
Pagi hari yang cerah, seorang Sora melangkah santai di sekolah dengan pandangan datar menatap semua orang. Sora berjalan menuju kelasnya, memasuki kelas dan di tatap beberpa gadis, Sora tetap berjalan menuju kursinya menghiraukan tatapan gadis-gadis itu. Seorang gadis mendekat dan menatapnya dengan malu-malu.
"Kamu kenapa?, apa kamu baik-baik saja?." Tanya gadis itu.
"Hn." Gumam Sora malas, dan duduk di kursinya tanpa memandang gadis itu lagi.
" O-oh kalau gitu aku balik dulu." Ujar gadis itu sedikit malu karena diacuhkan dan kembali kekursinya.
"Kamu ini kasian dia, yaudah oplas geh sana biar rada jelekan." Ujar Gilin.
"Sehat?." Tanya Sora malas.
"Sakit, ya sehatlah anji…mmmmmp." Ujar Gilin dan langsung di bekap oleh Sora.
"Nggak usah di terusin!, gue males dengerin penjelasan lo tentang Zoo." Ujar Sora malas melepaskan bekapannya dan mengusap telapak tangannya ke tangan baju Gilin.
Gilin menatap tindakan Sora yang begitu dan mendengus kesal. mendekat dan membuat tindakan hendak menncium, Sora mendengus dan mendorong wajah Gilin dengan tangannya. Gilin tertawa dan kembali duduk dengan tenang.
"Sakit lo?." Tanya Sora kesal.
"Ish jahat bener dah lu, itu kepala kenapa lagi, masokis bener dah, kemarin tangan sekarang dahi." Ujar Gilin.
"Gue bukan masokis." Ujar Sora datar.
"Terus kenapa?, jatuh dari kamar mandi atau lo nabrak tembok?." Tanya Gilin.
"Dah lah masalah kecil." Ujar Sora.
"Oh iya mau ikut nggak bamtuin gue investigasi lagi, yakin deh gue jajanin minum es." Ujar Gilin.
"Nggak modal amat lu, nggak bisa gue mau bantuin kakak gue, kemarin dia bantuin gue jadi gue mau balas budi." Ujar Sora datar.
"Yaelah itu kakak lo goblok, lu tuh kayak hidup sendiri aja." Ujar Gilin.
"Hn." Gumam Sora.
"Yaudahlah, sayang banget es coffe." Ujar Gilin.
"Bodo amat." Ujar Sora.
"Iya yang kaya mah cemilannya juga emas." Ujar Gilin.
"Terserah lu lah mau ngomong apaan gue nggak peduli." Ujar malas Sora.
Keduanya diam, saat bel pelajaran berbunyi namun tak ada juga guru yang datang, ketua kelas yang sigap dan banyak di benci murid kelas karena terlalu ketat itu pergi menuju kantor dan menemui guru yang mengajar. Kembali lagi dengan buku pelajaran dari sang guru dan meminta sekertaris kelas menulis materi tersebut. Meski begitu banyak dari mereka yang masih mengobrol sambil menulis. Sora hanya fokus menulis materi
menghiraukan manusia disampingnya yang terus berceloteh melafalkan dasar hukum, membuatnya seperti mendengar nyamuk yang terbang diantara kepalanya.
"Diam!." Ujar Sora datar.
"Keluar juga tuh." Balas Gilin.
"Bisa nggak diem lu tuh nulis aja masih banyak coretannya, sok-sokan ngafal lagi." Ujar Sora.
"Lu meningan nggak usah komen deh." Ujar Gilin.
"Hn." Gumam Sora tak peduli.
Setelah sekertaris itu selesai menulis dan ketua kelas itu selesai menulis merapihkan tasnya dan mengambil buku pelajaran guru tersebut untuk dikembalikan. Semua murid kelas menatap aneh hal itu.
"Mau kemana lu?." Tanya siswa.
"Pulang, hari ini free karena guru rapat." Ujar ketua kelas itu santai dan kembali berjalan meninggalkan kelas. Semua menatapnya dengan pandangan kesal.
"Nih orang ngajak ribut emang." Ujar sekertaris yang sudah capek menulis.
"Awas aja, dasar ketua yang sok." Ujar yang lain menggerutu.
"Bener-bener badas dah tu ketua, nggak takut di pukulin anak kelas apa." Ujar Gilin kesal.
"Semau dia lah, gue balik duluan." Ujar Sora.
"Ya baek-baek lu bawa motornya." Ujar Gilin dan di tanggapi dengan gumaman Sora.
