The Fifth Dimension

The Fifth Dimension
Kebangkitan


__ADS_3

"Karena udah berkumpul semua, sekarang waktunya kita cari titik poros portal milik para Drakonian," kata Leo kemudian.


"Monster yang di sini udah beres?" tanya Nilam pada Jo yang baru datang.


Jo mengangguk ringan. Bahkan setelah mengalahkan monster sebanyak itu, pria tersebut sama sekali tidak terluka.


"Kamu kendalikan semua Molden dan Corux sepulau-pulau ini?" Dipa turut bertanya tak percaya. "Gimana bisa kemampuanmu sebesar itu padahal ada di raga manusia?" lanjut pemuda itu.


"Jenis kemampuan saya agak beda sama kalian, atau bahkan punya Rendra sekalipun. Semakin sederhana pikiran organisme itu, semakin mudah buat dipengaruhi. Molden dan Corux itu kan versi humanoid ras Drakonian yang belum sempurna. Satu-satunya pikiran mereka cuma buat menghancurkan. Ibarat kata, mereka itu pasukan bunuh diri yang dikirim buat menghancurkan lini pertahanan suatu planet sebelum pasukan intinya datang.


" Jadi yah nggak beda sama boneka yang nggak punya akal budi. Makanya gampang aja buat saya mempengaruhi mereka semua. Pikiran mereka juga saling terkait, jadi sekali saya berhasil mengendalikan satu Corux, semua jaringan Corux di seluruh pulau ini pun ikut terpengaruh," terang jo panjang lebar dengan logat timurnya yang samar-samar.


"Nggak capek kamu?" tanya Dipa lantas berjalan mendekat, berniat menyalurkan energi penyembuhnya untuk meringankan kelelahan Jo.


Akan tetapi Jo menolak. Pria itu menggeleng pelan. "Terima kasih, Dipa. Tapi mungkin kemampuan kamu nggak bisa membantu saya."


"Kenapa?" tanya Dipa.


"Portalmu itu memberikan energi pemicu untuk tubuh fisik. Kamu bisa menyembuhkan luka atau kelelahan fisik, tapi untuk kasusnya Jo, dia portalnya banyak menguras energi mental. Apalagi setelah dipakai buat mempengaruhi ratusan Molden dan Corux gitu. Udah berapa hari Jo, kamu pakai kemampuanmu itu?" sahut Laudi lantas bertanya pada Jo.


Jo tampak berpikir sejenak. "Barangkali ada sepuluh hari. Atau lebih. Yah sekitar itu. mungkin dua minggu."


"Berarti untuk sementara waktu kamu mungkin nggak bisa pakai kekuatan portalmu dulu, Jo. Kalau kamu maksain lagi, bisa-bisa pikiran kamu rusak," timpal Laudi kemudian.


Jo tampak menarik napas panjang lalu mengangguk pelan. "Iya. Kayaknya gitu, Laudi," ungkap pria itu setuju.


"Kalau gitu istirahat dulu aja, Jo. Sisanya serahkan aja sama kami." Nilam maju bicara sembari mengubah satu tangannya menjadi sebuah pedang besar yang runcing menggunakan kekuatan portal asumerahnya.

__ADS_1


"Nilam bener. Istirahat dulu aja. Biar kita yang urus sisanya," kata Leo menanggapi. Rekan-rekannya yang lain pun ikut mengangguk setuju.


Jo hanya tersenyum tipis. "Makasih kalau gitu," ucapnya pendek.


"Oke kalau gitu sekarang kita perlu nemuin poros portal dimensi Drakonian," timpal Leo kemudian.


"Di Tambora. Energi poros itu udah masuk ke perimeterku sejak awal. Tepat di puncak gunung Tambora. Begitu Portal mereka terbuka sempurna, Tambora pasti akan meletus hebat." Rendra tiba-tiba turut berbicara.


Sontak semua perhatian teralih pada pemuda berkacamata hitam itu. Gunung Tambora adalah salah satu gunung aktif yang cukup besar. Kalderanya yang serupa cawan raksasa itu mengeluarkan energi yang besar dan memang cocok digunakan sebagai poros portal dimensi para Drakonian yang berelemen api.


"Sumbawa? Nusa Tenggara Barat kalau gitu?" tanya Leo kemudian.


Rendra mengangguk. "Masalahnya tempat itu udah dipenuhi Corux dewasa dan mungkin ribuan Molden. Kita nggak bakal bisa menghindari pertempuran," tambah pemuda itu serius.


"Aku juga nggak yakin kalau Jo bisa mengatasi semua makhluk itu tepat di hadapan poros portal mereka. Energinya kuat banget." Leo beralih ke arah Jo.


Laudi kembali berpikir. Portal dimensi itu mengirimkan jejaring organisme dari Drakonian ke Bumi. Melalui poris tersebut, wabah-wabah Corux menyebar dan merajalela. Kini setelah sebagian besar Corux bangkit, secara instingtif mereka pasti akan mengarah ke portal mereka sendiri untuk menyambut kedatangan gelombang prajurit Drakonian yang selanjutnya. Mereka juga bertugas untuk melindungi poros portal dari ancaman serangan.


"Keluarkan batu kalian," perintah Laudi kemudian.


Semua orang menurut. Termasuk Laudi, ketujuh orang lainnya pun mengeluarkan batu hitam pipih mereka yang berpendar keperakan.


