
Amaya keluar rumah sakit dengan wajah kesal nya, dia berjalan dengan cepat pirasat nya tidak enak hawa dingin menghampiri nya langkah nya di percepat, sudah cukup.!! dia tak mau lagi mengalami hal buruk setelah hari ini, kejadian dia menolong roh wanita tadi membawa nya bertemu dengan peria yang tak ingin ia temui lagi, ia tak habis pikir kenapa dunia begitu sempit. setelah 7 tahun tidak bertemu dengan peria itu dan sekarang malah di pertemukan kembali dia yang selalu kasar dan sombong tidak pernah berubah
"tunggu" suara wanita bergaun
"kamu bisa liat aku kan?" lanjut si wanita, Amaya sama sekali tidak pedulikan suara itu dia menganggap itu hanya suara hembusan angin saja "tunggu"
suara nya semakin jelas dan lantang tapi Amaya tetap berjalan cepat,
"tunggu" tetap tak pedulikan panggilan itu meski di ucapkan berkali kali
" kak,, tunggu!! " suara wanita itu malah berubah menjadi suara yang dia kenal suara laki-laki Amaya segera menghentikan langkah nya dan menengok ternyata dia adit adik Amaya
"Adit?" heran Amaya , dia melihat ke semua arah tidak ada asal suara itu, tidak ada wanita yang dia lihat bersama Rey tadi, tapi tadi jelas-jelas mendengar suara roh wanita yang ada di rumah sakit itu roh yang mengikuti Rey
"kak di panggil dari tadi juga." kesal Adit yang malah di cuekin oleh kakak nya" kak nyari apa sih?" Adit menarik tangan Amaya yang terluka tanpa perban
"aww" sepontan Amaya yang langsung saja menyingkirkan tangan Adit dari nya,
"eh kakak terluka"
"iya"
"pasti gara-gara wanita tadi ya"
"hah kok kamu tau?"
"tau, yang kakak ajak ribut itu tetangga teman aku," jelas Adit memberikan tas kakak nya" untung aku liat kakak," Adit kemudian jalan lebih dulu dari nya
" ngapain kamu di situ,?" tanya nya menghentikan langkah adik nya, Amaya penasaran ingin tau apa adik nya membolos lagi atau tidak.
"ah..a ..aku tentu saja ada tugas kerja kelompok" terdengar gugup Adit kembali berjalan kini langkah nya semakin cepat karna tak mau lagi di tanya-tanya tentang sekolah
pagi hari di rumah Amaya yang sangat kecil dia sedang membersihkan tubuh nya air yang mengalir deras tiba-tiba saja berhenti,dia terdiam sambil menyikat gigi nya,apa yang terjadi ? biasa nya tidak pernah seperti ini air di tempat ini biasa nya mengalir deras,Amaya menepuk-nepuk keran air nya lalu memutar nya berkali dan akhirnya keluar air berwarna merah darah yang begitu deras berbarengan dengan suara tawa yang melengking hebat Amaya mencari asal dari suara itu, air tak mau berhenti meski dia sudah mencoba menutup keran berkali -kali tangan dingin tiba-tiba menyentuh kaki nya, apa ini ? kenapa ada roh yang bisa menyentuh nya? selama ini tidak ada roh yang bisa menyentuh nya, tapi roh ini kenapa bisa menyentuhnya, " apa kamu ketakutan?" tanya roh itu terus menyentuh kaki Amaya " aku tau kamu ketakutan, maka dari itu jawab aku sekarang!"