Sesampainya di kantor sang kakak yang menghabiskan setengah jam perjalanan, Sora masuk dan menunjukan kartunya untuk mengakses agar ia dengan mudah masuk. Menuju ruangan sang kakak, Sora yang terlihat baru di kantor menjadi tatapan semua orang, tampilan santainya yang kalem membuat beberapa orang tertarik dengannya. Saat masuk kekantor kakaknya tanpa mengetuk membuat sang kakak menoleh dengan tajam kearahnya.
"Ngapain kesini?, bukannya sekolah!?." Ujar Suran heran.
"Free." Ujar Sora malas.
"Lah terus?." Tanya sang kakak datar.
__ADS_1
"Bantuin lu." Ujar Sora malas.
"Nggak usah, dah sana pulang main sama tanah liat aja sana!." Ujar Suran.
"Gue niat." Ujar Sora datar, mengambil sebagian dokumen di atas meja dan membawanya ke meja kopi dan ia sendiri duduk si sofa.
"Liat baik-baik!." Ujar Suran.
"Hn." Gumam Sora malas.
Keduanya kembali sunyi dan sibuk memindai dokumen yang di pegang masing-masing. Sora menandai beberapa kata di dokumen-dokumen itu, pintu kembali di ketuk dan Suran mempersilahkan untuk masuk, sekertaris itu masuk dengan tumpukan dokumen di tangannya.
"Bos ini dari deperten pemasaran dan depertemen pengelolaan." Ujar sekertaris itu, melirik Sora orang baru baginya dan kembali menatap sang bos.
"Hn, taruh sebagian di sini dan sebagian berikan padanya!." Ujar Suran.
"Baik bos." Sekertaris itu memberikan sebagian dokumen itu pada meja bos dan berjalan kearah Sora meletakan dokumen itu di meja kopi. Sora tak peduli dengan kehadiran orang luar hanya fokus pada pekerjaannya.
"Kamu ambilkan beberapa makanan ringan dan segelas jus jeruk, dan kopi." Ujar Suran.
Sekertaris itu mengangguk dan pamit pergi. Sekertaris itu kembali lagi dengan hal yang di minta Suran. Dan beranjak pergi dari ruangan itu, Suran meminum kopinya dengan perlahan, meletakan kembali ke kopi itu dan mengambil kembali dokumen yang setengah di bacanya. Melirik Sora yang tak menyentuh minuman maupun makanannya, dan sibuk menandai dokumen itu.
"Sebentar lagi makan siang!, kamu mau makan apa?." Tanya Suran.
"Terserah." Ujar Sora.
"Yakin?." Tanya Suran.
"Hn." Gumam Sora selebihnya tak peduli.
Sora yang merasakan gerah melepaskan sweaternya dan nampaklah seragam sekolah yang tersembunyi di balik sweeter itu. Satu jam berlalu dan sekertaris itu kembali masuk dengan makanan, meletakan itu di meja tempat Sora, dan kembali pergi. Suran beranjak dari kursi kerjanya duduk di samping Sora. Meletakan dokumen-dokumen itu ke samping meja, membaginya menjadi dua, antara yang sudah dan belum di pindai. Menarik dokumen dari tangan Sora dan mendekatkan piring makanan tersebut. Bocah ini terbiasa di peringatkan, dan tak sadar diri untuk menjaga diri, dan makan teratur. Sora meletakan penanya dan mengambil tisu basah yang ada di meja itu dan mengambil sendok dan makananya mulai makan.
Setengah jam istirahat Sora habiskan menatap ponselnya ponselnya Setelah makan. Sedangkan Suran yang dasarnya tak memiliki hal lain kembali bekerja setelah makan. Dan sedikit santai untuk menatap ponselnya sesekali. Pintu di ketuk di luar, Suran memepersilahkan masuk, sekertaris itu masuk dengan tiga pria berpakaian formal, ketiga
pria itu masuk dan duduk dengan santai di sofa yang ada di samping Sora, sekertaris itu mengambil nampan bekas itu dan merapikan piring-piring itu agar mudah di bawanya. Tak lama kembali dengan tiga cangkir teh untuk tiga pria itu, dan kembali pamit pergi. Ketiga pria itu menatap Sora dengan pandangan heran, lalu menatap Suran yang kini berjalan ke sofa yang di tempati Sora. Menatap ketiga pria yang seumuran dengannya dengan pandangan datar. Salah satu pria dengan jas krim menyeringai pada Suran.
"Ada apa dengan mu Sun?." Tanya malas Suran menatap temannya itu dengan pandangan biasanya datar.
"Aku tak menyangka kamu akan bermain dengan hal seperti ini!, pantas saja kamu sering menolak wanita. Dan juga kamu sangat protektive membawa masuk orang mu." Ujar Sun.
