The Conqueror

The Conqueror
Episode 50.1 - Beringas


__ADS_3

Dari dalam kota Hubert merasa situasi benar-benar sedang menekan dirinya. Dengan tatapan tajamnya ia memikirkan strategi apa lagi yang harus dirinya lakukan.


Sementara di luar, pasukan kerajaan yang harusnya terkena mental akibat tak kunjung berhasil masuk padahal di atas kertas kualitas dan kuantitas mereka lebih unggul justru malah semakin semangat bertempur.


Hyahh! Brak! Tampak pasukan kerajaan yang hendak membobol gerbang semakin ganas.


"Tuan! Musuh yang ada di depan, mereka sulit tuk dihentikan!" panik salah satu pasukan dari kubu pemberontak. Keadaan saat ini justru malah berbalik, mental dari pasukan pemberontak justru malah turun.


"Sial! Mereka menyerbu seolah-olah tak memikirkan nyawanya lagi." panik juga pasukan yang lain.


Sementara Elliot Lascaris yang bertugas dipaling depan juga tampaknya tak tahu apa yang harus dirinya lakukan.


Inilah yang selama ini kutakutkan. Pasukan Chandax adalah pasukan yang selama ini aku kagumi karena telah berhasil menaklukkan para penjarah bersama dengan Pasukan Bocotia. Dan saat ini mereka semua ada di hadapanku bertarung mati-matian sebagai musuhku. Elliot yang diperintahkan untuk menjaga gerbang tampak tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia justru malah memandang pasukan Chandax dengan tatapan kagum, Elliot adalah sosok yang cerdas di usianya yang masih muda. Ia sedang berusaha untuk menemukan jati dirinya namun justru malah terjebak sebagai kelompok pemberontak.


Ia sebenarnya tumbuh di Wilayah Attica yang lingkungannya sangat menyebalkan bagi orang seperti Elliot. Meski sangat cerdas tapi dirinya lahir dari rahim jelata yang selalu ditindas oleh orang lain. Elliot tidak terima ketika keluarganya juga diremehkan maka dari itu ia belajar dengan sangat giat agar bisa mengangkat derajat keluarganya. Namun apa yang ia lakukan selama ini justru malah sia-sia, meski kepintarannya di atas rata-rata tapi ia justru malah sering dimanfaatkan oleh orang lain terutama anak-anak yang berasal dari kaum bangsawan.


Dan murkanya kepada para bangsawan Wilayah Attica memuncak pada saat para penjarah tiba. Karena sering dimanfaatkan kaum bangsawan, Elliot jadi tahu suatu rahasia yang akan membuat dirinya menumbuhkan rasa ingin memberontak kepada kerajaan ini. Rahasia itu adalah suatu misi di mana para bangsawan merampas semua harta rakyatnya untuk diberikan kepada para penjarah dan kejinya ialah, harta yang diserahkan kepada para penjarah tidak semuanya mereka diberikan. Ada setengah dari harta rampasan itu yang disimpan oleh kaum bangsawan agar mereka bisa kabur dari Wilayah Attica dan bertahan hidup sampai pasukan Chandax dan Bocotia tiba untuk mengusir para penjarah.


Ketika kedua orang tuanya dibunuh oleh para penjarah. Elliot jadi merasa murka kepada kaum bangsawan terutama Bangsawan Attica, ia tidak bisa menutupi rasa dendamnya. Tanpa pikir panjang, setelah para penjarah berhasil diusir, Elliot malah memberontak seorang diri kepada para bangsawan Attica. Entah sial atau beruntung, hukuman yang diterima oleh Elliot bisa dibilang cukup ringan karena rencana pemberontakannya langsung ketahuan di awal. Dan ketika dirinya dipenjara di sanalah ia bertemu dengan sosok yang bernama Gui Champernon.

__ADS_1


Kembali ke situasi yang sedang terjadi saat ini. Ia menjadi dilema, di satu sisi Elliot ingin sekali membantai semua pasukan Attica tapi disisi lain ia juga merasa gentar karena pasukan Chandax juga ikut sebagai musuh yang ia hadapi.


Hmm... Ini sangatlah menyebalkan... pikir Elliot.


"Musuh kita adalah prajurit kerajaan! Jangan berpikir kalian akan menang dengan mudah! Teruslah berjuang tahan mereka sampai kehilangan tenaga!" Elliot berusaha untuk mengangkat mental pasukan pemberontaknya.


"Siap!" teriak pasukannya.


Sreet!


Sesaat setelah menyemati pasukannya, para pemberontak itu mentalnya bangkit lagi. Mereka langsung menekan kembali para pasukan kerajaan. Sampai-sampai pasukan kerajaan terkejut karena tiba-tiba saja mereka ditekan kembali oleh para pemberontak itu.


