The Count of Monte Cristo

The Count of Monte Cristo
Episode 66


__ADS_3

PERKARA Benedetto menarik perhatian yang besar sekali. Selama beberapa bulan masa jayanya, Cavalcanti palsu ini telah berulang kali mengunjungi toko-toko pakaian terkemuka di Paris dan selalu membayar lunas rekening-rekeningnya Surat-surat kabar membeberkan kembali riwayatnya dengan panjang lebar, baik yang dalam penjara maupun selama hidup dalam masyarakat Paris. Pembeberan Cerite-ra ini lebih menarik perhatian orang, terutama mereka yang pernah mengenalnya secara pribadi. Banyak dari mereka yang mengenalnya sebagai anak muda yang tampan sopan dan murah hati, sehingga mereka lebih mempercayai dia menjadi korban dari sekawanan musuh yang jahat.



Oleh karena itu, hampir setiap orang pergi ke gedung pengadilan. Sebagian untuk menyaksikan dan sebagian lagi untuk bergunjing. Jam tujuh pagi orang sudah berkerumun di luar gedung dan sejam sebelum sidang dimulai mang sidang sudah penuh sesak.



Beauchamp yang dikenal sebagai raja koran berada di antara para penonton. Dia melihat Chateau"Renaud dan Debray yang baru saja menerima kebaikan seorang polisi yang memberikkan tempat baik bagi mereka. Bahkan polisi itu bersedia pula menjaga tempat mereka ketika meninggalkannya sebentar untuk berbicara dengan Beauchamp.



"Wah," kata Beauchamp, "rupanya kita semua datang untuk menyaksikan kawan kita."



"Betul," jawab Debray. "Saya pikir dia akan dinyatakan bersalah. Bagaimana pendapatmu?"



"Aku kira engkaulah satu-satunya yang dapat menjawab pertanyaan itu, oleh karena engkau tentu sudah berbicara dengan Ketua Sidang dalam resepsi yang baru lalu di rumah Menteri."



"Benar, tetapi kalau aku berbicara dengan Ketua Sidang, tentunya engkau sudah berbicara dengan Jaksa Penuntut Umum."



"Tak mungkin . . . Tuan de Villefort tidak menerima siapa pun juga dalam minggu terakhir ini. Dan ini mudah dimengerti mengingat rangkaian musibah yang menimpanya".



"Lihat!"



"Siapa?"



"Aku kira dia sudah tidak ada di sini."



"Eugenie Danglars?" tanya Chateau-Renaud. "Apa dia kembali?"



"Bukan, ibunya."



"Apa!" Chateau-Renaud terkejut. "Hanya sepuluh hari sejak anaknya kabur dan tiga hari sejak suaminya bangkrut dia sudah berani keluar rumah?"



Tanpa diketahui yang lain wajah Debray memerah. Dia mengikuti arah pandangan Beauchamp. "Wanita itu bercadar," katanya. "Mungkin orang lain, mungkin juga seorang putri dari negeri lain . . . bahkan mungkin juga ibu Pangeran Cavalcanti."



"Hakim sudah tiba," kata Chateau-Renaud. "mari kita kembali."



Para hakim dan juri mengambil tempat masing-masing di teilgah-tengah ketenangan ruang sidang yang mengesankan. Tuan de Villefort yang menjadi pusat perhatian - boleh juga dikatakan menjadi pusat kekaguman umum " menempati kursinya, lalu melayangkan pandangan ke seluruh mangan.



"Pengawal!" kata Ketua Sidang. "Bawa masuk terdakwa!"



Dengan perintah itu perhatian publik meningkat dan semua mata mengarah ke pintu yang akan dilalui Benedetto. Benedetto masuk, wajahnya tenang tanpa mencerminkan perasaan hatinya.



Setelah tuduhan dibacakan, Ketua Sidang bertanya, "Siapa



namamu?"



