
Laudi mengatur teman-temannya untuk membentuk formasi oktagon mengelilingi poros portal dimensi Drakonian. Mereka berdiri dengan jarak beberapa meter sambil membawa batu mereka masing-masing. Kristal memori bekerja untuk menyimpan ingatan energi suatu jiwa yang ditentukan. Dengan membalikkan kemampuan tersebut, Kristal itu akan bekerja untuk menghapus energi. Hal itulah yang akan dimanfaatkan oleh Laudi untuk menghapus portal milik para Drakonian.
Dengan menghapus seluruh energi Drakonian dari seluruh muka Bumi, maka invasi mereka pun bisa digagalkan. Bumi juga akan terlindung untuk sementara waktu karena energi Kristal yang melingkupi. Cara membalikkan kemampuan Kristal memori adalah dengan menyalurkan energi portal Maldekian milik Laudi dan rekan-rekannya. Resonansi energi mereka akan bertubrukan dengan energi Drakonian. Ketidakselarasan itu akan menimbulkan tumbukan dahsyat dan pihak manapun yang lebih kuat akan menang.
Sayangnya, tindakan tersebut juga akan berdampak pada para Maldekian. Laudi dan rekan-rekannya yang lain juga akan kehilangan kemampuan portal mereka yang turut terhapus bersama pembalikan Kristal memori. Meski begitu kedelapan orang itu sudah siap akan resikonya. Itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Bumi.
Maka, setelah semua orang berada di posisi masing-masing, mereka mulai mengangkat Kristal energi sembari membuka portal dimensi. Biru untuk Laudi; aliran kuning milik Leo; portal hijau Kara; warna emas penyembuh Dipa; Rendra dengan portal ungu; Nilam merah; Nathan dan portal putihnya; serta terakhir Jo dengan portal beraliran listri hitam.
Kedelapan portal tersebut bersinergi dengan pecahan batu mereka yang melayang ke udara. Seluruh aliran portal lantas menyulur dan bersatu menjadi sebuah energi besar yang mengelilingi poros Drakonian yang berwarna jingga. Tepat ketika delapan pecahan Kristal itu menyatu di titik pusat poros, ledakan energi pun terjadi.
Tumbukan dua energi yang berlawanan tersebut menghasilkan suara debam yang luar biasa keras. Tanah di bawah kaki Laudi seketika bergoyang hebat, menimbulkan gempa bumi yang nyaris meruntuhkan puncak gunung Tambora. Laudi dan ketujuh rekannya bertahan untuk mengalirkan energi portal mereka. Kedelapan tubuh itu pun mulai melayang dari atas tanah yang bergejolak. Lima meter, sepuluh meter, mereka semua terangkat karena tarikan energi poros yang begitu kuat.
Laudi terus manyalurkan seluruh energinya ke dalam portalnya sendiri hingga tak bersisa. Tubuhnya mulai kepayahan dan Laudi sudah nyaris kehilangan kesadaran. Meski begitu ia tetap bertahan. Napasnya tercekat seolah berada di ruang hampa udara. Seluruh tubuhnya terasa seperti terbakar hingga ke organ dalam. Suara deru yang memekakkan telingan melingkupi seluruh rangkaian peristiwa tersebut. Laudi merasa pening. Kepalanya seperti mau pecah. Energi kedelapan orang itu tidak cukup besar untuk melawan poros Drakonian. Mereka semua mulai terhisap!
Laudi mengerang keras penuh emosi ketika menyadari bahwa usaha mereka mungkin tidak akan berhasil. Poros portal Drakonian itu terlalu kuat dan di antara mereka berdelapan, hanya lima orang yang membuka segel kekuatan. Mereka mungkin akan gagal. Ditengah rasa sakit dan frustrasi tak terkira itu, mendadak sebuah suara berbicara di dalam benak Laudi.
__ADS_1
"Saya akan minta Igved buat buka segel kekuatan saya. Kekuatan kita sekarang nggak akan cukup untuk melawan poros Drakonian." Suara Jo menggema di benak semua orang.
"Buka punyaku juga Jo." Dipa menyahut melalui pikiran.
"Aku juga." Suara Kara menggema.
