The Count of Monte Cristo

The Count of Monte Cristo
Episode 33


__ADS_3

SETELAH Nyonya Danglars dan anaknya pulang, dan ketika Valentine berada di kebun menemui Maximilien, Villefort dan istrinya pergi ke kamar Noirtier. Mereka duduk di kanan-kiri ayahnya setelah menyuruh Bar rois pergi, pelayan tua yang telah bekerja pada Noirtier selama lebih dari dua puluh lima tahun.



Noirtier didudukkan di kursi rodanya. Pagi hari dia didudukkan di sana, malam hari ia diangkat dari sana. Dari seorang pejuang gigih yang kuat kekar, sekarang hanya tinggal pendengaran dan penglihatannya yang masih utuh. Seperti biasa yang terjadi pada orangorang yang cacad, pada matanya yang masih utuhlah sekarang bersatunya segala kekuatan dan kecerdasannya yang dahulu menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia memerintah dengan matanya, mengucapkan terima kasih dengan matanya. Sangat menyeramkan sekali bila kita melihat matanya menyala-nyala karena marah atau berkilat karena gembira. Hanya tiga orang yang dapat memahami bahasa matanya. Villefort, Valentine dan pelayan tua Bar rois. Tetapi karena Villefort hanya menemui ayahnya kalau perlu saja, seluruh kebahagiaan orang tua itu bertumpu pada cucunya. Berkat kecintaan, kesetiaan dan kesabaran itulah Valentine dapat membaca semua yang menjadi pikiran kakeknya melalui matanya.



"Ayah," kata Villefort, "alasan mengapa kami menyuruh Barrois meninggalkan kamar dan tidak membawa Valentine ke mari t karena kami ingin membicarakan sesuatu yang tidak baik didengar oleh seorang gadis dan seorang pelayan. Kami yakin bahwa apa yang akan kami katakan akan menyenangkan hati Ayah."



Mata orang tua itu tidak menunjukkan apa-apa. "Valentine akan dikawinkan tiga bulan lagi."



"Kami kira berita ini akan menarik perhatian Ayah," kata



Nyonya de Villefort, "oleh karena Valentine rupanya mempunyai suatu tempat yang khusus dalam hati Ayah. Anak muda yang kami pilihkan baginya, mempunyai kekayaan yang cukup besar dan nama yang baik dan tabiat kebiasaannya pasti akan membahagiakan Valentine. Selain dari itu namanya tidaklah asing bagi Ayah. Dia adalah Tuan Franz de Quesnal, Baron dari Epinay."



Ketika Nyonya Villefort mengucapkan nama itu, pelupuk mata orang tua itu bergerak seperti bibir yang hendak mengucapkan sesuatu, lalu menyorotkan nyala kemarahan.



Villefort yang mengetahui akan permusuhan politik yang pernah terjadi antara ayahnya dan ayah Franz dapat memahami kemarahan ini, namun dia pura-pura tidak melihatnya.



"Kami sama sekali tidak lupa memikirkan Ayah. Oleh karena Valentine juga sangat mencintai ayah, kami telah mengatur sedemikian rupa sehingga bakal suami Valentine setuju Ayah tinggal bersama mereka. Dengan demikian Ayah akan mempunyai dua orang cucu yang akan melayani Ayah."



Suatu gejolak perasaan berkecamuk dalam hati orang tua itu. Jerit kesakitan dan kemarahan bergelora mendesak kerongkongannya, tetapi karena tidak dapat berbicara wajahnya saja berubah menjadi merah padam.



"Tuan d'Epinay dan keluarganya menyetujui perkawinan ini," sambung Nyonya de Villefort. "Keluarganya hanya terdiri dari paman dan bibinya. Ibunya telah meninggal ketika melahirkan dia sedangkan ayahnya mati terbunuh pada tahun 1815."



"Pembunuhan yang rahasia," tambah Villefort. "Pelakunya tidak pernah terungkapkan, sekalipun kecurigaan diletakkan kepada beberapa orang. Penjahat yang sebenarnya tentu akan merasa gembira kalau dia menjadi kita, dapat memberikan putrinya kepada Tuan d'Epinay dengan maksud menutupi sisa- sisa kecurigaan yang mungkin masih diletakkan kepadanya."



Noirtier dapat menguasai perasaannya dengan kekuatan



yang tidak mungkin terbayangkan masih terdapat pada tubuh yang rapuh seperti itu. "Ya, aku mengerti,"



katanya dengan matanya kepada Villefort Air mukanya menunjukkan penghinaan dan kemarahan yang mendalam. Villefort memahami sekali air muka ini dan menjawabnya dengan mengangkat bahu. lalu dia mengajak istrinya pergi.



