The Count of Monte Cristo

The Count of Monte Cristo
Episode 29


__ADS_3

KEDATANGAN Count of Monte Cristo di rumah Villefort dengan maksud mengadakan kunjungan balasan telah menimbulkan semacam kegemparan dalam rumah itu. Nyonya de Villefort sedang berada di kamarnya ketika kedatangan tamu diberitahukan kepadanya. Ia segera menyuruh memanggil put eranya supaya dapat sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Count of Monte Cristo.



Setelah berbasa-basi Monte Cristo menanyakan Tuan de Villefort.



"Suami saya mendapat undangan makan malam dari Perdana Menteri," jawab wanita itu. "Dia baru saja beberapa menit yang lalu berangkat, dan saya yakin ia akan menyesal tidak dapat berjumpa dengan Tuan . . Edouard, di mana Valentine? Panggil dia supaya dapat aku perkenalkan."



"Apakah Nyonya mempunyai puteri?" "Puteri Tuan de Villefort dari pernikahannya yang pertama."



Selang beberapa lama Valentine memasuki ruangan. Ia, gadis tinggi langsing berumur kira-kira sembilan belas tahun. Matanya biru kelam, tangannya putih ramping. Ketika melihat ibu arinya berhadapan dengan tamu yang sering dia dengar tentangnya, dia memberi hormat dengan menekukkan lututnya dan sedikit kemalu-maluan namun dengan keanggunan yang menarik perhatian Monte Cristo.



Trfaaf, Nyonya," kata Monte Cristo melihat berpindah-pindah dari Nyonya de Villefort ke Valentine, "benarkah saya pernah mendapat kehormatan bertemu dengan Nyonya dan Nona ini di suatu waktu di suatu tempat? Sejak lama saya mengingat-ingat ini, dan ketika Nona de Villefort tadi masuk, seakan-akan timbul lagi secercah cahaya kepada daya ingatan saya yang telah melemah ini."



"Saya kira tidak mungkin, Tuan. Kami jarang sekali bepergian," kata Nyonya de Villefort.



"Bukan, bukan di Paris. . . . Maaf, saya mencoba mengin at ingatnya lagi . . . rasanya seperti di suatu hari yang cerah dan dalam semacam pesta keagamaan. . . . "Mungkin sekali Count of Monte Cristo melihat kita di Italia," kata Valentine.



"Betul, Nona!" teriak Monte Cristo. "Di Perugia ketika ada pesta Corpus Christi di kebun hotel."



"Memang saya ingat pernah ke Perugia," kata Nyonya de Villefort, "namun saya tidak ingat kita pernah berkenalan."



"Biarkan saya membantu menyegarkan kembali ingatan Nyonya. Ketika itu hari sangat panas. Nyonya sedang menunggu kereta yang terlambat datang karena terhalang pesta itu. Nona de Villefort berjalan-jalan di sekitar kebun sedangkan putra nyonya mengejar-ngejar burung. Ingatkah Nyonya pada waktu itu duduk di atas sebuah bangku batu dan berbicara dengan seseorang?"



"Oh, ya," kata Nyonya de Villefort, pipinya sedikit kemerah- merahan, "saya bercakap-cakap dengan seorang yang bermantel panjang . . . seorang dokter saya kira."



"Sayalah orang itu, Nyonya. Ketika itu saya telah tinggal di hotel itu selama dua minggu. Dan waktu itu saya baru menyembuhkan pelayan saya dari penyakit demam panas dan pemilik hotel dari penyakit kuning, sehingga saya dianggap orang sebagai dokter yang hebat di sana."



"Karena Tuan menyembuhkan orang sakit, dengan sendirinya Tuan seorang dokter, bukan?"



"Bukan, Nyonya, saya bukan dokter sekalipun saya telah mempelajari ilmu kimia dan ilmu alam dengan agak mendalam-"



Jam berbunyi enam kait.



"Sudah jam enam, Valentine," kata Nyonya de Villefort agak



terperanjat. "Coba lihat apakah kakekmu sudah siap untuk makan malam?"



Valentine berdiri, memberi hormat kepada Monte Cristo, lalu pergi tanpa berkata sepatah pun.



"Apakah karena saya, Nyonya menyuruh Nona de Villefort pergi?" tanya Monte Cristo setelah Valentine meninggalkan ruangan.



"Tidak, sama sekali tidak!" jawab Nyonya de Villefort. "Jam enam adalah waktu kami biasa menyediakan makan malam bagi Tuan Noirtier. Saya kira Tuan telah mengetahui tentang keadaan mertua saya."



"Sudah. Tuan de Villefort mencenterakannya kepada saya."



