The Conqueror

The Conqueror
Episode 48.2 - Dilema William


__ADS_3

Ketika Bobs sudah mengeluarkan perintahnya untuk maju. Ada sebagian kecil tentara yang masih gentar. Di antaranya bilang, "Jika kita pergi, kita hanya akan berjalan dalam kematian!"


Ungkapan takutnya itu terdengar oleh William. Meskipun menjabat sebagai ajudan seorang panglima dan juga sosoknya sangat berprestasi di usia muda, tapi tak membuat William menjadi orang yang angkuh dan pemarah. Mungkin karena tuannya Bobs adalah seorang yang sangat emosional jadi William menganggap untuk apa dirinya ikut-ikutan menjadi orang yang pemarah juga.


Luapan ketakutannya itu hanya ditanggapi biasa oleh William. Namun rekan yang berada di samping dari tentara yang ketakutan itu marah dan langsung mencengkeram kerah bajunya sambil berkata, "Tutup mulutmu, bajingan! Kau adalah bagian dari pasukan Chandax yang tangguh. Tuan Roderick, Tuan Bobs dan yang lainnya sedang mempertaruhkan hidup mereka sekarang! Orang rendahan seperti kita tidak boleh mengeluh seperti ini di depan para atasan kita yang sudah berjuang mati-matian!"


Setelah mendengar kekesalan dari orang yang menegurnya itu. Tentara yang lain menjadi bangkit lagi gairah bertarungnya.


Mendengar perkataan tadi membuat William juga menjadi lebih semangat.


Benar. Dibanding penguasa dari Wilayah lain. Kita adalah orang yang bisa dibilang sangat beruntung karena penguasa kita sangat bijaksana dalam memimpin rakyatnya. Sambil mengambil busur panahnya. William meluapkan rasa syukur, karena telah diberikan seorang penguasa yang baik dan juga bijaksana. (Orang yang dimaksud adalah Zeno)


"Sudahi perdebatannya! Pasukan maju!" Sebagai seorang yang mempunyai jabatan penting. William tetap berusaha untuk menunjukkan kewibawaannya kepada pasukan yang berada di sekeliling dirinya.


Ktuplak! Ktuplak!


Hyahhh!


Setelah mendapatkan perintah darinya. Semua orang kemudian berani untuk maju menyerang.


Di depannya terlihat Bobs dan pasukan yang lain sudah saling bertempur dengan para pemberontak yang sedang membara itu.


William yang semakin mendekat, sedang tampak merenungkan sesuatu. Ia berpikir, 'Apa aku sudah layak menjadi ajudannya tuan Bobs?'


(Perlu diketahui Ajudan itu juga setara dengan Wakil, Sekretaris, Bendahara atau apa pun itu yang sifatnya sangat krusial dan di sini posisi dan tugasnya William bak wakil panglima)


Sepertinya Wiliam sedang mengalami suatu dilema pada dirinya.


Ketika sedang merenung seperti itu. Tiba-tiba dirinya ingat satu momen di mana ayahnya Mundus pernah berkata kepada William, "Kau terlalu banyak berpikir, William. Kau ini punya bakat yang sangat hebat. Jangan selalu merasa lemah seperti itu."


Ia ingat ayahnya Mundus yang punya tinggi sepantar dengannya pernah memberi nasihat seperti itu. Mengingat hal itu membuat William menjadi lebih percaya diri lagi.


Ketika sedang berlari. Tentara yang ada di sekelilingnya kemudian melihat ke arah William Artemis.


"Tuan William..." Mereka melihat ke arah William. Dan mereka heran tuannya itu tiba-tiba...


"...Tersenyum?"


Ktuplak! Ktuplak!


Hyahhh!

__ADS_1


Singkat cerita Bobs, William dan seluruh pasukan yang berada di bawah perintahnya berjuang mati matian menghadapi pemberontak yang tiba-tiba saja menjadi sangat beringas.


...


Wooosh! Woosh! Gluduk!


Kembali ke waktu di mana Hengki dan yang lainnya beristirahat saat ini berderau bunyi hujan yang sangat deras sambil tertiup angin.


Ketika sedang asyik bersantai, tiba-tiba salah satu tentara mendengar suara gemuruh yang berasal jauh dari sebelah kiri.


Mereka kemudian menjadi penasaran dengan suara gemuruh tersebut.


Tanpa pikir panjang, meski sedang hujan deras. Roderick, Hengki, Ajax beserta beberapa tentara yang diperintahkan, ikut menghampiri sumber suara tersebut.


Ketika sudah mulai berjalan. Suara gemuruh dari teriakan dan jeritan banyak orang yang tadi mereka dengar tiba-tiba menghilang.


Mereka menyusuri jalan tanpa tujuan yang jelas. Penglihatan mereka benar-benar buram dan jarak pandangnya juga pendek. Sering sekali mata mereka terhalang oleh air hujan, dan itu membuat perjalanan mereka sedikit terganggu.


Dan pada akhirnya tibalah Roderick, Ajax dan salah satu tentaranya ke suatu tempat yang sangat memprihatinkan untuk dilihat.


Di tempat itu terlihat banyak sekali pasukan kerajaan dan pemberontak yang sudah tergeletak. Ada yang sudah mati secara mengenaskan dan juga yang masih hidup namun jika dilihat dari kondisi lukanya, mereka sepertinya sudah tidak bisa di tolong lagi.


