The Living Death

The Living Death
3. Tiga saudara.


__ADS_3

Gilin menatap Sora dengan pandangan kesal, mendorong Sora menjauh darinya dan memperingati Sora dengan mata nya. Temannya ini memang terkadang-kadang melakukan hal yang tak tepat pada waktunya, tak tahu apa ia sedang serius, untungnya ia tak memiliki penyakit jantung. Sora hanya mengangkat bahu acuh, dan melihat noda di dinding, mendorong Gilin kembali ke dekat tembok membuat punggung Gilin hampir mengenai tembok itu. Mengangkat kedua tangan Gilin, menyamakan dengan noda itu, Gilin yang di perlakukan sebagai boneka pun memprotes.


"Ngapain sih?." Tanya Gilin kesal.


"Diam." Datar Sora.


Menarik Gilin kesamping dan menekan pundak Gilin membuat Gilin berjongkok. dengan posisi dua tangan yang di letakan di atas kepala.


"Kalian berdua sedang apa?." Tanya Girin yang kesal juga dengan kelakuan dua pemuda itu.


"Kronologi kriminal." Ujar Sora datar.


"Apa?, benarkah?." Tanya Girin mendekat dan melihat ke tembok, melihat noda yang menghitam itu namun sedikit tercium angus dan bau besi. "Benar sepertinya melakukan penyiksaan sebelum membakar rumah ini."Ujar Girin. "Lagi?!." Ujar Girin.


"Dua di hunuh di sini!, yang lainnya cari sendiri." Ujar Sora datar.


"Hei aku yang menemukan petunjuknya lebih dulu." Ujar Gilin protes.


"Kamu hanya melihat satu sisi saja, lagi pula apa yang kamu lihat dari lubang kecil itu?, cukup ikuti bercaknya itu sudah membuat tanda." Datar Sora.


Gilin dan Garin pun melihat lebih jelas bercak noda itu, benar sudah terlihat tanda. Dari tangan dan juga kedua tangan yang terlihat di paku di tembok itu. Sora menatap datar tembok itu, melirik lebih keatas untuk posisi kepala. Yang terdapat bercakan yang banyak, jelas bekas darah yang menyembur. Dan bahkan jika melihat lebih teliti ada timah panas yang tertutup noda dan bersarang di tembok itu. Sora sengaja menyimpan itu sendiri, bukankah ia akan terlihat begitu terbiasa untuk hal seperti investigasi jika ia memberikan semua petunjuk, lagi pula itu bukan pekerjaannya, ia hanya membantu sedikit di sini.


"Kamu lebih cocok untuk investigasi." Ujar Girin.


"Senang bisa membantu." Ujar Sora.


"Kalau begitu aku harus sering membawamu saat aku memiliki kasus." Ujar Gilin menopangkan tangannya kebahu Sora.


"Dengkul mu, sekolah saja yang benar!." Ujar Sora menepis tangan Gilin dari bahunya.


"Huh.., lanjutkan saja mencarinya!." Ujar Gilin.


"Bagaimana dengan lantai atas?, apa sudah di selidiki?." Tanya Sora.


"Sebelum kalian datang kami telah menyisir lantai itu, hanya ada beberapa petunjuk, seperti barusan, dan juga karena lantai dua yang paling banyak memiliki sisa noda darah, dan mayat mereka terutama pemilik rumah." Ujar Girin menjelaskan keadaan lingkungan yang berada di lantai dua.


"Tak ada hal lainnya?." Tanya Gilin.


"Tidak ada, ini bersekala besar dan bersih, tak perlu bagi penjahat untuk cuci tangan." Ujar Girin.


"Sangat merepotkan, menyulitkan orang saja." Ujar Sora malas.


"Memang dasarnya kamu cuek dan malas." Ujar Gilin.


Ketiganya kembali melakukan penyisiran tempat tersebut, Sora juga banyak membantu Girin menemukan beberpa tanda yang sebenarnya menurut Sora tak berguna, sebuah bercak dan noda darah, tanpa petunjuk atau apapun yang tertinggal. Membuatnya merasakan apa itu arti buang-buang waktu. Setelah merasa cukup, Girin memanggil keduanya untuk kembali, Sora pamit terlebih dahulu, kedua nya hanya mengangguk dengan kepergian Sora, Gilin dan Garin pun pulang.


Sesampainya di rumah Sora masuk ke kamarnya dan menekan sebuah pena dan mengatakan.


