The Fifth Dimension

The Fifth Dimension
Pertempuran Terakhir


__ADS_3

Sambil mengemudikan pesawat tempurnya, Laudi lantas kembali membuka portal dimensi di luar. Portal beraliran listrik biru yang sangat besar. Tidak perlu waktu lama bagi Laudi membuka portal gigantis tersebut. Dengan kekuatannya yang maksimal, Laudi bisa membuat portal raksasa tanpa kesulitan.


Beberapa detik kemudian, dari balik portal Laudi, melesat pesawat-pesawat tempur lainnya yang menggunakan kendali otomatis. Kurang lebih selusin pesawat jet berbentuk ujung anak panah yang menderu terbang di atas langit pulau Sumbawa.


Sebelum rombongan Leo sampai di tempat itu, Laudi sudah memulai pertempuran. Ia mengendalikan pesawatnya sambil menembaki para monster di bawah sana. Corux-corux raksasa yang menyadari kedatangan pasukan Laudi pun mengamuk. Mereka menyemburkan gelombang nyala api pada pesawat yang beterbangan.


Beberapa pesawat tempur otomatis Laudi hangus terbakar dan jatuh menukik hingga meledak mencium tanah. Namun sebagian besar masih terus menembaki para monster dengan membabi buta. Laudi sendiri melakukan banyak manuver untuk menghindari serangan Corux, sembari membunuh sebanyak mungkin Molden yang berkeliaran. Arena tempur menjadi begitu riuh dengan suara tembakan dan raungan para monster.


"Aku nggak tahan lagi," gumam Dipa yang duduk di belakang kursi kendali. Laudi buru-buru menyambar kantong muntah yang dia keluarkan dari portal lantas melemparkan pada DIpa. Pemuda itu pun akhirnya mengeluarkan semua isi perutnya, entah karena tekanan energi yang berlawanan atau semata-mata mabuk kendaraan. Manuver Laudi memang sedikit brutal.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Rendra menoleh ke arah Jo yang juga sudah pucat pasi.


"Bisa kutahan," rintih Jo pelan.


Tak lama setelah pertempuran udara berlangsung, rombongan Leo pun muncul dari belakang pesawat Laudi. Di kejauhan, Laudi melihat empat rekannya yang lain sudah melompat turun dari punggung Kaladrius dan menyerbu medan pertempuran. Nilam dengan seluruh tubuh berlapis metal serta sepasang pedang besar, langsung memenggal kepala Corux yang ada di hadapannya. Leo memanggil semua hewan buasnya dari portal.


Basil sang ular raksasa mencaploki sebagian besar Molden yang masih hidup, sementara hewan-hewan lain dengan brutal menyerang sisa monster yang ada. Nathan dan Kara muncul melalui portal. Keduanya bekerjasama untuk membekukan gerak monster dan mengirim mereka ke laut lepas. Air adalah kelemahan para monster tersebut.


Pertarungan terus berlangsung seolah tidak ada ujungnya. Laudi mulai kehabisan waktu sementara pesawat-pesawat tempurnya sudah banyak berkurang. Rekan-rekannya yang ada di bawah sana pun tampak terluka. Satu jam sudah berlalu, dan Laudi hanya bisa berharap mereka berdelapan bisa tetap bertahan hidup.

__ADS_1


"Aku mau turun," celetuk Dipa kemudian. "Kara dan yang lainnya pasti butuh bantuanku," lanjutnya dengan suara parau.


"Kamu yakin mau keluar dari sini dengan keadaan kayak gitu?" tanya Rendra cemas.


"Nggak apa-apa. Aku mabuk kendaraan. Si Laudi kalau nerbangin pesawat suka brutal," ucap Dipa.


Laudi mendengkus kecil. "Namanya juga perang," komentar gadis itu pendek.


"Nggak apa-apa. Aku juga mau turun ke bawah sekalian. Kemampuanku bisa lebih baik dipakai kalau ada di dekat mereka," timpal Jo kemudian.


Akhirnya kedua rekan Laudi itu pun keluar dari pesawat dengan kursi lontar berparasut. Jo sepertinya menghubungi Kara melalui telepati karena sedetik kemudian portal dimensi Kara yang beraliran listrik hijau segera memindahkan mereka berdua ke tempat yang aman di bawah sana.


