The Blue Eyes

The Blue Eyes
makan malam


__ADS_3

"ayo cepat masuk, aku kedinginan" gio menarik Amaya


"adik ku kan ada di dalam kenapa gak masuk dari tadi"


" orang dari tadi juga gak ada siapapun" tepis gio


"cepat ganti baju mu dan kita pergi makan malam"


dengan wajah dingin Amaya masuk ke rumah tanpa mempersilahkan masuk pada gio


dia kemudian segera menyeret Lita ke kamar di saat gio lengah


"denger ya aku mau buat perhitungan ke kamu, kenapa kamu seenak jidat membuat janji dengan nya, tanpa berunding dulu dengan ku"


"aalah ... gak usah berunding lah " tangan Lita menepis sesuatu yang dia pun tak melihat nya


"ini itu langkah supaya kamu kenal dengan Rey, dan keluarga nya, gio itu teman dekat Rey dan yang paling Deket dengan keluarga rey saat ini" tambah Lita duduk di laci dekat pintu kamar amaya, sedangkan Amaya hanya memutar dua bola mata nya


astaga dia tidak tau saja kalo Amaya sudah sangat mengenal Rey lebih dari yang dia tau..


"setidak nya beri tau aku sebelumnya, "


"kenapa harus memberi tau mu,"


"karna aku tidak suka dia,.... dia terlihat hanya suka mempermainkan wanita"


"iya, dia memang play boy" Lita menggaruk kepala yang tidak gatal sama sekali sambil nyengir


"ah tapi sekarang bukan saat nya untuk memikirkan dia play boy atau bukan kamu kan mau makan malam cepat ganti baju mu" lanjut Lita ia segera turun dan mendorong amaya ke depan lemari baju


"aku gak bisa, "


"kenapa gak bisa?"


"aku gak enak badan, "


"haaa... alasan kelise.."


"aku sungguh-sungguh liatlah pakaian ku, cuaca yang dingin di luar sana membuat aku tidak enak badan" gumam Amaya membuka baju nya, mengganti dengan pakaian yang lebih hangat


mata Lita menyipit


"jangan berpikir kalo kamu akan mengingkari janji mu, aku akan hancurkan hidup mu kalo iya" tegas Lita kemudian menghilang. Amaya yang hendak memakai baju terhenti sesaat


akhirnya Amaya tidak punya pilihan, dia pergi bersama gio makan malam di salah satu restoran


"tangan mu gimana" gio melihat ke arah luka Amaya yang di dapatkan pada saat menolong hantu wanita yang di gorok


"tidak papa"


"kenapa gak di perban lagi?" tanya nya penasaran sebagai seorang dokter gio tau yang terbaik untuk kebaikan pasien nya "itu nanti takut nya infeksi, kalo gak di perban lagi,karna kan terkena debu atau bakteri lain nya jadi harus di rawat dengan benar" , Amaya hanya memalingkan wajah nya "oh ya ngomong-ngomong buka aja kaca mata kamu, keliatan nya gak cocok dengan gaun kamu"


"apa kamu merasa terganggu dengan kaca mata ku?"


"gak juga sih"


"kalo gitu gak usah di bahas"


"ok"


tiba-tiba seseorang duduk di tengah percakapan mereka berdua Amaya dan gio segera menoleh ke arah nya, melihat nya Amaya sedikit terkejut... apa ini ? apa ini semacam Dejavu kenapa akhir-akhir ini bertemu dengan orang yang pernah di temui dulu pikir nya dia menghela nafas nya


" Hay gio," suara nya. terdengar centil, tubuh mungil nya sedikit mengangkat kursi dan mendekat pada kursi gio


"Tika?" tanya gio, ia tersenyum manis sambil mengibaskan rambut panjang nya ke belakang


" kamu ko ada di sini"


"iya, aku ada janji dengan sayang ku Rey"


"oh , sekarang mana dia?"