"Aku tak menyangka." Ujar pria dengan jas hitam yang terlihat bagus dan di setrika licin.
"Apa-apaan kalian." Malas Suran.
Ketiga pria itu memiliki wajah yang menarik bagi wanita dan mungkin juga laki-laki karena ketampanan mereka, pria bernama Sun lebih memiliki tampang play boy yang terkenal dikalangan wanita. Pria dengan jas hitam adalah pria kalem namun juga orang yang romantis. Pria dengan jas abu-abu itu tipikal sama dengan Suran, namun orang ini lebih dingin dan juga paling penyendiri.
"Kamu bodoh bertanya seperti ini pada Onix." Ujar Sun.
"Lalu?." Tanya pria itu.
"Sun, Dean hentikan omong kosong kalian!." Ujar Suran malas.
"Adik tampan apa kamu sangat menyukai Suran?." Tanya Sun.
Sora melirik orang bodoh itu dengan pandangan datarnya, bukan salahnya juga jika ia kasar. "Menyukai pantat ku?!." Dingin Sora.
"Hei." Protes Sun.
"Teman-teman mu tak punya otak?, bilang jangan mengganggu ku!." Ujar Sora dingin.
"Galak sekali!, tapi aku suka." Ujar Dean.
"Kamu pulang saja, lagian tinggal sedikit." Ujar Suran melihat dokumen yang belum di pindai Sora yang hanya tinggal beberpa.
"Tanggung." Ujar Sora, meletakan ponselnya di atas dokumen yang belum di periksa, dan mengambil penanya.
Beranjak dari sofa dan duduk di kursi kerja Suran. Suran hanya menghela nafas kecil menatap dua temannya itu tajam,dan menatap kembali seperti biasa.
"Ada apa kalian kesini?." Tanya Suran.
"Kami ingin menggunakan jasa mu untuk menghancurkan orang ini!, dia audah sangat mengganggu mata dan juga menyinggung pekerjaan kami, tapi hati-hati dengan orang ini karena dia juga sepertinya terhubung dalam organisasi gelap." Ujar Dean.
"Kamu juga Onix?." Tanya Suran.
"Hm, dia menggunakan orang bawah untuk mencelakai ku." Ujar Onix datar.
"Aku akan memanggil Ranan!." Ujar Suran.
Ketiganya mengangguk dan kembali santai, Suran menghubungi Ranan agar datang kekantornya dan ditanggapi Ranan, karena kebetulan juga ia sedang berada di dekat daerah ini. Setelah lima belas menit menunggu Ranan datang, duduk di samping sang kakak dan membahas masalah tersebut dan di setujui oleh Ranan. Sebenarnya ketiganya sedikit kurang percaya karena ada orang luar, yaitu Sora, ketiganya belum tahu siapa Sora. Ranan beranjak bankit, melihat kemeja Suran yang duduk seseorang yang aneh baginya, ya aneh mengapa bocah itu duduk dan membaca dokumen di sana. Ranan menyeringai, memang dasarnya dia suka mengganggu Sora. Suran melirik Ranan dan memutar bola matanya malas, dua anak ini tetap saja, mau di manapun itu akan tetap sama.
"Kenapa di sini?, bosan bermain dengan tanah liat huh?." Ujar Ranan.
__ADS_1
"Bukan urusan mu!." Datar Sora.
"Belajar jadi bos huh?, jika bosan bagaimana ikut dengan ku?." Tanya Ranan.
Sora melirik kakaknya itu datar dan kembali menatap dokumennya, "Ikut dan menggantikan mu?, aku belum siap menyiapkan kuburan yang bagus untuk mu!, aku belum memilih tanah yang cocok untuk mu!." Ujar Sora datar.
"Bajingan!, siapa yang menyuruh mu menggantikan ku!." Ujar kesal Ranan.
Ketiganya mentap aneh pemuda itu, cukup berani menentang Ranan yang mereka ketahui cukup kejam. Pemuda itu benar-benar tak takut mati, meskipun itu bagus untuk memiliki keberanian seperti itu, tapi juga harus mengukur kemampuan.
"Kamu memintanya." Datar Sora.
"Aku benar-benar ingin memasukan mu kedalam kuburan." Ujar Ranan.
"Lakukan saja!, seperti kamu bisa?." Ujar Sora malas melemparkan penanya ke arah wajah Ranan. Seperti biasa pula Ranan menghindar.
"Kalian berdua lebih baik kembali dan jangan membuat kekacauan di kantor ku!." Ujar Suran datar. Tak peduli dengan tatapan dua pria yang menatapnya tanya.
