
Amaya memijit jidat nya, pertanyaan bagimu nyawa tak ada harga nya? juga ia lontarkan kemarin pada pertemuan pertama dengan Rey dia tidak menyangka kalo dia juga mengucapkan hal itu pada Rey, di dalam bus pandangan nya terus tertuju pada jendela bus yang mulai ber embun karna dingin nya cuaca ,
" dingin. sekali" Amaya memeluk dirinya sendiri menutupi wajah nya , mencoba melindungi mata nya agar tidak berkontak mata dengan para hantu yang menemani nya di dalam bus bersama beberapa orang yang juga kedinginan,,.... ia kembali mengingat saat itu saat dia dan Rey bertengkar hebat sampai-sampai Rey di sebut bermuka dua oleh Amaya perjanjian yang mulai di buat lalu di ingkari
di akhir semester sekolah ujian telah berlalu... ia duduk di sudut koridor sekolah sambil membaca novel, lima laki-laki remaja berjalan menghampiri Amaya yang fokus dengan novel nya, satu dari laki-laki itu menarik paksa kaca mata Amaya dan mengejutkan nya, ia berkata " hei wanita gila, coba beri tau aku di mana ada hantu" ucap Gibran laki-laki yang memiliki tubuh bongsor itu memang Jeger nya di sekolahan
"hahahaha" anak lain tertawa
"Gibran kembalikan kaca mata ku"
"enak aja, coba ramal dulu aku, "
" hahahaha dasar dukun aneh" ketus yang lain nya
" kembalikan kaca mata aku" Amaya masih dalam posisi tenang untuk mengatasi remaja nakal ini
"mau kaca mata ini? coba aja ambil" Gibran mengangkat tinggi kaca mata nya, Amaya mencoba meraih nya dengan meloncat-loncat
" lihatlah anjing gila ini, udah terlatih kan?"
"hahahaha"
Amaya langsung terdiam mendengar ucapan Gibran
"cepat kembalikan sekarang juga !!!!" tekan Amaya
"mau ini,? nih" Gibran malah melempar ke teman nya yang lain
"kembalikan!! "
" coba tangkap" mereka berlima malah membuat lingkaran mengelilingi Amaya melempar ke sana kemari kaca mata Amaya, membuat Amaya berlari ke sana kemari mencoba menangkap kacamata itu, mereka menjadikan Amaya bahan lolucon tawa mereka terbahak-bahak samapai akhir nya mata Amaya ber adu pandang dengan hantu yang menyeramkan dia terhenti dan menunduk
"woy kenapa ni bocah cape ya hahahaha" ucap Gibran sambil tertawa keras, suasana tiba-tiba berubah jadi mencekam angin kencang muncul tiba-tiba semua jendela kelas terguncang hebat, pintu-pintu kelas terus terbuka tutup dengan kencang, semua orang yang melihat itu ketakutan beberapa murid berlarian,lima orang yang membuli Amaya mundur serentak kebingungan, bibir Amaya tersenyum jahat
jeritan melengking keluar dari mulut Amaya dengan keras, memecahkan semua kaca jendela yang ada, orang-orang yang berada dekat dengan jendela menunduk melindungi diri dari pecahan kaca jeritan itu terus melengking membuat semua telinga siswa di situ merasa sakit, lalu tiba-tiba ia muntah darah kepala nya terasa sangat pusing penglihatan nya kabur dan perlahan menggelap
tubuh Amaya yang lemas di bawa ke UKS sekolah. dari ambang pintu Rey menatap nya tanpa berkedip, ia terbaring lemas. tangan nya mulai terangkat memegang kepala nya yang terasa mau pecah
Rey perlahan berjalan mencoba mendekati Amaya, yang berusaha untuk duduk dan menahan air mata nya yang mau keluar
kenapa mereka tidak mengerti.? kenapa juga ini harus terjadi? pikir nya
"aku benci mata ini" gerutu Amaya pelan. air mata tetap saja mengalir keluar meski sudah ia tahan, ia masih terlihat tak peduli pada rey semenjak kejadian 2 Minggu yang lalu
" hai?" sapa Rey dengan wajah dosa yang coba ia sembunyikan
"kenapa tiba-tiba menyapa ?" Amaya mengusap air mata itu tak ingin terlihat lemah oleh rey
"hehe, aku mau minta maaf, aku mungkin salah." dia berharap Amaya memaafkan nya
"hemmmm" sambil mengangguk
" apa itu artinya aku di maafkan?" riang Rey merangkul tangan Amaya
" gimana kamu udah enakan belum? nih kaca mata kamu" tangan Amaya. ia balikan dan menaru kaca mata nya di atas tangan amaya
" terima kasih" tangan nya ia tarik dan buru-buru memakai kaca mata nya
"apa yang terjadi selama 2 Minggu ini?"
