The Fifth Dimension

The Fifth Dimension
Para Pengungsi


__ADS_3

Jaringan organisme berhasil disingkirkan dengan cepat berkat bantuan para salamander milik Leo. Sementara itu Laudi membersihkan jaringan-jaringan yang menempel di dinding luar rumah kaca dengan alat penyembur apinya. Beruntung kebakaran hutan yang dikhawatirkan Leo tidak terjadi, meski beberapa pohon memang akhirnya hangus terbakar.


Hingga saat terakhir semua Molden dan jaringan organisme Corux habis di bersihkan, sang induk Corux masih belum bereaksi apa-apa. Matanya masih terkatup dan tidak bergerak. Lola datang tak lama kemudian, membawa serta Bu Dista, Mega dan Vanya. Ketiganya lantas ikut masuk ke dalam rumah kaca sementara Laudi dan Leo bermaksud untuk mendekati induk Corux untuk memusnahkannya. Para pengungsi di rumah kaca sendiri sangat heran melihat kemampuan Laudi dan Leo.


"Sebenarnya kalian ini siapa? Kenapa bisa punya kekuatan kayak gitu? Dan monster-monster itu kenapa bisa muncul?" tanya sang petugas berbaju safari.


"Iya. Tolong jelasin. Kami juga butuh tahu tentang ini. Selama ini kami terkurung di sini, nggak bisa ketemu keluarga kami di rumah. Nggak tahu gimana keadaan mereka karena semua alat komunikasi nggak bisa dipakai," sahut pria lain berbaju polo hitam.


Laudi sejenak memandang Leo. Pada akhirnya orang-orang ini juga harus tahu tentang apa yang terjadi. Maka gadis itu mulai bercerita.


"Apa kalian percaya adanya alien?" tanya Laudi membuka kisahnya.


Sebagian saling berpandangan dengan bingung, tetapi beberapa terlihat mengangguk menyetujui.


"Jadi ini serangan alien?" tanya salah seorang dari mereka.

__ADS_1


"Ada banyak kehidupan lain dari berbagai galaksi di semesta ini. Mereka semua memiliki peradaban yang maju dan setiap entitas ras mereka memiliki tujuan yang berbeda. Sebagian ras yang sudah maju secara spiritual biasanya cukup damai dan tidak suka mengintervensi kehidupan yang lebih rendah dimensinya. Tapi nggak sedikit juga yang memiliki tujuan jahat.


"Salah satunya adalah ras Drakonian dari rasi bintang Draco. Mereka adalah makhluk yang brutal, bengis dan gemar menjajah peradaban lainnya di galaksi untuk mengambil sumber daya di planet tersebut. Dulunya ras Lyran yang merupakan peradaban damai dari rasi bintang Lyra pernah mencoba untuk menghentikan kejahatan para Drakonian. Tapi waktu perang besar pecah, Lyran justru dihancurkan dan terpaksa mencari planet lain untuk bertahan hidup.


"Ras Lyran terpecah belah. Salah satunya berhasil membangun peradaban di planet Maldek, planet ke lima di bimasakti. Letaknya dulu ada di antara Mars dan Jupiter. Sayangnya Drakonian terus mengincar kami. Planet Maldek dihancurkan hingga lenyap tak bersisa, dan kini jejak-jejak planet kami itu menjadi sabuk asteroid di Jupiter.


"Sejak kehancuran Maldek, beberapa jiwa dari ras Maldekian menitis di berbagai peradaban galaksi, antara lain di bumi. Salah satu tujuan kami dikirim ke berbagai peradaban adalah untuk melindungi planet-planet yang ditargetkan oleh kaum Drakonian. Sekarang kami dibangkitkan tepat saat para Drakonian memulai penjarahannya," terang Laudi panjang lebar.


Penjelasan tersebut mungkin terdengar seperti kisah fantasi ilmiah. Akan tetapi, melihat kerusakan parah yang mengerikan di hadapan mereka, orang-orang tersebut pun mau tidak mau mempercayai kata-kata Laudi.


