
Bibir diam membisu, tetapi pikiran begitu ramai. Itulah yang dirasakan lelaki remaja SMA yang diketahui dari seragam putih abu-abunya. Ia menjadikan gedung terbengkalai untuk pelarian sementara kala ia sedang banyak masalah.
Dering telepon berkali-kali ia biarkan begitu saja hingga sang penelepon lelah tak mengulanginya lagi.
Lelaki itu menyandarkan tubuhnya lalu menyalakan korek api, mencoba sebatang rokok yang kata orang-orang bisa membuat seseorang menjadi tenang, tetapi kenyataanya tidak. Bukan menjadikannya tenang malah membuatnya menjadi terbatuk-batuk.
"Uhuk-uhuk! Kaya gini kok pada dibeli sih! Tau gini mending buat beli makan si Tako!"
Lelaki itu hanya bisa ngedumel karena menyesal membeli rokok yang baginya tak ada gunanya sama sekali. Namun, ia pun terkejut ketika mendengar suara pintu terbuka yang sudah dipastikan ada orang masuk kedalam tempat pelariannya ini.
Dengan refleks ia mengintip ke arah pintu, dan kagetnya ia melihat seseorang tengah berlari ke arahnya.
"WOY SIAPA LO!" teriaknya saat zona nyamannya merasa terancam.
"Syuuuttt! Please, diem sebentar!"
"Lo cewe?! Jangan bilang lo stalker gue?!"
"Syuuttt! Gue cuman numpang ngumpet sebentar!"
"Halah, boong kan Lo! Mending lo pulang aja sono, kali ini gue maafin! Gue lagi ngga mood buat nanggepin lo!"
"BRAKKK!!!"
Dobrakan pintu terdengar sangat jelas, membuat mereka berdua diam mematung. Banyak para laki-laki memasuki area gedung dan mulai menyebar seolah-olah sedang mencari seseorang.
Refleks, perempuan itu mendorong lelaki yang baru ditemuinya dan baru diketahui namanya dari dibajunya. "Kiki?" gumam perempuan itu.
"Woy lo ngapain diatas gue!" seru Kiki tak terima.
"Syuuttt, diemm!! Kalau kita ketahuan kita bakal celaka!" jelas perempuan itu.
"Da*nnn!!! Tubuh kita kenapa harus nempel sih!" Kiki hanya bisa mengumpat dalam hati sembari sesekali beristighfar.
"KRIIINGGGGG KRIIINGGGGG."
"Sh***!!"
Para lelaki bertubuh besar nan kekar itu pun mengarah ke sumber suara.
"Sial, pasti mereka kesini. Kiki, dengerin kata gue, lo sebisa mungkin keluar dari sini dan jangan balik lagi!" Perempuan itu pun mengambil sesuatu dari belakang punggungnya.
"Sorry gue ngga bisa ninggalin lo sendirian soalnya lo cewe anjir! Harga diri gue mau ditaroh mana kalau kaya gitu! Trus lo bisa ngga sih jangan banyak gerak!"
"Bacot! Kita ngga punya waktu! Lo pake ini!"
Mereka pun dengan cekatan berlari ke arah terpisah untuk membagi lawan. Perempuan itu pun berlari dan banyak diserang laki-laki berbadan lebih besar darinya.
__ADS_1
"BUK BUK BUK! DUAKK!
"BUAKK! BUAKK! BUAKK" Tinjuannya tak meleset, membuat beberapa lelaki menjadi tumbang.
Dengan tendangan satu putarannya ia langsung membuat lawan terakhirnya pingsan. Secara bersamaan tudung hoodienya yang menutupi kepala pun terbuka memperlihatkan rambut pirangnya yang di kucir satu.
Melihat lawannya sudah terkapar ia pun langsung berlari membantu lelaki yang ikut terseret masalahnya.
...****...
Kiki telah berusaha sekuat tenaga, tetapi kenyataanya ia tetap kalah karena dia sendirian. Ia sudah kehilangan tenaga yang akhirnya membuat dirinya banyak terkena pukulan.
'DUAKK!!'
Kiki terpana kagum menyaksikan perempuan berambut pirang bermasker dan ber-hoodie hitam yang telah menumbangkan pria berbadan besar dengan sekali tendangan melayang. Dan dalam hitungan menit lawan yang ia anggap susah dengan mudahnya dikalahkan perempuan itu.
"Awas!!!" teriak perempuan itu membuat Kiki menoleh ke belakang.
"DOR!" Suara tembak mengakhiri perlawanan hari ini.
