The Count of Monte Cristo

The Count of Monte Cristo
Episode 62


__ADS_3

SEBAGAI orang Paris asli. Tuan de Villefort menganggap bahwa hanya pekuburan Per e Lachaise sajalah yang patut menerima jenazah orang-orang terhormat di Paris. Hanya di situlah menurut anggapannya arwah orang-orang berpendidikan tinggi akan merasa betah. Sebab itu sejak dahulu dia sudah membeli tempat yang sudah ditulisi dengan



"Saint-Meran dan Villefort." Ini adalah permintaan terakhir dari Renee, ibu Valentine.



Iringan jenazah Valentine terutama sekali diikuti oleh anak- anak muda yang merasa terharu dan terkejut oleh kematian Valentine yang mendadak, gadis cantik, sopan dan menarik, gugur dalam masa remaja yang menyegarkan.



Ketika iringan sampai di perbatasan kota, sebuah kereta berkuda empat, menyusulnya.



Monte Cristo keluar dari kereta itu lalu menggabungkan diri. Chateau-Renaud dan Beauchamp segera melihatnya. Mereka menghampiri dan berjalan di sampingnya.



"Apakah Tuan-tuan melihat Maximilien Morrel?"



"Tidak," jawab Chateau-Renaud. "Kami pun bertanya-tanya mengapa dia tidak kelihatan sejak iringan ini akan berangkat."



Monte Cristo diam, tetapi matanya berkeliling. Dia tidak menemukan yang dicarinya sampai iringan itu tiba di pekuburan. Di sana dia melihat Maximilien berdiri di bawah sebuah pohon tidak jauh dari pekuburan keluarga Villefort. Monte Cristo tidak pernah lepas mengawasinya selama upacara penguburan.



"Itu dia Maximilien!" kata Beuachamp yang baru melihatnya kepada Debray. "Sedang apa dia di sana?"



"Lihat betapa pucat mukanya," kata Chateau-Renaud. "Kedinginan barangkali" jawab Debray.



"Bukan karena itu, saya kira," kata Chateau-Renaud lagi. "Dia sangat perasa."



"Bukankah dia tidak mengenal Nona de VDlefort?"



"Benar, tetapi saya ingat pernah melihatnya berdansa dengan Nona de Villefort sebanyak tiga kali pada suatu pesta."



'Upacara telah selesai," kata Monte Cristo tiba-tiba. "Selamat tinggal, Tuan tuan." Dia sudah pergi selagi yang lain baru bersiap-siap untuk pulang.



Monte Cristo menyembunyikan diri di balik sebuah kuburan, mengawasi gerak-gerik Maximilien. Anak muda itu dengan perlahan-lahan mendekati kuburan Valentine yang sudah sepi ditinggalkan para pengantarnya, lalu bersimpuh di dekatnya. Dahinya bersandar pada batu nisan.



"Oh, Valentine!"



Hati Monte Cristo terasa pecah mendengar suara yang sangat mengharukan ini. Dia mendekat, menyentuh bahu Maximilien dan berkata, "Saya mencarimu, sahabat."



Dia memperkirakan akan mendapat dampratan dan tuduhan dari Maxinulien karena janjinya menjaga Valentine akan tetap hidup ternyata meleset. Ternyata dia keliru.



Maximilien berbalik dan berkata dengan tenang sekali, "Saya sedang berdo'a."



Monte Cristo mengamat-amati wajah Maximilien dengan cermat untuk beberapa saat.



Setelah itu baru dia yakin. "Mau kau kuantarkan pulang?" "Tidak, terima kasih."



"Barangkali ada sesuatu yang dapat aku lakukan?'" "Biarkan saya berdo'a,"



Monte Cristo pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Dia mengambil tempat lain untuk mengawasi Maximilien. Akhirnya



anak muda itu berdiri dan pulang ke kota berjalan kaki. Monte Cristo menyuruh keretanya pergi, sedang dia sendiri berjalan mengikuti Maximilien beberapa ratus langkah di belakangnya.