"Ada apa ini?" heran Ajax.


Ketika sedang celingak celinguk ke sana ke mari. Tiba-tiba saja ada yang berteriak kepadanya, "Tuan!" orang itu memanggil Roderick.


"Orang yang terluka ini adalah salah satu ajudannya tuan Bobs," salah satu tentaranya menemukan sosok penting yang masih bertahan hidup.


Ketika dihampiri oleh Roderick, orang itu tampak sedang kritis, nafasnya pun terengah-engah. Dan betapa kagetnya Roderick, karena ternyata orang itu adalah, "William! Dia adalah Wiliam Artemis! Apa yang terjadi di sini?!"


Ternyata orang yang ditemukan dalam keadaan hidup itu adalah William. Dari wajahnya saja William tampak sangat babak belur. Banyak luka yang diderita olehnya.


Dengan menahan rasa sakit, karena mulutnya juga terlihat bersimbah darah, Wiliam menjawab, "Aku... aku minta maaf. Musuh itu... Tiba-tiba menjadi kuat... Kami kesulitan menghadapinya... "


Karena suaranya tidak jelas, dan cara bicaranya juga terbata-bata. Roderick kemudian mendekatkan dirinya kepada William.


"...Tapi... Tuan Roderick... Meskipun situasinya rumit... Tuan Bobs masih berjuang sendirian... Maafkan aku Tuan... Aku masih tidak layak untuk berdampingan dengannya..." Sambil terbata-bata dan mengeluarkan air mata. William merasa dirinya masih belum layak untuk menyabet tugas sebagai wakil panglima dari Chandax.


"William...," melihat kondisinya seperti itu membuat Roderick merasa sangat iba kepadanya.


"...Aku merasa menyesal. Aku benar-benar tidak berguna... Aku sangat bodoh..."

__ADS_1


Roderick dan Ajax merasa kondisi dari fisik dan juga mentalnya William sedang tidak sehat sekarang. Ia merasa kasihan dengan beban yang selama ini dipikul oleh William.


...


Sedangkan itu, tak jauh dari tempat di mana Roderick menemukan William. Pasukan yang lain juga sedang mencari keberadaan Bobs dan pasukannya yang terpisah.


Salah satu orang yang mencarinya itu adalah Hengki.


Semuanya menjadi sangat panik, kecuali Hengki.


"Tuan Bobs! Tuan! Di mana anda?!" teriak seluruh tentara itu sambil berlarian ke segala arah.


Apa yang dilakukan oleh si bodoh itu? Sementara Hengki mencari keberadaan Bobs sambil merasa jengkel kepadanya. Wajar kalau Hengki jengkel karena di sini akal sehat Hengki masih berjalan dengan semestinya.


Karena orang tanpa pengalaman seperti Hengki juga tahu, kalau hari sudah semakin gelap maka harus ada salah satu kubu yang mengalah untuk mundur, bukan malah saling serang seperti ini.


Kalau keduanya saling serang, yang terjadi ya seperti ini. Pasukan yang lain menjadi kesulitan untuk mengevakuasi para tentara yang terluka dan juga kelelahan. Apalagi kali ini cuaca sedang hujan deras dan anginnya juga tertiup sangat kencang.


Dan ketika sedang merasa jengkel kepada Bobs. Hengki lantas kaget karena ia melihat banyak sekali mayat dari para pasukan pemberontak yang mengalami luka besar-besar.


Entah itu luka di punggung atau di perut. Bahkan saking besarnya, organ dalam seperti usus dan yang lainnya keluar berceceran di atas tanah.


Untung saja hujan turun, kalau tidak bau busuk dari mayat-mayat itu akan sangat terasa menyengat.


"Kenapa dengan orang-orang ini? Apakah yang melakukannya tuan Bobs?" salah satu tentara biasa yang kebetulan bersama dengan Hengki heran dengan apa yang dirinya lihat.


"Gila apa-apaan ini?! Hoek..." Hengki lantas penasaran, dan ketika melihat mayat-mayat itu Hengki menjadi merasa sangat mual.


"Dia... Itu bukan manusia," Di tengah kebingungan itu tiba-tiba keluar suara dari salah satu pemberontak yang sedang sekarat.


Hengki dan yang lainnya kemudian kaget, mereka pikir yang berbicara itu adalah hantu. Tapi ternyata bukan.


"Dia... Bukan manusia..." Orang itu mengucapkan perkataan yang sama lagi.


Hengki yang mendengarnya menjadi sangat penasaran dengan apa yang dimaksud olehnya itu.


{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}


(っ^▿^) Terima Kasih sudah membaca episode 48.2 yang berjudul 'Dilema William' ini.


Untuk kalian yang suka dengan ceritanya boleh Like, Share dan jangan lupa tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan update cerita selanjutnya. Atau kalian juga boleh menyisihkan beberapa poin yang kalian miliki untuk hadiah.

__ADS_1


Dan untuk kalian yang ingin memberikan saran, kritik, promosi, apresiasi dan yang lainnya, bisa sampaikan saja langsung pada kolom komentar yang ada di bawah yah.


(っ ͡~ ͜ʖ ͡°)っ à plus tard. :v


__ADS_2