The Conqueror

The Conqueror
Episode 49.2 - Pendekatan Dengan Jan


__ADS_3

Di pagi buta sekitar jam 1 atau 2an yang dingin itu, semua pasukan tertidur pulas. Kecuali Hengki.


Ia masih tetap terjaga karena hawa dingin tidak bisa membuatnya tertidur. Hengki terus mendekat ke arah api unggun yang telah dibangun semenjak semua masih bersantai. Jarak Hengki dengan api unggun itu sangat dekat hingga mungkin jaraknya hanya beberapa senti saja. Namun Hengki tetap merasa kedinginan.


Tak jauh dari api unggun itu tergeletak Jan yang masih tak sadarkan diri. Tampaknya Jan sedang bermimpi buruk, ia dari tadi menggerakkan tangan dan kakinya dengan sangat aneh. Nafasnya juga seperti orang yang sedang ketakutan.


Pertarunganku... Jan sedang mengigau. Ia memikirkan dirinya seperti sedang bertarung dengan seseorang.


Badan Jan diam akan tetapi kepalanya bergerak tak karuan.


Tak lama Jan lantas terbangun dari mimpinya. Ia sadar kalau dirinya sedang mengalami luka yang amat sangat banyak dan sedang tergeletak bersama pasukan yang lain.


Jan melirik ke kanan dan kiri sambil mengumpulkan nyawanya. Ia berpikir sepertinya situasi sudah baik-baik saja setelah Jan melihat pasukan kerajaan tertidur dengan sangat nyenyak di sekelilingnya.


Jan lalu memejamkan matanya sambil berpikir, Aku gagal... Aku telah gagal...


Ia lalu membuka matanya lagi dan menatap ke arah bulan yang bersinar terang. Tidak masuk akal memang, tapi asap yang ditimbulkan dari api unggun yang ada di dekatnya justru membuat Jan merasa lebih tenang.


"Maafkan aku... Tuan... (Merujuk pada Paris)." Dengan nada pelan Jan meminta maaf pada gurunya karena ia berpikir dirinya telah gagal untuk membunuh lawannya di siang hari tadi.


"...Aku selalu mengejarmu, tapi aku seperti tidak pernah mendekat sedikit pun... Maafkan aku." Jan terlihat sangat menyesal, ia menutup kedua matanya itu dengan lengannya.


Cleb!


Di tengah gundah gulananya itu tiba-tiba muncul seseorang yang bergerak ke arah Jan, dan ketika sudah mendekat si orang itu menancapkan kayu di depannya.


Sret! Sret!


Orang itu berjalan dengan menyeret kakinya. Aneh memang, tapi hal itu mengganggu Jan.


Jan yang masih menutup mata dengan lengannya itu kaget.


"Kau sudah bangun yah... Selamat..."


Orang yang mendekati Jan itu menyapanya terlebih dahulu dan mengucapkan selamat kepada Jan.


Selamat?... Maksudnya?... Jan bingung kenapa orang itu mengucapkan selamat kepadanya.


Ketika Jan hendak mengangkat lengan agar bisa melihat siapa orang yang menghampirinya. Secara berbarengan orang itu berkata, "Kau telah berhasil membunuh pemimpin musuh dengan sangat mengesankan."


Ehh... Orang ini yang pernah memberiku apel dan juga dia selalu berada di sisi tuan Roderick...Setelah membuka matanya, ternyata yang menghampiri dirinya adalah sosok yang pernah memberi apel saat ia sedang kelaparan. Ya, orang itu adalah Hengki.


Hengki menghampiri Jan agar ia bisa mulai mengenalkan siapa dirinya. Jelas sekali kalau Hengki sedang memiliki tujuan tertentu dengan Jan.


Mumpung ada momen untuk mengakrabkan diri dengannya. Hengki tanpa pikir panjang langsung bergerak.


Meski sudah sadar siapa sosok yang sedang menghampirinya. Tapi tampaknya Jan masih belum mencerna omongan Hengki tadi.