"Melakukan hal bodoh, sangat melelahkan." Ujar Sora.


Menekan kembali dan menempatkan pena itu kembali ketempatnya, beranjak menuju kamar mandi. Setelah kembali dengan pakaian casual, membuka pintu samping dan dusuk di depan meja yang terdapat kain penutup berlumuran noda. Dengan santai menarik kain itu dan mengambil pisau ukirnya dan mulai mengukir kepala itu. Patung tanah liat yang ia buat sejak kemarin dan belum selesai mengukirnya, jadi ia melanjutkannya hari ini. Ekspresi wajah patung itu memiliki ekspresi sendu, dengan wajah cantik dan sayu, duplikat dari seorang wanita yang elegan dan lembut.


"Tuan muda waktunya makan." Ujar seorang pelayan dari luar kamarnya.


"Aku akan makan nanti!." Ujarnya dingin dan tetap melanjutkan ukirannya untuk menyempurnakan wajah dari patung tersebut.


"Tuan pertama dan tuan kedua sudah menunggu anda untuk makan bersama." Ujar pelayan itu lagi.


"Hn." Gumam Sora beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci tanganya.


Sora beranjak turun menuju lantai bawah, di mana kedua kakaknya menunggu di ruang makan. Sora mendudukan dirinya di sebrang kedua orang itu, menatap kedua orang yang juga menatapnya. Kakak pertamanya meliriknya sekilas, sedangkan kakak keduanya menatapnya dengan tatapan acuh dan sombong, ia sudah biasa dengan tatapan kakak keduanya yang menatap semua orang dengan pandangan bos. Sora yang sedikit kesal di tatap seperti itu pun berujar dengan santai.


"Ini di rumah, kamu pikir aku akan takut dengan pandangan mu itu." Ujar Sora dingin.


Kakak keduanya mendengus, aura kakak keduanya memang suram dan gelap, dengan wajah tampan dan tegas mata tajam dan aura pembunuh. Sedangkan kakak pertamanya lebih memiliki aura bos, dan tegas, wajah tampan yang menarik banyak wanita, namun sayangnya adalah bongkahan besi yang tumpul. Sedangkan ia tak kalah tampannya dan juga pintar, bukannya membanggakan dirinya, hanya saja ia tak peduli dengan urusan keduanya dan mereka juga menjalani kehidupan mereka sendiri-sendiri.


"Berhentilah dan makan!." Ujar kakak pertamanya tegas.

__ADS_1


"Aku bukan bawahan mu Suran!." Protes kakak keduanya.


"Berhenti membawa ketegasan mu!, ini di rumah jangan sampai aku menendang mu keluar!." Ujar Suran.


"Kalian sungguh merepotkan." Ujar Sora malas.


"Sora makan saja makanan mu!, jangan menggurui kami." Ujar Suran.


"Kamu hanya bocah jadi diam saja." Ujar kakak keduanya.


"Ranan kamu juga lebih baik diam, makan saja dengan tenang!." Ujar Suran.


"Jika bukan kakak ku sudah ku masukan kau kelubang makam." Ujar Ranan.


"Kenapa tidak ayah dan ibumu saja kau seret kedalam kuburan?, bukankah kau sangat ingin melakukan itu."Ujar ujar Sora.


"Sora mereka orang tua mu!, mengapa kamu berkata seperti itu?." Ujar Suran menegur.


"Aku hanya mendukung apa yang dia cita-citakan, salah?." Ujar Sora datar. Jelas ia tak peduli dengan kata orang tua, bahkan saat ia berumur empat tahun mereka sudah menghilang dalam hidupnya dan matanya.


Kakaknya jelas adalah anak yang penurut saat itu namun karena jarangnya bahkan hanya dapat di hitung denga jari saat mereka pulang. Jadi kakak nya yang mengambil peran menjadi pemimpin keluarga, kehidupan mereka jalani dengan keinginan masing-masing. Kakaknya adalah yang paling tegas, kakak keduanya adalah yang paling urakan, dan ia paling tak peduli dengan apapun. Dan juga satu sosok yang mereka harus hormati, namun sayangnya mereka tak peduli, sosok kakek yang juga mengatur mereka. Kakak pertamanya hanya menghela napas dan diam, ia tak bisa menghapus kebencian kedua adiknya untuk orang tua mereka.


"Bagaimana urusan mu di markas?." Tanya Suran.