"Ayo pulang aku akan mengantar mu!, cepat!." Ujar Ranan.
"Malas." Ujar Sora, menyandarkan punggungnya kepunggung kursi itu dan melipat kakinya, benar-benar santai.
"Pulang tidak?, kamu juga di sini untuk apa?!." Ujar Ranan.
"Kamu tuli?." Ujar Sora malas.
"Jangan harap aku akan membela mu." Ujar Ranan kembali duduk di samping Suran, mengambil dokumen dan melihat. "Apa ini WTF?." Ujar Ranan mengalihkan dokumen itu ke Suran.
"What The ****!." Ujar Sora datar.
"Aku tahu, kenapa kamu menulisnya di sini?." Ujar Suran menunjuk kata yang terdapat di dokumen itu.
"Bilang bawahan mu menulis dengan tepat!, apa dia tak sekolah?!." Datar Sora.
"Jika dia menjadi bos perusahaan aku yakin bawahannya tak akan bertahan lama." Ujar Ranan dengan dengusan.
"Bukan urusan mu juga." Ujar Sora malas.
"Besok-besok jika dia di hukum biar kamu yang mengobatinya, dia akan membalas budi padamu." Ujar Suran datar, menatap Sora yang kini sibuk dengan ponselnya.
"Perhatian sekali dirimu." Ujar Sun.
"Dia adik ku." Datar Suran.
"Jika adik mu jadi aku, dia pasti sangat terharu." Ujar Sun.
"Ndasmu." Ujar Sora datar.
"Sora!." Ujar Suran datar, bocah ini sungguh merajalela membuat kesal orang.
"Apa?." Malas Sora.
Sunyi, Onix menatap pemuda itu dengan pandangan datar namun tersirat ketertarikan yang dalam. Semua orang tak menyadari tatapan itu karena sang empunya pandai bersembunyi. Sora melirik sekilas dan tak peduli lagi pada pria yang memiliki pandangan dingin itu. Pria ini sama berbahanya dengan seorang pembunuh, licik dan pandai bersembunyi. Membalas pesan yang di berikan Gilin yang memintanya untuk melanjutkan penyelidikan bersamanya. Membalas pesan itu dan meminta untuk memohon padanya, benar saja temannya itu menuliskan kata dengan kata yang imut membuatnya menyeringai kecil. Sora beranjak dari kursi kerja Suran mendekat kearah Ranan, mendorong Ranan begitu saja dan mengambil sweeter dan tasnya berlalu pergi.
"Semangat bener." Ujar Ranan beranjak dari tempatnya dan keluar setelah Sora.
"Benar-benar adikmu?." Tanya Dean.
"Ya, yang termuda, dan yang paling susuah di atur." Ujar Suran datar menatap kepergian kedua adiknya.
"Benar-benar badas, tapi chat dengan siapa dia sebegitu tertariknya?." Tanya Dean.
"Kamu bodoh tentu saja dengan pacarnya, anak muda sekarang kan sudah menjalani masa pacaran yang romantis." Ujar Sun.
"Kalian berhenti mengada-ada." Ujar Suran datar, "Lihat tong sampah ku di samping pintu, anak itu membuang semua surat cinta gadis-gadis sekolah, lagipula dia tidak tertarik dengan hal itu, dia hanya mengurung diri di kamar dengan patung dan alat ukirnya. Mungkin bocah itu yang menghubunginya membuatnya senang." Ujar Suran.
"Siapa orang itu?, itu sama saja dia tertarik dengan seseorang." Ujar Sun kesal, ingin rasanya memukul temannya itu.
"Temannya, yah mungkin hal itu terjadi, tapi bagaiaman waktu menentukan." Ujar Suran datar.
Suran mengambil dokumen yang Sora lihat untuknya, menyeringai kecil dengan kelakuan bocah menyebalakan itu, menulis kritikan kasar di kertas dokumennya. Anak ini terlalu OCD, bahakan satu kata salah saja ia kritik. Onix menatap Suran yang terlihat santai dan sedikit terhibur sepertinya pun mengambil salah satu dokumen di atas meja itu.
"Dia benar-benar mengkritik dengan baik, sesuai selera mu bukan?!." Ujar Onix melirik sekilas Suran dan kembali menatap tulisan yang menurutnya unik, pemuda itu memiliki tulisan yang bagus.
"Hn." Gumam Suran.
"Adikmu pandai mengelola perusahaan juga?!." Tanya Dean.
"Hm, dia sangat membantu, terutama mendiam kan An." Ujar Suran.
"Itu benar-benar membantu." Ujar Sun.
__ADS_1
...Tbc....