
Dalam toilet Sora mencuci kedua tangannya dan mengambil sejumput tisu dan melemparkannya ke tong sampah, saat hendak keluar, melihat jalan yang di blokir oleh beberapa orang pun melihat salah satu yang tak lain orang Sun. Pemuda yang lebih tua darinya itu meliriknya dan mendekat padanya meminta bantuan.
"Tuan tolong bantu aku, mereka mengganggu ku." Ujar Pemuda itu hendak memegang tangannya, namun Sora menepisnya begitu saja.
"Urusanmu bukan urusan ku!." Dingin Sora, melangkah menjauh dari kerumunan itu.
"Tuan bawa aku menemui tuan Sun." Ujar pemuda itu.
"Sepertinya pemuda itu juga milik salah satu dari mereka, sebaiknya kita bawa saja dia, aku yakin itu dapat menekan mereka jika kita memiliki dua." Ujar pria itu berbisik ke pria yang memiliki badan kekar dan juga tinggi, tipikal seorang penjaga.
"Bawa juga dia dan tempatkan keruangan yang bos minta, pemuda itu memiliki wajah yang bagus, orang itu pasti suka." Ujar orang itu yang tak lain ketuanya.
Pemuda itu lebih dulu di tangkap dan di bius, Sora melawan sebentar dan merelakan ia dibawa dan di bius oleh mereka yang tak berefek sama sekali padanya. Ia lebih suka berenang di kerumunan dan membantai semuanya, para orang ini sudah memilihnya maka jangan salahkan dia jika mendapatkan hal yang tak baik. Sora dan pemuda itu di ikat di kursi, sora mendengarkan perkataan mereka dengan baik. Mendengar tawa bahagia dan cabul dari seorang pria.
Sora adalah orang pertama yang dipilih, penjaga itu melepaskan ikatannya dan membawanya ke hadapan orang itu. Saat tepat berhadapan dengan orang itu, dan juga kedua penjaga itu menopang nya agar berlutut si depan orang itu. Sora membuka matanya, mata kelamnya yang dingin menatap penuh rasa dingin dan pembunuhan, orang itu tak peduli, meski ia sedikit gemetar dengan tatapan itu, rasa takutnya tertutupi dengan nafsunya saat ini. Tangannya mengarah membelai wajah Sora, namun Sora menghindari tangan pria tua gemuk itu, melepaskan diri dari kukungan dua penjaga, meski ia memiliki badan kecil dan muda bukan alasan baginya untuk kalah dari penjaga itu.
"Tangkap dia untukku!." Ujar Pria itu.
"Baik." Kedua penjaga itu menghadapi Sora, Sora memukul habis mereka, membuat keduanya tak sadarkan diri mendekat pada pria gemuk itu.
"Kalian berdua apa yang kalian lakukan?!, bangun dan tangkap bocah ini!." Ujar pria gemuk itu lagi, namun tak ada tanggapan dari kedua penjaga itu.
Sora menatap dingin dengan seringai yang kentara di bibir tipis merahnya yang selalu diam kini memiliki garis yang menarik keatas. Pria gemuk itu beranjak dari tempat duduknya menghindari Sora yang mendekat.
"Hahahahaha, giliranmu sekarang bukan?!, atau kita bermain hal membahagiakan dulu?." Tawa dingin dan serak, penuh rasa pembunuhan. "Kamu memiliki kulit yang tebal dan banyak, cocok untuk sofa yang ingin ku buat." Ujar Sora dingin. Membuat pria itu bergidik dan menghindari Sora.
Pria gemuk itu terus berjalan mundur hingga menabrak dinding, Sora tersenyum tapi tidak tersenyum, mengambil pena dengan ujung yang runcing dan tajam, melilitnya dengan tisu dan memegangnya dengan nyaman di tangannya.
"Pria seperti mu juga memiliki kualifikasi untuk barang yang bagus eh?, menggelikan." Dingin Sora.
Pria gemuk itu tak menjawab, melihat Sora yang semakin mendekat membuatnya ingin mengompol, Sora tertawa melihatnya, hingga kedua gigi taringnya terlihat, benar-benar tajam. Seperti harimau yang akan menggigit dan mematahkan leher. Sora mendekat mencengkram leher pria gemuk itu dengan Kasar, membuat wajah pria gemuk itu memerah.