Amaya masih terdiam dan tak mengatakan apapun memang dia sedikit terkejut tapi dia kenal betul suara ini suara roh yang mengikuti Rey, dia ternyata ikuti Amaya, tapi yang buat Amaya heran kenapa roh ini bisa sentuh dia
" kenapa kamu ikuti aku?" akhirnya Amaya membuka mulut nya, si roh itu dengan senang hati melepas kaki amya dan keluar dari tempat persembunyian nya air berwarna darah kembali normal suasana mencekam kembali bersahabat seperti biasa
" jadi kamu beneran bisa liat aku?" roh itu mendekati wajah Amaya yang masih terpaku menatap ke arah cermin kamar mandi, tangan dingin roh itu di julurkan ke Amaya dan memperkenalkan diri nya " namaku lita Talita" ucap nya sambil tersenyum
Amaya masih asik dengan aktifitas nya membersihkan dirinya, tak menjawab si roh itu lalu tiba-tiba saja suara pintu yang di ketuk keras membuat dia menengok dan buru-buru menuju pintu
"siapa?" tanya Adit keluar dari kamar nya sambil memegang ponsel nya
Amaya pun membuka pintu
" dengan nona Amaya Hartono?" tegas
"ya"
"oh , nama kamu Amaya?" semprot si roh tiba-tiba saja muncul di samping Amaya, Amaya tak pedulikan nya
"kami dari kepolisian, !!"
"ada apa? apa aku melakukan kesalahan?"
" Anda kami tangkap, karna telah mencemarkan nama baik rumah sakit milik keluarga Malik,"
"apa?" ternyata peria itu tidak bohong dengan ucapan nya dasar peria jahat, dengan wajah kesal Amaya kemudian menolak penangkapan itu
" aku tidak mencemarkan nama baik rumah sakit itu, aku malah berkata yang sebenarnya.!!" jelas Amaya
" ada apa ini kak" tiba-tiba Adit datang dan terkejut melihat Amaya yang hendak di tarik polisi
"kakak gak mungkin melakukan kejahatan, lepaskan dia" bentak Adit dia sama sekali tidak terima satu-satunya keluarga yang dia punya harus di tangkap oleh polisi "lepaskan dia!!! kakak!!!" teriak Adit melihat kakak nya terus di tarik ke dalam mobil polisi Amaya yang terus memberontak tak bisa melepaskan tangan nya dari genggaman tangan polisi yang kekar dan kuat
di dalam sel
__ADS_1
tanpa kaca mata hitam yang melindungi mata biru nya beberapa arwah mencoba mendekati nya tapi Amaya terus menunduk dan memeluk erat kedua lutut nya melindungi mata biru dengan rambut panjang nya hantu menyeramkan ada di seluruh penjuru kantor ini kenapa peria jahat itu tega melaporkan nya apa yang harus ia lakukan sekarang, adik nya kini sendiri di luar sana, tidak mungkin Adit bisa mengeluarkan dia dari tempat yang busuk ini, siapa yang harus dia pintai tolong, tidak ada arahan lagi saat ini, apa ia harus meminta maaf saja pada Rey,tapi ia merasa tidak bersalah justru pihak rumah sakit itu yang salah dia hanya mengatakan yang sebenarnya, semua kebingungan ini membuat nya merasa prustasi semakin di pikirkan seperti nya percuma saja hanya membuat dia semakin sakit kepala
" Hay Amaya?" suara roh lita berbisik di telinga nya
"aku tau kamu sedang kebingungan, aku tau kamu berpikir harus keluar dari tempat ini?"
Amaya menghela nafas
"di saat begini,tolong jangan ganggu aku"
"kenapa,? hey Amaya aku bisa bantu kamu" ucapan nya membuat Amaya mengangkat wajah nya dan menengok ke arah nya ia tersenyum sinis" bagaimana kamu bisa bantu aku, bahkan kamu pun butuh bantuan"
"justru karna itu. aku ingin kamu, bantu aku Amaya?,maka aku akan membantu mu"
Amaya kembali menunduk terakhir kali dia bantu roh wanita yang di gorok itu berahir seperti ini, di jeruji besi,kalo dia kembali membantu entah apa lagi masalah yang akan datang pada nya tapi roh ini berkata kalo dia bisa membantu nya bagaimana kalo benar dia bisa membantu,
"apa yang harus aku bantu?" pertanyaan itu akhir nya terlontar di mulut Amaya, karna tak ada pilihan lagi, Lita tersenyum menang.
"aku ingin kamu membalaskan dendam ku!!!"