"Aku nggak tahu apakah cara ini bisa berhasil, tapi nggak ada salahnya kita coba pakai batu ini buat aktifkan kekuatan kita sepenuhnya," usul Laudi kemudian.


"Kamu yakin tubuh kita bakal kuat nampung seluruh kekuatan kita?" tanya Dipa was-was.


Laudi terdiam sejenak. "Aku juga nggak tahu, Dipa," ucapnya lirih. Meski begitu, tidak ada cara lain lagi. Kalau mereka menggunakan kekuatan yang terbatas seperti sekarang, di hadapan poros portal dimensi Drakonian, sudah pasti kekuatan mereka justru akan tersedot.

__ADS_1


"Kalau nggak kuat, kita berhenti. Ini satu-satunya cara," timpal Leo mendukung keputusan Laudi.


"Tapi kalau terlambat, tubuh kita mungkin bisa hancur," ujar Kara khawatir.


"Mau pakai cara ini atau nggak, resikonya sama-sama besar, Ra. Kalau kita nekat ke poros dengan kekuatan setengah-setengah kayak gini, sama aja bunuh diri." Nilam merespon dengan tegas.


Sejenak suasana pun berubah hening. Semua terdiam dan sibuk dengan pertimbangan masing-masing.


"Kita voting aja," usul Leo kemudian.


"Kita kan genap. Gimana kalau hasilnya fifty-fifty?" tukas Dipa cepat.


"Nggak ada salahnya dicoba. Di saat seperti ini harusnya kita nggak berdebat. Tapi karena ada dua pilihan, mau nggak mau kita harus memutuskan salah satu," ucap Leo tak terbantahkan.


Akhirnya Dipa pun setuju untuk melakukan voting terkait penggunaan Kristal Memori untuk membangkitkan kekuatan mereka sepenuhnya. Dari delapan orang, tiga di antaranya menolak, yaitu Dipa, Kara dan Jo. Sementara Laudi, Leo, Nilam dan Rendra setuju menggunakan Kristal Memori. Hanya tinggal Nathan yang belum menjawab. Anak itu benar-benar tak banyak bicara selama perjalanan ini. Kalau Nathan memilih untuk menolak, maka kekhawatiran Dipa akan menjadi kenyataan. Suara seimbang untuk kedua pilihan tersebut.


"Aku ... ," gumam Nathan dengan suara penuh keraguan. Remaja pria itu menatap wajah rekan-rekannya dengan seksama sembari berpikir untuk memilih salah satu opsi. "... mau coba buat pakai Kristal memori kita. Kalau ada kesempatan untuk jadi lebih kuat, aku akan coba, sekalipun nyawaku taruhannya," ucap pemuda itu akhirnya memutuskan.


Laudi mendesah lega. Akhirnya dengan hasil lima banding tiga, kedelapan orang itu pun bersedia untuk mencoba membangkitkan kekuatan penuh mereka dengan menyatukan delapan pecahan Kristal memori yang berwujud batu hitam. Laudi pun menjulurkan batunya, lantas diikuti oleh rekan-rekannya yang lain. Mereka berdelapan lantas membentuk sebuah lingkaran dengan tangan terjulur dan batu kekuatan di tengah.


Cahaya perak remang yang melingkupi batu mereka perlahan semakin terang. Kedelapan batu itu pun lantas melayang pelan dari telapak tangan masing-masing orang yang memegangnya. Seperti magnet yang sangat kuat, kedelapan batu hitam itu pun saling tarik menarik dan menyatu dengan sempurna tepat di tengah-tengah lingkaran yang dibuat oleh kedelapan orang tersebut. cahaya batu itu semakin terang dan menyilaukan hingga memaksa Laudi menyipitkan matanya agar tidak terbutakan.


Detik berikutnya, sebuah portal putih bersih bersinar terang melingkupi semua orang. Tubuh Laudi dan ketujuh rekannya yang lain pun terangkat keudara dengan aliran-aliran listrik perak yang mengelilingi mereka. Rasa panas membara mendadak terasa di sekurjur tubuh Laudi. Rasanya seperti tersengat listrik ribuan volt tanpa perlindungan apa pun. Laudi mengejang kesakitan. Tak ada yang bisa dia lakukan selain meraung keras karena rasa nyeri luar biasa yang diterima oleh tubuhnya.


Sensasi mengerikan itu terus berlanjut selama beberapa detik berikutnya. Rasanya kulit Laudi seperti melepuh saking panasnya energi yang dia terima. Bagian dalam tubuhnya pun tak kalah membara. Tidak ada satu pun bagian tubuhnya yang tidak merasakan sakit luar biasa. Tidak hanya Laudi yang merasakan hal tersebut. Ketujuh rekannya yang lain pun tengah meraung kesakitan. Salah satu di antara mereka, Dipa, akhirnya berusaha menggunakan kemampuan portalnya untuk memecah kembali batu Kristal memori yang melayang di hadapan mereka semua.


Akan tetapi, sebelum ia berhasil melakukannya, pemuda itu sudah terlanjur tak sadarkan diri. Satu per satu rekan Laudi pun turut tumbang. Rasa sakit mematikan itu tidak bisa ditanggung oleh kesadaran mereka hingga akhinya semua orang tersebut pingsan, termasuk Laudi sendiri.

__ADS_1


__ADS_2