Andrea berdiri. ' Maafkan, Paduka," katanya, "rupanya Paduka akan mengajukan serangkaian pertanyaan dengan urutan yang tidak dapat saya ikuti. Nanti akan saya jelaskan alasannya, tetapi sementara ini saya memohon agar urutan pertanyaan di rubah, dan saya akan menjawabnya semua."'



Ketua Sidang sangat terperanjat, memandang kepada anggota juri,' yang semuanya sedang memandang kepada Jaksa. Para penonton pun merasa heran, tapi semua itu seperti tidak berpengaruh sama sekali kepada Andrea.



"Berapa umurmu?" tanya Ketua Sidang.



"Dalam beberapa hari lagi akan menjadi dua puluh satu tahun. Saya dilahirkan tanggal 27 September 1515."



Tuan de Villefort yang sedang mencatat sesuatu mengangkat kepala ketika mendengar tanggal ini.



"Tempat lahir?"


__ADS_1


"Auteuil dekat Paris."



Villefort mengangkat kepala untuk kedua kalinya, menatap Andrea seakan-akan melihat sesuatu yang menyeramkan. Wajahnya pucat kebiru-biruan. "Pekerjaan?"



"Saya mulai dengan pemalsuan," jawab Andrea dengan ketenangan yang mengherankan. "Setelah itu menjadi pencuri, dan terakhir sekali pembunuh."



Ruang sidang menjadi gaduh. Bahkan para hakim saling pandang-memandang, masing-masing dengan pancaran mata keheranan. Para anggota juri menunjukkan kesebelannya mendengar keterangan tertuduh yang seakan-akan hendak mengejek pengadilan, sekaligus terperanjat karena tidak mengira keluar dari seorang anak muda yang perlente.



"Sekarang, maukah engkau menyebutkan namamu kepada sidang?" tanya Ketua Sidang. "Mungkin sekali kebanggaanmu



menyebut satu persatu kejahatan yang kausebut sebagai pekerjaan itulah yang menyebabkan engkau ingin menangguhkan menyebutkan namamu. Barangkali engkau ingin menonjolkan namamu dengan menyebut lebih dahulu gelar-gelar pekerjaanmu."



"Sungguh tak masuk pada akal saya betapa benar Paduka membaca pikiran saya,"



jawab Andrea dengan sopan. "Itulah sebabnya saya memohon untuk meru bah urutan pertanyaan tadi"



Keheranan dalam ruang sidang sudah memuncak. Sudah tidak ada lagi kelancangan atau ejekan tampak pada nada bicara atau tingkah-laku Andrea. Pengunjung sidang semua mempunyai perasaan yang sama bahwa akan segera timbul kejutan yang menghebohkan.



"Jadi, siapa namamu?"



"Saya tidak dapat mengatakan karena saya tidak mengetahuinya. Saya hanya mengetahui nama ayali saya."



"Katakan siapa nama ayahmu!"



"Ayah saya seorang Jaksa Penuntut Umum " jawab Andrea tenang.



"Jaksa Penuntut Umum!" ulang Ketua Sidang itu terperanjat, tanpa melihat kegelisahan yang muncul pada wajah Villefort.




Bagaikan guruh terdengar suara meledak di seluruh ruangan sidang. Baru sesudah lima menit Ketua Sidang berhasil menenangkannya kembali. Di tengah-tengah kegaduhan itu kurang-lebih sepuluh orang mengerumuni Villefort yang terhenyak setengah pingsan di kursinya. Mereka menolong, menghibur dan menabahkan hatinya.



Ruang sidang sudah tenang kembali, kecuali di suatu sudut di mana seorang wanita jatuh pingsan. Beberapa orang segera menolongnya.



"Paduka," kata Andrea, "bukan maksud saya untuk menghina persidangan ini atau sengaja mau membuat heboh. Saya diminta menyebutkan nama saya, tetapi saya tidak mampu karena orang tua saya mentelantarkan saya sejak saya dilahirkan. Kebetulan akhirnya saya dapat mengetahui nama ayah saya. Dan saya ulangi, namanya adalah Villefort dan saya siap untuk membuktikannya."



