
Pertempuran intens telah berlangsung selama seharian penuh, di siang tadi Jan berhadapan dengan salah satu petinggi dari kelompok Perfectum Iudicium yakni German Rainer.
Meski telah terluka parah dan juga pertarungan lebih dulu diunggulkan oleh German. Namun karena perjuangannya yang tak kenal gentar, Jan berhasil membuat German terpojok dan di akhir musuhnya itu mati ketika hendak melarikan diri ke dalam kota.
German tewas setelah kehabisan begitu banyak darah. Sementara Jan sampai detik ini masih juga belum sadarkan diri.
Dilain sisi pertempuran ini juga menjadi bukti kalau Hengki masih mampu untuk menggunakan akal kecerdasannya walaupun peperangan berjalan dengan sangat intens dan juga menegangkan, bahkan dirinya juga ikut terjun ke tengah-tengah pertempuran.
Walaupun beberapa momen Hengki merasa takut dan gugup apalagi pada saat dirinya dikejar oleh para pemberontak. Tapi itu semua bisa Hengki atasi dan juga ia bisa ambil hikmahnya sebagai pengalaman yang sangat berarti untuk kisah hidupnya ke depan di dunia ini.
Busur silang yang dirinya rancang dan direalisasikan dengan sangat epik oleh Mundus Artemis. Mampu mengubah arah pertempuran pada siang tadi.
Karena busur silang itu dibuat dengan sangat baik juga kualitasnya bagus, banyak sekali bidikan Hengki yang ditembakkan dengan sangat akurat.
Saking bagusnya, bahkan ketika Hengki merasa panik dan juga waktunya tidak banyak untuk membidik. Ia masih mampu untuk menembakkan anak panah dengan sangat baik ke arah German. Tembakannya membuat takdir dari jalan pertarungan antara Jan dan German menjadi terbalik.
Padahal pada saat itu Jan sedikit lagi tewas oleh German, karena German hanya perlu memberikan sedikit dorongan agar Jan kehilangan kesadaran dan tinggal ia eksekusi. Namun karena tiba-tiba datang Hengki yang langsung mengarahkan tembakannya kepada German membuat Jan berhasil keluar dari tekanan dan akhirnya keadaan berbalik.
Meskipun peperangan berjalan dengan sangat sengit. Kedua kubu baik kubu kerajaan atau pemberontak sebenarnya belum bertarung dengan kekuatan penuhnya masing-masing.
Karena di kubu kerajaan, Pasukan Attica yang dipimpin oleh Dominic tidak ingin terburu-buru untuk mengambil keputusan menyerang. Mereka memilih untuk menunggu pasukan Chandax yang dipimpin oleh Bobs disisi kiri dan Roderick disisi kanan menyelesaikan pertarungannya terlebih dahulu.
Dan untuk kubu pemberontak, sebenarnya strategi yang digunakan oleh Hubert secara teori sangat baik. Ia tadinya berniat untuk memecah konsentrasi dari pasukan kerajaan. Karena siapa pun ahli strategi yang ada di kubu kerajaan. Pasti mereka tidak akan pernah mengira kalau para pemberontak akan keluar menyerang
Apalagi mereka juga tahu kalau ahli strategi yang ada di kubu kerajaan ada satu, itu pun berasal wilayah yang isinya orang-orang arogan semua yakni Wilayah Attica, ahli strategi itu bernama Elias orang yang selalu ada di samping Dominic.
Tebakan mereka juga sebenarnya benar, karena semalam sebelum terjadinya perang. Elias memprediksi pasukan pemberontak pasti sedang ketakutan dan mentalnya sedang hancur. Jadi ia pikir pasukan kerajaan harus menyiapkan ratusan cara untuk bertarung di dalam kota.
Pada saat Elias melihat kalau ternyata pasukan pemberontak justru malah keluar dari dalam kota, ia awalnya sangat panik, karena tak ada satu pun skenario seperti ini dalam pikirannya itu.