Amaya terdiam mengingat selama 2 Minggu ini dia selalu mendapat tindakan yang tidak enak dari geng nya Gibran dan hari ini adalah puncak nya.
"aku baik-baik saja, tidak ada hal yang aneh"
Rey malah menatap Amaya dengan tatapan yang seakan-akan tau semua yang di alami oleh Amaya selama 2 Minggu
"apa sekarang kamu sudah mengerti? kalo aku, kamu atau mereka yang kuat. tidak akan ada yang bisa mengubah takdir,?"
"ya, aku sadar kalo takdir tidak mungkin bisa di ubah"
seketika mereka terdiam
"ok, karna kita sudah baikan. aku ingin kita membuat perjanjian" Rey memecahkan suasana
__ADS_1
" perjanjian? apa?" Amaya sedikit bersemangat
" apa kamu janji, akan menjaga dirimu dengan baik?"mendengar ucapan Rey, Amaya malah mengerutkan dahi nya
" aku selalu menjaga diriku, tanpa harus di ingatkan"
"kalo begitu jangan biarkan mata indah mu ini beradu pandang dengan hantu, berjanjilah" Rey mengusap pelan mata Amaya dengan ibu jari nya, Amaya malah tersenyum mendengar ucapan Rey
"tentu saja aku menjaga diriku, siapa juga yang mau kesurupan terus" jawab nya menurun kan tangan Rey dari pipi mulus nya
"baiklah,"
"lalu apa janji mu?" Amaya penasaran dengan janji nya Rey , pandangan nya separti menyembunyikan banyak rahasia ia tak berkedip menatap Amaya bibir nya terkunci rapat "Rey?"
"eumm aku berjanji tidak akan mengecewakan mu dan membiarkan mata biru mu menangis"
beberapa hari kemudian Amaya dan Rey berjalan di taman selepas pulang sekolah, suasana alam yang indah nan asri terasa indah di pandang mata hantu memang bergentayangan di sekitar taman namun tidak sebanyak hantu yang ada di luar sana
taman itu di hiasi beberapa bunga berwarna warni ada beberapa penjual yang ada di tempat itu salah satu nya seorang penjual aksesoris
Amaya terus memperhatikan wanita itu
wanita cantik dan terlihat kalem itu terus terjaga menjaga dagangan nya
"kita duduk di sana sebentar " Rey menunjuk kursi yang berada tepat di depan pedagang aksesoris di sebrang sana " jangan duduk di situ"
"kenapa " heran Rey langsung menengok ke arah nya
" lihatlah, orang itu," Amaya menunjuk peria yang memang tadi duduk di tempat itu
"kenapa ?"
" dia tangan nya terkena rokok nya sendiri"
"lalu?"
" dia kena rokok bukan karna dirinya sendiri, tapi karna hantu yang duduk di tempat itu"
"hah? bisa-bisa nya ada hantu jail, aku akan menyuruh nya pergi dari situ" Rey hendak mendekat tapi segera di tarik oleh Amaya
" setia ya....., eeemmm ya udah, mata biru aku beli makanan dulu ya?"
Amaya mengangguk.
dari arah yang lumayan jauh di sebuah toko kue, Rey menatap Amaya yang di goda oleh geng nya Gibran, terlihat jelas kalo Amaya tak menyukai hal itu dia begitu kesal pada geng nya Gibran itu. bisa-bisanya mereka ada di tempat ini padahal Amaya baru ingin melepas semua beban nya beberapa kali teman nya Gibran mencolek wajah Amaya sambil melontarkan kata-kata yang menyakiti nya tapi ada yang aneh saat itu sikap Gibran yang biasa nya senang mengolok Amaya kini seakan tak peduli lagi pada Amaya bahkan mengejutkan nya Gibran meminta teman nya untuk berhenti
"sudahlah... ayo pergi, nanti kalo kita menang, silahkan sepuas nya." ucap Gibran membuat Amaya langsung mengangkat wajah nya,
apa maksud Gibran? mungkinkah dia bertaruh dan Amaya menjadi bahan taruhan nya di saat Amaya sibuk dengan pemikiran nya mereka sudah pergi begitu saja, tak mau memikirkan hal yang mungkin saja itu hanya terkaan nya semata, ia bangun dari tempat duduk nya berjalan menuju si wanita aksesoris
seseorang tiba-tiba saja menepuk pundak Amaya sepontan Amaya menengok
" selamat ulang tahun?" ternyata Rey, dia datang membawa kue tart sambil tersenyum, tapi Amaya tak menunjukan ekspresi apapun dia hanya diam dan tak sadar meneteskan air mata yang terhalang. air itu mengalir ke pipi mulus nya membuat Rey bingung sekaligus terkejut
"haaa tidak berguna" keluh Rey menunduk sembari membuang nafas, terlihat dia merasa kesal pada diri nya sendiri
" kenapa?" Amaya mengusap air mata nya
"aku mengingkari janji ku.. malah membuat mata biru menangis" mendengar itu Amaya tersenyum manis
" oh, aku terharu" Amaya menarik kue tart yang Rey tunjukan pada nya
"karna kue nya mahal? jangan kuatir ini buat aku gak mahal ko" lagi-lagi amaya tersenyum mendengar kesombongan rey
" aku tidak pernah merayakan hari ulang tahun ku"
"hah? kenapa?"