"Tetapi," kata Ketua Sidang marah, "dalam pemeriksaan pendahuluan engkau mengaku bernama Benedetto, yatim-piatu dan dilahirkan di Corsica."



"Saya mengatakan itu karena saya takut: kalau saya mengatakan yang sebenarnya maka pernyataan saya itu tidak akan diumumkan. Sekarang saya mengatakan yang sebenarnya. Saya dilahirkan di Auteuil tanggal 27 September 1815, anak Jaksa Penuntut Umum, Tuan de Villefort.



Perlukah saya memberikan keterangan lebih terperinci? Saya akan senang sekali mengatakannya. Saya dilahirkan di rumah nomor 28 di Rue de la Fontaine, Auteuil, dalam sebuah kamar yang dindingnya berlapis d am as merah. Ayah saya mengatakan kepada ibu saya bahwa saya mati setelah lahir, lalu membungkus saya dengan anduk yang bertanda huruf H dan N, membawa saya ke dalam kebun dan mengubur saya hidup-hidup."



Semua yang hadir melihat meningkatnya kegelisahan Villefort sejalan dengan meningkatnya keyakinan diri Andrea.



"Bagaimana engkau mengetahui semua itu?"



"Saya bermaksud akan mengatakannya, Paduka. Seorang Corsica telah bersumpah membalas dendam terhadap ayah saya. Dia selalu mengikuti ke mana ayali saya pergi dan menunggu kesempatan yang baik untuk melaksanakan niatnya. Itulah



sebabnya dia melihat ayah saya mengubur sesuatu dalam kebun. Dia menikamnya dari belakang dan mengira bahwa yang dikubur ayah saya itu harta kekayaan. Dia menggali kembali kuburan dan menemukan saya masih bernyawa. Dia membawa saya ke rumah yatim-piatu Tiga bulan kemudian saudara perempuannya datang ke Paris, lalu ke rumah perawatan itu dan menuntut saya sebagai anaknya. Dia berhasil membawa saya kembali ke Corsica. Itulah sebabnya, sekalipun saya dilahirkan di Auteuil, saya dibesarkan di Corsica!"



Sejenak ruang sidang menjadi hening "Teruskan!" perintah Ketua Sidang.



"Saya merasa berbahagia sekali dengan orang-orang baik yang merawat saya, namun ternyata watak buruk saya telah mengalahkan pendidikan yang hendak ditanamkan ibu tiri saya ke dalam diri saya. Saya menjadi anak liar dan segera meningkat menjadi jahat.



Pada suatu hari, ketika saya menyumpahi "Tuhan karena membuat saya begitu jahat dan memberi nasib yang buruk, ibu tiri saya berkata, 'Jangan menyalahkan Tuhan! DIA menciptakanmu tanpa amarah. Kejahatan yang melekat padamu berasal dari ayahmu, yang akan menjerumuskan engkau ke dalam neraka kalau engkau mati atau ke dalam kepapaan dan kehinaan selama engkau hidup!' Sejak hari itu saya berhenti mengumpat Tuhan, tetapi mulai dengan mengutuk ayah sendiri. Itulah pula sebarnya saya di sini mengungkapkan segala sesuatu untuk menangkis tuduhan yang ditimpakan kepada saya.

__ADS_1



Itulah sebabnya mengapa saya sampai menggoncangkan ruang sidang ini. Kalau perbuatan saya ini merupakan kejahatan baru, silakan hukum saya. Tetapi, apabila Paduka beranggapan bahwa nasib saya sudah tragis dan pahit sejak dilahirkan, kasihanilah saya!"



"Bagaimana dengan ibumu?"