"dia belum datang" Tika menopang dagu nya lalu melirik Amaya "kenapa bisa kamu dengan wanita gila ini?" tatapan mata nya terlihat sinis pada Amaya

__ADS_1


" maksudmu Amaya? mmmm dia teman kencan ku malam ini?" gio tersenyum memandang Amaya sementara Tika terlihat jijik melihat nya "tapi ko kamu memanggil nya wanita gila,? dia kan cantik?" lanjut gio mendengar itu Tika memutar kedua bola mata nya


"dia emang wanita gila..dia sering kesurupan dan berbicara hal yang aneh" hati Amaya merasa kesal dan ingin sekali menjambak rambut Tika yang menghina nya dia menarik nafas dan berdiri


"sepertinya aku sudah gak di butuhkan lagi di sini" ketus nya


"eeeee.... mau ke mana? kamu gak boleh pulang kamu harus tepati janji mu"


lagi -lagi persoalan janji gerutu Amaya dalam hati dia kembali duduk setelah tangan nya di tahan oleh gio


"jadi kalian saling kenal?" tanya gio penasaran


"gak juga" mereka menjawab kompak


"woooo.... kalian kenal di mana?"


"kita satu sekolah" lagi-lagi mereka kompak menjawab Tika kesal dengan kekompakan itu, Amaya langsung membuang muka dari nya. tentu dia juga kesal dengan nya


beberapa saat kemudian Rey datang dan mencari posisi Tika , langsung saja Tika meneriaki dirinya


ya ampun posisi ini bener-bener tidak nyaman buat Amaya dia ingin sekali pergi dari tempat itu.. Rey duduk di samping Amaya dan Tika dia menatap Amaya yang masih saja membuang muka dengan memasang wajah angkuh terlihat jelas di wajah nya jika ia tak menyukai posisi nya saat ini dan Rey mengerti hanya dengan melihat wajah nya


"bos,...?" gio tersenyum manis menyapa


"sayang..... kamu, kata nya ada yang mau kamu tanyakan ke aku"


"oh soal itu...." bicara nya terhenti oleh sang supir yang tiba-tiba muncul


"permisi bos..."


"ada apa?"


"soal pembelian saham itu sepertinya akan sulit di dapatkan karna setatus bapak..."


Rey menghela nafas memijit jidat nya... Amaya melirik nya.. mendengar itu gio langsung menyambar


"ada apa bos?"


"akhir-akhir ini aku sangat lelah, setelah Lita mengalami kecelakaan sekertaris ku tiba-tiba di kabarkan meninggal jadi tidak ada yang menghendel pekerjaan ku.."


"dia meninggal karna di gorok oleh suami nya sendiri" mendengar penjelasan Rey Amaya langsung mengangkat wajah nya mengingat apa yang pernah ia alami mungkinkah itu orang yang sama...


"aku menyesal sudah memperkerjakan nya terlalu keras, coba aja dia bilang kalo anak nya sakit dan butuh biyaya aku akan menolongnya.... dan lebih parah nya ternyata anak nya di rawat di rumah sakit ku."


"ngh.... dasar bodoh" ketus Amaya dia memalingkan wajah nya, ternyata benar kalo orang yang di bicarakan Rey adalah si hantu itu, hantu yang di bantu nya


"heh berani ya kamu bilang gitu ke sayang ku" sepontan Tika langsung nyemprot


"apa? dia memang bodoh... !!"


" kamu!!" Tika setengah berdiri sambil membentak


"hentikan" Rey tak mau kalah membentak kedua nya


suasana menjadi tegang untuk sesaat sebelum akhirnya gio mencairkan suasana dengan mengajak mereka minum-minum Amaya berkali-kali menolak minuman yang di berikan gio dan berkali-kali juga dia menahan hati nya yang terasa panas karna melihat Tika yang mabuk dan bermanja mesra pada Rey tanpa penolakan dan puncak nya ketika Tika mencium pipi Rey tanpa di tolak oleh Rey


