
Dalam ruangan redup penuh dengan bercak dan noda, nyaris menutupi lantai dan tembok dengan warna merah
baik baru maupun yang lama. Seorang pemuda dengan jugah hitam berhoddy duduk berjongkok di depan tubuh yang terbaring penuh darah. Dengan mata terbuka penuh rasa teror dan sakit. Pemuda bertopeng itu
menggoreskan pisaunya ke bahu tubuh yang terbaring kaku itu.
"Payah!." Ujar pemuda itu dingin penuh ejekan.
Beranjak bangkit, menatap pria paruh baya yang berdiri tak jauh menyaksikan apa yang pemuda itu dari awal hingga akhir.
"Buang itu." Ujar pemuda bertopeng itu.
"Baik tuan."
Pemuda itu berlalu meninggalkan tempat itu berjalan kedalam kegelapan hingga tak terlihat lagi.
"Sial!, sial!, sialaaaan!, kenapa aku baru tahu?!." Teriak pemuda berseragam membuat semua murid menatap padanya. "Kamu tahu sebuah mayat kembali di temukan?!."
"Lalu?."
"Kamu begitu cuek."
"Polisi menghasutnya untuk apa kamu berteriak?, tidak berguna!." Ujar pemuda itu malas, menutup buku yang di bacanya.
Pemuda yang berteriak itu menatap temannya yang acuh tak acuh itu dan mendengus kesal. Temannya itu entah kenapa selalu acuh dengan semua seakan itu bukan dunia nya sama sekali. Jika ia bisa memasuki dunia temannya itu ia akan menamparnya dan membuatnya sadar akan lingkungan sebenarnya.
"Apa?, ingin ku pukul?." Tanya pemuda itu dingin.
"Kenapa kamu begitu galak?, aku ini teman mu loh!, bukan musuh mu." Ujar pemuda itu.
"Terserah." Ujar pemuda dingin itu.
"Sora di panggil guru tuh!." Ujar seorang siswi.
"Hum." Gumamnya dan beranjak dari tempatnya.
"Ada apa kenapa di panggil?." Tanya pemuda itu.
"Jangan kepo deh, kamu ini cukup merepotkan untuk selalu bersikap seperti detektif. Dasar Gilin aneh." Dengus siswi itu.
"Ku toyor baru tahu rasa kau." Ujar pemuda itu kesal.
"Sora kasih tau tu temen lo." Ujar siswi itu.
Gilin mendengus, dan menatap Sora, Sora menatap Gilin dengan pandangan malasnya.
"Ngerjain ujian kemarin yang gue lewatin." Ujar Sora datar pada Gilin.
Gilin hanya beroh ria, Sora berlalu dari kelas setelah memuaskan manusia penasaran itu. Sesampainya di kantor guru pemuda itu melapor dan melakukan ujiannya disana di samping meja sang guru.
"Kenapa tak masuk kemarin?." Tanya guru itu.
"Tak apa-apa hanya pemeriksaan bulanan." Ujar Sora.
"Oh, lanjutkan dan taruh saja di sana, biar sekalian mengoreksi." Ujar sang guru.
"Baik." Ujar Sora kembali fokus mengerjakan ujiannya.
Dalam kelas, Gilin menulis materi yang tengah di tulis siswi di depan sana, dengan malas membuat tulisannya
sedikit berantakan. Di antara ia dan sekelompok laki-laki di kelas itu tulisannya masih lebih baik dan bisa
bersaing dengan tulisan anak gadis. Namun ia kalah dengan tulisan tangan Sora yang rapi dan bagus.
Mengambil buku Sora yang menganghur diatas meja sana, melihat judul buku itu yang membuatnya menatap aneh, "Cara untuk tenang." Aneh baginya untuk pemuda seperti Sora yang sudah tenang dari dulu dan lebih di identifikasi orang cuek. Gilin menaruh kembali buku itu kembali ke tempatnya, apa temannya itu sengaja
menaruh buku itu untuk menyindirnya. Gilin kembali fokus melanjutkan tulisannya dari pada memikirkan hal
yang tidak-tidak. Gilin menoleh kearah pintu kelas belakang, tepat datangnya Sora, Sora meliriknya sekilas dan
kembali acuh. Sora duduk di tempatnya, mengambil buku tulisnya dari laci mejanya dan mulai menulis. Gilin
meliriknya berkali-kali, membuat Sora yang dilirik terganggu, menatap Gilin mencengkram dagu Gilin dan
memutar membuat Gilin menatap ke depan papan tulis sana.