"ada alasan yang membuat aku merasa pedih di setiap hari ulang tahun ku"
"aku pikir kamu, tidak pernah merayakan karna gak mampu membeli kue tart yang mahal kaya gini, tapi bukan maksud ku meledek hanya heran saja kenapa kamu malah menangis"
kembali bibir nya tersenyum kali ini terlihat sinis, tapi tidak baik juga menyombongkan diri hanya karna mampu membeli kue mahal pikir nya
__ADS_1
senja di ujung barat mulai terlihat mereka berjalan di trotoar menuju rumah Amaya
" kamu gak papa jalan kaki?"
"gak papa, semenjak mengenal mu aku sering melakukan hal yang tidak pernah aku lakukan, seperti berjalan di trotoar kaya gini, dulu aku berpikir melelahkan dan banyak polusi tapi ternyata asik juga rasa lelah itu gak kerasa karna sambil ngobrol di sini juga gak terlalu banyak polusi karna banyak pepohonan besar yang rindang jadi terasa sejuk"
jelas Rey menikmati udara sembari kedua tangan nya menopang kepalanya ia terpejam sambil berjalan mengikuti langkah Amaya lalu tiba-tiba membuka mata ada sesuatu yang mengusik pikiran nya
"boleh aku tanya sesuatu?" Rey menurunkan tangan nya dan menengok Amaya langkah nya masih beriringan dengan Amaya
"katakan,"
"hantu seperti apa yang pertama kali kamu lihat?"
" aku tidak ingat seperti apa hantu yang pertama kali aku lihat, tapi yang pasti aku baru mengerti dan tau kalo itu hantu dan itu asap kematian semenjak kejadian itu,"
"kejadian apa? "
"waktu itu di pagi hari.aku, melihat asap hitam yang tebal mengelilingi tubuh ayah ku, saat itu umurku baru menginjak 6 tahun."
" maksudmu hari itu kamu ulang tahun?"
"iya, " Amaya menunduk menahan air mata
" aku hari itu bingung dan terus bertanya pada ibu kenapa ayah memiliki asap hitam seperti mereka yang kemarin meninggal, mendengar hal itu ayah dan ibu saling menatap dan menahan air mata.. mereka mulai mengerti kalo aku bisa melihat kematian, di sore hari ibu dan aku juga adik ku yang masih bayi menunggu ayah lalu di saat bersamaan bel dan tlpn rumahku berbunyi, aku segera membuka pintu yakin kalo yang datang itu adalah ayah ku, dan ibu mengangkat tlpn ... aku senang kalo itu memang ayah ku meski wajah nya berbeda badan nya di penuhi oleh darah terutama sebelah wajah nya dia tersenyum dan mengatakan selamat ulang tahun pada ku..tapi aku tidak senang tidak sama sekali. aku menengok ke ibu ku yang menangis setelah menerima tlpn ia memeluk adik ku erat. aku mulai mengerti kalo ayah ku sudah meninggal setelah ayahku perlahan menghilang dan mengatakan maafkan ayah, jaga dirimu, " tanpa sadar cerita yang ia ceritakan pada Rey membuat nya menangis di balik kaca mata nya yang hitam, dia menyembunyikan kesedihan nya. Rey menghentikan langkah nya perlahan membuka kaca mata Amaya
"mata mu yang indah ini.. lagi lagi aku membuat nya meneteskan air mata, dan aku kembali mengingkari janji ku ke kamu " Rey mengusap lembut mata Amaya yang basah karna air mata nya sendiri
" aku tidak papah ko, cuman kebawa suasana aja, maaf ya aku jadi cengeng"
"ia. emang kamu cengeng makan nya aku gak mau kamu netesin air mata"
"iiih ko malah jadi ngatain"
" biarin...makan nya kamu tetap jaga mata kamu biar kamu gak terluka, jaga dirimu baik-baik" Rey mengacak rambut Amaya
"iiih apa.an sih jangan acak rambut aku..."