"Biasa saja, lagi pula apa gunanya aku bagi orang tua tak tahu diri itu?." Ujar Ranan.


"Meski begitu kau masih bekerja untuknya." Ujar Sora malas.


"Apakah aku terlihat senang bekerja untuk nya?." Tanya Ranan, sambil menunjuk wajahnya dengan ekspresikesal.


"Terlihat sangat menyebalkan." Ujar Sora datar.


"Berhentilah menghancurkan mood orang." Ujar Suran pada Sora.


"Kenapa kau sangat menyebalkan, seperti orang itu, apa bagusnya orang mati otak yang hanya tahu membunuh." Ujar Ranan kesal.


"Bukan, orang kesayangan orang tua itu, kau juga perhatian untuk mu mungkin akan segera berakhir karena orang menyebalkan itu." Ujar Ranan menunjuk Sora dengan garpunya.


"Kamu melihat ku seperti orang yang berharap perhatian?!." Malas Sora.


"Aku hanya memperingatkan mu agar kamu tak menangis nanti." Ujar Ranan.


"Kau mau mati hah?!." Dingin Sora melemparkan sendoknya ke wajah Ranan.


Ranan dengan lihai menghindari sendok yang mengarah kewajahnya itu, dan memberikan seringaian mengejek.


"Kalian berdua bisa tenang?!!!." Ujar Suran penuh penekanan.


"Sialan kamu Sora." Ujar Ranan.


"Aku tak butuh didikan mu Suran!." Ujar Sora datar, menatap sang kakak tanpa rasa takut.


Suran yang di panggil begitu saja tanpa embel-embel kakak pun kesal, memijat pelipisnya yang berdenyut. Inilah alasannya tak suka pulang dan lebih memilih bekerja dan tidur di kantornya. Kedua orang ini sudah tak bisa didik dan di jinakan lagi. Ranan hanya mengangguk menyetujui perkataan Sora, yah keduanya tak butuh dididkan formal lagi, apalagi mencatat semua peraturan dan tatakrama yang di berikan sang kakak pada mereka.


"Kalian berdua harus menghormati kakak kalian, lakukan hukuman kalian setelah makan." Ujar pria paruh baya dengan wajah tegas dan penuh aura wibawa.


"Kami tak butuh nasehat darimu." Ujar Sora malas, tak melirik sang kakek sama sekali.


Ranan menatap sang kakek, takut pria tua itu kesal, benar saja wajah pria tua itu sudah kesal. Dari mereka yang membangkang adalah Sora, paling muda dan paling keras kepala. Ia masih takut dengan kakeknya yang notabenenya ketua dalam organisasi yang tengah ia jalankan. Suran menghela napas dengan keberanian adiknya, ayolah anak ini tak tahu apa-apa tentang kakek mereka.


"Kamu memang pantas di beri pelajaran, setelah ini keruangan ku!." Dingin sang kakek beranjak dari tempat itu.


"Lanjutkan obrolan kalian, bukankah orang itu sudah pergi." Malas Sora, meminum air putih dan beranjak pergi.


"Kamu tahu kan apa yang akan terjadi setelah kamu pergi keruangan kakek?, lain kali jangan membantahnya." Ujar Suran.


"Kamu benar-benar, aku suka!." Ujar Ranan.

__ADS_1


"Ranan dia adik mu." Ujar Suran kesal.


"Sudahlah, dia sudah tua tak akan sekeras dulu mengayunkan cambuknya." Ujar Sora malas, meremehkan hukuman dari kakeknya yang di kenal kejam dan keras. Namun ia benar-benar tak ingin tahu itu.


"Kamu." Ujar Suran menghela nafas, bocah ini benar-benar tak ada takut-takutnya. Dan masih sempat-sempatnya untuk bergurau. "Ranan lain kali peringatkan dia soal kakek, jangan biarkan terus seperti ini." Ujar Suran.


"Seperti dia mendengarkan ku." Ujar Ranan malas.


"Harusnya mereka yang mendidiknya." Ujar Suran datar.


"Maksudmu ayah ibu mu?, kamu gila?, aku akan menyeret mereka mati. Lagi pula dengan kakek saja dia tak mendengarkan apalagi ayah dan ibumu yang tak pernah dia temui." Ujar Ranan.


"Itu ayah ibu mu." Datar Suran.


"Sebenarnya anak siapa kita?." Malas Ranan.


"Sayangnya kita milik mereka, hanya saja aku malas mengakuinya." Ujar Suran datar.