"Bisa nggak pendem rasa penasaran lo?." Tanya Sora kesal.
"Oke." Ujar Gilin, Sora melepaskan cengkraman nya di dagu Gilin.
Untung ia sabar, jika tidak ia akan memukul pemuda di sampingnya ini. Jam istirahat, keduanya habiskan
waktu dengan kegiatan masing-masing, Sora diam di kelas membaca bukunya, hanya Gilin yang keluyuran di
sekitar sekolah, entah mencari apa. Sora beranjak dari kelas menuju kantin, saat waktu ini, kantin tak terlalu
ramai, lebih mudah baginya untuk memesan sesuatu daripada menunggu antrian yang panjang, dan penuh sesak.
Gilin kini tengah berada di atap gedung sekolah, melihat dua orang yang tengah bertengkar dengan dramatis,
saling mendorong dan menjambak. Sudah pasti kerjaan para wanita saat bertengkar.
"Dua cewek ini, teman orang yang hilang beberapa minggu lalu kenapa malah ribut?." Gumam Gilin, ia hanya
menonton karena tak enak juga baginya untuk masuk dalam pertengkaran mereka. Dikira ia sok care lagi, dan
mau tahu urusan orang, jadi ia hanya menonton dan menghentikan mereka jika keduanya sudah kelewat batas.
Kedua wanita itu yang saling menjambak dan memukul kini saling menyalahkan. Gilin yang kebetulan disana
mendengar nama orang yang hilang pun fokus pada mendengarkan pertengkaran mereka. Saat sedang
__ADS_1
fokus fokusnya mendengarkan seseorang menepuk bahunya, Gilin hanya menyingkirkan tangan itu dan
menyuruh diam dengan tindakannya. Lagi-lagi orang itu menepuk bahunya, Gilin menghela napas dan.
"Sssst!." Ujar Gilin pelan.
"Saking kepo nya lu sampe segini nya ya?!." Ujar orang itu dingin.
"Diem!." Ujar Gilin tak peduli.
Salah satu dari gadis itu mendorong dan membuat jatuh. Gadis yang berdiri itu menuding dan berujar sambil
menangis.
"Jika bukan karena kamu yang ngajak ke pub malam itu, mana mungkin Deby hilang, dan mati. Jika bukan
kamu." Tuding gadis itu.
"Aku juga nggak tahu bakal gini kejadiannya, aku kan udah bilang jangan macam-macam dengan sembarang
orang, kenapa hanya menyalahkan ku?, kalian juga yang memainkan permainan itu, salah kalian orang itu
membawa Deby." Ujar gadis yang terduduk itu sedih.
"Kamu tahu apa?, kami juga terpaksa." Ujar gadis satunya.
"Kalian masih menyalahkan ku atas keterpaksaan itu?, kalian sama brengseknya." Ujar gadis itu sedih.
"Sudahlah disini kita semua salah." Ujar gadis itu.
"Mengapa?, aku tak tahu apapun tentang kalian yang memainkan permainan itu." Ujar gadis itu.
"Sudah disini kita salah, kamu juga jangan menghindar dari kesalahan. Jika kita tak kesana bukankah hal itu
tidak akan terjadi." Ujar gadis itu tajam.
Gadis yang terduduk itu beranjak dan mendorong kembali gadis yang terus menyalahkannya. Keduanya saling mendorong hingga ketepi pembatas itu. Gadis yang tak terima dengan balasan gadis yang mendorongnya
kembali mendorong dengan sekuat tenaga. Menyebabkan gadis itu terpojok dan setengah badannya sudah di udara. Gilin keluar karena pertengkaran mereka, mendorong gadis satunya dan menyelamatkan gadis lainnya.
"Kalian gila ya?, jika kalian jatuh apa kalian akan hidup hah?!." Ujar Gilin memerahi kedua gadis itu.
"Apa sih urusan mu?!." Kesal gadis yang memiliki name tage dengan nama Duna.
