
Setelah semua orang berhasil mengatasi kesedihan mereka masing-masing, rombongan tersebut lantas mulai mengitari seluruh alun-alun. Tubuh-tubuh manusia yang sudah tidak utuh berserakan di berbagai tempat, bercampur dengan tubuh Molden berdarah hijau. Laudi menatap pemandangan miris itu dengan hati bak teriris sembilu. Mereka tidak mungkin bisa menguburkan semua tubuh yang sudah tercerai berai itu.
Satu-satunya yang bisa dilakukan Laudi untuk Nathan adalah menemukan tubuh keluarganya. Mereka rupanya terkubur di balik puing-puing bangunan yang hancur rata dengan tanah. Dengan bantuan rekan-rekan yang lain, jenazah kedua orang tua Nathan pun dikeluarkan dan dikuburkan dengan layak di salah satu pusara kota tersebut. Tubuh mereka berdua masih utuh meski dipenuhi luka lebam dan pendarahan di mana-mana.
Nathan sama sekali tidak berusaha terlihat kuat. Anak itu menanggis sesenggukan selama beberapa waktu karena rasa kehilangan yang begitu besar. Laudi dan teman-temannya yang lain terus berada di sisi Nathan, menghiburnya dengan kehadiran mereka yang penuh simpati. Ada rasa sesal yang menelusup di hati Laudi.
Seandainya saja mereka datang lebih cepat, mungkin kejadian pilu ini bisa dicegah. Namun Laudi segera membuang pikiran penuh penyesalan itu. Meski segalanya terulang, Laudi tetap tidak yakin bisa menyelamatkan seluruh teman-temannya di waktu yang tepat. Mereka semua terpencar di tempat yang berbeda-beda. Sudah begitu, Rendra juga punya batasan atas kemampuannya karena raga manusia yang tidak bisa menjadi wadah sempurna bagi jiwa mereka. Maka dari itu Laudi pun menyadari bahwa penyesalan ini tidak ada gunanya. Mereka harus tetap melangkah maju dan menemukan anggota terakhir untuk bisa menutup gerbang dimensi.
"Kalau kita semua udah berkumpul, berati sisa Tranqiel?" gumam Nathan sembari bangkit berdiri dari pusara orang tuanya. Tubuh remajanya tampak rapuh. Meski begitu Laudi tahu bahwa Nathan menyimpan kekuatan yang besar, baik secara mental maupun fisik.
"Aku udah nyoba nyari Tranqiel. Tapi keberadaannya terlalu jauh dari perimeterku," sahut Rendra menjawab.
"Sampai mana batas jangkauan kekuatanmu, Rendra?" tanya Laudi kemudian.
Rendra terdiam sejenak untuk mengingat jangkauan terakhirnya saat menggunakan kekuatan portal. "Aku udah memindai hampir seluruh wilayah Negara ini. ke utara aku bisa mencapai Malaysia dan sedikit wilayah Vietnam. Tapi di sana juga nggak ada tanda-tanda orang itu. Satu-satunya daerah yang belum terpindai itu wilayah timur. Jangkauan terjauhku cuma sampai Ambon," terang pemuda berkacamata hitam itu.
"Berarti Papua, ya," ucap Leo mengambil kesimpulan.
"Feelingku juga di sana. Meski kita kepencar-pencar, tapi pasti nggak bakal terlalu jauh," timpal Dipa kemudian.
__ADS_1
"Kalau gitu kita langsung ke sana, aja. Sebagian besar Corux udah bangun. Mungkin Tranqiel juga lagi terdesak di sana." Nilam turut menyahut.
"Semoga dia baik-baik aja," kata Kara penuh harap.
Laudi berpikir sejenak, lantas menemukan satu jawaban. "Jayawijaya. Pegunungan salju itu di Papua, kan? Kalau aku jadi Tranqiel, aku pasti bakal ada di sana," ujar gadis itu penuh keyakinan.