"Kita ... beneran diserang alien? Bumi bakal hancur?" rintih seorang wanita bergaun bunga-bunga.


"Kalian mau ninggalin kami di sini? Bawa saya juga. Saya harus ketemu sama keluarga saya di rumah," desak yang lainnya.


"Kami punya misi yang harus diselesaikan agar bisa mengusir para Drakonian ini. Keadaan di luar juga bahaya. Tadi waktu berkeliling, aku lihat ada toko oleh-oleh nggak jauh dari sini. Di sana ada banyak makanan yang bisa dipakai untuk setidaknya satu bulan ke depan. Nggak cuma di rak display tapi di dalam gudangnya juga masih banyak banget jajanan. Kalian bisa ambil suplai makanan di sana. Ada baju-baju juga. Untuk sementara tempat ini udah aman," timpal Leo kemudian.

__ADS_1


Meski telah dijelaskan panjang lebar seperti itu, orang-orang tersebut tetap terus memprotes. Mereka ingin pergi dari kebun binatang yang membawa trauma. Laudi dan Leo benar-benar kewalahan menghadapi mereka, hingga akhirnya sang petugas berseragam safari itu angkat bicara.


"Mereka benar. Kita harus percaya sama dua orang ini. Lebih baik kita tetap bertahan di sini sampai bantuan tiba. Karena kalau kita maksa untuk ikut, kita cuma bakal jadi beban. Mungkin malah kita justru bisa mati kalau sembarangan berkeliaran. Dan kita juga nggak bisa terus-terusan bergantung sama dua orang ini buat selalu ngelindungi kita selama perjalanan," ujar sang petugas berseragam safari.


Beberapa orang tampak masih tidak setuju. Raut muka mereka tampak kesal dan frustrasi. Akan tetapi Laudi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Membawa rombongan sebesar ini justru lebih beresiko bagi mereka. Tindakan paling tepat adalah dengan mencari tempat perlindungan resmi yang dijaga oleh militer. Pasti ada di suatu tempat di luar sana. Laudi harus mencarinya.


Kalau saja mereka sudah bertemu dengan Ehill, rekan seperjuangan Laudi saat di Maldek, mungkin segalanya tidak akan serumit ini. Kemampuan Ehill akan sangat berguna untuk menyelamatkan para pengungsi.


"Apa kalian benar-benar bisa menyelamatkan kami dari serangan ras Dragon atau apalah itu?" tanya sang petugas berseragam safari itu kepada Laudi dan Leo.


"Itu yang sedang kami kerjakan sekarang. Bukan hanya kalian, kami harus menyelamatkan planet ini," sahut Laudi tajam.


"Kalau begitu kami akan nunggu di sini." Sang petugas itu berkata dengan penuh keyakinan. "Dan kalian. Siapa pun yang ingin keluar dari sini, aku nggak akan menghalangi. Silahkan pergi. Tapi jangan sampai kalian merepotkan penyelamat kita hari ini," lanjut petugas itu berbicara pada khalayak.


Semua orang dalam rumah kaca itu pun terdiam. Mereka masih terlihat menggerutu pelan tetapi tidak ada yang berani bicara keras-keras lagi untuk memprotes.

__ADS_1


"Nah, kalau nggak ada yang mau pergi, mulai sekarang kita akan bertahan di sini. Saya adalah petugas kebun binatang ini, jadi saya kenal betul tempat ini. Jadi untuk urusan logistik, saya tahu tempat-tempat penyimpanannya. Seperti kata kakak itu, kita bisa bertahan di sini setidaknya satu bulan. Selama itu, mohon kerjasamanya," tandas sang petugas dengan tegas.


Akhirnya masalah dengan pengungsi itu pun berhasil diselesaikan. Laudi dan Leo bisa dengan tenang meninggalkan mereka dalam pengawasan sang petugas safari tersebut. Mereka berdua lantas kembali mengendarai Roan dan Abbas yang kembali dipanggil oleh Leo. Melesat dengan cepat, Laudi pun siap menghadapi sang induk Corux berwujud raksasa putih di depannya.


__ADS_2