Keadaan mulai berbalik setelah Jo menggunakan kemampuannya. Para Corux dan Molden yang tersisa dibuat bingung dan menyerang sesama mereka. Dipa juga berkontribusi besar dalam menyembuhkan rekan-rekannya yang terluka di bawah sana. Leo dan Nathan yang terdampak paling parah. Mereka berdua tidak memiliki kemampuan bertahan sebaik rekan-rekannya yang lain. Meski begitu Laudi bersyukur karena keduanya masih bisa tertolong berkat portal penyembuh Dipa.


Laudi pun memutuskan untuk mendaratkan pesawatnya di kaldera Tambora setelah Rendra memastikan bahwa keadaan sudah relatif aman. Poros portal dimensi Drakonian menjulang tinggi di hadapan Laudi ketika gadis itu keluar dari pesawat. Diameternya mungkin mencapai sepuluhan meter, dengan binar jingga yang sangat terang. Energi para Drakonian yang tidak selaras dengan energinya langsung membuat gadis itu sakit kepala tak terkira. Meski begitu Laudi tetap bertahan dan segera mendatangi rekan-rekannya yang lain.


Leo sudah bisa berdiri meski tampak pucat pasi dan gemetaran. Nathan di sisi lain, terkapar tak sadarkan diri. Dipa masih berusaha menyembuhkan remaja itu dengan susah payah. Energi Dipa juga pasti sangat terbatas dengan kondisi saat ini.


"Gimana keadaan Nathan?" tanya Laudi yang tergopoh-gopoh menyongsong rekan-rekannya yang berkerumun di pusat kaldera.

__ADS_1


"Masih hidup, tapi dia kena serangan gas beracun Corux," jawab Kara menjelaskan. "Dipa masih berusaha menetralkan racunnya," lanjut gadis berkucir kuda itu.


"Energinya masih stabil. Dia akan sadar sebentar lagi," komentar Rendra yang bisa merasakan denyut kehidupan Nathan.


Begitu Rendra selesai bicara, Nathan tiba-tiba terbatuk-batuk lantas sadarkan diri. Laudi mendesah lega melihat rekannya berhasil melalui masa kritis. Dipa pun turut bersorak girang dan segera menutup portal penyembuhnya sembari merebahkan tubuh di atas tanah vulkanik. Seluruh tubuh Dipa sudah dipenuhi peluh, wajahnya pucat kelelahan.


"Nathan udah sadar?" Sebuah suara menyeruak di kerumunan. Rupanya Nilam yang datang sembari bertransformasi dari tubuh metal menjadi raga manusia biasa.


"Udah. Syukurlah kita semua selamat," jawab Laudi sembari berlutut di dekat Nathan, membantu remaja itu untuk duduk dan bernapas dengan baik.


"Udah selesai, kah?" tanya Nathan polos, sambil masih meringis kesakitan.


"Udah. Aman," timpal Leo yang juga duduk di atas tanah.


"Oke. Waktu kita sempit. Kita harus segera nutup poros dimensi ini," kata Laudi sembari melempar pandangannya ke arah cahaya jingga raksasa yang menjulang menembus langit.


Semua orang terdiam mendengar perintah Laudi. Tanpa perlu menduga-duga, mereka sudah mengerti apa yang dimaksud Laudi tentang waktu yang sempit. Sebagian besar dari rombongan tersebut memilih untuk membuka segel kekuatan mereka, yang mana artinya mereka akan segera mati setelah tiga puluh menit berlalu.


"Sebelumnya, aku mau berterima kasih sama kalian semua. Kita memang baru sebentar bertemu di kehidupan ini. Tapi jiwa kita udah lama saling mengenali. Terima kasih karena kalian masih mau berjuang bersama sekali lagi. Kita menghadapi banyak penderitaan dan kehilangan, bukan hanya saat ini, melainkan sejak di Maldek dulu.

__ADS_1


"Terima kasih karena kalian udah berjuang. Terima kasih juga karena udah bertahan sampai sekarang. Setelah semua ini berakhir, mungkin nggak semua dari kita bisa melanjutkan hidup di Bumi. Meski begitu, aku berjanji akan selalu mengenali kalian kalau kita ketemu entah di kehidupan mana lagi, atau di galaksi yang lain. Sampai saat itu tiba, mari kita jalani petualangan jiwa kita masing-masing dengan baik," pungkas Laudi memberi ucapan selamat tinggal pada rekan-rekan yang baru dia temui beberapa hari terakhir.


Semua orang terdiam selama beberapa saat. Kara tampak berkaca-kaca dan nyaris menangis. Mereka semua tahu bahwa ini adalah perpisahan. Tidak semua dari mereka akan selamat. Meski begitu, jiwa mereka tidak akan pernah mati.


__ADS_2