"Kami harus pergi sekarang," kata Nyonya de Villefort. "Apakah saya akan menyuruh Edouard ke mari mengunjungi ayah?"



Telah disepakati bahwa kalau Noirtier akan menyatakan persetujuannya terhadap sesuatu perkara ia akan memejamkan matanya, mengedipkannya beberapa kali kalau tidak setuju. Dan apabila ia menghendaki sesuatu, ia akan menatap ke langit- langit.



Apabila ia menghendaki Valentine, ia akan memejamkan mata kanannya saja, sedangkan memejamkan mata kirinya ia meminta Barrois.



Untuk menjawab pertanyaan Nyonya de Villefort ia mengedipkan matanya beberapa kali dengan kuat sekali. Nyonya de Villefort menggigit bibirnya karena penolakan ini, lalu bertanya, "Apakah saya akan memanggil Valentine?"



"Ya" jawab orang tua itu dengan memejamkan mata kanannya seketika.



Villefort dan istrinya membungkuk memberi hormat lalu meninggalkan kamar.



Valentine masuk tidak berapa lama kemudian. Pada pandangannya yang pertama Valentine sudah dapat meraba betapa berat penderitaan kakeknya dan betapa banyak yang ingin dikatakannya,



"Oh, Kakek! Ada apa? Kakek marah?"



"Ya," katanya dengan jalan memejamkan mata.



"Kepada siapa? Kepada ayah? Tidak. Kepada ibu? Tidak.



Kepada saya barangkali?"



Noirtier memejamkan lagi matanya.



"Kakek marah kepada saya?" tanya Valentine heran. "Sehari ini baru sekarang saya menemui Kakek. Apakah ada yang membicarakah tentang saya kepada Kakek?"



"Ya."



"Sebentar . . . sebentar . . . Ayah dan ibu baru saja meninggalkan kamar ini. Tentu mereka yang membuat Kakek marah. Apakah saya hams menanyakan kepada mereka apa kesalahan saya supaya saya dapat meminta maaf kepada Kakek?"



"Tidak."



"Apa yang mereka katakan . . . ? Ah, saya mengerti!" katanya dengan merendahkan suaranya dan bergeser lebih mendekat. "Mereka berbicara tentang perkawinan saya?"



"Ya," jawab mata Noirtier dengan marah.



"Apakah Kakek takut saya akan meninggalkan Kakek? Bahwa perkawinan itu akan membuat saya melupakan Kakek?"



"Bukan."



"Kalau begitu berarti mereka telah pula mengatakan bahwa Tuan d'Epinay tidak berkeberatan Kakek tinggal bersama kami?"



"Ya."



"Lalu mengapa Kakek marah?"



Cahaya mata orang tua itu tiba-tiba memancarkan sinar kecintaan.


__ADS_1


"Saya paham,", kata Valentine, "oleh karena Kakek sangat mencintai saya. Kakek khawatir saya tidak akan berbahagia. Begitu bukan?"



"Benar."



"Kakek tidak menyukai Tuan d'Epinay?"



"ridak!ridak!Tidak!" jawab Noirtier berkali-kali.



"Dengar Kakek," kata Valentine berlutut di hadapannya dan memeluk Noirtier di lehernya, "saya pun tidak menyukai Tuan d'Epinay."



Suatu kilat kegembiraan bersinar di matanya.



"Oh, kalau saja Kakek dapat menolong membatalkan perkawinan itu! Kakek pasti akan dapat menjadi pelindung seandainya keadaan Kakek tidak seperti ini. Tetapi sekarang Kakek tak mungkin berbuat apa-apa kecuali turut merasakan kebahagiaan dan kesedihan saya."



Ketika dia mengucapkan kalimat ini, Valentine melihat suatu cahaya kecerdikan pada mata kakeknya yang ia artikan sebagai, "Kau keliru. Aku masih dapat berbuat banyak untukmu."



Noirtier melihat ke langit-langit sebagai tanda ia menghendaki sesuatu.



"Apa yang Kakek kehendaki?" Valentine mulai menyebutkan huruf-huruf menurut urutan abjad. Pada setiap huruf ia berhenti sebentar melihat tanda pada mata kakeknya.



Pada huruf N kakeknya memberi isyarat 'ya'.



"Ah, dimulai dengan huruf N " kata Valentine. "Baik, apakah Na? Ne? Ni? No?"



"Ya."



"No. Baik," kata Valentine. Dia pergi mengambil sebuah kamus, lalu membukanya di hadapan Noirtier. Telunjuknya menunjuk setiap kata yang dimulai dengan no dan setiap kali melihat isarat mata kakeknya, Pada kata notaris, kakeknya menyuruhnya berhenti.



