The Living Death

The Living Death
5. Bersama


__ADS_3

Sora datang kembali ke tempat dimana ia dan Gilin kemarin datangi, Gilin sudah menunggunya di gerbang rumah yang terbakar itu. Melambai padanya saat melihat Sora, Sora berjalan mendekat dengan santai. Gilin langsung mengajak Sora masuk kedalam dan juga menjelaskan apa yang ditemukan yang sebenarnya tidak berguna sama sekali untuk ia ketahui, karena dari kemarin ia sudah menemukan hal itu lebih dulu. Sora menatap Gilin datar, sudah lah ia sudah terlanjur berada disini, dan juga Gilin sudah mengiming-iming nya dengan traktiran makan. Lagi Pula ia sedang bosan, mendengarkan penjelasan Gilin, dan juga melihat kakak Gilin sedang memeriksanya dengan beberapa rekannya.


"Itu buatan khusus." Ujar Sora, membuat kakak dan beberapa rekannya menoleh pada Sora.


"Kamu tahu?." Tanya salah satu diantara mereka.


"Aku pernah melihatnya di tempat lain." Ujar Sora datar.


"Dimana?." Tanya Kakak Gilin.


"Di jalan, mungkin itu terjatuh, lagi pula tempat itu bekas pembunuhan beberapa preman." Ujar Sora datar.


"Kenapa kamu datang kesana?!." Tanya rekan kakak Gilin menatap Sora.


"Arah rumahku lewat sana, jika putar arah akan terlalu jauh. Lagipula kejadiannya sudah sebulan lalu." Ujar Sora malas.


"Kenapa kamu tak bilang padaku?." Tanya Gilin menyikut Sora dengan sikunya, namun Sora menghindarinya.


"Apa Sih senangnya melihat tempat pembunuhan." Datar Sora, membuat Gilin mendengus.


"Baik bagi Sora melakukan hal itu, karena dia tahu kamu orang nekat dan penasaran!, ingat kucing mati karena rasa penasarannya!, jadi kamu ingat itu!, kita tak tahu siapa yang mengintai dan orang-orang seperti itu tak pandang bulu untuk membunuh." Ujar Girin menasehati Gilin.


"Aku tahu." Ujar Gilin.


"Kalian pulang saja, kami akan kembali ke lab untuk memeriksa hal ini." Ujar Girin.


"Oke." Ujar Gilin.


Keduanya keluar bersama dari bangunan rumah yang terbakar itu, Sora menaiki motornya dan Gilin berada di belakang. Gilin menunjukkan tempat yang akan mereka kunjungi, untuk makan. Sesampainya di restoran pinggir jalan itu Sora memarkirkan motornya dan berjalan bersama Gilin, keduanya duduk di kursi luar, terlalu malas untuk masuk ke dalam. Memanggil pelayan dan memesan menu.


"Enak bener datang terus dapat traktiran." Ujar Gilin.


"Seenggaknya gue kasih beberapa kata buat mereka." Ujar Sora malas.


"Ya info dari lu tuh mahal." Ujar Gilin.


"Gue korting setengah harga gimana?, puaskan loh?!." Ujar Sora.


"Deal!." Ujar Gilin.


Setelah pesanan mereka datang keduanya makan dengan tenang, Sora sengaja memesan porsi sedikit karena ia telah makan di tempat Suran siang tadi. Gilin mengambil beberapa potong daging dari sup Sora. Dan bahkan kentang goreng Sora. Sora membiarkan itu, lagi pula ia tak memiliki nafsu besar, Gilin mengambil beberapa potong ayam dan menaruhnya di piring Sora.


"Liurmu!." Ujar Sora.


"Enak aja, lu pikir gue anjing yang sering ngeluarin liur?." Gerutu Gilin.


"Siapa tahu nyempil di garpu lu." Malas Sora.


"Dah lah darting gue ngomong sama lu." Ujar Gilin mengunyah ayam tersebut kasar, dengan mata tajam menatap Sora, Sora hanya mengangkat bahu acuh dan mengunyah ayam tersebut dengan postur anggun.


"Beda yah anak sultan mah, makan aja tenang." Ujar Gilin.


"Sendirinya juga bagus kok, nggak rusuh." Ujar Sora.


Gilin benar-benar diam, teman satunya ini ingin sekali ia pukuli, tapi sayang ia tak berani, yang ada hanya ia yang balik di pukuli. Meski Sora tak kasar pada temannya, tetap saja orang ini bukanlah orang yang mudah tersinggung. Juga ia tak ingin seperti beberapa orang yang pernah di pukuli Sora, benar-benar tak dikenali. Sora menatap Gilin yang hanya diam pun menepuk kepala Gilin dengan garpu yang bersih, miliknya yang tak terpakai. Gilin menutupi kepalanya yang dipukul Sora, meski pelan tetap saja, memalukan.