Lima menit setelah pintu pekarangan rumah di Rue Maslay tertutup di belakang Maximilien, terbuka lagi untuk Count of Monte Cristo. Julie sedang berada di kebun mengawasi Penelon yang secara sungguh-sungguh mau menjadi tukang kebun yang baik.



"Ah, Count of Monte Cristo!" teriaknya gembira seperti biasa dilakukan seisi rumah kalau mereka menyambut kedatangan Monte Cristo.



"Maximilien baru saja pulang, bukan?" tanya Monte Cristo. "Ya, saya kira saya melihatnya lewat."



"Maaf, saya harus menemuinya segera. Ada hal penting yang perlu saya katakan kepadanya."



"Silakan masuk saja," kata Julie. Dia mengikuti tamunya dengan senyuman yang manis sekali sampai Monte Cristo tidak kelihatan lagi.



Ketika Monte Cristo datang dekat kamar Maximilien di lantai tiga dia berhenti dan memasang kuping. Tak ada suara apa-apa.



Pintu kamar itu berkaca sebagian, tetapi La L k a



k



mungkin melihat ke dalam karena tertutup oleh tirai merah dari dalam. Monte Cristo berpikir sebentar. "Membunyikan bel?" pikirnya. "Tidak, bunyi bel sering kali mempercepat datangnya keputusan pada orang yang sedang berada dalam keadaan seperti Maximilien sekarang." Seluruh badannya bergetar ketika mengingat kemungkinan itu.



Seperti biasa dia berpikir cepat dan mengambil keputusan cepat juga. Dia memecahkan kaca pintu dengan sikutnya. Dengan



cepat dia menarik tirai ke samping. Tampak Maximilien sedang duduk menghadapi meja tulis dengan pena di tangannya. Maximilien terperanjat bangkit.



"Maaf," kata Monte Cristo, "saya tergelincir dan sikut saya mengenai kaca. Karena tokh sudah pecah, saya akan manfaatkan untuk membuka kuncinya. Biar biar saya lakukan sendiri."



Monte Cristo memasukkan tangannya melalui lobang kaca, lalu memutar kunci.



Maximilien yang jelas sekali merasa terganggu maju beberapa langkah, lebih banyak bermaksud menghalangi tamunya masuk daripada untuk menyambutnya.



"Salah pelayan-pelayanmu," kata Monte Cristo sambil mengusap-usap sikutnya.



"Lantai ini begitu licin seperti cermin." "Terhika?" tanya Maximilien dingin.



"Entahlah. Kelihatannya engkau sedang menulis." "Ya, sorang perjurit pun sekali-kali suka menulis."



Monte Cristo maju lagi ke dalam. Maximilien terpaksa membiarkannya, tetapi dia mengikutinya dari belakang. Monte Cristo melemparkan pandangannya ke seluruh ruangan itu dengan cepat. "Buat apa pistol-pistol ini?" tanya dia sambil menunjuk dua pucuk pistol yang terletak di meja.


__ADS_1


"Saya mau berpergian," jawab Maximilien.



"Maximilien,' kata Monte Cristo, "mari kita tanggalkan topeng masing-masing.



Engkau jangan menipu aku lagi dengan ketenanganmu itu, dan aku tidak akan menipumu lagi dengan kekhawatiran yang membuang-buang waktu. Engkau tentu mengerti, kalau aku terpaksa mendobrak kamar seorang kawan tentu aku didorong oleh ketakutan yang bukan main-main. Maximilien, engkau mau



membunuh diri!"



Maximilien terperanjat. "Dari mana dapat pikiran itu, Count?"



"Saya ulangi, engkau mau membunuh diri. Inilah buktinya!" Monte Cristo berjalan ke meja, mengambil surat yang sedang ditulis? yang disembunyikan di bawah kertas lain.



Maximilien bergerak untuk merebutnya, tetapi Monte Cristo mendahului memegang pergelangan tangannya dengan kuat sekali.



