
MAXIMILIEN berjalan menuju rumah Villefort. Noirtier dan Valentine mengizinkan dia berkunjung sekali seminggu dan sekarang ini ia sedang akan memanfaatkan haknya.
Valentine telah menunggunya ketika dia sampai. Dengan perasaan cemas, bahkan mendekati takut ia memegang tangan Maximilien dan segera menuntunnya ke kamar kakeknya. Dia .cemas ketika mendengar tantangan Albert kepada Count of Monte Cristo di opera. Dia menduga bahwa Maxi-milienlah yang akan diminta menjadi pembantu Monte Cristo, didasarkan kepada keberanian anak muda yang cukup terkenal dan rasa persahabatannya yang mendalam dengan Monte Cristo. Dia khawatir Maximilien tidak akan dapat membatasi dirinya sampai hanya menjadi pembantu yang pasif saja. Dapat dipahami kalau Valentine membanjiri Maximilien dengan pertanyaan-pertanyaan sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya. Maximilien melihat kegembiraan yang tak terkirakan pada wajah Valentine ketika dia menceriterakan bahwa pertarungan berakhir dengan perdamaian yang di luar dugaan.
Sekarang bicaralah tentang dirimu sendiri," kata Valentine sambil mempersilakan Maximilien duduk di samping Noirtier. Dia duduk di tangan kursi kakeknya.
Seperti kauketahui, pernah kakek bermaksud untuk pindah dari rumah ini dan menyewa sebuah apartemen untuk kami berdua. Sekarang niat itu kembali lagi."
"Bagus!"
Maximilien berteriak gembira. "Tahukah engkau, alasan apa yang telah beliau kemukakan untuk meninggalkan rumah ini?"
Noirtier memberi isarat agar Valentine menutup mulut, tetapi Valentine tidak melihat isarat itu. -Perhatian dan senyumnya hanya ditujukan kepada Maxirriilien.
"Apa pun alasannya aku yakin pasti baik!" jawab Maximilien. "Beliau mengatakan bahwa udara di sini tidak baik bagiku."
"Mungkin sekali beliau benar, karena menurut penglihatanku pun kesehatanmu tidak begitu baik dalam duaminggu terakhir ini."
"Memang. Kakek teiah bertindak sebagai dokterku selama ini, dan karena beliau luas pengetahuannya aku mempercayainya."
"Tetapi betulkah engkau sakit?" tanya Maximilien cemas.
"Tak dapat aku katakan sakit. Aku hanya merasa kurang enak badan. Nafsu makanku hilang dan rasanya perut ini sedang berusaha keras membiasakan diri kepada sesuatu yang asing."
"Bagaimana perawatan untuk penyakit yang tidak diketahui
ini?"
"Aku minum sebagian obat yang biasa diberikan kepada
kakek. Mula-mula hanya sesendok kecil, sekarang sudah meningkat menjadi empat sendok. Kata kakek, obat itupanacea, obat untuk segala penyakit" Valentine tersenyum, tetapi jelas senyum yang sedih.
"Aku kira obat itu dibuat khusus untuk kakekmu." .
"Aku hanya tahu rasanya pahit. Begitu pahit sehingga apa pun yang kuminum setelah makan obat itu, semuanya terasa pahit."
Noirtier memandang Valentine. Matanya penuh kecemasan. Rupanya seluruh darah Valentine mengalir ke kepala, karena pipinya mulai kelihatan merah sekali.
"Aneh!" kata Valentine lagi tanpa kehilangan kegembiraannya. "Apakah karena sinar matahari aku merasa pusing?" Dia bersandar di jendela.
"Mana ada sinar matahari!" kata Maximilien sambil berlari
menghampiri Valentine.
Valentine tersenyum. "Jangan khawatir, aku sudah baik lagi.
Dengar, betulkah itu suara kereta?"
Dia membuka pintu dan berian ke jendela dari mana dia dapat melihat pekarangan, dan segera kembali lagi.
"Betul!" katanya. "Nyonya Danglars dan putrinya- datang berkunjung. Saya akan menemuinya supaya mereka jangan datang ke mari. Tinggal di sini dengan kakek, Maximilien. Aku akan berusaha kembali secepat mungkin."