"Gue bego gimana?, tanggung jawab lu!." Ujar Gilin.


"Ye gue bakal nemenin lo sampai tua, sampai lu masuk ke kuburan gue anterin, terharu kan lu." Ujar Sora datar.


"Hoek!." Ejek Gilin dengan muntah pelangi imajiner, Sora hanya menatap datar itu.


"Anjing punya temen gini amat." Ujar Gilin menghadap keatas dengan keluhan.


"Tuhan itu ngasih sesuai dengan usaha lu, dah nggak usah ngeluh, lagian lu dapet untung temenan sama gue." Ujar Sora datar.


"Terserah." Ujar Gilin kesal dan kembali memakan makanannya.


Setelah makan di sana, Gilin meminta Sora untuk mengantarnya ke mall, Sora setuju dan berkeliling di mall itu. Gilin mengantri di antrian toko es itu, sedangkan Sora berdiri di samping Gilin. Saat antriannya akan tiba Gilin menatap Sora dengan pandangan tanya.


"Mau apa?." Tanya Gilin.


"Terserah deh." Ujar Sora.


"Oke." Ujar Gilin.


Sora menunggu Gilin di di tembok mal itu, terlalu malas untuk berada di antara antrian ramai itu. Gilin datang dengan dua cup dan menyerahkan salah satunya ke tangan Sora. Sora menerimanya dan meminum minuman itu, keduanya pergi menuju tempat lainnya.


"Ra kesana yuk!, gue mau kasih hadiah buat bokap gue, besok dia ultah." Ujar Gilin.

__ADS_1


"Oke." Ujar Sora, keduanya masuk dan melihat-lihat hal itu.


Gilin menarik tangan Sora agar mengikutinya, keduanya menghampiri rak jam tangan dan memilih.


"Lu niat mau ngasih hadiah atau mau nyindir ayah lu?." Tanya Sora malas.


"Dua-duanya." Ujar Gilin. "Nah lu nggak beli apa-apa gitu buat orang di rumah?." Tanya Gilin.


"Ngapain?, mau tuker kado?." Malas Sora.


"Hah?." Heran Gilin.


"Tanggal lahir, dan bulan kita sama." Ujar Sora malas.


"Ini nih baru definisi keluarga berencana!." Ujar Gilin.


"Terserah deh." Ujar Sora malas.


Sora membantu memilih arloji untuk Gilin, hingga keduanya mendapatkan model yang mereka inginkan. Saat keduanya membayar, keduanya tak sengaja menabrak seorang pria, membuat Gilin terpental, Sora menopang badan Gilin agar tak terjatuh. Dan juga arloji yang mereka pilih agar tak terjatuh sia-sia. Gilin menatap pria yang memiliki tampang dingin dan juga penyendiri mata kelam yang tajam dan dalam.


"kalian di sini?." Tanya Suran di samping pria itu.


"Hn." Gumam Sora membantu agar Gilin berdiri dengan benar.


"Makasih!, maaf!." Ujar nya pada Sora dan pria dengan tampilan dingin.


"Bayar sana!." Ujar Sora mendorong Gilin ke arah meja resepsionis.


"Kalian berdua saja?." Tanya Sun.


"Hm." Gumam Sora.


Suran menatap Gilin yang kini berjalan ke arah Sora dan menatap mereka dengan pandangan ramah. Suran menatap Gilin dengan datar, heran juga mereka bisa bersama, orang ramah dan orang mengesalkan. Onix menatap pemuda yang menabraknya itu dingin, menatap Sora yang begitu peduli dengan temannya. Sora menatap ketiga orang itu dengan pandangan datar.


"Kita duluan!." Ujar Sora datar.


"Langsung pulang!." Ujar Suran.


"Hn." Gumam Sora.


"Bye-bye kak." Ujar Gilin melambai singkat pada merek, dan kembali memegang tangan Sora menariknya pergi.


"Yang kalah pake baju barbie gimana?!." Ujar Sora.


"Nggak usah maen lu sama gue." Ujar Gilin kesal melepas tangan Sora kesal.


"Gue kan nawarin." Ujar Sora malas.


"Males." Ujar Gilin.


Suran menatap kepergian Sora dan Gilin, benar-benar beda, Suran berbalik dan pergi ke arah tempat dasi. Biasanya ia tak akan mengurusi hal ini karena pengurus rumah yang akan menyiapkan kebutuhan nya. Dan juga sekretarisnya yang akan menyediakan jasnya saat akan ada acara.