"Kakek mau memanggil notaris?"



"Betul."



"Hanya itu?" "Ya."



Valentine membunyikan bel memanggil pelayan dan menyuruhnya meminta Tuan dan Nyonya de Villefort datang ke kamar kakeknya.



Tuan de Villefort masuk diantar oleh Bar rois.



"Kakek ingin memanggil notaris," kata Valentine. "Buat apa Ayah memanggil notaris?"



"Kalau Tuan Noirtier meminta notaris, ini pasti karena beliau memerlukannya," kata Barrois yang hanya menganggap Noirtier sebagai satu-satunya majikan. "Sebab itu saya akan pergi memanggilnya dan membawanya sekali."




"Sama saja," kata Barrois, "saya tetap akan memanggilnya." Pelayan itu pergi dengan bersemangat.



Villefort duduk dan menunggu. Noirtier tidak mengacuhkannya, tetapi dengan sudut matanya ia memberi isarat kepada Valentine untuk tidak meninggalkan kamar.



Tiga perempat jam kemudian Barrois kembali bersama seorang notaris.



'Tuan diminta datang oleh Tuan Noirtier de Villefort ini," kata Villefort kepada notaris setelah saling menyalami "Kelumpuhannya menyebabkan beliau tidak dapat berkata-kata, dan sukar sekali bagi kita mengetahui apa yang dipikirkannya."



Noirtier memanggil Valentine dengan matanya dan memintanya dengan sangat agar dia segera berkata kepada



notaris. "Saya dapat mengerti apa yang hendak dikatakan kakek saya," kata Valentine.



"Itu benar, Tuan," Barrois menguatkan, "semuanya, seperti yang saya tadi ceriterakan di perjalanan."



"Tuan Noirtier memejamkan matanya apabila beliau bermaksud mengatakan 'ya' dan mengedipkannya beberapa kali apabila hendak mengatakan 'tidak'," kata Valentine. "Dan bagaimanapun sulitnya tampaknya bagi Tuan mengikuti jalan pikiran Kakek, saya akan memperlihatkan kepada Tuan demikian rupa sehingga Tuan tidak mempunyai keragu-raguan lagi."



"Baik," jawab notaris, "mari kita coba saja. Apakah Tuan menerima nona ini sebagai penterjemah, Tuan Noirtier?"



"Ya," jawab mata Noirtier.



"Baik. Sekarang, mengapa Tuan memerlukan saya?"



Valentine segera menyebutkan huruf-huruf menurut u-rutan abjad sampai dia disuruh berhenti pada huruf W. Lalu dia bertanya, "Wa . . . ?"



"Ya."



Valentine membuka kamus dan menunjuk kata-kata yang dimulai dengan sukukata



'wa". "Wasiat," katanya setelah dia melihat isarat mata Noirtier.



"Wasiat!" kata notaris dengan kagum. "Tuan Noirtier bermaksud membuat surat wasiat! Jelas sekali." "Benar," kata mata Noirtier beberapa kait "Luar biasa!" kata notaris kepada Villefort yang penuh keheranan.



"Ya, tetapi saya rasa wasiatnya akan lebih luar biasa lagi," jawab Villefort. "Kata-kata beliau tidak akan mungkin keluar sendiri tanpa dipengaruhi pikiran anak saya, dan saya khawatir dia terlibat terlalu dalam dalam urusan warisan Tuan Noirtier sehingga tidak akan dapat menjadi penter-jemah yang jujur."



'Tidak! Tidak!" mata Noirtier memberi isarat dengan kuatnya.

__ADS_1



"Maksud Ayah " tanya Villefort terkejut, "Valentine tidak mempunyai kepentingan dalam wasiat ayah?" Tidak."



"Tuan de Villefort," kata notaris, "beberapa menit yang lalu memang saya menganggap sebagai tidak mungkin membuat surat wasiat menurut keinginan ayah Tuan, tetapi sekarang saya rasa tidak ada yang lebih mudah dari itu. Menurut hukum, surat wasiat ini akan sah bila dibaca di hadapan tujuh orang saksi, disetujui isinya oleh pemberi wasiat, lalu disegel deh notaris di hadapan semua. Selanjutnya untuk memperkuatnya lagi agar jangan sampai digugat orang di kemudian hari, saya akan meminta bantuan seorang rekan, dan bertentangan dengan kebiasaan dia akan turut hadir ketika pendiktean wasiat.



Apakah Tuan puas, Tuan Noirtier?"