Tampaknya seluruh rekan-rekannya yang lain pun langsung setuju. Sejak di Maldek dulu, Tranqiel adalah sosok penyendiri. Bukan tanpa alasan kenapa orang itu memilih menyingkir seketika setelah kekuatannya bangkit. Di antara mereka berdelapan, kemampuan Tranqiel adalah yang terkuat. Bahkan Laudi, sebagai pimpinan tim itu pun mengakuinya. Namun dampak dari kekuatan Tranqiel membuatnya terpaksa untuk mengasingkan diri.
Kemampuan Tranqiel benar-benar berbahaya, bahkan jika dibandingkan dengan tujuh kekuatan lainnya yang digabungkan. Tranqiel memiliki portal pembisik, kemampuan untuk mengendalikan pikiran makhluk apa pun yang ada di sekitarnya. Tidak peduli sekuat apa pun seseorang, Tranqiel bisa dengan mudah menguasai pikirannya dan membuat orang tersebut mengikuti keinginannya.
Akan tetapi, di balik kekuatan yang besar, terdapat resiko yang sama beratnya. Sebagai ganti memiliki kemampuan pengendali pikiran, Tranqiel harus selalu berjuang untuk mendengar keributan dari pikiran-pikiran orang yang ada di sekitarnya. Suara dalam kepala orang-orang tersebut bisa didengar oleh Tranqiel sejelas pembicaraan normal. Ia bisa mendengar orang-orang mengeluh, mengumpat bahkan nafsu liar yang bertebaran di pikiran orang lain. Oleh sebab itu, Tranqiel biasanya memilih untuk menyingkir dari tempat yang terlalu ramai. Kebisingan pikiran itu bisa membebaninya hingga nyaris gila.
Bahkan pikiran sederhana dari hewan dan tumbuhan pun bisa dia rasakan. Hutan rimba jelas bukan tempat yang nyaman juga bagi Tranqiel. Karena itulah Laudi memikirkan daerah yang minim kehidupan.
Setelah makan siang sekadarnya dengan sisa camilan dari swalayan yang sudah hancur, rombongan tersebut akhirnya kembali melesak pergi. Semakin bertambahnya jumlah personil membuat tempat duduk di punggung Kaladrius semakin sempit. Laudi akhirnya mengeluarkan sebuah benda yang sangat berguna dari portalnya: sebuah pelana untuk hewan raksasa.
Kini di punggung burung raksasa tersebut sudah terikat pelana besar yang muat diduduki hingga sepuluh orang banyaknya. Laudi tidak perlu lagi berpegang erat-erat di bulu licin Kaladrius sang burung putih raksasa tersebut.
"Kenapa nggak kamu keluarin dari kemarin? Aku baru tahu kalau ada kayak ginian di dalam portalmu," komentar Leo sembari mereka terbang menembus awan-awan.
__ADS_1
"Ini juga baru dibuat. Aku kepikiran gara-gara bayangin kita harus sumpek di bulu licin Kaladrius," sahut Laudi sembari menyadarkan punggungnya di pelana kulit berlapis bulu angsa empuk itu.
"Portalmu banyak manfaatnya. Kayak bawa kantong Doraemon," timpal Kara yang rambut ekor kudanya berkibar-kibar ke belakang.
Seperti itulah cara kerja portal Laudi. Kekuatannya bisa mewujudkan benda apa pun yang dipikirkan oleh sang pemilik. Laudi bisa memikirkan benda paling remeh hingga paling rumit sekalipun. Meski begitu, seperti kondisi rekan-rekannya yang lain, raga manusianya punya batas untuk membuka gerbang portal tersebut. Kalau saja tubuh galaktiknya seperti saat berada di Maldek dulu, Laudi bisa dengan mudah mengeluarkan jet-jet tempur auto pilot yang bisa dia kendalikan seorang diri. Karena itulah Laudi dulu bisa menjadi Komandan Pasukan Antariksa dalam perang melawan bangsa Drakonian.