"Malam ini kamu akan mengajak siapa?, adikmu Ranan juga mendapatkan undangan dalam jamuan ini, mau cari wanita untuk menemani mu?, atau sekertaris mu?." Tanya Sun.


"Bawa saja bocah itu untuk menghadapi bajingan-bajingan itu." Ujar Suran.


"Kamu akan mengajaknya." Ujar Onix.


"Kenapa?." Tanya Suran.


"Tidak itu bagus." Ujar Onix.


"Kamu juga harus mencarikannya setelan yang tampan." Ujar Sun.


"Dia sudah memiliki banyak di rumah, hanya saja dia tidak pernah memakainya." Ujar Suran.


"Kenapa?." Tanya Sun.


"Jarang ikut perjamuan, dan juga dia tak mungkin memakai jas saat di rumah kan." Datar Suran.


Malam harinya, Sora menatap bangunan mewah itu dengan pandangan datar, ia paling malas datang ke tempat seperti itu. Kakaknya yang berdiri di sampingnya menyuruhnya untuk masuk mengikutinya, Sora mendengus dingin dan berjalan beriringan dengan Suran, rambut hitamnya sengaja menutupi dahinya dan tak disisir rapi ke belakang seperti kakaknya yang menampilkan ketampanan wajahnya. Sora sendiri memiliki gaya rambut berponi dengan belahan di samping kiri, menutupi sempurna plester nya. Sayang sekali ia menolak ajakan Gilin untuk bergabung dengan kejutan yang dibuat keluarganya, setidaknya ia bisa datang dan duduk diam di sana.


Suran membiarkan Sora bersama dengan Onix, keduanya duduk di sofa yang sama. Onix memegang gelas anggur dan memutar mutarnya dengan anggun, Sora yang tak diizinkan untuk minum anggur dan dihidangkan dengan secangkir soda sebagai gantinya. Onix melirik Sora yang bermain dengan hp nya tanpa melihat yang lain, Suran tengah berbincang dengan kolega yang lain dan menanggapi dengan beberapa patah kata, sedangkan ia lebih suka diam dan tak menanggapi mereka yang mencari kesempatan untuk berbisnis lewat jamuan. Dean datang dan duduk di sofa yang ada di samping Sora, yang membentuk persegi karena sengaja ditempatkan di pojok ruangan. Dan jendela besar yang menampakan taman yang indah, dan panorama malam di luar sana.


"Hallo!, bagaimana kabarmu malam ini?." Tanya Dean.


"Kamu melihatnya!." Datar Sora malas hanya melirik sekilas Dean.


"Kamu sangat cuek." Ujar Sun datang dan duduk disamping Dean.

__ADS_1


"Bersama siapa kamu kali ini?." Tanya Dean pada Sun.


"Tentu saja orang ku." Ujar Sun, "Sayang kemarilah!." Ujar Sun pada pemuda dengan tampang tampan dan imut, memakai kemeja bermodel kerah yang diikat, sekitar umur dua puluhan atau lebih, dan memiliki citra seorang model dan selebriti. Pemuda itu duduk di samping Sun dan mengangguk dengan senyum ramah pada mereka.


"Baru lagi, kamu pandai bermain." Ujar Dean.


"Ah Sora pun datang, dia benar-benar membawanya." Ujar Sun.


"Bukan kah bagus." Ujar Dean.


"Pria besar ini, apa dia minum obat yang salah?, bukankah dia akan langsung pulang setelah melapor atau bahkan tak datang sama sekali." Ujar Sun menatap Onix yang masih diam tak bergerak di tempatnya.


"Mungkin dia bosan." Ujar Dean.


"Benar juga, setiap hari menatap komputer dan dokumen sungguh melelahkan." Ujar Sun. Onix yang dibicarakan hanya menatap datar kedua orang itu.


"Apa yang kau mainkan begitu serius, apa kami terlalu tua untuk mengobrol denganmu?." Tanya Dean.


"Bukan urusanmu." Datar Sora.


"Biarkan saja dia." Ujar Sun.


"Kamu di sini?, pantas saja aku mencari mu tak ada." Ujar Ranan datang menatap Sora.


"Apa?." Tanya malas Sora melirik Ranan.


"Siapa yang menata rambut mu?, apa dia terlalu miskin untuk memanjakan mu?." Ujar Ranan.


"Kamu melihat aku membutuhkan itu?!." Datar Sora.


"Tidak juga, mau seperti apapun kamu tetap sama." Ujar Ranan mendudukan dirinya di samping Sora, memisahkan Sora dan Onix.


