The Living Death

The Living Death
2. Penjahat menjadi korban.


__ADS_3

Dalam ruangan redup,seorang tergantung dengan tampilan sekarat dan berlumuran darah, di sampingnya pemuda berjubah dan berhoddy tak memperlihatkan wajahnya sama sekali menatap orang yang tergantung itu dengan pandangan dingin dan mematikan. Membuat orang yang setengah sadar itu gemetar karena takut dan


sakit, melihat cambuk yang di pegang pemuda itu. Pisau bedah yang di selipkan di jari ramping pemuda itu memiliki mata tajam dingin, orang itu merasa kulit kepalanya kesemutan saat melihat pisau itu, karena benda itu entah berapa kali ia memiliki kulit yang di kelupas dan goresan. Ia benar benar takut dengan pemuda yang


ada di depannya ini. Pemuda itu beranjak dari tempatnya melangkah pergi, orang itu menghela napas lega akan kepergian pemuda yang tak di kenal itu.


"Kamu santai saja dulu!, aku akan pergi dan kembali bermain dengan mu nanti, aku berjanji akan memainkan permainan yang lebih menyenangkan di bandingkan hari ini." Ujar pemuda itu diakhiri tawa dingin yang menyeramkan membuat orang itu bergidik.


"Tuan akan kembali secepat ini?." Tanya pria tua itu, hati-hati, dan juga menghindari perubahan suasana hati


tuan muda yang selalu tak terduga itu.


"Hn." Gumam pemuda itu.


"Tuan tua menyuruh anda untuk mengurus beberapa urusan sebelum anda kembali." Ujar pria tua itu, pria tua


itu memiliki postur tegap dan juga memakai pakaian formal.


"Urusannya bukan urusan ku!, kamu paham?!." Dingin pemuda itu kesal karena di perintah, mencengkram kerah


kemeja pria tua itu kasar, mengangkat hingga pria tua itu berjinjit, dan membuat pria tua itu sedikit kesulitan


untuk bernapas.


"Gegabah!, jangan hanya mementingkan kepuasan mu atas segalanya, selesaikan dengan cepat, di sana kamu


bisa bermain dengan bebas." Ujar pria paruh baya yang memiliki rambut abu-abu dan wajah tegas.


"Harus?, jika aku tak ada, masihkah kamu berdiri memerintah ku?!." Ujar dingin dan sarkatik pemuda itu.


Melepaskan cengkramannya pada pria tua itu.


"Disini aku atasan mu!, lakukan saja pekerjaan mu!, aku hanya memintamu menghukum orang salah di luar


sana, dan kau juga mendapat kesenangan bukan?!." Ujar pria itu.


"Terserah, hanya untuk kali ini." Ujar pemuda itu.


"Baik." Ujar pria itu.


Pemuda itu pergi di kegelapan malam, pria paruh baya itu menatap kepergian pemuda itu dengan helaan nafas


berat. Melirik sekilas orang yang tergantung di dalam ruangan itu.


"Beri dia suntukan nutrisi, jika tidak besok mungkin bukan hanya tubuh mayat orang itu yang akan di buang,


mungkin juga itu tubuh mu!." Ujar pria paruh baya itu pada pria tua yang tak lain pelayan miliknya.


"Baik ketua." Ujar pria tua itu hormat.


"Awasi saja dia, jika dia sudah menggila, jangan biarkan dia keluar dari ruangan ini." Ujar pria paruh baya itu.


"Baik ketua, untuk beberpa waktu ini, tuan muda stabil, dan tidak membunuh banyak orang." Ujar pria tua itu.


"Bagus." Ujar pria paruh baya itu. "Jangan buang di tempat yang sama, kali ini lemparkan tubuh mayat itu


kebangunan milik perampok bawah itu, mereka sudah merambah ke luar dan dalam dalam lingkup besar tahun


ini, jika di biarlan itu akan sangat sulit di hilangkan." Ujar pria paruh baya itu.


"Baik ketua." Ujar pria tua itu. "Lalu haruskah saya menyiapkan seseorang lagi untuk tuan muda?." tanya pria


tua itu.