Maximilien melihat dia menutup pintu dan mendengar dia berjalan di tangga yang menuju ke kamarnya dan kamar Nyonya de Villefort.
Nyonya Danglars dan anaknya dibawa ke kamar Nyonya de Villefort Valentine memberi hormat ketika mereka masuk.
"Saya datang dengan Eugme karena ingin menjadi orang pertama yang memberi tahukan perkawinan Eugenie dengan Pangeran Cavalcanti" kata Nyonya Danglars.
Suaminya bersikeras untuk memberi gelar pangeran kepada Cavalcanti karena ditelinganya gelar itu lebih sedap terdengar.
"Saya mengucapkan selamat," jawab Nyonya de Ville fort. Pangeran Cavalcanti seorang anak muda dengan macam-macam kebaikan."
"Benar" kata Nyonya Danglars tersenyum. "Hatinya baik dan otaknya cerdas. Dan kata suami saya, dia kaya se kaya seorang raja."
"Ibu dapat tambahkan juga," seia Eugenie, "bahwa ibu pun menyukainya."
"Saya rasa, biasa kalau seorang anak muda disenangi oleh calon istri dan calon mertuanya, bukan?" kata Nyonya de Villefort.
"Saya sendiri tidak menyukainya," jawab Eugenie dingin
seperti kebiasaannya. "Saya tidak mempunyai bakat untuk mengikatkan diri kepada urusan rumah tangga atau kepada keinginan seorang laki-laki, siapa pun dia. Saya dilahirkan untuk menjadi seorang seniwati dan seorang yang merdeka. Tetapi karena saya terpaksa harus menikah, saya bersyukur tidak jadi menikah dengan Albert de Morcerf. Kalau dengan dia mungkin sekarang saya sudah menjadi istri seorang yang kehilangan kehormatannya."
"Tetapi," kata Valentine agak ragu-ragu, "apakah dia harus dipersalahkan karena kecemaran bapaknya?"
"Dia harus turut menanggung kecemaran itu," jawab Eugenie yang keras itu.
"Setelah menantang Count of Monte Cristo di gedung opera di muka umum, dia meminta maaf tadi pagi di medan kehormatan."
"Mana mungkin!" Nyonya de Villefort yang tidak mengetahui persoalannya merasa heran.
"'Itu benar,"' kata Nyonya Danglars, "saya mendengarnya dari Tuan Debray yang hadir di tempat kejadian itu."
Valentine pun tahu, tetapi dia tidak berkata apa-apa. Pikirannya sedang melayang ke kamar Noirtier, tempat Maxim ilien sedang menunggunya. Sentuhan tangan nyonya Danglars di tangannya membuat dia sadar kembali dari lamunannya.
"Engkau sakit, Valentine?" tanyanya. "Dalam beberapa menit saja wajahmu berubah dari merah ke pucat dan kem-beii merah beberapa kali."
"Mukamu pucat sekati sekarang," kata Eugenie.
"Oh, tidak ada apa-apa. Sudah beberapa hari memang begini/ Dia sadar bahwa sekarang dia mempunyai alasan untuk meminta maaf meninggalkan mereka.
Nyonya de Villefort melicinkan jalan dengan berkata.
"Rupanya engkau kurang sehat, Valentine. Saya rasa tamu kita tidak akan berkeberatan kalau engkau beristirahat saja."
Valentine merangkul Eugenie, memberi hormat kepada Nyonya Danglars dan keluar.
Dia sudah hampir habis menuruni tangga, bahkan sudah dapat mendengar suara Maxmiili en yang sedang bercakap-cakap dengan kakeknya, ketika tiba-tiba seakan-akan segumpal awan gelap menghalangi penglihatannya sehingga ia jatuh terguling di tangga. Maximilien berlari keluar pintu dan melihat Valentine tergeletak di bawah tangga. Segera Valentine dipangku di bawa ke dalam dan didudukkan di sebuah kursi.
Valentine-membuka-matanya. "Oh,mengapa-aku-ini!" Katanya dengan gagap."Begitu lemahkah aku sehingga tidak mampu berdiri lagi?"'
"Apa yang sakit, Valentine? Oh Tuhan! Oh Tuhan!"