"Seperti mukamu tidak saja." Dengus Sora.


"Kalian berdua, bisakah tenang sedikit?!." Ujar Onix datar.


"Siapa kamu?." Ujar keduanya datar.


Sun dan Dean diam, keduanya tak ingin ikut campur dengan urusan mereka, keduanya memang tak bisa diganggu, dan juga Onix yang sama kedua golongan orang tersebut. Onix menatap keduanya dingin, terutama pada pemuda itu yang benar-benar tak bisa diatur. Namun ini bukan saat nya untuk menguliahi mereka, dan juga ia tidak ada hubungannya dengan kedua orang itu. Ranan menyentuh poni Sora dan merasakan permukaan kulit Sora yang seperti terganjal sesuatu. Sora menepis tangan Ranan dan menatap dingin Ranan,


orang ini sungguh minta di pukuli. Ranan menyeringai mengejek membuat sang empunya menatap dingin Ranan, tangannya sudah gatal ingin meninju orang ini. Ranan melepaskan tangannya dan membenarkan poni Sora kembali seperti semula. Suran kembali dengan secangkir anggur di tangannya, melihat kedua orang yang kesal dan senang itu dengan pandangan datar. Suran mendudukan dirinya di Sofa yang berada di seberang kedua adiknya. Menempatkan gelas anggurnya kemeja kopi di tengah itu.


"Kamu sudah selesai An?." Tanya Suran.


"Ya." Ujar Ranan mengambil botol anggur dan menuangkannya pada gelas kosong.


Mengambil dan minumnya perlahan, menuangkan ke gelas lainnya dan menyerahkannya ke arah Sora. Sora mengambilnya dengan tenang memutar gelas itu dan melirik Ranan yang mengambil gelasnya, meminta bersulang. Sora mendentingkan gelasnya ke gelas Ranan, keduanya minum dengan elegan. Suran yang ingin mengatakan sesuatu pun diam, biarlah.


"Bukannya kamu tak minum?, umurmu masih belum legal untuk meminumnya." Ujar Onix yang menyalurkan protestan Suran dengan nada datarnya.


"Peduli amat." Ujar Sora datar.


"Kamu polos sekali mengira dia tak bisa minum!." Datar Ranan.


"Hah?." Kaget Sun.


"Katakan karya mu itu Sora!, meminum anggur xxx di umurmu dua belas tahun." Ujar Ranan.


"Hn." Gumam Sora malas.


"Bukankah itu terlalu kuat." Ujar Dean.


"Tidak usah membahas itu." Ujar Suran, ia yakin itu memiliki ujung yang tak menyenangkan.


"Oke." Ujar Keduanya tenang.


Pemuda yang dibawa Sun pun memahami jika pemuda yang diam mengacuhkan nya itu termasuk dalam lingkaran atas, jika tidak mana mungkin ia akan begitu berani mengabaikan para raksasa bisnis ini. Awalnya ia mengira bahwa pemuda itu hanya mainan para pebisnis ini, Sora melirik orang yang yang menatapnya, mengabaikan dan terus minum anggurnya. Pemuda itu beranjak dari tempatnya dan keluar menuju meja prasmanan untuk melihat-lihat dan mengobrol dengan rekan yang juga datang atau mengejek beberapa dari mereka. Sora beranjak dari tempatnya dan pergi, Ranan menghentikannya dan bertanya kemana bocah itu akan pergi.


"Kemana kamu?." Tanya Ranan.


"Toilet." Datar Sora berlalu pergi.


Ranan mengambil ponsel Sora yang tengah mengirim pesan itu, dan untungnya ponselnya masih menyala dan tak terkunci. Membaca pesan yang dikirim Sora pada temannya itu. Mendengus dan menempatkan kembali ponselnya di meja. Suran melirik hanya mendengus kecil.


"Jangan melakukan hal itu lagi?, kamu tahu dia sangat posesif dengan barang-barangnya." Ujar Suran.


"Aku hanya melirik nya sebentar, bocah ini punya sisi lain juga ternyata." Ujar Ranan.


"Sama saja." Ujar Suran datar, entah harus bagaimana lagi dia mendisiplinkan keduanya agar berhenti bertengkar. Jika satunya diam, satunya lagi akan memancing keributan, keduanya diam hanya saat kakek benar-benar marah, namun tetap saja salah satu akan terus membangkang. Entahlah, sebenarnya apa yang salah dengan kedua anak itu tak pernah mau diam, untungnya ia bukan orang yang menaruh dan memikirkan hal itu, jika iya mungkin sudah tua sebelum waktunya.

__ADS_1


...Tbc....


__ADS_2