"Tidak, biarkan dia mencarinya sendiri, itu akan baik bagi kita, karena sasarannya bukan hal kecil." Ujar pria


paruh baya itu dengan senyum licik. Pria tua itu hanya diam, baik ketua dan tuan muda sama-sama orang yang licik.


Dalam sebuah ruangan yang tenang, dengan suara kicauan burung, menyambut pagi yang cerah, seorang Gilin


duduk diam di sofa ruang santai, memakai kaos kaki nya dan fokus mendengarkan berita pagi hari. Di sampingnya sang kakak yang tenagh santai menyeruput kopi nya. Dan di sofa tunggal sang ayah tengah


membaca koran pagi, sedangkan sang ibu sibuk di dapur sana. Berita tersebut menyampaikan pembunuhan yang jelas-jelas sebuah pembantaian di mana satu keluarga tewas dengan banyak luka tusuk dan juga bakar,


karena rumah itu habis dilahat oleh api.


"Gila!, siapa yang berani lakuin itu coba?." Ujar Gilin.


"Yah tentunya perbuatan manusia, kamu kan tahu orang yang di bunuh itu mentri yang terkenal dengan


kecendrungan nya, tidak salah banyak yang membenci, hanya saja siapa pelakunya sangat lah berbahaya." Ujar sang kakak.


"Ayah belum berangkat menghasut?." Tanya Gilin.


"Belum, kakakmu dan ayah akan berangkat bersama, kebetulan kakakmu di minta menghasut kasus ini." Ujar


sang ayah.


"Senangnya bisa bekerja." Ujar Gilin cemberut.


"Kamu fokus saja sekolah!." Ujar sang kakak.


"Yah aku holeh ganti nama nggak?." Tanya Gilin.


"Kenapa emangnya?, nggak puas dengan nama yang papa kasih?." Tanya sang ayah.


"Iya laha yah, masa cuma beda R doang, nggak seru kalo orang cadel manggil kakak, ntar aku juga ikutan


nengok." Ujar Gilin.


"Kan ayah panggil kamu Lin, dan kakak mu Rin." Ujar sang ayah.


"Ayah nggak kreatif kasih namanya." Ujar Gilin mendengus.

__ADS_1


"Kan ayah sesuai in nama depan keluarga kita, Gilang, Gia, Girin, dan kamu Gilin." Ujar sang ayah.


"Terserah deh yah." Ujar Gilin malas.


"Udah sana berangkat!." Ujar sang kakak.


"Hm." Guman Gilin.


Gilin pamit pergi dan mengambil shandwis buatan sang ibu dan memakannya di bus sekolah, sesampainya di


sekolah, Gilin menuju kelasnya yang sudah ramai dengan siswa yang berdiskusi. Duduk di mejanya dan Sora,


disampingnya masih kosong, jelas-jelas sang teman belum datang, Gilin membuka tasnya dan mengembalikan


buku yang kemarin temannya berikan ke meja sang empunya buku.


"Kenapa?, udah selesai bacanya?." Tanya Sora yang berdiri di belakang Gilin, membuat Gilin kaget, menatap


Sora dengan dengusan kecil.


"Permisi kenapa?." Heran Gilin.


Sora hanya bergumam dan duduk di kursinya, membuka tas dan mengeluarkan buku pelajarannya ke laci


mejanya. Membuka kembali buku yang di kembalikan Gilin, Gilin kembali sibuk dengan buku catatan kasusnya,


mencatat kasus terbaru yang pagi ini di beritakan. Menyenggol tangan Sora, membuat sang empunya menatap


pada Gilin.


"Gimana menurut lo?." Tanya Gilin menunjukan judul kasus itu pada Sora.


"Terus?." Tanya Sora.


"Ya elah, komen aja susah." Ujar Gilin.


"Bukan urusan ku juga, lagian untuk apa kamu menghasut masalah sebesar itu, kamu masih seorang siswa, biar


polisi dan detektive ASLI yang menghasut kasus tersebut." Ujar Sora datar, membuat Gilin mendengus.


"Bisa nggak ngomong aslinya b aja?." Ujar Gilin.


"Nggak." Ujar Sora malas.