" dendam apa?" kejut Amaya pirasat nya mulai tak nyaman,ini berhubungan dengan dendam pasti akan berkepanjangan
"tiga tahun yang lalu, kakak ku memiliki seorang kekasih,tapi sayang nya kekasih kakak ku itu sudah memiliki keluarga bahkan putra putri nya sudah tumbuh besar,"
" lalu kamu minta aku bunuh peria itu?" ia mengangkat wajah nya menengok ke arah si hantu, mendengar pertanyaan Amaya, Lita tersenyum lebar
"Amaya, peria itu sudah buat kakak ku menjadi gila, bahkan anak kakak ku hasil dari buah cinta mereka tidak bisa memanggil nya mama, aku menggantikan kakak ku sekaligus membalaskan dendam nya, tapi apa yang terjadi aku malah mengalami nasib buruk seperti ini, keponakan ku benar-benar kehilangan seorang mama, aku tidak tau nasib nya sekarang ayahku tidak mau menerima nya karna dia anak haram, dan ibu ku memang sudah meninggal saat melahirkan ku" jelas lita
"tapi aku, tidak bisa balas kan dendam kamu," Amaya mengelak dia takut ini akan berkepanjangan di kehidupan nya. si hantu langsung menengok mendengar pernyataan Amaya,
"kalo begitu aku juga tidak akan bantu kamu, nikmati saja hidup mu di balik sel."
bagaimana ini, apa tidak ada pilihan lain selain menyerah.
kriiiiiinggggg kriiiingggg
tak lama kemudian si polisi wanita memanggil Amaya ternyata itu tlpn dari adik nya
"kak bagaimana ini? aku bingung, bagaimana cara mengeluarkan kakak di penjara, aku tau kakak tidak bersalah hal ini pasti karna kakak membantu roh lagi kan makan nya kakak jadi berurusan dengan polisi"
kebingungan adik nya membuat nya semakin yakin harus menerima tawaran Lita,adik nya kini di luar sendirian tidak mungkin ia biarkan karna pasti akan membuat nya sengsara, tawaran Lita mungkin akan mengubah hidup nya tapi setidak nya ini tak berimbas pada adik nya, dia tak mau karna mata sialan yang dia miliki nasib adik nya pun menjadi sial biar dia yang menanggung nya sendiri
"Adit jangan kuatirkan kakak, kakak akan segera keluar dari sini"
"kak, tapi bagaimana...."
"jangan kuatir" Amaya memotong ucapan Adit dan menutup tlpn nya
"jadi apa kamu setuju?" Lita menatap Amaya
"iya" sambil menelan ludah ia menyetujui
" sebelum itu aku ingin buat perjanjian dengan mu?"
"perjanjian? kenapa harus ada perjanjian kamu tidak mengatakan sebelum nya!"
"kenapa apa kamu tidak nyaman dengan adanya perjanjian..?"
Amaya terdiam mengingat pernah memiliki perjanjian dengan seseorang yang sangat di percaya menjaga hati nya, perasaan nya bahkan jiwa raga nya, tapi perjanjian itu hilang begitu saja bagai debu tertiup angin menghilang begitu saja, dia tidak tau bagiman cara mengembalikan kumpulan debu itu agar dia yakin dan percaya pada nya kembali, sakit rasanya janji itu di ingkari lebih sakit dari luka yang kini ada di tangan nya bahkan kalo di bandingkan tak ada apa apa nya sekali, rasa sakit itu bahkan memjalar di hati nya berakar kuat dan semakin melebar menjadi benci, rasa benci ini menekan nya terus menerus untuk menjadi dendam dia terus kendalikan diri nya selama ini mencoba melupakan yang telah terjadi berkali-kali dan kendali itu mengubah sipat nya menjadi dingin, mata biru nya bergetar saat mengingat semua itu,
andai dia tidak memiliki kemampuan khusus mungkin tidak akan sesakit ini dada nya terasa sesak,
"apa kamu baik-baik saja?" tanya Lita melihat Amaya yang menekan dada nya
"apa kita harus memiliki perjanjian?" Amaya malah balik bertanya jika dia menolak pasti lita tidak akan menolong nya jadi terpaksa
" iya" lantang Lita
__ADS_1
" apa perjanjian itu?" Amaya bertanya pelan
"aku boleh masuk ke tubuh kamu, kapanpun, di manapun semau ku"
" hanya itu?" mungkin tidak akan ada yang mengingkari jika hanya itu pikir Amaya
"he'em, hanya itu"
" baiklah, keluarkan aku sekarang dari tempat ini"
"ok, biarkan aku masuk ke tubuhmu" Lita mendekatkan wajah nya dan menatap Amay yang terkejut melihat lita
tubuhnya terasa lemas, dia bersandar di dada bidang seorang peria wangi dari parfum si peria sangat menyengat di hidung nya menyadarkan nya segera ia menarik kepalanya yang barusan tenggelam di dada bidang itu. alangkah terkejutnya Amaya melihat dokter gio yang dia sandari dan tubuh nya berada dalam gendongan gio
"kenapa wajahmu seperti itu?" tanya gio
"apa?"