Hanya saja sial bagi para pemberontak itu khususnya bagi Hubert, strateginya sudah sangat bagus bahkan berhasil membuat ahli strategi lawannya panik. Namun ia juga tidak tahu dan tidak mungkin tahu bahkan, kalau di antara semua orang yang berada di barisan pasukan kerajaan ada satu sosok yang sudah memikirkan cara untuk mengcounter strateginya itu.
Siapa lagi kalau bukan Hengki. Setelah menyuruh ayahnya William yakni Mundus untuk membuatkan busur silang di malam hari itu. Hengki langsung pamit kepada Roderick dan yang lainnya. Ia ternyata bergegas pergi untuk menemui Ajax.
Hengki langsung merancang beberapa strategi dadakan bersama Ajax. Dan salah satu strategi yang diberikan oleh Hengki awalnya membuat Ajax heran. Karena di dalam strategi itu muncul skenario atau perkiraan kalau musuh akan menyerang.
Bukan bermaksud untuk meremehkan lawan. Tapi bagaimanapun mental dari para pemberontak itu pasti sedang terpuruk apalagi setelah kalah dengan sangat telak dan juga kehilangan sosok penting seperti Benedict di pertempuran sebelumnya. Berpikir secara posistif pun orang pasti mengira kalau para pemberontak mau bagaimana pun akan bertahan di dalam kota.
Tapi bagi Hengki, bertahan di dalam kota itu justru akan membuat para pemberontak semakin kesusahan, karena minimnya tempat untuk berlindung. Hal inilah yang tidak disadari oleh orang-orang kerajaan yang lain.
Ketika pertarungan sudah dikuasai oleh kubu kerajaan karena telah berhasil memukul mundur German beserta pasukannya tak membuat Hengki, Roderick dan yang lainnya angkuh.
__ADS_1
Walaupun German sudah sekarat dan tinggal di eksekusi, Roderick lebih memilih untuk memerintahkan Jan agar segera mundur terlebih dahulu karena ia lihat kondisinya sedang memprihatinkan dan juga Roderick sadar kalau para pemberontak sedang berbondong-bondong ke arahnya.
Jan yang hanya seorang Kapten II tidak bisa beralasan dan mengedepankan egonya terlalu jauh apalagi kepada Roderick sosok yang sangat terhormat.
Awalnya sial bagi Roderick, Hengki dan Jan karena mereka sedikit telat untuk mundur. Para pemberontak itu lebih dulu mengunci jalan untuk melarikan dirinya.
Namun karena koordinasi yang sangat baik dari pasukan Ajax, dengan sigap ia menghampiri kerumunan Hengki dan membuka jalan keluar dari belakang.
Ajax yang awalnya percaya diri kalau Hengki bisa membunuh mudah lawannya kemudian berpikir ulang lagi, karena sejak ia menarik perhatian musuh dan melarikan diri, sudah lama waktu berlalu namun tak kunjung datang kabar kalau Hengki berhasil menghabisi pemimpin lawan.
Hal inilah yang membuat dirinya khawatir dan pada akhirnya menyuruh salah satu pasukannya untuk terus memantau jalannya peperangan.
Ketika tentara yang diperintahkannya itu mendengar sorakan dari arah markas musuh. Ajax di situ tidak tahu kejelasan tentang apa yang sedang terjadi. Yang pasti ada dua kemungkinan besar yakni sorakan itu muncul karena pemimpin musuh telah dikalahkan atau justru malah sebaliknya yakni petinggi pasukan kerajaan yang kalah.
Kekhawatirannya pun semakin memuncak. Dan ketika di tengah rasa bimbang itu, Ajax dan pasukannya melihat banyak sekali gerombolan pemberontak yang berlarian ke arah markasnya.
Hal itu menandakan kalau pertempuran kemungkinan besar belum selesai. Ajax dengan cepat mengambil keputusan untuk langsung memimpin pasukannya menuju markas musuh. Karena dari tadi mereka bergerak secara memutar. Ajax dan pasukannya mendapat momen untuk menerobos barisan belakang musuh dengan sangat mudah.