"Bodo amat!." Kesal Gilin, menarik kembali catatannya dan kembali diam.


Di antara siswi dan sisiwa yang mengobrol, di antara mereka yang membicarakan kasus tersebut pun mulai


merambah ke kejadian kasus yang lain dan hal-hal kriminal lainnya. Gilin mendongak dan mendengarkan pembicaraan siswi dan siswa itu.


"Kamu pernah dengar tawa malam?." Tanya siswi itu.


"Kamu pikir mak lampir?." Balas yang lain.


"Seriusan!, hanya sekilas dari mereka melihat siluet orang itu, kira-kira di tempat kejadian beberpa tahun lalu,


"Hanya sekilas tawa sudah membuat orang merinding?, gue yakin itu setan, bukan manusia." Ujar seorang


siswa.


"Manusia, orang yang mendengarnya mengatakan jika orang itu menyalakan api dan pergi dengan pakaian yang


serba hitam." Ujar siswi itu.


"Keren kali yah kalau kita buat cerita di mana pembunuh itu sebenarnya pahlawan, dengan sedikit saiko, dan


datang seorang gadis psikolog yang membantunya untuk menyembuhkannya, dan mereka jatuh cinta, aaaaahhhh cute banget." Ujar gadis lain.


"Atau seorang detektive laki-laki imut dan keduanya terjerat masalah karena si penjahatnya kepergok detektive


imut dan mulai jatuh cinta aaaahhh gila keren banget!, gue bakalan masukin ni cerita ke web sekolah deh." Ujar


gadis lainnya dan di angguk kan yang lain.


Mereka kembali melanjutkan obrolan yang tak ada manfaatnya sama sekali, karena mereka malah menghayal


yang sayangnya hanya sebuah hayalan. Menata sebuah tema dan alur yang dramatis dan penuh romansa.


"Sinting!, yang ada ko'it semua tu." Ujar Gilin yang mendengarnya.


Gilin hanya menggeleng dengan pikiran gadis-gadis itu yang sangat ber imajinasi dan berkhayal an tinggi. Sora


menatap Gilin yang menggeleng, sora mendekat dan berbisik.


"Gimana kalau itu kejadian?." Tanya Sora tepat di telinga Gilin.


"Maksudnya roman itu?." Tanya Balik Gilin.


"Mati!." Ujar Sora.


"Lain kali nggak usah ngajak gue ngobrol, benar-benar nggak ada faedahnya." Ujar Gilin.


Sora hanya


mengangkat bahu nya acuh dan kembali membaca bukunya. Sampai bel kelas berbunyi, dan jam istirahat datang, Gilin menarik Sora ke kantin, Sora hanya mengikuti, lagian


ada Gilin yang akan teriama menjadi babunya untuk memesan makanan. Sesampainya di kantin Sora duduk


santai di meja kosong dekat dengan taman sekolah, Gilin pergi untuk memesan makanan. Hingga beberpa saat


menunggu, Gilin datang dengan makanan yang Sora inginkan dan juga Gilin sendiri. Gilin menaruh piring


makanan itu di hadapan Sora dan piringnya di samping Sora.

__ADS_1


"Tangan lu kenapa?." Tanya Gilin melihat telapak tangan Sora yang memiliki plester luka.


"Kena pisau." Ujar Sora datar.


"Ngukir?, lain kali pake sarung tangan, nggak mahal kali buat keselamatan." Ujar Gilin.


"Hn." Gumam Sora.


Segerombolan pemuda berteriak dan bernyanyi membuat kantin yang ramai menjadi semakin berisik.


Gerombolan pemuda itu berkata dengan bahagia atas kasus yang terjadi itu. Gilin hanya menghela nafas kecil


dan memakan makananya sambil mendengarkan apa yang dikatakan mereka. Musibah yang terjadi pada


mentri itu amat sangat mereka syukuri dan mereka gembira kan. Memang sejak awal pemerintahan mentri itu


banyak dari bawahan mengeluh dan akhirnya menuju jalur hukum karena kecabulan sang mentri yang ternyata menurun pada dua anak mentri dan istri mentri yang tak jauh biadabnya dari mentri itu, memikiki lelaki


simpanan dan banyak menggunakan uang untuk menekan mereka yang tak berdaya. Amat di sayangkan orang-orang tersebut selalu lepas dari jerat hukum, hingga akhirnya pembalasan dengan hal ini lah datang


menghukum orang-orang itu. Banyak gadis yang ikut bersorak, atas hal yang terjadi.