"Ah teksturnya bagus, benar-benar cocok, bagaimana membuat polanya terlebih dulu sebelum memisahkannya dari tubuh bau ini?!." Tanya Sora yang lebih tepatnya sebuah pernyataan.
Menancapkan pena itu ke tangan gemuk dan berlemak pria tua itu membuat garis panjang membuat pria itu berteriak dengan keras. Sora terus membuat luka dan menancapkan pena itu ke bahu, membuat teriakan pria tua itu semakin menjadi, Sora melepaskan pria tua itu dan menendang hingga tertelungkup jatuh di lantai.
"Hubungi mereka dan bawa mereka padaku!, jika tidak mayat mu sendiri yang ku kirimkan pada mereka." Ujar dingin Sora.
"Ba-baik aku akan menghubungi mereka." Ujar pria gemuk itu merangkak mengambil ponselnya dan memanggil mereka datang. Menekan nomor lain namun segera dihentikan Sora.
Sora menginjak tangan gemuk itu hingga ponsel itu terlepas dari tangannya. Pria itu kembali mendengus nyeri. Sora menendang ponsel itu hingga hancur menabrak dinding.
"Ck, jangan pikir aku memberimu kebebasan dengan menghubungi orang lain, kau memanggil polisi, harusnya kau memanggil ibumu!, mengeluh padanya kenapa kamu dilahirkan begitu lemah!." Dingin Sora menjambak rambut abu-abu pria gemuk itu.
Dengan mengatakan itu membuat muka pria gemuk itu kesal, dia sudah begitu terhina disini menghadapi bocah ini, dan bocah ini kembali menghinanya dengan membawa-bawa ibunya. Pria gemuk itu memegang pergelangan kaki Sora dan mencoba melepaskan tangan lainnya yang di injak. Sora melepaskan tangan pria gemuk yang meraih kakinya dengan menendangkan kakinya. Tangan pria gemuk itu ikut bergerak mengikuti arah tendangan Sora. Mendengus dan menginjakkan kakinya di punggung pria tua itu. Di ruang perjamuan, Suran melirik kearah kamar lorong menuju kamar mandi. Mengapa bocah itu begitu lama di kamar mandi ini sudah lebih dari dua puluh menit. Ranan juga merasakan hal aneh, dan beranjak dari tempatnya.
"Cari dia!." Ujar Suran.
"Hm." Gumam Ranan, meski bocah itu pembangkang, bocah itu akan mengatakan kemana dia pergi, dan juga ponselnya masih berada bersama mereka. Jika bukan ada sesuatu ia tak akan menghilang dari pandangan tanpa mengabari terlebih dahulu.
"Aku pergi dulu." Ujar Suran mengambil ponsel Sora dan mencari Sora di sekitar ruangan lantai dua. Sayang sekali ia tak membawa pengawalnya, begitu juga Ranan.
"Aku ikut!." Ujar Onix beranjak dari tempatnya.
"Kami akan membantu mu juga." Ujar Dean, dan di angguki Sun.
"Tidak perlu itu hanya akan membuat keributan, alihkan saja pandangan kalian dari ini, dan hati-hati." Ujar Suran, lebih baik mereka berjaga juga.
"Kalau begitu kabari kami jika terjadi sesuatu." Ujar Dean.
Suran hanya mengangguk, Onix berjalan lebih dulu menaiki tangga menuju lantai atas. Di Lantai atas keduanya melihat Ranan tengah memukul salah satu dari penjaga itu dan juga seorang pria yang memang menjadi musuh mereka.
"Kamu menemukannya?." Tanya Suran.
__ADS_1
"Dia tahu dimana dia." Ujar Ranan.
"Kebetulan sekali, kami bertemu, habisi saja dia!." Dingin Suran.
"Hahahaha.., mungkin saja pemuda itu tengah berbaring di ranjang Fred sekarang dan menangis." Kekeh pria tua itu.
"Katakan padaku di mana dia!, atau timah panas ini menembus kepala mu!." Ujar Ranan menodongkan pistolnya tepat di kening pria tua itu.