Padahal Laudi sebelumnya merupakan bagian dari tim peneliti di Maldekian. Namun saat perang besar pecah, gadis itu ditunjuk sebagai salah satu Komandan Pasukan Antariksa yang membawahi ketujuh rekan-rekannya yang lain. Secara bertahap ingatan tersebut akhirnya mulai muncul di kepala Laudi. Setiap ia bertemu dengan satu rekannya yang lain, memori pada misinya saat itu pun semakin jelas.
Dirinya sebagai Qhael memimpin pasukan untuk melindungi koordinat Lintang Utara di Maldek. Tujuh orang yang menjadi bawahannya adalah Nax'il sang Penjinak; Ehill si Penyembunyi; Zuhell sang Penyembuh; Vogad sang Pemindai; Irqiels si Pedang Metal; dan anggota terakhir yang bergabung, Tranqiel sang Pembisik.
Bersama empat Komandan Pasukan Antariksa yang lain, Qhael melindungi Maldek dengan segenap jiwa dan raga. Sayangnya gempuran para Drakonian itu sudah kelewat kuat. Peradaban mereka tidak berhasil bertahan dan planet Maldek hancur menjadi serpihan yang kini dikenal sebagai sabuk asteroid di antara Jupiter dan Mars.
Meski begitu, tepat sebelum kehancuran planet tersebut, pimpinan tertiggi Ras Maldekian, Ratu Igved, memberi Laudi sebuah Kristal Kekuatan. Kristal tersebut dibuat dengan mengorbankan nyawa sang Ratu yang tak lain adalah kakak kandung Qhael saat itu. Dengan menyalurkan seluruh energi ethernya, Igved membuat Kristal yang bisa melindungi jiwa sang pemilik. Kristal tersebut bekerja seperti portal memori yang bisa digunakan untuk menyimpan memori jiwa seseorang, termasuk kekuatan mereka.
Saat itu, sang ratu tahu bahwa sudah terlambat untuk menyelamatkan Maldek. Meski begitu Drakonian tidak akan berhenti menginvasi planet-planet lain. Karenanya ia membuat Kristal tersebut untuk adiknya dengan harapan suatu saat nanti benda tersebut akan membuat Qhael bisa melindungi dirinya dari peristiwa yang serupa.
Begitulah akhirnya Kristal tersebut berhasil membuat jiwa Qhael yang menitis dalam raga gadis bernama Laudi bisa dibangkitkan. Sebelum kematiannya di Maldek, Qhael juga sempat memecah Kristal tersebut menjadi delapan. Seluruh pecahan Kristal ia bagikan ke rekan-rekan timnya di Maldek sambil saling berjanji bahwa di mana pun mereka akan dilahrikan kembali, kedelapan orang itu akan selalu disatukan oleh kekuatan Kristal.
"Kita bisa membalikkan kekuatan portal memori ini buat nutup gerbang dimensi," ucap Laudi sembari mengeluarkan batu pipihnya, pecahan Kristal dari Igved.
__ADS_1
Rekan-rekannya yang lain turut memperhatikan. Leo akhirnya ikut mengeluarkan batunya sendiri. Wujudnya sama persis seperti milik Laudi. Hitam, halus, pipih sebesar genggaman tangan dan berpedar keperakan.
"Waktu itu udah terlambat buat kita pakai kekuatan Kristal ini. Gelombang serangan Drakonian udah terlalu besar. Sia-sia kita nutup gerbang dimensi pakai Kristal Memori. Tapi sekarang, kita masih punya waktu. Dengan tertutupnya gerbang dimensi antara Bumi dan Rasi Bintang Draco, serangan mereka bisa kita hentikan. Akan butuh waktu ribuan tahun buat bikin portal yang sama. Setidaknya kita bisa ngelindungi Bumi sampai peradaban ini benar-benar siap dengan invasi galaksi lain," tutup Laudi sembari menggenggam erat kristalnya sendiri.