"kamu nih, tadi mohon-mohon minta tolong, sekarang malah menunjukan wajah terkejut"
"hah? turunkan aku,!!" amaya memberontak dari gendongan gio
"bukankah begini lebih baik?"
"cepat turunkan!!!" bentak Amaya
" baiklah" gio menurunkan nya
"aneh banget. tadi tiba-tiba tlpn ke aku dan so akrab dengan ku, padahal baru sekali bertemu bahkan aku baru tau nama kamu di sini, tiba-tiba juga bilang minta tolong padahal terakhir bertemu denganku sikapmu sangat dingin tapi tadi itu saat minta tolong sikapmu begitu manja, memaksaku agar menolongmu keluar dari penjara sampe pura-pura pingsan setelah keluar sikap mu kembali dingin.. kamu aktris yang sangat berbakat ya" sindir gio sambil bertepuk tangan dan menggeleng
Amaya hanya menghela nafas dan berjalan lebih dulu sambil berkata
"terimakasih sudah menolong ku"
"waaah sekarang malah pura-pura amesia"
"apa lagi?" ia menghentikan langkah lalu menengok ke arah gio
"jangan lupa nanti malam ya?"
"apa?" Amaya keheranan
"makan malam, aku tidak mau menolong mu dengan geratis" dia malah menggoda Amaya yang mulai terlihat kesal
"sedang apa kalian di sini?" suara itu membuat amaya tertegun dia kenal jelas dengan suara itu, ia kemudian langsung melihat ke arah suara itu
"bos?" tanya gio yang terlihat santai saja melihat bos nya Rey mendekat pada mereka
"sedang apa kalian di sini?" sambil berjalan mendekat Rey mengulang kembali ucapan nya
"ini, tadi aku bantu dia keluar dari penjara?"
"dia.....di penjara" Rey melirik Amaya lalu kemudian buang muka saat Amaya kembali melirik nya
"iya,"
"dr.gio apa hari ini anda tidak ada peraktek" Rey mengalihkan pembicaraan
"oh tidak kebetulan hari ini adalah hari libur ku" jawab gio santai " ngomong-ngomong bos ngapain ya di sini?" lanjut bertanya melihat Rey yang ternyata sedang menatap Amaya
"dr.gio saya minta anda segera ke rumah sakit untuk memeriksa lita" jawab Rey tak melepaskan pandangan nya pada Amaya yang celingukan mencari Lita. hantu itu harus membuat perhitungan dengan nya Karana sembaranga sudah membuat janji dengan gio,
"eumm tapi aku harus mengantarkan nya...." sambil tersenyum gio menunjuk Amaya
"biar aku yang mengantarkan nya" Rey memberi tatapan membunuh pada gio " atau kalo tidak segera pergi, kamu.... di ... pecat" tambah Rey yang kemudian berjalan lebih dulu menarik Amaya ke tempat parkiran mobil,
"ok.. ok.. hufh"
__ADS_1