The Fifth Dimension

The Fifth Dimension
Nilam


__ADS_3

Setelah cukup memulihkan tenaganya, Laudi pun segera bersiap meluncurkan peluru balistik raksasanya. Perlu waktu selama beberapa menit hingga peluru itu bisa mengenai sasaran karena rudalnya akan melesat tinggi hingga melewati atmosfer sebelum akhirnya menukik dan membumihanguskan seluruh targetnya.


Laudi harus berhitung dengan cermat supaya waktu untuk menyelamatkan Irqiels benar-benar tepat. Jika terlalu cepat, maka para Corux itu pasti akan mengejar mereka sehingga serangan rudal akan menjadi sia-sia. Sementara kalau terlambat, Laudi bisa kehilangan rekan-rekannya. Efek ledakan peluru balistik akan sangat luas sehingga berbahaya bagi mereka jika tetap berada di sana.


Akhirnya, seluruh persiapan pun sudah matang dipikirkan. Laudi sudah berdiri dalam jarak aman dari senjatanya, bersama Kara yang siaga di sebelah. Ia lantas memulai proses peluncuran peluru balistiknya dengan bantuan sebuah layar hologram yang berpendar di hadapannya.


Begitu Laudi berhasil mengunci target, ekor rudal tersebut segera menyemburkan api bertekanan tinggi untuk membantu proses peluncurannya menembus amosfer Bumi. Diiring suara deru yang sangat keras, roket tersebut pun melesat naik meninggalkan tanah. Laudi menatap peluru raksasanya mengudara dengan rambut berkibar-kibar karena hempasan angin kuat yang muncul akibat efek tekanan udara dari roket tersebut.


Setelah beberapa menit berlalu, dan roketnya sudah nyaris tidak terlihat, Laudi akhirnya memberikan perintahnya kepada Kara. "Sekarang, Kara!"


Tanpa perlu disuruh dua kali Kara langsung membuat portal beraliran listrik hijau di hadapannya. Detik berikutnya gadis itu pun segera masuk dalam portal tersebut dan menghilang. Laudi tetap berusaha tenang meski berada dalam situasi yang sangat menegangkan itu. Detik demi detik berlalu, dan terasa sangat lama. Laudi terus mengamati ke kejauhan, menunggu kedatangan Kara yang harus berpindah di tempat yang tepat. Sesekali gadis itu juga mendongak ke langit, menunggu waktu roketnya menukik ke arah ini. Keduanya harus muncul di saat yang tepat.


Tak lama kemudian, akhirnya portal hijau Kara akhirnya muncul di sebelah Laudi. Gadis itu pun menghela napas lega ketika melihat Kara muncul sembari memeluk seorang perempuan lain berambut pendek dengan wajah yang sudah penuh luka dan lebam.


"Tunggu! Ehill! Kamu Ehill kan!" seru gadis berambut sebahu itu terus berusaha memastikan.


"Jangan sekarang, please, Irqiels. Kita fokus kabur dulu. Laudi! Mission accomplised! Ayo!" tukas Kara sembari berlari menuju Kaladrius.


Tanpa banyak bicara lagi, Laudi pun segera menyusul Kara dan turut berlari ke arah sang burung raksasa milik Leo. Gadis itu kembali melirik ke langit, menunggu rudalnya meluncur turun. Para Corux itu sekarang pasti tengah kebingungan karena mangsa mereka tiba-tiba menghilang. Untunglah saat melihat ke atas, ujung peluru balistik Laudi sudah terlihat seperti titik kecil berwarna hitam. Dengan kecepatan luncur yang hipersonik, peluru itu tidak akan membutuhkan waktu lama untuk meledakkan seluruh area hutan ini, berikut ketiga Corux raksasa yang sudah dewasa itu.

__ADS_1


"Ayo cepat!" seru Leo sembari menjulurkan tangannya untuk membantu Laudi naik ke punggung Kaladrius. Kara dan Irqiels sudah duduk dibantu oleh Dipa serta Rangwe.


Begitu Laudi berhasil duduk di posisi yang cukup nyaman, Leo pun segera menyuruh burung raksasanya itu terbang. Kaladrius menjejak tanah lantas membumbung tinggi melewati ujung-ujung pepohonan. Dari kejauhan, Laudi melihat ketiga Corux yang mulai mengamuk karena kehilangan mangsa mereka. Ketiganya mengeluarkan suara raungan mengerikan sembari menyemburkan gas beracun berwarna hijau dari mulut mereka.