Dan karenanyalah nyawa Hengki, Roderick dan Jan berhasil di selamatkan.
Mereka pun mampu melarikan diri dengan sangat mulus karena para pemberontak itu menjadi terpecah belah dalam mengambil keputusan, sebagian memilih untuk mengejar Hengki dan yang lainnya sedangkan sebagian lagi memilih untuk menyelamatkan dulu German pemimpin mereka.
Sudah jatuh tertimpa tangga, sudah terpecah belah namun tak ada satu pun yang menghasilkan dampak positif. Pasukan yang memilih untuk mengejar Hengki dan yang lain kehilangan jejak karena tiba-tiba langit berubah menjadi gelap tertutup awan hitam. Sementara yang memilih untuk mengevakuasi German juga gagal karena di tengah perjalanan pemimpinnya itu tewas setelah kehilangan banyak darah..
Hengki dan yang lain kemudian bergegas untuk mencari tempat berteduh.
Setelah menemukan tempat untuk berteduh, sekarang giliran pasukan medis untuk bekerja. Mereka dituntut untuk bekerja keras karena di pertempuran tadi banyak sekali tentara yang selamat dengan luka yang beragam. Ada yang fatal, kemungkinan fatal dan luka yang biasa saja.
Hengki pada saat itu paling khawatir dengan keadaannya Jan. Di pertempuran tadi Hengki sangat kagum dengan cara dan gaya bertarung Jan. Meskipun tak tahu ilmu berpedang, tapi Hengki bisa merasakan dengan apa yang ia lihat kalau Jan adalah sosok yang sangat berbakat. Dan juga Hengki terkesima dengan kengototan Jan, meski serangannya terus menerus berhasil ditangkis musuh, Jan masih berjuang dengan sangat gigih. Dan kegigihannya itu pada akhirnya berbuah manis untuk dirinya sendiri.
Hengki tidak ingin Jan mati begitu saja, karena siapa tahu ia bisa menggunakan jasanya atau setidaknya ia bisa memastikan untuk menghindari pertempuran dengan Jan di kemudian hari setelah melihat cara bertarungnya tadi.
Ketika mendengar informasi kalau Jan ternyata baik-baik saja dan tidak mengalami luka yang berarti membuat Hengki lega.
Ia pun dapat beristirahat tanpa beban di pikirannya..., Harusnya seperti itu. Sayangnya ketika semua orang hendak bersantai, ada satu tentara yang mendengar kalau di sisi kiri dari kubu kerajaan muncul suara gemuruh, bukan dari suara petir melainkan suara dari banyak orang yang berteriak.
Hal ini jelas membuat Roderick dan yang lain panik, tadinya mereka pikir kalau suara itu bersumber dari pasukan pemberontak yang sedang mengejarnya.
Dengan memberanikan diri. Roderick, Hengki, Ajax beserta beberapa pasukan yang masih bugar lantas mengecek sumber suara tersebut.
Semakin mendekat, tiba-tiba suara itu hilang. Dan setelah berjalan sedikit, mereka sontak terkejut karena di tengah hujan deras itu ternyata telah terjadi pertempuran hebat.
__ADS_1
Roderick merasa sangat khawatir karena pasukan yang mereka lihat itu adalah unitnya Bobs. Sebenarnya Roderick bukan khawatir kalau Bobs akan gugur tetapi Roderick khawatir kalau Bobs semakin tidak bisa mengendalikan emosinya, apalagi setelah kehilangan pasukan yang sangat banyak seperti ini.
Dan kekhawatirannya itu pun ternyata benar. Hengki beserta beberapa tentara yang berpencar dibuat ngeri karena banyak sekali pasukan pemberontak yang terkapar dimana-mana. Ketika salah satu pemberontak yang masih sekarat bergumam tidak jelas sambil mengatakan kalau musuhnya itu bukan manusia, membuat Hengki semakin bingung lagi.