"Ibu saya percaya bahwa saya mati setelah lahir. Dia tidak bersalah. Saya tidak berkeinginan mengetahui siapa namanya, dan sampai detik ini pun saya tidak mengenal siapa dia."



Sebuah jeritan terdengar dari tengah-tengah kerumunan orang yang sedang menolong wanita yang pingsan tadi, dan berakhir dengan tangis yang memilukan. Setelah sadar dari pingsannya wanita itu menjadi histeris. Ketika dia diangkat ke luar ruangan, cadarnya terlepas. Beberapa orang mengenalinya sebagai Nyonya Danglars. Sekalipun dalam keadaan gelisah, kacau, tegang dan takut, Villefort masih sempat mengenalinya.



"Apa bukti-bukti yang kausebutkan tadi?" "Bukti?"



Benedetto balik bertanya sambil tertawa. "Betulkah Paduka memerlukannya?"



"Betul"



"Silakan Paduka memperhatikan Tuan de Villefort dan tanyakan bukti-bukti itu kepada beliau."



Semua mata mengarah kepada Villefort. Karena beratnya beban pandangan orangorang, Villefort terhuyung-huyung ke tengah-tengah ruang sidang. Rambutnya acak-acakan, mukanya penuh dengan bekas cakaran kukunya sendiri. Hampir seluruh hadirin bergumam menyaksikan keadaan Villefort.



"Paduka Tuan Hakim menanyakan bukti-bukti, Ayah," kata Benedetto. "Apakah perlu saya berikan?"



'Tidak. . . tidak," jawab Vfllefort gagap. Tak ada gunanya lagi."



"Apa maksud Tuan?" tanya Ketua Sidang keras.



"Maksud saya," jawab Villefort, "saya menyadari tak ada gunanya lagi melawan hukum Tuhan yang baru saja menimpa saya. Apa yang dikatakan anak muda itu benar semua, tak perlu



lagi pembuktian."



"Apa! Sadarkah Tuan, Tuan de Villefort? Sudah hilangkah kesadaran Tuan? Tuduhan yang aneh, tak terduga dan mengerikan itu mungkin sekali telah mengganggu pikiran Tuan. Kami semua dapat memahaminya."



Villefort menggelengkan kepala. Giginya gemeretak, seperti orang dicekam demam.



"Pikiran saya jernih, Paduka," katanya. "Saya mengaku bersalah untuk semua tuduhan yang dilontarkan anak muda itu kepada saya. Saya sekarang menyerahkan diri kepada Jaksa Penuntut Umum yang akan menggantikan saya."



Setelah mengeluarkan kata-kata ini dengan suara tertahan hampir tidak terdengar, Tuan de Villefort meninggalkan ruang sidang dengan terhuyung-huyung.



"Sekarang aku ingin mendengar adakah orang yang masih berani berkata bahwa tidak ada drama dalam kehidupan nyata ini?" tanya Beauchamp.



"Ya Tuhan!" jawab Chateau-Renaud. "Kalau terjadi pada diriku, aku lebih suka memilih jalan yang ditempuh Morcerf. Sebutir peluru akan lebih nyaman dibanding dengan pencemaran nama seperti ini."



"Darahku tersirap kalau aku ingat bahwa pernah ada saat aku berniat mengawini anaknya!" kata Debray. "Untung Valentine, tidak mengetahui peristiwa sekarang ini."



"Sidang ditunda dan akan dilanjutkan dalam waktu yang akan datang." Ketua Sidang mengumumkan.



Dalam keadaan tetap tenang Andrea meninggalkan ruang sidang didampingi para pengawal. Tanpa disadarinya para pengawal ini sekarang menaruh suatu penghargaan tertentu terhadap Andrea.



"Bagaimana pendapat Tuan?" tanya Debray kepada polisi



yang memberinya tempat sambil menyelipkan dua puluh frank ke tangannya.



"Akan ada banyak hal yang meringankan terdakwa," jawab polisi itu.



__ADS_1


__ADS_2