"Maafkan saya telah menyinggung kemalangan dalam rumahtangga kami. Tadi Tuan sedang menceriterakan bahwa Tuan seorang ahli ilmu kimia."



"Oh, bukan itu maksud saya," jawab Monte Cristo tersenyum. "Saya mempelajari ilmu kimia semata-mata karena saya bermaksud tinggal di negeri Timur dan ingin mencontoh Raja Mifhridates."



"Mithridafes, rex Ponticus," tiba-tiba Edouard memasuki pembicaraan sambil mengguntingi potret-potret dari sebuah album besar.- "Dia adalah raja yang biasa mencampur susunya dengan racun untuk sarapan setiap pagi."

__ADS_1



"Edouard, terlalu engkau!" kata ibunya merebut album dari tangan anaknya. "Engkau benar-benar menjengkelkan! Keluar dan temani kakakmu!"



"Saya tidak mau pergi kalau album itu tidak diberikan," kata anak itu dengan seenaknya lalu merebahkan diri di kursi besar.



"Baik, tetapi pergi dari sini." Nyonya de Villefort memberikan album itu kepada anaknya lalu menuntun dia keluar kamar.



"Apakah dia akan mengunci pintu?" tanya Monte Cristo



dalam hatinya.



Nyonya de Villefort mengunci pintu dengan hati-hati. Count of Monte Cristo pura-pura tidak melihatnya.



"Apa yang dikatakan putra nyonya tadi tersebut dalam buku karangan Cornebus Nepos," kata Monte Cristo. "Ini menunjukkan bahwa pengetahuannya sudah banyak sekali bagi anak seumur dia."



"Memang ia mudah sekali belajar," jawab ibunya yang merasa terpuji. "Sayangnya, keras kepalanya itu bukan main. . . .



Sehubungan dengan apa yang dikatakan tadi, apakah Tuan percaya bahwa Raja Mithridates benar-benar mengebalkan dirinya terhadap racun dengan cara demikian?'"



"Percaya, Nyonya. Saya sendiri menjaga diri dengan cara yang sama untuk mencegah jangan sampai diracun orang di Napoli, Palermo dan Srmrna Dan di ketiga tempat itu saya terhindar dari maut."



"Saya ingat Tuan telah menceriterakan itu kepada saya di Perugia."



"Apakah benar," tanya Monte Cristo seakan-akan terkejut. "Saya tidak ingat sama sekali."



"Bagaimana caranya Tuan membiasakan diri terhadap racun




"Sederhana sekali. Katakanlah Nyonya mengetahui terlebih



dahulu racun macam apa yang akan dikenakan orang terhadap diri Nyonya. Umpamanya saja racun brucine."



"Bmcine itu berasal dari brucea ferruginea, bukan?"



'Tepat sekali. Saya kira, tidak banyak yang harus saya ajarkan lagi kepada Nyonya.



Jarang sekali ada wanita yang mempunyai pengetahuan seperti yang Nyonya miliki . . .



Baik, umpamanya racun itu brucine. Hari pertama nyonya menelannya sebanyak satu miligram, hari kedua dua miligram dan seterusnya sampai Nyonya memakannya sepuluh miligram pada hari yang kesepuluh. Setelah itu tambah menjadi dua miligram sehari, sehingga pada hari yang kedua puluh nyonya telah menelan sebanyak tiga puluh miligram, suatu jumlah yang tidak akan berbahaya bagi Nyonya tetapi sangat mematikan bagi mereka yang tidak biasa."



"Saya sering sekali membaca kisah tentang Raja Mithri-dates itu," kata Nyonya de Villefort sambil memikirkan sesuatu, "tetapi saya selalu menganggapnya sebagai suatu dongeng belaka."



"Tidak, Nyonya. Kisah itu benar-benar nyata. Selain dari itu, orang-orang Timur menggunakan racun tidak hanya sebagai perisai, tetapi juga sebagai senjata. Mereka menggunakannya dengan keahlian yang sangat tinggi sehingga hukum manusia tidak akan dapat menangkapnya. Cobalah Nyonya pergi ke luar Perancis, ke Kairo, Napoli atau Roma, Nyonya akan bertemu dengan banyak orang yang tampaknya segar-bugar, namun setan yang mengetahuinya akan berbisik ke telinga Nyonya, T)rang itu telah diracun selama tiga minggii, bulan depan dia akan mati kejang.1 Racun itu menyerang salah suatu bagian tubuh tertentu, lalu menimbulkan semacam penyakit yang tidak asing bagi dunia kedokteran tetapi mematikan. Dan terjadilah pembunuhan sempurna yang tidak akan terbongkar untuk



se larn a-lama n y a "



"Sungguh menakutkan, namun juga mengagumkan!" kata Nyonya de Villefort yang mendengarkan keterangan Monte Cristo dengan penuh perhatian. "Untung sekali racun demikian hanya dapat dibuat oleh ahli-ahli kimia saja, kalau tidak, setengah penduduk dunia ini akan meracun penduduk yang setengahnya lagi."