Setelah berjalan lurus sedikit, akhirnya terjawab sudah kalau lawan yang sangat mengerikan bagi para pemberontak itu ternyata adalah Bobs.
Beruntung Hengki lagi-lagi datang di waktu yang sangat tepat, karena ketika ia melihat Bobs. Hengki sadar kalau musuh yang baru saja di ampuni nyawanya sedang menyerang Bobs dari belakang.
Dengan akurasi yang sangat tepat. Hengki mampu menyelamatkan Bobs, meskipun Bobs agak kesal karena terus-terusan di selamatkan oleh Hengki.
\= = = = = = = = = = = = = = = = =
Setelah pertarungan yang terasa sangat lama di hari pertama ini, akhirnya malam pun tiba. Waktu di mana Hengki dan yang lainnya bisa bersantai dengan tenang.
Hujan deras telah berhenti, kini hanya tersisa hawa dinginnya saja. Meski hawanya sangat dingin tapi ini membuat para tentara merasa lebih lega. Karena ketika berperang di siang tadi hawanya sangat panas sekali dan membuat mereka mandi keringat.
Namun itu semua tidak berlaku untuk Hengki. Cuaca panas di siang tadi tidak ada apa-apanya dibanding cuaca panas didunia lamanya. Apalagi Hengki dulu tinggal di negara tropis seperti Indonesia. Mungkin jika di ukur, panas di siang hari tadi hanya sekitar 24 sampai 26 derajat celcius. Sementara didunia lamanya 28 derajat saja itu hal yang sangat biasa. Jadi siang tadi itu bisa dibilang enak untuk Hengki.
Saat ini Hengki justru sedang menderita karena hawa dingin itu sedang menusuk tubuhnya. Bisa dibayangkan dulu di Indonesia paling dingin mungkin sekitar 20 derajat saja, itu pun sangat jarang. Namun saat ini ia sedang merasakan hawa dingin yang diukur mungkin bisa sampai 16 atau 17 derajat. Sangat dingin bagi Hengki.
melihat Hengki begitu menggigil membuat Roderick khawatir. Ia lantas menghampiri Hengki dan bertanya, "Apa kau sedang kedinginan?"
Pertanyaan Roderick itu membuat Hengki agak kesal, karena orang harusnya langsung sadar kalau dirinya sedang menggigil kedinginan. Kenapa juga Roderick menanyakan hal itu kepada Hengki.
Meskipun sering mengejek orang lain ketika merasa kesal. Kini Hengki lebih memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu, ia berusaha bersikap hormat kepada Roderick. Meskipun tatapannya tidak bisa ia kontrol, karena dari tadi ia melirik Roderick dengan mata sinisnya.
Hengki lebih memilih untuk menjawab, "Cukup berikan aku selimut lebih banyak saja. Aku tidak begitu terbiasa dengan cuaca seperti ini."
Awalnya Roderick merasa heran, karena baginya dan juga kebanyakan orang cuaca seperti ini membuat tubuh nyaman.
Namun juga ia tidak enak untuk bertanya lebih jauh kepada Hengki, karena badannya bergetar dengan cukup hebat.
Roderick kemudian bangkit untuk meminta beberapa selimut.
{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}
(っ^▿^) Terima Kasih sudah membaca episode 49.1 yang berjudul 'Hari Pertama Setelah Tumbangnya German' ini.
Untuk kalian yang suka dengan ceritanya boleh Like, Share dan jangan lupa tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan update cerita selanjutnya. Atau kalian juga boleh menyisihkan beberapa poin yang kalian miliki untuk hadiah.
Dan untuk kalian yang ingin memberikan saran, kritik, promosi, apresiasi dan yang lainnya, bisa sampaikan saja langsung pada kolom komentar yang ada di bawah yah.
__ADS_1
(っ ͡~ ͜ʖ ͡°)っ à plus tard. :v