__ADS_1
Valentine melihat mata Noirtier berkilat-kilat penuh kecemasan. "Jangan khawatir, Kakek," katanya mencoba tersenyum. 'Tidak apa-apa. Saya hanya merasa pusing sebentar, hanya itu."
"Hati-hati, Valentine. Aku minta!" kata Maximilien.
"Tidak apa-apa. Aku sudah merasa baik. Ada berita: Eugenie Danglars akan menikah dalam seminggu ini.'"
"Dan kapan giliran kita? Engkau mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap kakekmu. Cobalah pengaruhi beliau untuk menjawab, segera."
"Engkau mengharapkan aku mempengaruhi kakek? " "Betul, dan bertindaklah Cepat-cepat! Sebelum engkau menjadi milikku, aku selalu merasa akan kehilanganmu."
"Maximilien," jawab Valentine dengan gerakan yang agak kaku, "sebagai seorang perjurit yang kata orang tidak pernah merasa takut engkau terlalu banyak kecemasan!"
Valentine tertawa dengan suara melengking mengerikan, kedua tangannya kaku, kepala terkulai dan akhirnya tak sadarkan diri.
Mata Noirtier selalu mengawasinya dan berputar-putar liar, seakan-akan semua rasa takut dan suara hatinya tumpah ke dalam matanya. Maximilien sadar bahwa ia harus cepat-cepat mencari pertolongan. Dia memijit bel. Pelayan Valentine dan pelayan yang menggantikan Barrens segera masuk berbarengan. Karena melihat Valentine yang begitu pucat, begitu dingin dan begitu lemas, tanpa mendengarkan penjelasan yang diberikan, keduanya sudah dicekam rasa takut yang senantiasa menguasai rumah itu.
Tanpa menunggu perintah mereka berlari keluar berteriak- teriak meminta tolong.
"Ada apa?" tanya Tuan de" Villefort dari kamar kerjanya.
Maximilien bertanya kepada Noirtier yang sudah dapat menguasai diri kembali. Dia memberi isarat kepada Maximilien untuk bersembunyi di balik lemari. Dia masih sempat mengambil topinya ketika dia mendengar langkah de Vfllefort mendekat.
Villefort masuk. Begitu melihat Valentine dia berlari menghampirinya dan memeluknya. "Panggil dokter?" teriaknya. "Panggil Dokter d'Avngny . . . tidak biar aku sendiri yang pergi!" dan dia berlari ke luar.
Maximilien keluar melalui pintu yang lain. Otaknya penuh dengan pikiran yang menakutkan. Ia teringat kepada pembicaraan antara Villefort dan Dokter d"Avrigny di kebun pada malam meninggalnya Nyonya de Saint-Meran. Dan tanda-tanda yang nampak pada Valentine, sama dengan yang terjadi pada Barrens, sekalipun tidak sehebat itu. Pada saat yang bersamaan, seakan-akan dia mendengar suara Count of Monte Cristo yang baru dua jam yang lalu berkata kepadanya: "Seandainya engkau memerlukan sesuatu, datanglah kepadaku, Maximilien. Aku dapat
berbuat banyak." Setelah pikirannya tenang kembali, dia berlari ke rumah Monte Cristo di Champs Elysees.
Monte Cristo sedang berada di ruang kerjanya ketika Maximilien datang.
'Ada apa, Maximilien? Wajahmu pucat sekali dan dahimu basah."
Sebelum menjawab, Maximilien menjatuhkan diri di atas kursi. " Saya berlari secepat mungkin. Ada yang ingin saya bicarakan."
'Yang di rumah baik-baik semua?" tanya Monte Cristo dengan keramahan yang jelas sekali. "Ya, terima kasih. Semua baik-baik."
"Jadi apa yang hendak engkau bicarakan.
Apakah saya
dapat menolong?"
"Ya, Tuan dapat menolong. Saya datang ke mari seperti orang gila dengan pikiran hanya Tuanlah yang dapat menolong saya."
'"Ceriterakanlah persoalannya."
"Saya tidak tahu, apakah saya boleh membukakan rahasia ini atau tidak, tetapi sekarang saya hampir terpaksa membukakannya.'"
Maximilien berhenti ragu. "Ada sesuatu yang membisikkan kepada saya bahwa saya tidak boleh menyimpan rahasia bagi Tuan."