Kaladrius terbang semakin jauh dari lokasi hutan tersebut, sementara peluru Balistik Laudi kini sudah semakin dekat dengan permukaan tanah. Suara deru perluru tersebut sudah terdengar semakin jelas. Tepat ketika akhirnya Kaladrius berhasil terbang dalam jarak yang sangat tinggi dan jauh, sebuah ledakan keras terdengar berdebam di bawah sana. Laudi hanya bisa melihat sisa ledakan berwujud gumpalan asap abu-abu yang mengudara hingga menembus awan-awan.


"Kita berhasil! Makan tuh rudal!" seru Leo bersorak kegirangan.


Setelah melewati fase menegangkan dan berhasil menyelamatkan Irqiels, rombongan Laudi akhirnya menemukan sebuah tempat yang terlihat cukup aman dari infeksi Corux. Mereka mendarat di sebuah pulau kecil yang ada di sebelah barat Kalimantan. Sebuah papan nama bertuliskan Pulau Simping berdiri di pinggir pantai. Pulau tersebut sangat kecil, mungkin hanya seluas setengah hektar saja. Hanya ada beberapa pohon di pulau tersebut, serta jembatan panjang yang mengarah ke daratan utama.


Laudi segera turun dari punggung Kaladrius begitu sang burung raksasa itu mendarat. Satu per satu rekannya mengikuti dalam diam. Semua orang tampak kelelahan. Hari ini mereka telah menggunakan banyak tenaga untuk bertahan hidup. Hari juga sudah sore. Laudi melihat matahari yang mulai terbenam di lautan lepas.


"Biar aku buat api unggun. Kita bisa masak indomie. Dipa bawa banyak dari Jawa kemarin," sahut Leo menanggapi.


"Aku bantu cari kayu, Le." Dipa tak kalah bersemangat. Sepertinya pemuda itu juga sudah tidak sabar untuk segera mengisi perut.


Namun tiba-tiba Rendra mencegah Leo pergi. "Biar aku sama Leo aja yang nyari kayu. Kamu bisa sembuhin Irqiels dulu," ucap Rendra kemudian.


Dipa segera menoleh ke arah gadis berambut pendek yang dipapah oleh Kara serta Laudi. Mereka bertiga lantas menyandarkan Irqiels di sebuah batang pohon besar.

__ADS_1


"Oke," sahut Dipa lantas segera berjalan mendekati pasiennya.


"Lama nggak ketemu, Irqiels," ucap Dipa sembari berlutut dan mulai menggunakan kekuatan portal emasnya.


"Panggil Nilam aja. Itu namaku sekarang," sahut gadis berambut pendek itu sembari tersenyum kecil. Mulut dan matanya sudah lebam dan sedikit berdarah. Meski begitu Nilam tidak tampak menderita. Alih-alih gadis itu justru tersenyum puas seolah bangga dengan luka-luka tersebut.


"Dipa," balas pemuda penyembuh itu memperkenalkan diri. Ia lantas memperkenalkan semua anggota kelompok tersebut dengan nama mereka saat ini. Nilam mengenali mereka sebagai kawan-kawan lamanya di Maldek, dengan nama yang berbeda. Kini setelah saling berkenalan, Nilam tampak lebih rileks untuk memanggil nama rekan-rekannya.


"Tetep selalu jadi yang paling babak belur di antara kita, kamu ini, ya," kelakar Dipa sembari tertawa kecil


Nilam terbahak. "Namanya juga petarung, Dip. Tapi pakai tubuh manusia ini kekuatanku jadi terbatas banget. Masak lawan tiga Corux aja kewalahan. Apa karena seminggu sebelumnya aku kebanyakan pakai kekuatan ya? Setiap ketemu Corux yang masih tidur aku cincang mereka. Begonya malah langsung ketemu tiga ekor yang udah dewasa," ungkap gadis yang seperti masih berusia pertengahan dua puluhan itu, mungkin sekitar dua puluh lima tahun.


"Nggak main-main emang kekuatanmu," komentar DIpa sembari menyembuhkan bagian tulang kering Nilam yang patah.


"Udah berapa lama kamu melawan tiga Corux dewasa itu?" tanya Laudi menimpali.


Nilam tampak berpikir sejenak. "Kayaknya dua hari. Ngomong-ngomong Balistikmu masih luar biasa, Qael, eh maksudnya Laudi."


Laudi mendengkus kecil lalu ikut menyandarkan punggungnya di batang pohon, kelelahan. "Tapi rasanya kayak mau mati pas manggil senjata itu," gumamnya sembari tertawa kecil. Ketiga temannya pun ikut tertawa. Pertempuran memang tidak pernah asing bagi mereka ketika hidup di Maldek dulu. Namun sekarang, dengan ketiadaan armada perang yang memadahi, keenam orang itu harus berjuang dengan kekuatan mereka yang sangat terbatas itu. 

__ADS_1


__ADS_2