Amaya tau dia sama sekali tidak mabuk meski sudah meneguk alkohol dalam keadaan hati yang panas ia meraih gelas yang ia anggap air putih.. ia baru sadar itu adalah alkohol setelah meminum nya tubuh nya yang kurang sehat dengan kepala yang pusing membuat kepala nya semakin berputar-putar.. Tika berkali-kali mencium Rey .. sementara gio sudah benar-benar mabuk dia tertawa keras bersama Tika setelah Tika mencium pipi Rey melihat itu Amaya kembali meneguk alkohol nya berkali-kali


terlihat di wajah Amaya jika dia cemburu, tentu selama 7 tahun di pendam perasaan itu masih tetap ada Rey mengerti dengan melihat wajah nya dia tersenyum tipis merasa senang.amaya mencoba kembali meneguk alkohol tubuh nya yang kurang sehat akhir nya tumbang juga dia dengan sengaja melepas kaca mata hitam nya membuat sepasang mata hantu langsung melihat nya


ooooowwwweeeee


dia memuntahkan seluruh isi perut nya dan tidak sengaja mengenai celana Rey


"hoooooo astaga... iiiiihhhh" Tika terlihat semakin jijik pada Amaya


"heh aku muntah karna melihat wajah mu yang buruk rupa... dan berani mencium Rey" jawab Amaya yang mulai mengakui kalo dirinya cemburu


"heh kenapa emang kalo aku cium Rey kamu cemburu hah?" Tika berdiri dan menunjuk amaya


"iya.. lalu apa hah? dia peria jahat ini benar-benar sudah menghancurkan hidup ku... berani sekali dia membiarkan wanita buruk rupa ini mencium pipi nya"


Amaya tak mau kalah dia juga berdiri dan menunjuk Tika " apa kamu bilang wanita buruk rupa kamu lebih buruk rupa dari aku" Tika mencoba meraih rambut Amaya "waaaaaahhh pertarungan yang seru" seru gio bertepuk tangan

__ADS_1


"astaga.... hentikan" Rey berdiri setelah membersihkan celana nya lalu menarik Amaya ke toilet.... ia berkali-kali memuntahkan isi perut nya di kloset di temani oleh Rey,


"jadi kamu cemburu liat apa yang Tika lakukan"


"kenapa?"Amaya melihat Rey yang bersandar di tembok dari bayangan kaca dia mengusap bibir nya yang basah.." aku itu benci kamu sangat membenci kamu.." tambah Amaya Rey berjalan mendekat menyudutkan Amaya ke kloset kedua tangan Rey menghalangi tubuh nya dengan memegang kloset


"apa?"


"peria bodoh yang kamu benci ini ternyata juga di cemburui oleh mu kan?"


" ngh.... menjauhlah dari ku aku tidak mau bertemu dengan mu lagi"


"oh ya?"Rey menodongkan wajah nya..Amaya segera menghindar


"dengar ya.. aku masih sadar,jadi jangan coba memanfaat kan ku"


"benarkah?" Rey tersenyum sinis dia sama sekali tau kalo Amaya masih dalam keadaan sadar terlihat jelas kalo dia merasakan pusing yang begitu hebat jidat nya berkali-kali ia pijit


"aku merasa menyesal telah melakukan itu seumur hidup ku... aku benar-benar menyesal,maafkan aku.. aku tau hanya dengan di penjara saja tidak akan menebus dosaku ke kamu ... untuk itu aku mohon maafkan aku"


"hmmm.... aku bisa memaafkan mu tapi tidak bisa melupakan kejadian itu dan itulah yang membuat aku sulit untuk memaafkan kamu" Amaya mendorong Rey dia mencoba berjalan meskipun sempoyongan karna kepala nya yang pusing, Rey mengikuti nya


gio dan Tika sudah benar-benar sangat mabuk, Rey menyuruh supir nya untuk mengantar mereka sementara Amaya setelah mengambil tas ia buru-buru pergi ke luar restoran, sepasang mata hantu mengikuti nya


wuuuuussssss


dalam keadaan mabuk dia melihat hantu terbang dan menghadap nya


"hai Amaya tidak ku sangka ternyata kamu benar-benar bisa melihat hantu,,?" hantu peria itu terlihat besar dan tinggi melayang di atas Amaya mengangkat wajah nya mengingat sosok hantu itu


"siapa? ka.....mu ....,?"