Jo tidak menjawab lagi, tetapi sesaat kemudian, kekuatan portal Maldekian semakin kuat. Laudi merasakan perubahan signifikan setelah ketiga rekannya merelakan diri untuk musnah demi membuka segel kekuatan mereka.
"Terima kasih, kalian semua," desah Laudi yang sekaligus dapat didengar oleh ketujuh rekannya yang lain. Saat kekuatan mereka sudah menyatu, sinkronisitas di antara kedelapan orang itu pun tidak terhindarkan. Kini mereka bisa berpikir, bergerak bahkan bicara dalam satu kesatuan sebagai sebuah unit tunggal.
Sekalipun portal mereka kini mendominasi, tetapi waktu mereka sudah tidak banyak. Poros portal Drakonian terus mengecil hingga akhirnya hilang sama sekali. Bersaaan dengan hal itu, sebuah ledakan massif terjadi. Seperti air tenang yang tertimpa batu besar, riak energi dahsyat langsung menggelombang luas hingga melingkupi seluruh Bumi.
Tubuh Laudi serta rekan-rekannya yang lain pun terhempas keras hingga sangat jauh. Laudi berakhir tersungkur di lereng gunung dengan penuh luka bakar dan bersimbah darah segar. Ia berada di ambang hidup dan mati.
"Kita ... berhasil ... ," rintih gadis itu lantas kehilangan kesadaran.
__ADS_1
***
Laudi merasa tubuhnya sangat ringan. Semua rasa sakitnya menghilang tak berbekas. Gadis itu pun mencoba membuka mata. Ia kini mendapati dirinya berada di sebuah padang pasir yang sangat luas. Tempat itu dipenuhi butiran pasir yang berkilauan seperti permata kecoklatan. Laudi mengerjap beberapa kali lantas mencoba bangun. Namun kemudian ia menyadari bahwa ia tidak memiliki wujud fisik. Hanya kesadarannya yang terjaga.
Ia lantas memusatkan pikirannya untuk menelusuri setiap sudut tempat itu dan mencari ketujuh rekannya yang lain. Satu persatu ia pun menemukan mereka semua. Seluruh rekannya juga hanya memiliki wujud kesadaran yang terjaga.
Sekonyong-konyong energi Igved terasa oleh kesadaran Laudi. "Kalian berhasil. Sekarang beristirahatlah. Perjalanan kalian masih panjang. Setelah ini, kalian akan dikirim ke galaksi lain yang menjadi incaran Drakonian." Bukan suara, melainkan sebuah pemahaman yang muncul di kesadaran Laudi. Gadis itu pun mengerti, Igved akan mengirim mereka untuk misi selanjutnya.
"Igved. Satu hal saja yang ingin kutanyakan. Apakah keluargaku di Bumi masih hidup?" tanya Laudi melalui kendali kesadarannya.
Serta merta Laudi mendapat sebuah visi. Ia melihat air terjun tinggi di antara tebing-tebing batu sempit. Anak sungai mengalir membelah tebing tersebut dengan aliran yang tenang. Di sisi kana kiri sungai tersebut, beberapa orang tampak sedang dievakuasi oleh prajurit militer berseragam. Dari sekian banyak kerumunan orang, visi Laudi langsung melihat sepasang pasutri paruh baya dengan wajah khas Jawa yang amat dia kenali. Itu adalah orang tua Laudi. Mereka memeluk tubuh seorang pemuda jangkung berkacamata yang tak lain adalah adik laki-lakinya.
Rasa lega melingkupi kesadaran Laudi. Rupanya seluruh keluarganya berhasil selamat. Mereka mengungsi di sebuah mata air yang diketahui Laudi bernama Luweng Sampang. Kini kedua orang tuanya mungkin akan sedih karena kehilangan anak perempuan mereka. Meski begitu Laudi bisa tenang karena adiknya masih hidup. Setidaknya mereka bertiga kini bisa hidup dengan damai tanpa invasi Drakonian di Bumi.
"Sudah cukup," kata Laudi dalam pikirannya. Serta merta visi itu pun lenyap. Kesadarannya pun kembali tertidur sampai saat ia dibangunkan untuk misi selanjutnya.
__ADS_1