"Benar, Maximilien. Tuhan telah berbisik ke dalam hatimu, dan hatimu berbisik pula kepadamu sendiri."
Bolehkah saya meminta Baptistin pergi dengan dalih mencari keterangan mengenai seseorang yang Tuan kenal?" 'Tentu saja.
"Sudah pergi?" Tanya Monte Cristo ketika Maximilien kembali.
"Sudah. Sekarang hati saya agak tenteram'"
"Aku masih menunggu ceritera yang menggelisahkan dirimu itu," kata Monte Cristo tersenyum.
"Dan saya pun telah siap untuk mengatakannya. Pada sualu malam saya berada dalam sebuah kebun. Saya bersembunyi di balik semak-semak dan tak seorang pun tahu saya berada di sana. Dua orang datang berjalan mendekat izinkan saya tidak menyebut nama-nama mereka sementara ini - dan saya mendengar mereka bercakap-cakap. Salah seorang dari mereka adalah pemilik rumah. Yang seorang lagi, seorang dokter. Ada seorang yang baru meninggal dalam rumah itu. Pemilik rumah berbicara tentang kesedihan dan kekhawatirannya oleh karena kejadian malam itu merupakan kejadian yang kedua kalinya dalam satu bulan: ada orang mati mendadak dalam rumahnya."
Apa kata dokter?" tanya Monte Cristo."Dia berkata . . . bahwa kematian itu tidak wajar dan bahwa kematian itu disebabkan oleh . . . " "Oleh apa?"
"Racun."
"Betul?" tanya Monte Cristo lagi dibarengi batuk yang disengaja untuk menyembunyikan perasaan hatinya.
"Betul Count. Dan dokter itu menambahkan bahwa apabila kejadian semacam itu terulang lagi, dia akan menganggapnya sebagai kewajiban untuk memberitahu polisi.
Namun, tak beberapa waktu kemudian kematian mendadak itu menimpa orang ketiga dan tak seorang pun dari mereka
membuka mulut. Sekarang, korban keempat mungkin akan jatuh lagi. Tuan apa yang harus saya lakukan sekarang?"
"Kawan," kata Monte Cristo. "Saya rasa engkau men- ceriterakan sesuatu yang sudah menjadi rahasia umum. Aku tahu rumah mana yang kau maksud, atau sekurang-kurangnya aku mengenal sebuah rumah yang tepat seperti yang kaumaksud, di mana pernah terjadi tiga orang mati mendadak dan mengherankan. Sekalipun aku mengetahuinya, apakah hatiku risau? Tidak. Karena itu bukan urusan ku. Mungkin sekali keadilan Tuhan sedang berlangsung dalam rumah itu. Kalau itu benar, jangan ambil pusing, biarkanlah keadilan itu berlangsung."
Monte Cristo mengucapkan kata-kata ini dengan nada suara yang khidmat dan hormat, sehingga membuat Maxi-mihen bergidik.
"Dalam pada itu," katanya selanjutnya, "apa yang membuat engkau mengira akan jatuh korban keempat?"
"Kematian sudah datang mengancam. Tuan. Itulah sebabnya saya datang ke mari."
"Apa yang harus kulakukan? Apakah saya harus memanggil jaksa, umpamanya?"
'Tuan! Tuan telah mengetahui rumah siapa yang saya maksud, bukan?"
"Tahu. Tahu betul. Engkau mendengar rahasia itu di kebun rumah Tuan de Villefort.
Menilik ceriteramu, aku kira itu terjadi pada malam meninggalnya Nyonya de Saint-Meran. Tiga bulan yang lalu Tuan de Saint Meran mati, dua bulan yang lalu Nyonya de Saint-Meran, dan beberapa hari yang lalu Bairois. Sekarang, kalau bukan Noirtier tentu Valentine."
"Tuan mengetahuinya, tetapi Tuan tidak berbuat apa-apa?" Maximilien agak marah.
"Apa urusanku?" jawab Monte Cristo dengan mengangkat bahu. "Apakah mereka sahabat-sahabatku? Apa perlunya aku mengorbankan seorang dari mereka untuk menolong jiwa yang lainnya? Saya tidak mempunyai pilihan antara si pembunuh dan korban."