Amaya terkejut ternyata itu Gibran


"ya. ini aku Gibran... karna ulah mu aku menjadi seperti ini tujuh tahun lalu setelah kejadian itu aku masuk penjara dan di hukum mati " mulut nya yang besar dan lebar terlihat sangat menyeramkan darah di jidat nya yang berlubang tak henti nya keluar dan menetes ke aspal, mata yang seakan membunuh terus melototi Amaya, Amaya ketakutan melihat sosok Gibran yang terakhir kali dia liat dengan tatapan mata penuh kebencian.. nafas Amaya memburu kepala nya yang pusing tidak dapat ia kendalikan tubuh nya terasa lemas, hantu Gibran mendekat dan mencoba mengambil alih tubuh Amaya,.


Amaya melangkah mundur dengan kaki yang gemetar sementara hantu Gibran terus mendekat


semakin dekat....


semakin dekat....


dekat .....


dan pandangan Amaya tertutup oleh tangan kekar milik Rey. dia tau Amaya dalam bahaya untuk itu ia segera menutup pandangan Amaya, hantu Gibran kemudian terpantal jauh setelah usaha nya untuk beradu mata dengan si pemilik mata biru itu gagal


"apa sih?" Amaya menurunkan tangan Rey


"aku mencoba menolong mu,"


"aku .. tidak...." pandangan mata Amaya kemudian beradu dengan hantu siswa SMP yang genit dia kemudian dengan sekejap mengubah sikap nya menjadi sangat centil dan genit pada Rey ..


"Hay om?" telunjuk Amaya mencolek dagu Rey


"ya ampun..." Rey menghela nafas menggeleng dia tidak percaya akan menjadi seperti ini


hujan tiba-tiba saja turun, Rey segera menarik Amaya untuk berteduh tapi karna itu bukan dirinya dia tak mau berteduh dia malah mengajak Rey untuk bermain hujan dan menari-nari di tengah jalan meskipun tanpa musik... dia tersenyum pada rey "ayo om.. main hujan seru loh..oh ya om tau lagu k-pop gak aku suka banget lagu K-Pop gini nih joged nya.." dia malah menari ala K-Pop sambil tersenyum...Rey terdiam melihat senyuman Amaya yang sangat ia rindukan setelah kejadian itu...perlahan bibir Rey tersenyum tipis melihat Amaya ia merasa senang untuk malam ini


"terimakasih sudah tersenyum separti itu pada ku ... meskipun aku tau itu bukan dirimu"


Rey yang berteduh kemudian melihat Amaya jongkok memeluk kedua lutut nya, kedua halis Rey menyatu heran "apa dia sudah sadar?" karna penasaran setengah hujan Rey mendekati Amaya dan bertanya


"mata biru?" pundak Amaya di sentuh oleh nya namun segera Amaya menghempaskan nya Rey semakin heran, Amaya mencoba berdiri memeluk diri nya sendiri pandangan mata nya terlihat kosong


"mata biru?" Rey memanggil nya kembali


Amaya kemudian menatap Rey "siapa kamu?"


" aku...?" Rey menunjuk dirinya sendiri


"aku...." ketika Rey hendak meneruskan ucapan nya Amaya berteriak


"suami ku... di mana suami ku..? anak ku mana .. mana anak ku .? jangan -jangan kamu salah satu orang jahat itu.. tidak .... jangan ... aku minta ampun" Amaya melangkah seperti orang kebingungan lalu menunduk melindungi kepala nya

__ADS_1


"astaga.. ternyata dia masih kesurupan." Rey melipat kedua tangan nya lalu menarik Amaya kembali masuk ke restoran untuk berteduh ia kemudian menelepon si supir untuk menjemput nya jika sudah selesai melaksanakan tugas nya mengantar gio dan Tika ke rumah nya


__ADS_2