Rey memamerkan gigi nya yang rapih dan putih, Amaya tersenyum melihat smile box nya Rey. jujur dia terlihat manis hati Amaya bergetar ada rasa yang berbeda selain rasa pertemanan yang ia jalani. entah apa, seperti rasa sayang, tapi mungkin ini karna dia hanya memiliki satu teman yaitu rey dan Rey adalah laki-laki normal jika memang ini adalah rasa sayang akan sulit buat Amaya mengungkapkan nya pada Rey yang pertama dia tak mau kehilangan Rey, jika dia ungkapkan ada kemungkinan sewaktu-waktu Rey akan menjauh dari nya dia juga tak mau cinta pertama nya harus menerima pil pahit karna di tolak lagi pula dia wanita tidak mungkin ia utarakan terlebih dahulu mereka berlarian saling mengejar ..
suatu hari di sekolahan
karna Amaya dan Rey berbeda kelas, Amaya mencoba mendatangi kelas Rey, terlihat dari luar Rey sedang asik ngobrol dengan beberapa teman kelas nya
" hey bro gimana taruhan nya sama Gibran ?" tanya Tobi teman kelas berkepala botak.
"Rey, kamu kalo Gibran yang menang taruhan itu, kamu bakalan jauhin si wanita gila itu kan?" tambah wanita cantik memeluk tangan Rey dan bersandar di pundak Rey..
"Gibran gak bakalan menang aku gak akan biarkan dia menang." Rey menarik paksa tangan yang di peluk tika
"iiiih maksudmu kamu gak mau jauhin wanita gila itu?"
semua yang mereka bicarakan tentang taruhan yang melibatkan Amaya itu di dengar oleh telinga Amaya sendiri, dia benar-benar tidak menyangka kalo Rey melakukan hal itu,
"Rey.......!!!!" bentak Amaya, hati nya benar-benar kecewa pada Rey, teman yang dia percaya bahkan Amaya sudah terlanjur menyayangi Rey, kini seketika rasa sayang itu berubah menjadi benci dengan cepat..dia membuang muka dan berlari, Rey yang terkejut melihat Amaya segera mengejar Amaya
"mata biru, tunggu." teriak Rey mencoba menghentikan Amaya. namun Amaya tetap berlari dengan hati yang hancur dia terus menguras air mata nya tak menyangka Rey begitu jahat. bagi nya kini Rey sama saja dengan yang lain nya menganggap nya wanita gila bahkan Rey berani mempermainkan hati nya dan bodoh nya dia sudah tenggelam ke perasaan yang baru pertama kali dia rasakan
"Rey, kamu benar-benar mengingkari janji mu, aku kecewa padamu Rey. sangat kecewa.. " Amaya menumpahkan seluruh isi hati nya di dalam toilet wanita "aku benci kamu Rey, sangat membenci kamu.." tangan nya meremas rok sekolah nya air mata tak mau berhenti kekecewaan yang amat dalam di rasa oleh Amaya..
sore hari selepas pulang sekolah Amaya pulang dengan hati yang hancur, dia berjalan pelan dan
Bruuuuukkkkk
tas selempang milik nya jatuh begitu saja, hati nya yang hancur semakin hancur berkeping-keping dia tak bisa berkata apapun selain menangis terisak-isak melihat ibu nya yang sedang berdiri di halaman rumah sembari menyiram tanaman, tubuh ibu nya di kelilingi oleh asap hitam yang sangat pekat tersenyum dengan indah pada anak nya, namun senyum nya yang indah pudar begitu saja melihat anak nya menangis selepas pulang sekolah
"ada apa nak? kenapa menangis begitu?" tanya ibu nya mendekat asap hitam yang pekat itu semakin jelas dan aura kematian semakin terasa dekat,
Amaya menunduk tangis nya pecah begitu saja dia memeluk ibu nya erat,
"aku mohon jangan lagi.... aku mohon"
"ada apa sayang?"
__ADS_1
"ibu asap itu," Amaya menatap ibu nya dengan pandangan yang membuat ibu nya mengerti kalo kematian akan datang menghampiri nya, ibu nya kembali memeluk Amaya air mata nya mengalir begitu saja tangis mereka pecah di sore hari itu,