"Apa salahnya saya membunuh diri?" tanya Maximilien yang sudah mulai kehilangan ketenangannya. "Siapa yang berani menghalangi? Kalau saya mengatakan, 'Semua harapan saya telah musnah, hati telah hancur, ludup sudah berakhir dan tak ada apa-apa lagi sekelilingku kecuali kesedihan dan kepedihan," siapa yang akan menjawab, 'Engkau keliru?' Beranikah Tuan mengatakan itu, Count?"



"Ya, aku berani" jawab Monte Cristo dengan ketenangan yang bertentangan sekali dengan kemarahan Maxi-rnilien- "



"Tuan!" jawab Maximilien keras karena kemarahannya meningkat. "Tuan telah membujuk saya dengan janji-janji palsu ketika saya masih mungkin menolong Valentine atau sekurang- kurangnya melihat dia melepaskan nyawanya dalam pelukan saya! Tuan berlagak berlaku seperti Tuhan, padahal Tuan sama sekali tidak mampu memberi penawar



kepada gadis yang kena racun!" "Maximilien . .



"Tuan meminta saya membuka topeng, saya telah melakukannya! Ketika Tuan mengikuti saya ke pekuburan saya berbicara kepada Tuan dengan sopan karena saya berhati baik. Tetapi, karena Tuan telah datang ke mari untuk mencampuri urusan saya dalam kamar ini yang akan menjadi tempat kuburan saya, dan karena Tuan datang membawa penderitaan baru pada



saat saya mengira dapat menghabisi semua penderitaan, maka mau tak mau Tuan harus menyaksikan matinya seorang sahabat!"



Maximilien berusaha melepaskan diri hendak mengambil pistolnya dibarengi tawa seorang gila, tetapi Monte Cristo, dengan mata berkilat-kilat mencegahnya sekali lagi dengan berkata, "Maximilien, jangan bunuh diri!"



"Silakan cegah saya, kalau dapat!" jawab Maximilien, masih tetap berusaha mengambil pistol, namun tak berdaya dalam pegangan Monte Cristo yang kuat sekali.



"Aku akan mencegahmu!"



"Siapakah Tuan sebenarnya, sehingga berani berlaku kasar kepada orang yang merdeka untuk membuat keputus-san sendiri7"



"Siapa aku? Dengarkan, akan kukatakan. Aku adalah satu- satunya orang dalam dunia ini yang berhak berkata kepadamu: "Maximilien, aku tidak akan memperkenankan anak ayahmu mati hari ini,"



"Apa hubungannya dengan ayah saya? Apa sebab Tuan mencampuradukkan urusan beliau dengan apa yang terjadi atas diri saya hari ini?"



"Oleh karena aku adalah orang yang menyelamatkan jiwa ayahmu pada hari beliau berniat membunuh diri, sama seperti engkau mau bunuh diri pada hari ini. Karena akulah orangnya yang mengirimkan dompet sutra kepada adikmu dan mengirimkan kapal Pkaraon kepada ayahmu Karena aku adalah Edmond Dantes, yang dahulu biasa memmang-riimangmu ketika engkau masih kecil!"



Maximilien mundur karena terperanjat. Seluruh tenaganya seakan-akan menghilang sehingga dia terjatuh ke lantai. Tiba- tiba berdiri kembali dan berlari ke luar kamar sambil berteriak- teriak, "Julie! Julie! Emmanuel! Emmanuel!"



Monte Cristo mencoba mengejarnya, tetapi Maximilien telah mengunci pintunya dan menahannya dari luar dengan sekuat tenaga seakan-akan lebih baik mati daripada membiarkan Monte Cristo membukanya.




Julie merangkul tangan Monte Cristo, sedang Emmanuel merangkul tubuhnya, dan Maximilien berlutut di hadapan Monte Cristo sekali lagi. Pad-1 saat itu, orang yang berhati baja itu merasa hatinya meleleh dalam dadanya dan seakan-akan segaris sinar meluncur dari tenggorokannya ke dalam matanya. Dia menundukkan kepala dan menangis.



