan keadaan nya


"asiik jadi kamu seutuhnya milik aku dong"


"idiih ge.er Rey nya juga gak mau sama kamu" pangkas Doni


"iya kalo mimpi jangan tinggi-tinggi jatuh sakit tau" tambah Tobi


" ih apa.an sih orang iya kan sayang?"


"sayang sayang mata Lo peyang" ledek doni


"iya " jawab Rey dengan pandangan kosong nya

__ADS_1


"Rey.....!!" suara itu memecahkan lamunan Rey, dia sangat senang karna asal dari suara itu menghilangkan rasa kecewa nya pada Amaya.


"mata biru" panggil nya tersenyum, tapi senyum nya di balas dengan wajah kebencian Amaya yang teramat dalam akhir nya senyum Rey memudar begitu saja


palaaakkk


tamparan keras mendarat di wajah Rey setelah Rey mendekat pada Amaya, semua orang yang melihat itu.. langsung berkerumun melihat mereka berdua termasuk ke tiga teman Rey yang tadi ngobrol dengan nya


"apa? kamu masih marah ke aku...gini aku mau jelasin sebenarnya........"


"semua karna kamu, andai kamu tidak melakukan taruhan itu. ibuku tidak akan meninggal setragis ini..dan adik ku juga tidak akan terus menerus menyalahkan diri nya sendiri.. ini karna kamu... kamu yang salah...kenapa aku harus bertemu sama kamu. laki-laki yang ucapan nya sama sekali tidak bisa di pegang..kamu ingat kan, kamu yang membuat janji tapi kamu juga yang mengingkari semua ini.. bahkan ini lebih sakit dari yang sebelum nya.. aku... benci..


kamu..." tangis nya pecah, semua orang bergumam terkejut kalo orang yang di tabrak itu ternyat ibu nya Amaya "jadi dia ibu mu? aku....sebenarnya dari kemarin pengen ketemu sama kamu.. tapi aku malah...buat kamu semakin terluka maaf kan aku Amaya..." Rey menahan air mata nya melihat wanita yang paling berharga bagi nya terluka kerna nya


"hNg......bermuka dua "pelipis bibir nya Amaya melengkung jahat


" bukankah kamu sudah gak mau bertemu dengan ku... aku mendengar apa yang kamu ucap kan tadi......asal kamu akupun sama gak mau bertemu kamu lagi "


Rey mengangkat wajah nya... sedangkan Amaya memalingkan pandangan nya lalu berbalik hendak meninggalkan Rey


"mata biru aku..... minta maaf....ia aku memang sedikit melindas kaki ibumu tapi aku gak tau kejadian nya akan seperti ini, aku yakin kamu juga mengerti sekalipun aku membatalkan nya ibu mu juga tetap akan meninggal bukan, karna itu sudah takdir nya" ucapan Rey membuat Amaya membatalkan niat nya untuk pergi meninggalkan nya


" ya aku tau, tapi asal kamu tau mungkin adik ku tidak akan terus menyalahkan dirinya sendiri, dan... setidak nya jika kamu membatalkan, juga tidak membuat hati ku terlalu sakit." jawab Amaya.... Rey terdiam penuh dengan penyesalan


lalu beberapa siswa berlarian " kata nya ada yang di tangkap polisi" samar ucapan itu di dengar Amaya dan Rey ..... tak lama beberapa guru ,kepala sekolah dan polisi keluar dari dalam kelas berjalan melewati Amaya dan Rey terlihat jelas di depan Amaya polisi itu memborgol tangan Gibran semua orang berkerumun riuh lalu langkah Gibran melambat saat tepat di depan Rey dan Amaya pandangan nya pada Amaya terlihat penuh dengan kebencian sebenci-benci nya


di balik kaca mata nya yang hitam Amaya mengerti kalo dia tak terima jika harus di tangkap oleh polisi


tapi mau bagaimana lagi hukum tetap lah hukum harus di tegakkan


satu polisi berhenti di depan Rey mengajak nya pergi entah Rey akan menjadi saksi atau tersangka Amaya tak peduli


rasa dingin di cuaca yang dingin itu masuk ketubuh Amaya dia mengusap pipi nya yang basah setelah mengenang kembali kenangan nya bersama Rey


"hey Amaya... mau sampai kapan duduk di dalam bis, ayo cepat keluar" perintah Lita... ternyata hujan mulai berhenti tujuan nya ke halte berikut nya juga sudah sampai...ia bergegas turun dari bis


"dududududu.... heh amaya tugas mu di mulai dari sekarang ok" Lita menyatukan telunjuk dan jempol nya sebelah mata nya berkedip, Amaya terdiam menunduk


benar sakit rasa nya bila janji itu di ingkari pikirnya niat nya untuk mengingkari janji nya pada Lita mungkin akan di urungkan Karana rasa sakit yang pernah dia alami, namun dia kini dilema karna juga tak mau lagi bertemu dengan rey


"kenapa kamu lama sekali" seseorang berdiri di depan pintu rumah Amaya dengan menggunakan payung


Amaya menyipitkan mata nya mencoba mengenali siapa dia


"gio" dengan lantang Lita mendekat pada gio,


Amaya pun mendekat


"kamu tau dari mana rumahku?"


"kantor polisi"


"mau apa ke sini?"

__ADS_1


"mau nagih janji. kamu lupa kita akan makan malam"


makan malam Amaya lupa kalo dia juga harus membuat perhitungan dengan Lita.


__ADS_2