Kiki terkejut dengan apa yang pertama kali ia lihat. Namun, ia bingung harus berterima kasih atau memarahi perempuan itu karena telah menembak orang yang hampir membunuh dirinya.
"Sebenernya lo siapa? Lo gila ya ngebunuh orang kaya gitu?!"
"Dia ngga bakal mati kecuali kehabisan darah disini! Sekarang mending lo pergi dari sini dan jangan balik lagi, kalau ngga lo bakal ikut mati disini!" jelas perempuan itu sembari membenarkan tudung hoodienya.
"Eh, tunggu!! Gue belum tau nama lo!"
Mendengar pertanyaan Kiki, perempuan itu menolehkan kepalanya kebelakang sembari berkata, "Roselyn." lalu kembali menatap lurus, kemudian berjalan waspada ke arah luar.
"Woy, tunggu!!! Gue mau-" Belum selesai berbicara dering telepon kembali terdengar kencang. Sedikit terkejut karena bukan lagi mamanya yang menelepon melainkan pembantunya yang ada dirumah.
"Halo?"
"Halo Den! Alhamdulillah diangkat, buruan Den kerumah sakit, nyonya pingsan jatuh dari tangga!."
"APA! KOK BISA?!"
"Aduh, Bibi juga ngga tau Den, taunya nyonya dah ngegeletak aja di bawah tangga!"
"Oke, sekarang Bibi di RS mana?"
"Di Rumah Sakit Mandaria, Den."
"Okay, Kiki bakal kesana sekarang!"
Dengan cepat Kiki berlari menuju samping gedung, mengeluarkan motor sport miliknya yang ia sembunyikan agar tidak ketahuan orang lain.
__ADS_1
Suara motor sport miliknya terdengar sangat kencang yang bisa dipastikan laju motornya juga kencang.
"Wah wah wah, ternyata ada yang bantu nona ya."
Pria berjas hitam tersenyum tipis melihat Kiki pergi menjauhi gedung itu. "Sayangnya aku tidak melihat rupamu anak muda tapi terima kasih."
Pria itu pun memasuki area gedung terbengkalai itu, ia pun melihat banyak sekali lelaki tumbang berserakan. "Pengawal! Seperti biasanya."
"Siap bos!"
Para pengawal pun mulai melakukan perintah, mereka menuangkan bensin ke seluruh gedung, bahkan tong berisi bensin yang dibawa mereka pun ditaruh ke beberapa tempat.
'DUARRR DUARR BOOM BOOM DUAR'
"Misi selesai, kita pulang!"
..._🌹🌹🌹_...
SMA JANDAH, merupakan salah satu SMA favorit di tempat itu. SMA JANDAH adalah singkatan dari SMA JAYA DAN INDAH, dengan visi dan misi menjadikan SMA menjadi jaya dengan siswa siswinya yang berprestasi, juga indah dari segi bangunan, lingkungan dan interaksi siswa siswinya.
Kiki yang setiap kali membaca tulisan itu sampai saat ini pun masih tercengang, memang cukup mengherankan. Namun, SMA JANDAH bisa diacungi jempol dengan lingkungannya yang asri dan lebih unggul dari SMA yang lain dalam bidang olahraga. "Seenggaknya jandah bukan janda."
"Emang kalau janda kenapa?"
Kiki tersontak mendengar pertanyaan itu, ia sudah bisa menebak siapa yang bertanya kepadanya.
"Bukannya janda lebih menggoda ya?!"
Kiki hanya bisa menghela nafasnya. "Udahlah, dari pada ngomongin janda mending buruan masuk kelas."
"Weh, jangan gitu dong, kita tunggu teman kita yang lain sambil liat ciwi ciwi, semenit aja!"
Kali ini Kiki tetap hanya bisa menghela nafas saja. Memang benar ia harus menunggu temannya yang lain tetapi ia sangat paham dengan sifat temannya yang satu ini. Ia tahu jika itu hanyalah alibi.
"Yo! Sorry telat! Dah nunggu lama ya?" tanya temannya yang baru saja datang.
"Ngga kok, santai aja, sekalian liat kakel pada cantik-cantik banget hari ini bro!"
"SKIP!"
"Ya udah ayo masuk, tadi si Leo udah duluan, dia malas jadi pusat perhatian."
"Eh eh ada cewe pada ribut tuh! Anj*rrr pada tampar-tamparan euy!"
Dengan cekatan mereka berlari, melerai siswi-siswi yang sedang berkelahi. Begitu mendekati kerumunan, Kiki merasa familiar dengan perempuan yang lebih mendominasi lawannya.
..._🌹🌹🌹🌹_...
__ADS_1