"Tetapj saya mencintai dia!" teriak Maximilien putus asa. "Saya mencintainya!"
"Apa!" Monte Cristo terlompat dari kursinya.
"Saya sangat mencintainya! Saya bersedia mengorbankan semua darah saya untuk mencegah dia menitikkan setetes air mata kesedihan! Saya mencintai Valentine de Villefort yang akan terbunuh malam ini. Tuan dengar? Saya meminta nasihat Tuan bagaimana saya harus menyelamatkannya!"
Melalui tenggorokan Monte Cristo keluar suara seperti suara singa lerluka, "Engkau mencintai Valentine? Engkau mencintai anak seorang yang terkutuk!"
__ADS_1
Maximilien belum pernah melihat air muka orang seperti yang tampak pada wajah Monte Cristo sekarang. Dia mundur selangkah karena getir. Monte Cristo menutup kedua matanya, seperti orang yang merasa pusing karena ada se macam kilat mnyambar dalam hatinya, dan kini bergelut menenangkan ba"dai yang mengamuk dalam dadanya.
Sesaat kemudian, dia membuka kembali matanya dan berkata dengan nada yang hampir tenang fagi. "Tuhan menghukum orang yang bersikap acuh tak acuh dan angkuh terhadap kejadian yang mengerikan yang Beliau perlihatkan di hadapannya. Aku tertawa melihat seorang jahat membinasakan yang lainnya, tetapi aku sendiri sekarang terpagut ular jahat yang kutonton itu."
Maximilien mengeluh.
"Kuatkan hatimu dan jangan putus asa,"kata MonteCristo. "Aku akan menjagamu."
Maximilien menggelengkan kepala dengan wajah sedih.
"Aku katakan,, jangan putus asa," lanjut Monte Cristo? "dengarkan baik-baik. KalauValentine belum mari sekarang, dia tidak akan mati. Pulanglah dan tunggu sampai ada berita dariku."
"Ketenangan Tuan menakutkan sekali!'" kata Maximilien tak tertahan. "Apakah Tuan menguasai juga kematian? Apakah Tuan lebih dari manusia biasa?"
Monte Cristo menatap wajah anak muda itu dengan senyum ramah dan kasih. "Aku dapat berbuat banyak. Pulanglah sekarang karena aku perlu menyendiri dahulu."
Maximilien terkalahkan oleh wibawa Monte Cristo yang sering disaksikannya mempengaruhi orang-orang sekitarnya, tidak dapat membantah. Dia menjabat tangannya lalu pergi.
Di pintu dia berdiri menunggu Baptistin yang sudah kelihatan kembali bergegas-gegas.
Sementara itu Villefort sudah kembali ke rumah bersama Dokter d'Avrigny. Valentine masih belum sadarkan diri. Dokter memeriksanya dengan cermat sek,ali. Villefort dan Noirtier memperhatikannya dengan harap-harap cemas. Akhirnya dokter berkata perlahan-lahan: "Masih hidup."
"Masih hidup!" Villefort terperanjat. "Dokter, mengerikan sekali apa yang Tuan katakan itu!"
"Ya, dan saya ulangi: dia masih hidup. Dan ini sangat mengherankan saya."
"Dapat Tuan menyelamatkannya? "
"Dapat, karena dia belum meninggal." Ketika mengucapkan ini Dokter d'Avrigny melihat mata Noirtier bersinar gembira dan dia dapat membaca bahwa pikirannya sedang penuh. "Tuan Villefort, sudikah Tuan memanggilkan pelayan Valentine?"
Villefort pergi. Setelah dia menutup pintu, Dokter d'Avrigny mendekati Noirtier. "Ada yang hendak Tuan katakan?"
Noirtier mengjakan dengan i sarat mata. "Hanya untuk saya sendiri?"
"Ya," jawab mata orang tua itu. "Baik, saya akan tinggal di sini." Villefort masuk kembali diikuti oleh pelayan dan di bela- kang mereka Nyonya de Villefort.
"Mengapa Valentine ini?" tanya Nyonya de Villefort. "Dia mengeluh tidak enak badan, tetapi saya kira tidak separah itu."
"Dia akan baik kembali setelah beristirahat," kata Villefort. "Mari kita pindahkan ke sana."