"Ya," kata Noirtier gembira sekali karena keinginannya dapat dimengerti.



Barrois yang mendengarkan seluruh pembicaraan dan dapat merasakan lebih dahulu keinginan-keinginan majikannya, pergi tanpa menunggu perintah memanggil notaris seorang lagi. Villefort menyuruh memanggil istrinya. Seperempat jam kemudian setiap orang telah berkumpul di kamar Noirtier dan notaris kedua pun telah hadir. Notaris yang pertama berkata kepada Noirtier, "Apakah Tuan mengetahui berapa besar kekayaan Tuan?" "Ya."



"Saya akan menyebutkan beberapa jumlah berturut-turut Hendaknya Tuan menghentikan saya apabila saya telah sampai kepada suatu jumlah yang menurutTuan telah mendekati kekayaan yang Tuan miliki. Apakah itu lebih dari tiga ratus ribu frank?"



"Ya."



"Empat ratus ribu frank?"



Noirtier tidak memberi tanda apa-apa.



"Lima ratus ribu? Enam?Tujuh?Deiapan? Sembilan?" Noirtier memejamkan matanya.



'Tuan memiliki sembilan ratus ribu frank?" "Ya."



"Kepada siap akali Tuan ingin mewariskannya? Kepada Nona Valentine de Villefort?"



Noirtier mengedipkan matanya berkali-kali dengan tegas agar tidak timbul salah penafsiran.



"Apakah Tuan tidak keliru?"



'Tidak!" jawab Noirtier. "Tidak!"



Hati Valentine risau, bukan karena tidak disebut sebagai pewaris tetapi oleh karena ia mencurigai perasaan hati kakeknya yang mendorongnya bertindak begitu. Tetapi Noirtier memandangnya dengan penuh perasaan cinta kasih sehingga Valentine berteriak gembira.



"Oh, saya mengerti. Kakek hanya tidak memberi harta kekayaan saja, tetapi masih selalu melimpahkan cintanya."



"Ya. Ya," kata Noirtier dengan isarat mata yang tidak meragukan Valentine.



Penyisihan nama Valentine sebagai pewaris telah menimbulkan harapan yang tidak terduga pada Nyonya de Villefort. Dia menghampiri orang tua itu lalu bertanya, "Barangkali kepada Edouard, Ayah hendak mewariskannya?"



Mata Noirtier berkedip dengan kuat sekali, hendak menyatakan tidak setuju. Bahkan matanya bersinar-sinar menunjukkan kebencian. -



"Kepada putra Tuan, barangkali? Tuan de Villefort?" tanya notaris.



"Tidak."



Kedua notaris itu saling berpandangan dalam keheranan. Pipi Villefort dan istrinya menjadi merah. Yang seorang ka-re na malu, yang lain karena marah.



"Tetapi apa yang telah kami perbuat kepada Kakek?" tanya Valentine yang juga merasa heran.



Noirtier melihat kepada tangan Valentine. "Tangan saya?"



"Ya."



"Nah, Tuan-tuan lihat sekarang, tidak ada gunanya," kata Villefort. "Ayah saya yang malang ini gila."



"Saya mengerti, saya mengerti!" kata Valentine tiba-tiba. "Perkawinan saya, bukan begitu, Kakek?"



"Ya!Ya!Ya?"



"Kakek marah karena perkawinan itu?" "Ya."



"Kakek tidak menyetujui perkawinan saya kepada Tuan Franz d'Epinay?" "Ya."



"Tuan mencabut hak waris cucu Tuan karena ia akan kawin bertentangan dengan keinginan Tuan?" tanya notaris.



"Ya."



"Dan apa yang hendak Tuan lakukan dengan kekayaan Tuan apabila Nona de Villefort kawin dengan Tuan d'Epi-nay? Apakah Tuan akan mewariskannya kepada salah seorang lain dari keluarga Tuan?" "Tidak."



"Tuan akan mewariskannya kepada fakir miskin?" "Ya."



"Apa pendapat Tuan tentang hal ini, Tuan de Villefort?" tanya notaris.



?



"Tidak ada. Saya tahu ayah saya tidak akan pernah me- rubah keputusannya. Oleh sebab itu, saya lebih baik mengundurkan diri. Kekayaannya yang sembilan ratus ribu frank itu boleh meninggalkan keluarga, tetapi saya tidak akan menyerah begitu saja kepada tingkah-polah orang tua itu dan saya akan tetap bertindak menurut keyakinan saya,"



Villefort keluar bersama istrinya, meninggalkan ayahnya membuat wasiat seperti yang dikehendakinya.

__ADS_1




__ADS_2