"Dimana sih mereka?, bocah itu sudah liar sejak kecil, mereka malah pergi." Dengus Ranan.


"Entah, yang jelas tak ada hubungannya bagiku." Ujar Suran.


Ranan hanya mendengus, orang tua itu tak ada tanggung jawabnya sama sekali, meninggalkan mereka begitu saja di tangan kakeknya yang kejam. Sora memasuki ruangan kakenya dengan santai tak ada rasa takut atau pun bersalah sama sekali, baginya ia tak perlu merasakan hal seperti itu. Sang kakek melihat cucu bungsunya itu dengan pandangan tegas, memegang tongkat panjang di tangannya, Sora berdiri diam di siainya dengan tangan di masukan di saku celananya.


"Sepertinya ini hukuman yang santai bagimu bukan?." Ujar sang kakek menatap Sora kesal.


"Terus?." Tanya Sora malas.


"Kamu bajingan kecil!, patuhi yang lebih tua!, dengarkan apa yang kakakmu katakan kamu mengerti?!." Ujar kakeknya dibarengi pukulan di paha dari tongkat itu.


"Hm." Ujar Sora datar.


"Kamu juga harus tahu seperti apa aku!. Jangan membangkang padaku paham!." Ujar sang kakek memukul kembali Sora dibagian yang sama.


"Terserah." Ujar Sora.


Sang kakek memukul Sora dengan kaksar mendengar jawaban itu, anak ini tak ada ampun-ampunnya, haruskah ia memukulnya selalu saat bertemu dengannya. Sungguh memusingkan. Hukuman nya berakhir setelah beberapa menit, dan melemparkan buku tulis untuk di tulis bocah itu. Ia menyuruh Sora menulisnya di sini dan di pantau olehnya, Sora duduk di sebrang dan mulai menulis peraturan dari kakaknya yang ia hafal betul, berkat pelatihannya yang terus membangkak. Sang kakek menatapnya menulis dan melihat bekas luka yang sepertinya baru dan belum di tutup plester luka.


"Kamu mengukir lagi?." Tanya sang kakek.


"Masalah?." Malas Sora.


"Lebih baik kau ikut dengan kakak mu, latih dirimu menjadi pria." Ujar Sang kakek.


Sora mendongak menatap sang kakek dingin, kembali mengalihkan pandangan mya pada bukunya. "Jika matamu bermasalah periksalah, jangan sampai membuat orang lain repot." Ujar Sora.


Sang kakek yang meminum tehnya pun tersedak dengan perkataan Sora. Menaruh kembali cangkir tehnya sedikit kasar hingga membuat bunyi. Sora hanya menggeleng kecil tak menghiraukan pria yang menatap kesal dengan mata berkedut.


"Sangat menyenangkan bukan membuat orang kesal hah?!." Kesal sang kakek.


"Sepertinya begitu." Ujar Sora malas.


"Cepatlah dan pergi dari hadapan ku!." Ujar sang kakek.


"Seperti aku senang melihat mu!." Dengus Sora.


"SORA!!!." Geram sang kakek. "Keluar sekarang juga keluar!." Ujar sang kakek mengusir Sora untuk segera pergi sebelum dia benar-benar marah dan lepas kendali untuk memukuli cucunya.


"Makasih." Ujar Sora dengan sedikikit senyum, beranjak dari duduk nya dan keluar dari ruangan sang kakek.


"SORA KAMU BENAR-BENAR!!!." Kesal sang kakek melempar cangkir tehnya kearah Sora.


Sora berbalik menatap sang kakek, tak menghindar cangkir yang datang menghantam kepalanya.


"Hati-hati dengan emosimu, jika tidak kamu mungkin tidak akan hidup lama." Ujar Sora datar, tak peduli dengan cangkir teh yang mendarat di pelipisnya dan membuat wajahnya basah dan juga pastinya terluka.


Setelah mengatakan itu Sora benar-benar keluar, Sora menatap Soran yang berdiri bersandar di tembok dengan postur santai dan kedua tangan yang di lipat di depan dada. Suran menurunkan tangannya, dan berjalan berjalan kearah Sora yang menatapnya datar. Memegang tangan Sora dan membawa pergi Sora dari tempat itu, Suran mengobati luka di pelipis Sora, dan mengomelinya untuk tidak membuat kakek kesal, Sora hanya menanggapinya dengan gumaman.

__ADS_1


... Tbc....


__ADS_2