Dan ketika sudah beberapa detik terlewat, akhirnya ia terkejut meski telat, "Apa?! Apa yang kau bilang tadi?..."


Dengan mata melotot Jan kaget. Ia tidak mempercayai omongan Hengki yang mengatakan bahwa musuh yang dirinya hadapi siang tadi telah tewas.


"Apa kau sedang bercanda?..." dengan mata yang masih melotot, Jan bertanya kepada Hengki, apa dirinya sedang diajak bercanda.


Jan berpikir kalau Hengki adalah sosok yang tengil mengingat di pertemuan sebelumnya, tampak jelas Hengki menghindari dan bersikap acuh tak acuh kepada dirinya yang sedang merintih kelaparan. Meski tak menyimpan dendam tapi tetap saja Jan agak kesal kepada Hengki.


"Untuk apa aku bercanda. Orang yang kau lawan itu memang sudah mati. Sepertinya dia kehabisan darah atau kehabisan tenaga setelah menerima luka yang sangat fatal di sekujur tubuhnya. Aku tidak tahu jelas kenapa dia mati," Hengki bilang kepada Jan, bahwa dirinya berkata jujur tentang kematian German.


"Benarkah?..." Sambil menitikkan air mata. Jan terharu, ia sangat bangga kepada dirinya jikalau musuhnya itu memang benar-benar sudah tewas.

__ADS_1


Hengki yang melihat Jan menangis terharu merasa lumayan risi, wajar Hengki merasa seperti itu karena di dunia sebelumnya mana ada orang terharu setelah membunuh orang lain, apalagi orang yang dibunuh adalah sosok penting.


Gila... Kalau di duniaku orang ini mungkin sudah dianggap psikopat, pikir Hengki.


"Ah. Tunggu! Bukankah kau juga yang telah menyelamatkanku?" Setelah nyawanya sudah lumayan terkumpul. Jan akhirnya ingat kalau Hengki adalah orang yang telah menyelamatkannya.


Mendengar pertanyaan darinya itu membuat Hengki senang. Karena ini menandakan kalau obrolan akan berjalan panjang dan juga Jan sepertinya sudah terbuka kepada Hengki.


Sebelum menjawab Hengki terlebih dahulu duduk di samping Jan.


"Bisa dibilang begitu. Tadinya aku ingin langsung membunuh lawan duelmu itu. Tapi karena tidak enak, jadi aku hanya menembakkan anak panahku tepat ke arah senjatanya saja, supaya kau bisa bangkit lagi."


Setelah Jan mulai terbuka kepadanya, dan juga sepertinya Jan merasa punya hutang budi kepada Hengki. Di sinilah siasat Hengki akhirnya dimulai.


Dengan wajah tanpa mengeluarkan ekspresi mencurigakan sedikit pun. Hengki dengan mudahnya berbohong kalau ia merasa tidak enak kepada Jan. Padahal kisah aslinya Hengki pada saat itu sedang gemetaran jadi tembakannya melenceng dan akhirnya mengenai senjata musuh.


Karena orangnya agak polos. Jan langsung percaya begitu saja dengan bualan Hengki.


Ia sekarang justru merasa kagum dengan kemampuan yang dimiliki oleh Hengki.


Hebat sekali! bagaimana caranya dia bisa menembak senjatanya itu dengan akurat? Apa kemampuannya setara dengan William?... Sambil merasa kagum, Jan bertanya-tanya, bagaimana caranya Hengki bisa membidik dengan tepat ke arah senjata musuh, padahal senjata yang dipakai oleh German itu lumayan kecil. Bayangkan, meleset sedikit saja anak panahnya itu justru malah bisa nyasar ke lehernya Jan.


Sambil merasa kagum, Jan membandingkan kemampuan memanah Hengki dengan William. Namun Jan berpikir ulang, ...Tidak! Tidak mungkin kemampuannya setara dengan William.