"Oleh ahli kimia atau seseorang yang telah mempelajari umu kimia," Jawab Monte Cristo.

__ADS_1



"Tuan sendui tentu Seorang ahli yang besar, karena telah dapat membuat obat mujarab yang dapat menyembuhkan anak saya tempo hari "



"Jangan Nyonya keliru sangka. Setetes dari obat itu akan segera menyadarkan orang pingsan. Tiga tetes akan mempengaruhi peredaran darah sehingga membuat jantung berdebar keras dan sepuluh tetes akan mematikan. Tentu Nyonya masih ingat betapa cepatnya saya mencegah putra Nyonya mcmpcnriainkah botol itu ketika di rumah saya."



"Artinya obat itu racun yang keras."



"Bukan begitu. Lagi pula harus kita camkan kata 'racun1 itu tidak bermakna apa-apa, karena dalam dunia kedokteran racun yang sangat keras dapat menyembuhkan penyakit apabila digunakan dengan aturan dan ukuran yang tepat."



"Kalau bukan racun, apa namanya?"



"Itu adalah suatu persenyawaan kimia yang sengaja dibuat untuk saya oleh seorang kawan yang sangat terpelajar dan yang mengajarkan kepada saya bagaimanamenggunakannya."



"Saya mengerti, rupanya suatu obat penyembuh kekejangan."



"Dan yang sangat mujarab, Nyonya, seperti telah Nyonya saksikan sendiri. Saya sendiri sering sekali meminumnya . . .



dengan sangat hati-hati tentu," tambah Monte Cristo sambil tersenyum.



"Saya percaya Tuan melakukannya," jawab Nyonya de Villefort dengan nada yang sama seperti nada Monte Cristo. "Saya sendiri, yang selalu gelisah dan gampang pingsan, karena tidak mempunyai kawan yang terpelajar seperti Tuan, terpaksa memakai obat anti kejang ramuan Tuan Planche."



"Saya lebih suka memakai ramuan sendiri."



"Tentu saja. Saya pun akan berlaku begitu kalau saya



mempunyainya, terutama sekali setelah melihat sendiri bagaimana khasiatnya. Tetapi saya kira ramuan itu sangat rahasia dan saya sendiri pun tidak cukup berani menanyakan. bagaimana membuatnya."



'Tetapi saya cukup sopan untuk menawarkannya kepada Nyonya," jawab Monte Cristo sambil bangkit dari kursinya.



"Oh!"



"Hanya saja harap diingat baik-baik, dalam ukuran yang kecil, dapat merupakan obat, tetapi akan menjadi racun berbahaya dalam jumlah yang besar. Lima sampai enam tetes sudah dapat mematikan. Dan ramuan ini menjadi lebih berbahaya lagi karena apabila yang lima atau enam tetes ini dicampurkan dengan segelas anggur dia tidak akan mempengaruhi rasa dan bau anggur itu."



Jam menunjukkan setengah tujuh. Pada saat itu seorang pelayan datang memberitahukan kedatangan tamu yang diundang makan malam oleh Nyonya de Villefort.



"Seandainya pertemuan kita ini merupakan pertemuan yang ketiga atau keempat kalinya," kata Nyonya de Villefort, "dan apabila seandainya saya diberi kehormatan menjadi kawan Tuan, bukan hanya sebagai orang yang berhutang budi kepada Tuan, saya akan meminta dengan sangat agar Tuan sudi turut makan bersama kami, dan saya tidak akan membiarkan diri saya putus asa karena penolakan yang pertama."



"Terima kasih banyak, Nyonya," jawab Monte Cristo, "tetapi saya pun mempunyai janji lain yang harus saya tepati."



"Baiklah, dan harap Tuan tidak melupakan obat yang dijanjikan tadi."



"Tidak, Nyonya, pasti tidak. Melupakan itu berarti saya lupa kepada,percakapan kita hari ini, suatu hal yang tidak mungkin."



Count of Monte Cristo membungkukkan badan memberi



hormat, lalu meninggalkan ruangan. Hasil pembicaraannya melebihi apa yang diharapkannya. "Aku yakin, benih yang aku taburkan tidak jatuh di tanah yang gersang," katanya kepada dirinya sendiri.



Keesokan harinya, sesuai dengan janjinya ia mengirimi Nyonya de Villefort obat yang dimintanya.


__ADS_1



__ADS_2