"Mati kalian! Matilah! Aku tidak ingin hidup seperti dulu lagi!!" Para pemberontak itu bertarung sambil berteriak. Mereka menyerang pasukan kerajaan sambil meneteskan air matannya tanda mereka sangat benci dan juga dengki terhadap orang-orang kerajaan.


Pasukan Chandax yang tidak tahu apa yang sebenarnya dialami oleh para pemberontak ini menjadi agak gentar dan justru malah ikut bersimpati. Tapi meski mereka benci dengan orang-orang kerajaan tak sepatutnya mereka melakukan pemberontakan seperti ini.


Ktuplak! Ktuplak!


Ketika pertempuran berjalan dengan sangat sengit karena pasukan Chandax yang dipimpin oleh Roderick juga harus berhati-hati karena ada tawanan yang sedang disekap oleh para pemberontak kaget. Tiba-tiba saja pasukan Attica yang berada disisi kiri dengan gegabahnya menerobos menggunakan pasukan berkuda.

__ADS_1


"Ahh... Sakit!" "Mamaaa!" mereka menerobos tanpa memikirkan rakyat jelata yang sedang ditawan oleh para pemberontak. Tanpa rasa bersalah pasukan Attica yang dipimpin langsung oleh Dominic menginjak mati rakyat jelata yang sangat banyak itu.


Pasukan Pemberontak yang dipimpin oleh Elliot dan juga pasukan Chandax yang dipimpin oleh Roderick kaget. Mereka semua merasa geram dengan apa yang dilakukan oleh Dominic dan pasukannya.


"Hahaha... Kau pintar sekali Elias. Harusnya kita paksa masuk saja seperti ini." Sepertinya rencana untuk masuk menerobos menggunakan kavaleri adalah rencananya Elias. "Maafkan saya tuan karena saya baru ke pikiran sekarang. Hehe..." Tanpa merasa bersalah mereka membanggakan dirinya masing-masing di tengah jeritan rakyat jelata yang sedang mereka lindas.


"Go*lok! Apa yang sedang kalian lakukan!" Hengki melihat yang tragedi itu menjadi marah besar kepada Dominic dan pasukannya. Ia tak segan mengeluarkan kata-kata kasar kepada mereka.


Sementara pasukan pemberontak, mereka sadar kalau merekalah yang telah menawan rakyat jelata agar pasukan kerajaan kesulitan untuk masuk. Tapi tak pernah terbayang oleh mereka semua kalau orang yang mereka tawan akan dilindas tanpa rasa bersalah oleh musuhnya.


Para pemberontak yang melihat dari kejauhan menitikkan air matanya, mereka merasa menyesal karena telah menawan wanita dan anak-anak untuk menahan gerbang masuk. "Sial! Sial... apa yang sedang kulihat," ungkap penyesalan mereka sambil melihat para wanita dan anak-anak badannya diinjak-injak oleh kuda yang ditumpangi musuhnya.


Dari belakang Hengki tanpa pikir panjang langsung membidik punggungnya Dominic dengan menggunakan busur silang miliknya. Ia ingin sekali membunuh semua pasukan Attica yang di depannya. Namun ketika hendak menembak, tangannya di cengkeram oleh Roderick. Ia merasakan genggaman tangan Roderick sangat bergetar, setelah memalingkan wajahnya untuk melihat Roderick, Hengki terkejut karena urat di jidatnya Roderick tampak sangat menonjol, matanya juga terlihat sangat menyeramkan.


Hengki tahu kalau Roderick juga merasa geram dengan ulah Pasukan Attica. "Jangan lakukan itu. Kalau menembaknya kau akan dianggap sebagai pemberontak juga." Sesungguhnya niat Hengki untuk menembak Dominic sudah bulat, tapi ia tidak bisa membantah larangan dari Roderick karena untuk pertama kalinya Hengki merasa takut kepada orang lain sampai tak bisa berkata apa pun. Hengki hanya menganggukkan kepalanya dengan sangat gugup.


Mereka semua Pasukan Chandax hanya bisa pasrah menyaksikan orang-orang tidak bersalah yang harusnya tidak terlibat dalam peperangan digilas habis oleh rekan aliansinya sendiri. "Kita semua pasti akan dikutuk oleh para dewa...," ucap salah satu prajurit yang melihat kejadian itu sambil mengeluarkan air matanya.


Di tengah ketidakberdayaan Pasukan Chandax, tiba-tiba saja terdengar teriakan dari samping mereka. "Hentikan itu bajingan!" Teriakan yang tak asing bagi telinga Hengki. Yap, itu adalah teriakan dari pasukan asli yang berasal langsung dari Wilayah Stabia ini, Ajax Traverse dan pasukannya. Apakah mereka akan menghentikan Dominic? jika seperti itu maka Ajax dan pasukannya akan di cap sebagai kelompok pemberontak.

__ADS_1


__ADS_2