"Dia yang memulai aku sudah lelah dengannya yang menyalahkan ku." Ujar gadis satunya bernama Keyna.
"Deby mati karena pembunuhan, kalian sebagai saksi seharusnya melaporkan hal itu. Bukan saling
menyalahkan!." Ujar Gilin.
"Jika aku berani akankah kami seperti ini?, kami takut dan juga merasa bersalah." Ujar Duna.
"Kalian manusia bodoh, lakukan apa yang kalian inginkan, setidaknya solusinya telah kalian dapatkan." Ujar Sora berlalu pergi dari atap itu.
"Malas." Ujar Sora datar.
"Siapa tahu kita menemukan petunjuk." Ujar Gilin.
"Tak tertarik." Ujar Sora benar-benar pergi.
"Kamu benar-benar tak peduli." Gerutu Gilin.
Kedua gadis itu menunduk dan menitikan air mata atas rasa bersalah mereka, Gilin menanyai apa yang terjadi
sebelum Deby dibawa dan berakhir mengenaskan. Seperti yang mereka ributkan adalah jawabannya, dan
hanya masalah dengan seorang yang memasuki bar hingga tak diketahui lagi. Gilin mendapatkan jawaban yang
ia dapatkan pun pergi, tak melupakan kedua gadis yang bertengkar itu, jadi ia menyeret bersamanya agar
keduanya tak melakukan hal bodoh lagi.
Gilin kembali kekelas tepat bel kelas berbunyi, menepuk bahu Sora
senang, yang tentunya di tepis sang empunya, dan mendapat tatapan malas daru sang empunya. Gilin hanya tersenyum dan mengambil buku pelajarannya di laci dan membaca bukunya dengan mood baik. Sora hanya
melirik kelakuan Gilin yang amat biasa baginya dan kembali membaca buku nya.
Guru yang mengajar pun masuk
dan memberi materinya, menjelaskan setelahnya memberi kuis kepada mereka. Dan memberi mereka ulasan
ujian harian yang akan mereka laksanakan dua hari mendatang. Gilin yang memiliki suasan jati yang baik
memiliki mood untuk belajar pun mendengarkan dengan baik, yang biasanya akan mendengus malas karena kata
ujian. Sampai pelajaran berganti dan mendekati jam pulang, Gilin memasukan buku di lacinya kedalam tasnya.
Guru yang terlebih dulu pergi dan menyuruh mereka untuk keluar setelah bel berdering. Sora membereskan
barangnya dengan santai, memegang buku yang habis dibacanya pun memberikan buku itu kepada Gilin. Gilin
yang melihat buku itu pun cemberut, menatap Sora kesal, orang ini benar-benar penghancur mood baik.
Menerima buku itu dan memasukannya asal kedalam tasnya, Sora sendiri acuh tak acuh dengan tanggapan Gilin.
"Pulang mau mampir ke mall?." Tanya Gilin.
"Mau?." Tanya Sora.
"Belanja lah, emang mau apain lagi?." Jawab kesal Gilin.
__ADS_1
"Beli apa?." Tanya Sora.
"Perlengkapan gue." Ujar Gilin.
"Oh." Ujar Sora.
Saat bel pulang, keduanya pergi dengan menaiki motor mereka dan juga memakai sweter untuk menutupi
seragam sekolah mereka. Sora berjalan dengan kedua tangan di masukan kedalam saku sweter nya, dengan santai
bagaikan model yang berjalan, tak jarang beberpa gadis meliriknya karena ketampanannya. Gilin yang cendrung di abaikan oleh beberpa gadis saat berjalan bersama Sora pun hanya menatap hal biasa itu dengan
acuh. Sudah biasa baginya, karena Sora yang memiliki wajah yang tampan dan lebih unggul soal tinggi dan
ketampanan. Meski terkadang memiliki rasa permusuhan dengan itu, ia mulai terbiasa dengan hal itu. Ia
tampan namun cendrung ke golongan soft boy, dan Sora adalah cool boy. Keduanya berjalan beriringan menuju
toko yang dipilih Gilin, beberpa wanita menatap nya dengan pandangan aneh menurutnya dan senyum aneh
saat melihat Sora dan ia. Gilin mengusap wajahnya, mungkin sesuatu menempel pada wajahnya, membuat wanita-wanita itu memandang aneh padanya.