Ketika Julie sudah agak tenang kembali dari lonjakan kegembiraan, dia berlari ke bawah untuk mengambil dompet yang disimpan dalam bola dunia dari kristal.



Sementara itu Emmanuel berkata, "Tuan, Tuan pernah mendengar kami membicarakan pelindung yang tidak kami kenal, dan Tuan melihat pula betapa rasa hutang budi kami



kepadanya . . . mengapa Tuan menunggu begitu lama untuk membukakan rahasia ini?"



"Kawan," jawab Monte Cristo, "mengapa sampai raliasia ini terbuka sekarang, biarlah tetap menjadi rahasia. Tuhan adalah saksinya bahwa aku sebenarnya menghendaki rahasia itu terkubur dalam lubuk liati sampai akhir hidup, tetapi Maximilien telah mencungkilnya dengan kekerasan yang saya kira dia pun menyesalkannya sekarang.'"



Melihat Maximilien duduk di kursi termenung tanpa tenaga,



Monte Cristo menambah lagi dengan perlahan-lahan, "Perhatikan dia."



"Mengapa?" tanya Emmanuel heran.



"Saya tidak dapat mengatakan mengapa, tetapi perhatikan saja"



Emmanuel melihat ke seluruh ruangan dan akhirnya dia menemukan pistol-pistol Maximilien. Dia menatap benda-benda itu dengan cemas dan perlahan-lahan telunjuknya menunjuk pistol-pistol itu. Monte Cristo mengangguk. Emmanuel bergerak ke arah pistol, tetapi Monte Cristo mencegahnya dengan berkata, "Biarkan saja." Monte Cristo menghampiri Maximilien lalu memegang tangannya. Gejolak perasaan yang menggoncangkan batin anak muda itu kini telah lenyap dan berganti menjadi bingung.



Julie masuk kembali dengan membawa dompet sutera di tangannya. Butir-butir air mata kegembiraan mengalir di pipinya.



"Inilah jimat itu," katanya. "Jangan Tuan mengira bahwa nilainya menjadi berkurang setelah penyelamat yang sebenarnya telah diketahui."



"Kembalikanlah kepada saya," kata Monte Cristo, pipinya merah. "Oleh karena engkau tokh sudah mengenal wajahku, say ingin dikenang hanya dengan rasa kasih sayang secara langsung, kalau boleh saya memintanya."



"Oh, jangan!" jawab Julie sambil menekankan dompet itu ke dadanya. "Jangan Tuan minta kembali . . . saya takut Tuan akan meninggalkan kami!"



"Dugaanmu benar sekali," jawab Monte Cristo tersenyum. 'Dalam minggu ini juga saya bermaksud meninggalkan negri ini, negri di mana banyak orang yang patut mendapat .hukuman Tuhan hidup berbahagia, padahal ayahku sendiri meninggal karena kelaparan dan kesedihan."



Ketika mengucapkan ini, Monte Cristo melirik kepada Maximilien, dan dia melihat bahwa kalimatnya 'Saya bermaksud meninggalkan negri ini" sama sekali tidak berpengaruh kepada Maximilien yang sedang berada dalam keadaan bingung tak menentu.



Sambil memegang tangan Julie dan Emmanuel dia berkata dengan kata-kata seramah seorang ayah kepada anaknya, "Tinggalkan aku sebentar dengan Maximilien."



Julie melihat kesempatan untuk membawa kembali jimat yang tidak disebut-sebut lagi oleh Monte Cristo. Dia cepat menarik suaminya ke luar kamar.



' Maximilien," kata Monte Cristo, menyentuhnya dengan jari tangannya. "Apakah engkau sudah siap untuk menjadi laki-laki lagi?"



"Ya, saya sudah siap menderita lagi."

__ADS_1



Monte Cristo mengerutkan dahinya. "Maximilien, engkau hanyut terbawa pikiran-pikiran yang tidak terpuji oleh agama."