Melihat Jan terdiam sambil menatapnya dengan tatapan kagum, Hengki justru merasa khawatir.


Apa orang ini percaya begitu saja dengan ceritaku?... Sambil bertanya begitu dalam benaknya. Hengki melihat ke arah Jan, dan memang sepertinya Jan sungguh percaya dengan cerita yang disampaikan oleh Hengki.


Di awal padahal Hengki sengaja agak melebih lebihkan ceritanya supaya Jan bisa bertanya lebih jauh dan obrolan pun menjadi lebih lama. Namun di luar dugaan ternyata Jan malah percaya begitu saja.


...Padahal aku sudah menyiapkan beberapa alasan kalau dia berpikir aku sedang berbohong, pikir Hengki.


Namun kekhawatirannya tentang obrolan yang terhenti sepertinya sirna, karena Jan memulai topik baru dengan bertanya, "Ini... Di mana kita sekarang?"


Karena gelap. Jan jadi tidak bisa melihat dengan jelas. Ia akhirnya bertanya-tanya di mana ini. Dan ia juga merasa janggal karena ia lihat banyak sekali pasukan dari Unitnya panglima Bobs sedang istirahat di sini.


"Sepertinya kita ada di tengah-tengah antara perkemahan dari pasukan kita dan juga markas musuh." Karena sudah berkeliling sebelumnya, Hengki mengira kalau mereka sedang ada di antara pasukan kerajaan yang berada di belakang dengan Kota Blum. Ia mengira seperti itu karena dari tempat ini tadi tak jauh untuk mencapai ke arah di mana Bobs berada.


"jadi tuan Bobs juga bertarung di waktu yang sama ya?" tanya lagi Jan.


"Sepertinya begitu," jawab Hengki.


Sepertinya Jan juga tidak ingin obrolan segera berakhir. Jan tampak celingak celinguk mencari bahan obrolan baru.


Dan terhentilah tatapannya pada busur silang yang dibawa oleh Hengki.


"Apa itu senjata yang kau gunakan untuk menyelamatkanku?" tanya Jan dengan sangat penasaran.


Ia bertanya sambil menunjuk busur silang tersebut.


"Iya, apa kau mau melihatnya." Agar bisa lebih mempererat hubungan, Hengki menawarkan Jan untuk melihat busur silangnya dengan cuma-cuma.


"Apa boleh? Baiklah, aku ingin melihatnya..." Dengan semangat Jan mengiyakan tawaran Hengki.


Tanpa pikir panjang Hengki langsung memberikan busur silangnya itu kepada Jan.


Jan tampak terkesima dengan detail dan bentuk dari busur silang tersebut.


"...Siapa yang membuat senjata sebagus ini?" Jan memuji senjata itu sambil menanyakan siapa pembuatnya.

__ADS_1


"Yang buat adalah ayahnya William." Hengki tanpa ragu menjawab kalau yang membuatnya adalah ayahnya William, Mundus.


"Ehh! Sejak kapan tuan Mundus membuat sesuatu seperti ini?!" Meski tak merasa dibohongi, tapi Jan heran, sejak kapan Mundus membuat senjata yang tampak rumit itu.


"Haha... Walaupun yang membuatnya tuan Mundus tapi sebenarnya yang merancang senjata ini adalah aku sendiri. Aku memintanya pada saat malam sebelum pertempuran dimulai." Hengki menjawabnya sambil sedikit malu karena ia harus bilang kalau yang merancangnya adalah dirinya sendiri.


"Wah keren sekali. Tapi bagaimana bisa orang sepertimu menggambar rancangan dari busur ini. Pasti sangat rumit sekali bukan? Sejak kapan kau mulai menggambar?" Saking penasarannya, Jan langsung melempar Hengki dengan beberapa pertanyaan yang ada dikepalanya.


Hengki lalu menjawab, "Tidak terlalu rumit kok, lagi pula aku sudah mulai menggambar semenjak TK."