"Kenapa mereka sangat bahagia dengan hal itu?, kan bukan hal besar yang harus mereka banggakan. Tawa


malam lah, mak lampir iya kali." Dengus Gilin.


"Nama baru, penghukum gelap." Ujar Sora yang juga ikut mendengarkan pembicaraan orang-orang itu.


"Lebih baik sikopat!." Ujar Gilin.


"Judul kasusnya harusnya penjahat yang menjadi korban." Ujar Sora menyimpulkan.


"Bener juga." Ujar Gilin setuju.


"Lagian dia mati juga nggak ada yang rugi." Ujar Sora datar.


"Heran gue kenapa bisa jadi mentri." Ujar Gilin.


"Uangnya banyak kali." Ujar Sora malas.


"Hu'um, lagian dia juga punya kekuasaan di bawah, banyak kali anak buahnya." Ujar Gilin.


"Anak buahnya cuma orang biasa, kalau dia benar-benar berpengaruh di bawah, nggak mungkin dia cepat


mati." Ujar Sora.


"Ada benernya juga sih, nggak mungkin pemerintah bakalan masukin orang sembarangan buat ngurus negara."


Ujar Gilin. "Tapi aneh nggak sih, kenapa coba motif pembunuhannya pake mutilasi dulu baru di bakar?, ingat


nggak mayat yang kemarin juga sama korban mutilasi. Heran gue kenapa kasusnya kayaknya berhubungan


gini." Ujar Gilin.


"Mungkin." Ujar Sora.


"Hari ini ada rencana apa?." Tanya Gilin.


"Nggak kemana-mana." Ujar Sora.


"Ikut gue, buat hari ini lo jadi asisten gimana?." Tanya Gilin.


"Hn." Gumam Sora.


Pulang sekolah, Gilin mengajak Sora untuk mengunjungi tempat tersebut, kebetulan bertemu dengan sang kakak.


Sora mengangguk singkat pada Girin, dan dibalas anggukan kembali.


"Kenapa kalian kesini?." Tanya Girin.


"Nggak boleh emang?." Tanya Gilin.


"Nggak juga, hati hati jangan memegang sesuatu." Ujar Girin.


"Tahu." Ujar Gilin.


"Sora pasti kepaksa kan?, maklumlah Gilin itu kalo penasaran suka nggak ke kontrol." Ujar Girin.


"Nggak apa-apa udah biasa." Ujar Sora santai.


"Udah lah kita disini juga mau bantuin." Ujar Gilin.


"Kalian pake sarung tangan dulu sana!, baru ikut aku masuk." Ujar Girin.


"Oke." Ujar keduanya.


Girin menunggu di pintu rumah yang berwarna hitam itu akibat terbakar, melihat kedua remaja yang berjalan


kearahnya, ia melambai untuk mengikutinya. Keduanya masuk dan mulai memindai tempat tersebut yang


benar-benar habis di bakar oleh api. Dari lantai dan tembok yang hitam, dan flatpon yang berjatuhan. Gilin


menatap lantai yang di injaknya dan juga dinding yang memiliki warna yang aneh dan ada beberapa lubang di tembok itu.


Saking seriusnya melihat hal itu tak menyadari seseorang di belakangnya memandangnya dengan


pandangan dingin. Mendekat dan menepuk tembok itu hingga pemuda itu kaget dan berbalik menatap pemuda


yang tak lain Sora yang sedikit lebih tinggi satu kepala darinya. Gilin mendengus dan menyikut perut Sora,


namun tindakannya meleset karena Sora menghindar, dan memberikan seringaian kecil pada Gilin, membuat


Gilin kesal. Girin menatap dua remaja yang malah bermain itu, menghela napas dan selebihnya kembali fokus

__ADS_1


pada penyelidikannya daripada mengurusi dua remaja itu.


...Tbc....


__ADS_2