"Hei ada apa dengan mereka menatap kita aneh?." Tanya Gilin pada Sora.
"Siapa tahu?." Ujar Sora malas.
"Kamu tak aneh apa?." Tanya Gilin.
"Masa bodo." Ujar Sora melangkah lebih dulu, Gilin menyusul kepergian Sora., yah untuk apa juga dia
memperhatikan kan hal yang tak penting itu.
Setelah membeli barang yang dibutuhkan Gilin, keduanya menuju restoran yang tak jauh dari toko itu,
keduanya duduk dan memesan makanan. Pelayan itu pun datang dan mencatat pesanan keduanya yang tak
jauh berbeda, hanya saja memiliki rasa berbeda. Sora yang memiliki citarasa netral dan sedikit pemilih untuk
rasa, dan Gilin yang lebih suka makanan pedas dan berasa kuat.
"Jangan makan terlalu banyak cabai." Ujar Sora datar.
"Ya." Ujar Gilin, Sebenarnya Sora juga memiliki sifat yang care kepada temanya, meski sifatnya itu menyebalkan
dan acuh. "Makanan seperti itu apa berasa?." Tanya Gilin menatap pasta yang terlihat biasa tanpa warna.
"Ingin mencoba?." Malas Sora.
"Nggak." Ujar Gilin memakan pastanya sendiri yang berwarna merah terang itu.
Sora menatap pasta yang berwarna merah itu dengan datar, warna merahnya memang menarik, apalagi jika
itu merah darah. Sora menarik pandangannya dan memakan makanannya dengan tenang. Gilin menatap menunya sedikit heran, kenapa ia memikirkan korban itu saat makan. Merasa rasa mual, dan menjauhkan
piringnya dan mengambil pasta dari piring Sora.
"Kenapa?." Tanya Sora.
"Bukan apa-apa." Ujar Gilin, mana mungkin ia membicarakan hal seperti itu saat makan kan.
Sora hanya melirik dan memberian piringnya pada Gilin, dan menarik piring Gilin, membuat keduanya bertukar
makanan. Gilin melihat itu menghela napas kecil, karena nya mengingat hal seperti itu dan merepotkan orang
lain. Sora memakan makanan itu dan merasakan rasa kuat di mulutnya pun merasakan hal baru, meski sedikit
tak menyukai rasa yang menyengat dan banyak bumbu ia memakannya dengan tenang. Gilin menatap Sora
yang sepertinya pertama kali makan pedas pun menghentikan Sora.
"Jika tak kuat jangan memakannya." Ujar Gilin.
"Kenapa?, hanya banyak bumbu yang kuat, bukan karena pedas." Ujar Sora malas.
"Ah." Beo Gilin.
"Makan." Ujar Sora.
Keduanya kembali memakan makanan mereka dengan tenang, hingga selesai dan membayar keduanya pergi dari
restoran itu. Sora berhenti di toko ukiran dan membeli alat ukir dan bahannya. Gilin melihat alat ukir yang di
pegang Sora yang memiliki mata yang tajam dan ukuran yang kecil dan pola. Gilin melihat sekeliling dan
menatap beberpa karya patung ukuran kayu maupun dari tanah liat. Sangat unik dan juga indah, hanya saja ia
tak begitu memahami seni. Sora yang selesai membeli pisau ukir dan pahat pun memanggil Gilin yang
berkeliaran berkeliling melihat-lihat. Selesai membayar keduanya pergi.
"Kenapa kamu sangat suka mengukir?." Tanya Gilin.
"Hobbi." Ujar Sora.
"Oh, ku kira kamu tak punya hal untuk di senangi, lain kali perlihatkan hasil karya mu." Ujar Gilin.
Sora melihat Gilin datar, "Tentu." Ujar Sora akhirnya.
Keduanya pulang setelah mencari barang-barang yang mereka inginkan, keduanya berpisah karena arah pulang mereka yang berbeda. Sora melihat kepergian Gilin sebelum akhirnya berbalik pergi, orang yang berisik akhirnya
pergi membuatnya kembali kedunia nya yang sepi.
__ADS_1
...Tbc....