Tanpa sadar Hengki jawab kalau dirinya sudah menggambar sejak TK.


Dan wajar saja jawabannya tadi membuat Jan bingung.


"TK? Apa itu?" tanya Jan.


Hengki lantas sadar kalau di dunia ini pasti tidak ada yang namanya TK (Taman Kanak-kanak).


"Maksudnya.. Umm..." Sambil menjawab Hengki menghitung dengan jarinya, ia berusaha mengingat berapa usia anak kecil ketika masih TK.


"...Kira-kira sekitar 5 sampai 6 tahun."


Dan jawabannya itu membuat Jan terkejut, "Hah?!..."


"...Bagaimana bisa seorang anak kecil sudah diberi kertas oleh orang tuanya?! Apa kau anak dari bangsawan kelas atas?! Bahkan putra dari seorang raja saja diberi kertas ketika ia sudah melakukan upacara kedewasaan." Lagi-lagi Jan merasa tidak masuk akal dengan apa yang dikatakan oleh Hengki. Tapi meski begitu ia tidak merasa sedang dibohongi.


Yah, wajar saja Hengki sedang berbohong saja Jan masih percaya apalagi ketika Hengki sedang berkata jujur.


Setelah diberi pertanyaan seperti itu, Hengki menjadi agak panik. Ia tidak tahu harus menjawab apa, karena kalau Hengki jujur dengan bilang kalau ia berasa dari dunia lain, pasti Jan akan merasa sedang ditipu olehnya.


Beberapa saat kemudian Hengki akhirnya menemukan sebuah alasan yang bagus, ia bilang, "O-orang tuaku dulu adalah seorang saudagar yang berkelana ke beberapa kerajaan. Dan aku dulu sempat mencuri beberapa kertas yang ia jual."


Hengki berpura-pura kalau dulu ia dapat kertas dari hasil mencuri dagangan ayahnya. Muka cemasnya itu membuat jawaban Hengki menjadi lebih meyakinkan dimata Jan.


Jan berpikir ia telah bertanya sesuatu yang sensitif kepada Hengki, dan dengan terpaksa Hengki jadi membongkar rahasianya karena telah mencuri dagangan orang tuanya.


"Ja-jadi begitu. Aku tidak bermaksud untuk membuka rahasiamu. Aku benar-benar minta maaf."


Jan kemudian menjadi panik juga. Ia pikir dirinya sudah menyinggung masa lalunya Hengki.


Dan akhirnya percakapan mereka pun agak sedikit canggung, namun sepertinya usaha Hengki untuk berteman dengan Jan tidak sia-sia.


Di akhir obrolan, tak lupa mereka saling memberitahu namanya masing-masing. Ternyata nama hanyalah Jan saja tanpa nama belakang.


Ini menandakan kalau Jan adalah anak dari keluarga yang sangat rendah atau bisa saja Jan lahir tanpa seorang ayah, alias anak haram seperti Roderick.


{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}


(っ^▿^) Terima Kasih sudah membaca episode 49.2 yang berjudul 'Pendekatan Dengan Jan" ini.


Untuk kalian yang suka dengan ceritanya boleh Like, Share dan jangan lupa tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan update cerita selanjutnya. Atau kalian juga boleh menyisihkan beberapa poin yang kalian miliki untuk hadiah.


Dan untuk kalian yang ingin memberikan saran, kritik, promosi, apresiasi dan yang lainnya, bisa sampaikan saja langsung pada kolom komentar yang ada di bawah yah.


(っ ͡~ ͜ʖ ͡°)っ à plus tard. :v


{OPEN DONATION}


Sekarang kalian bisa donasi dengan cara Scan Code QR di bawah sebagai bentuk atau salah satu cara kalian untuk mendukung kelancaran dan perkembangan dari novel Hengki The Conqueror ini.  شكرًا لك

__ADS_1



__ADS_2