"Oke-oke ku tunjukan jalannya." Ujar pria tua itu, meski ia tak takut mati bukan keinginannya untuk mati sendiri.
Sesampainya di kamar pintu kamar yang ditempati rekan pria tua itu. Suran menyuruh pria tua itu untuk membukanya, pria tua itu membuka pintu. Melihat pria yang terikat di kursi. Dan dua penjaga yang terbaring di lantai.
"Begitu lama, apa rekan mu keong hah?!." Dingin suara seorang pemuda dengan rasa sedikit serak.
"Wave kamu bajingan siapa orang yang kamu bawa?!." Teriak penuh kemarahan pria gemuk yang tengah di injak itu.
"Oh kalian juga datang." Datar Sora melihat kedua kakaknya dan pria itu.
"Kenapa kamu masih di sini?, jika kamu sudah bebas?." Tanya Suran.
"Hanya ingin melihat siapa yang menjual ku, apa dia tak ingin tangannya lagi?!." Ujar Sora datar.
"Biar aku yang menanggani ini kamu kembali lah." Ujar Ranan.
"Tak perlu, hanya mematahkan tangan, tak perlu untuk mu ikut campur." Ujar Sora.
"Terserah, nah mainkan sendiri." Ujar Ranan mendorong pria itu kehadapan Sora.
Sora menyeringai kecil, tangannya masih memegang pena yang kini berlumuran darah pria gemuk itu.
"Mau apa kau, kalian biarkan aku pergi!." Ujar pria tua itu.
"Hahahaha, pergi?, lucu!." Tawa dingin Sora dan ucapan dingin diakhir membuat pria tua itu bergidik.
Kedua kakaknya hanya menonton pertunjukan itu, salah mereka juga untuk berurusan dengan Sora, yang ujung ujungnya tak akan mendapatkan hal apa-apa. Onix menatap pemuda yang memiliki tampilan dingin itu, tertarik dengan apa yang dilakukan pemuda itu pada pria tua itu. Meski baginya itu masi lah wajar, tangan mereka tidaklah bersih dan bebas dari hal itu. Hanya saja mereka melakukan hal itu dengan cara masing-masing. Namun pemuda ini cukup langsung, dan juga pemain, jika itu mereka hanya satu kata untuk mati. Sora mematahkan tangan pria itu dengan pukulannya dan membuat tusukan di kedua bahu pria tua itu.
Ranan sudah menelepon bawahannya untuk membereskan orang-orang itu, keempatnya kembali. Tanpa membuat pergerakan yang besar mereka membersihkan tempat itu. Salah satu orang Ranan membawa pemuda yang pingsan itu. Sora ke toilet untuk membersihkan tangan nya dan membuka jasnya yang sedikit kusut. Kembali lagi ke tempat perjamuan, dengan jas yang ia sampirkan di tangan kirinya.
"Tuan aku di culik dan tuan muda itu tak menolongku sama sekali." Ujar pemuda itu dan menunjuk Sora yan baru saja datang dan menundukan dirinya dengan santai di sofa.
"Kenapa tidak memakai jas mu?." Tanya Ranan, Sora melempar jasnya pada Ranan.
"Kotor." Ujar Sora malas.
Sora kini tampil lebih santai dengan kemeja hitam dan dasi yang dilonggarkan berayun mengikuti pergerakannya, dan membuka kancing atas memperlihatkan sedikit tulang selangka dan kulit putih nya yang seperti giok.
"Kamu yakin?." Tanya Sun.
"Yah untungnya kamu menyelamatkan ku." Ujar pemuda itu lemah.
"Jadi kamu yang menyeretnya." Ujar dingin Suran.
"Mengapa kamu bisa berurusan dengan mereka?." Tanya Sun, menatap pemuda yang bersandar padanya dan juga menatapnya.
"Aku tak tahu, mereka datang begitu saja dan menarikku pergi." Ujar Pemuda itu.
"Petter jangan membohongi ku!." Ujar Sun.
"Setelah dia tahu aku orang mu mereka mengejar ku." Ujar pemuda itu.
"Mereka sudah merencanakan ini!, kebetulan bertabrakan dengan Sora." Ujar Dean.
"Lalu kamu sendiri Sora?." Tanya Sun, ia yakin pemuda ini bukan orang senggang yang suka ikut campur, mungkin bahkan tak peduli.