"Oh, jangan khawatir," jawab Maximilien, menengadah dan tersenyum sedih. "Saya tidak akan lagi mencari kematian. Tidak, saya mempunyai yang lebih baik dari pistol untuk menyembuhkan kepedihan ini - . . kepedihan itu sendiri akan mematikan,"



"Sahabat," kata Monte Cristo dengan nada suara yang sama mengharukannya,



"dengarkan baik-baik: Pada suatu hari, pada saat hilangnya semua harapan, aku pun pernah mau bunuh diri. Bila pada waktu seperti itu, pada waktu ayahmu mengarahkan pistol ke pelipisnya, atau ketika aku menolak semua makanan selama tiga hari, ada orang yang berkata kepada kami: Tabahkan hati dan berusaha tetap hidup, karena akan datang suatu hari di mana engkau akan merasa berbahagia dan menghargai hidup,1 kami pasti akan tersenyum pahit tidak percaya atau menampiknya dengan marah. Tetapi kemudian, betapa seringnya ayahmu



menyatakan penghargaannya terhadap hidup dan kehidupan, dan betapa sering pula aku sendiri . . ."



'Tuan hanya kehilangan kemerdekaan," sela Maximilien, "dan ayah hanya kehilangan kekayaan, tetapi saya kehilangan Valentine!"



"Perhatikan aku,Maximilien," kata Monte Cristo dengan air muka yang begitu mengesankan yang dalam banyak kejadian begitu berwibawa sehingga orang yang melihatnya tidak mampu menentangnya. "Tak ada air mata dalam mataku, tak ada rasa sakit dalam hatiku dan tak ada kegelisahan dalam perangaiku, padahal sekarang aku sedang menyaksikanmu, engkau yang sangat kucintai seperti anakku sendiri, menderita.



Bukankah itu berarti penderitaan itu sendiri berarti hidup. Bukankah itu berarti bahwa masih ada sesuatu rahasia di balik itu? Aku minta engkau percaya, Maximilien, kalau aku memintamu untuk tetap hidup, berarti aku sendiri yakin bahwa pada suatu hari kelak engkau akan berterima kasih karena aku telah menolong hidupmu."



"Oh. Tuhan! Apa yang Tuan katakan? Rupanya Tuan tidak pernah jatuh cinta."



"Anakku!'"



"Saya berbicara tentang cinta sejati," lanjut Maximilien. "Saya telah menjadi perjurit sejak menginjak dewasa. Saya telah hidup sampai berumur dua puluh sembilan tahun tanpa pernah jatuh cinta karena Selama itu cinta tidak berarti apa-apa bagi saya.



Semenjak bertemu dengan Valentine, kebahagiaan saya sempurna, tak ada bandingannya.



Suatu kebahagiaan yang terlampau agung, terlampau sempurna untuk dapat ditemukan dalam dunia ini. Sekarang setelah dia pergi, tak ada lagi yang tersisa bagi saya kecuali hati yang luluh dan harapan yang punah."



"Sudah aku katakan agar engkau tetap berpengharapan, Maximilien."



"Harap hati-hati, Count Tuan bermaksud membujuk saya lagi, dan kalau Tuan lakukan itu, saya akan kehilangan akal sehat saya karena mungkin Tuan akan membuat saya percaya bahwa saya akan bertemu lagi dengan Valentine."



Monte Cristo tersenyum.



"Sekali lagi saya harap Tuan berhati-hati!" kata Maximilien, meluncur dari ketinggian semangat ke kedalaman putus asa. "Tuan tidak lebih dari seorang ibu yang baik, atau barangkali seorang ibu yang mementingkan diri sendiri, yang membujuk- bujuk anaknya yang sedang menangis dengan kata-kata manis oleh karena tangisnya sudah menjengkelkan. Tidak saya keliru dengan meminta Tyan berhati-hati. Jangan khawatir. Saya akan mengubur kepedihan itu dalam lubuk hati, dan saya akan merahasiakannya demikian sempurna sehingga Tuan tidak akan menyangka saya bersedih hati. Selamat tinggal, kawan."