Dokter d'Avrigny melihat ada kesempatan untuk dapat berdua dengan Noirtier. Ia segera membenarkan usul Villefort, tetapi dia meminta dengan sangat agar Valentine jangan diberi obat apa-apa kecuali yang ditentukan oleh dia sendiri. Lalu dia meminta Villefort untuk pergi sendiri ke rumah obat dan menekankan agar dia menyaksikan peramuannya.
Setelah melihat tidak ada orang lagi, dokter itu menutup pintu dengan hati-hati.
"Apakah Tuan mengetahui sesuatu tentang penyakit cucu Tuan?"
"Ya."
Dokter d'Avrigny berpikir sebentar, lalu berkata lagi. "Maafkan, apa yang hendak saya katakan ini, tetapi saya kira kita tidak boleh mengabaikan apa pun dalam keadaan seperti sekarang ini. Tuan telah melihat Barrois meninggal. Menurut pendapat Tuan, wajarkah kematian itu?"
Suatu gerakan halus semacam senyum tampak di bibit Noirtier.
Jadi Tuan tahu bahwa Barrois mati sebab racun?" "Ya."
"Apakah racun itu dimaksudkan untuk dia?"
"Bukan."
"Apa Valentine diracun oleh orang yang sama?" "Ya."
"Dia pun akan mati, tentu."
"Tidak!" mata Noirtier menyorotkan kebanggaan. "Artinya Tuan berpendapat dia akan tetap hidup?" Dokter d'Avrigny heran.
"Ya."
"Menurut perkiraan Tuan apakah pembunuh itu akan membatalkan niatnya?"
"Tidak."
"Jadi Tuan berpendapat bahwa racun itu tidak akan mematikan Valentine?"
"Ya."
"Mengapa?"
Noirtier mengarahkan matanya ke suatu tempat. Dokter d'Avrigny mengikutinya dan tahulah dia bahwa mata No tier dipusatkan kepada botol-botol yang berisi obat yang biasa diberikan kepadanya setiap pagi.
"Ah!" kata dokter terdorong deh suatu pikiran. "Tuan sudah mengira bahwa Valentine akan diracun karena itu Tuan membiasakannya lebih dahulu?"
"Ya."
"Tuan memberikannya secara berangsur-angsur dan setiap kali bertambah?"
"Ya? Ya!" Noirtier kelihatan gembira sekali karena jalan pikirannya dapat dimengerti.
"Dan Tuan telah berhasil! Tanpa kewaspadaan itu Valentine sudah mati sekarang.
Serangannya hebat sekali, tetapi dia akan sembuh . . . untuk kali ini sekurang-kurangnya."
Villefort tiba-tiba masuk. "Ini obatnya, Dokter." "Diramu di hadapan Tuan sendiri?"
"Ya."
" Tidak terlepas dari tangan Tuan sejak itu?" "Tidak."
Dokter d'Avrigny mengambil botol obat itu, mengeluarkannya beberapa tetes di telapak tangannya, lalu mencicipinya. "Bagus. Mari kita lihat Valentine. Saya akan memberikan perintah kepada semua, Tuan de Villefort, dan saya mengharapkan agar Tuan menjaga jangan sampai ada yang tidak mentaatinya."
Ketika Dokter d'Avrigny dan Villefort memasuki kamar Valentine, seorang padri bangsa Italia yang tenang tindak- tanduknya dan tegas bicaranya, menyewa rumah yang bersebelahan dengan rumah Villefort. Tidak diketahui mengapa ketiga penghuni terdahulunya mendadak pindah dari sana tiga jam yang lalu. Hanya orang-orang di sekitarnya berbicara tentang fondasi rumah yang sudah tidak kuat lagi sehingga dapat roboh sewaktu-waktu. Namun demikian, hal ini tidak mencegah penyewa yang baru itu untuk menghuninya, mulai pada hari itu juga, bahkan dengan membawa serta perabot rumahnya yang cukup banyak. Penyewa baru itu masuk sekitar jam lima sore setelah membayar lebih dahulu uang sewanya untuk enam bulan. Namanya adalah Padri Giacomo Busoni.
Pada malam itu juga orang-orang lewat diherankan oleh beberapa tukang kayu, tukang tembok yang sibuk bekerja memperbaiki rumah itu.
__ADS_1