__ADS_1
"Mereka membiusku." Ujar Sora datar.
Suran dan Ranan yang mendengarnya memutar bola mata malas, untuk ukuran bocah remaja sepertinya, mungkin hanya satu dari sekian banyak orang yang begitu menyebalkan. Siapa yang percaya dengan itu, membius Sora itu harus dengan dosis yang tinggi dan itu mungkin akan bertahan beberapa jam untuk membuatnya tidur.
"Apa sederhana itu?." Tanya Dean tak percaya.
"Hanya orang bodoh yang akan percaya itu." Ujar Suran.
"Yah sepertinya teratasi dengan baik." Ujar Sun.
"Mau pulang tidak?." Tanya Ranan.
"Hn." Gumam Sora.
"Ayo!." Ujar Ranan.
"Kamu tak pulang?." Tanya Dean pada Suran.
"Ya, dengan mereka." Ujar Suran, beranjak bangkit dari tempatnya. "Kita makan di luar saja, pelayan di rumah hari ini kakek eksploitasi." Ujar Suran.
"Kalau begitu tinggal di tempatmu saja." Ujar Sora datar.
"Hm, ponselmu!, minta pelayan untuk mengantarkan bajumu untuk besok sekolah." Ujar Suran.
Ketiganya pergi dan berdiri bersama membentuk sebuah tangga, dengan Sora yang paling kecil di antara mereka. Onix melirik datar mereka dan meminum anggurnya dengan santai.
"Ketiga orang ini tak bisa di singgung sama sekali." Ujar Sun.
"Sebenarnya bagaimana dia bisa diculik?." Ujar heran Dean.
"Sebuah permainan." Ujar Onix.
"Begitu." Ujar Dean.
Di kediaman Gilin dan keluarganya mengadakan pesta sederhana untuk sang ayah. Gilin memainkan kartu dengan ayah dan kakaknya setelah mereka selesai memakan kue dan makanan yang ibunya buat untuk mereka. ibunya juga duduk minum teh dengan santai di samping sang ayah, menonton permainan mereka yang membosankan baginya. Menaruh kembali cangkir tehnya, dan memegang piring cake dengan cake setengah potong yang setengah di makannya.
"Sudah malam!." Ujar Sang ibu.
"Nanti, ibu pergilah dulu tidur." Ujar Sang ayah.
"Nanti yang beresin siapa?, kalau ibu tidur?, kalian kan jorok!, di tinggal begitu aja bekasnya." Ujar sang ibu menunjuk meja lain yang terisi setengah piring kotor.
"Hehehe, silahkan di bersihkan dulu kalau begitu." Ujar Sang ayah.
"Bantuin kek." Ujar sang ibu.
"Rin bantuin ibumu sana!." Ujar sang ayah.
"G."
"Ogah." Ujar Gilin sebelum kakaknya memanggil nya.
"Nah malah pada suruh-suruh!, kalian beresin semua sana!, atau ibu bakar kartunya." Ujar sang ibu.
"Oke." Ujar ketiganya beranjak dari tempat duduk mereka menuju meja dan membawa piring-piring kotor itu ke wastafel.
Ketiganya membagi tugas, dengan Gilin yang mencuci sedangkan Girin membilas dan menyusun piring di rak piring. Sang ayah pergi melap meja disana, sang ibu melihat kerja ketiganya mengangguk dan meminum tehnya kembali.
"Bu ayah kan hari ini ulang tahun, kenapa ayah yang kerja?." Protes sang ayah.
"Ayah mau hadiahnya nggak?." tanya sang ibu santai.
"Oke-oke." Ujar sang ayah setuju.
__ADS_1
Gilin dan Girin menatap sang ayah dengan heran, terutama Gilin, sespesial apa sih hadiah ibunya itu membuat ayahnya begitu menurut. Girin menatap sang adik yang penasaran, menyikut tangan Gilin untuk kembali mengerjakan cucian piringnya, keduanya melupakan sang ayah yang kini bersemangat melakukan pekerjaannya. Selesai mencuci sang ibu menyuruh semua untuk tidur, Girin dan Gilin pergi ke kamar masing-masing dan tidur.
...Tbc....