"Tidak, Maximilien, tidak ada selamat tinggal. Mulai sekarang engkau tinggal bersamaku dan dalam tempo seminggu kita akali meninggalkan Perancis bersama-sama."



"Dan Tuan akan tetap meminta saya untuk tidak berputus asa?"



"Ya, karena aku tahu bagaimana menyembuhkanmu."



"Count, Tuan membuat saya lebih sakit kalau hal itu mungkin. Tuan melihat kesedihan saya sebagai kesedihan biasa dan Tuan mengira dapat menyembuhkan saya dengan obat yang biasa pula: bepergian." Maximilien menggelengkan kepala tak percaya.



"Aku percaya kepada janji-janjiku sendiri," kata Monte Cristo. "Beri aku kesempatan mencobanya."



"Tuan hanya memperpanjang dukacita saya."



"Apakah hatimu begitu lemah sehingga tidak kuat memberi kesempatan beberapa hari kepada sahabatmu membuktikan janjinya? Tahukah engkau apa yang dapat diperbuat oleh Count of Monte Cristo? Tahukah engkau bahwa dia menguasai sebagian besar dari kekuatan-kekuatan duniawi ini? Tahukah engkau bahwa dia mempunyai kepercayaan yang teguh kepada Tuhan untuk meminta keajaiban-keajaiban dari Dia yang pernah berkata bahwa dengan kepercayaan orang dapat menggeserkan sebuah gunung? Aku minta engkau menunggu keajaiban ini, kalau tidak . . ."



"Kalau tidak?"



"Aku akan menyebutmu orang yang tak tahu terima kasih." "Maafkan saya, Count!"



"Dengarkan, Maximilien. Aku begitu mengasihammti sehingga apabila aku tidak berhasil menyembuhkanmU dalam tempo sebulan, aku-sendiri yang akan menghadap"



kanmu kepada pistol ini dan sebotol racun yang paling mematikan di Italia, racun yang lebih cepat dan lebih mematikan daripada racun yang digunakan untuk membunuh Valentine."



"Tuan mau berjanji begitu?"



"Bukan hanya berjanji, melainkan bersumpah!" jawab Monte Cristo sambil memegang tangan Maximilien.



"Dalam tempo sebidai., demi kehormatan Tuan, apabila saya tetap tidak tersembuhkan, Tuan akan membiarkan saya menentukan hidup saya sendiri4 seperti yang saya sukai, dan apa pun yang saya iakukan Tuan tidak akan mengatakan saya tidak tahu terima kasih."



"Tepat sebulan sejak hari ini, dan hari ini adalah hari keramat. Aku tidak tahu apakah engkau menyadari bahwa liari ini tanggal lima September. Sepuluh tahun yang lalu, tepat pada tanggal ini aku menyelamatkan jiwa ayahmu ketika beliau mau



mengakhiri hidupnya."



Maximilien mengambil tangan Monte Cristo lalu menciumnya. Monte Cristo membiarkannya, seakan-akan dia menganggap penghormatan itu wajar saja.



"Sebulan sejak hari ini, pada tanggal dan jam yang sama," lanjut Monte Cristo, "kita akan duduk berhadapan dengan senjata yang baik dan racun yang nyaman di atas meja antara kita. Sebagai imbalan, maukah engkau berjanji akan tetap tabah sampai waktu itu?"



"Saya bersumpah."



Monte Cristo mendekapkan anak muda itu ke dadanya untuk beberapa lama.



"Sekarang," katanya, "engkau tinggal di rumahku. Engkau boleh memakai kamar Haydee."



"Haydee? Ke mana dia?"



"Dia sudah berangkat tadi malam. Dia menunggu aku menyusulnya. Bersiap-siaplah untuk pindah ke Champs



Elysees, tetapi sebelum itu, |pk>ng saya, keluarkan dahulu dari rumah ini tanpa dilihat orang,"



Maximften mengangguk, lalu menurut seperti anak kecil . . . atau seperti seorang murid.

__ADS_1




__ADS_2