
Pagi ini Meisya bermalas-malasan, ia hanya merebah kesana kemari sembari menatap ponselnya. Ia hanya bisa menghela nafasnya melihat jam di smartphone nya, memperlihatkan pukul 10.00. "Boring banget."
Meisya menoleh ke arah ponselnya yang bergetar menandakan ada yang menelponnya. Ia melihat siapa yang berani menganggu dirinya yang sedang meratapi nasib. Alisnya terangkat kala melihat nama Dini di layar smartphone miliknya.
Meisya pun mengangkat panggilan dari Dini.
"Halo Meisya!"
"langsung intinya aja!" jelas Meisya setelah mendengar suara Dini yang sangat gembira.
"Itu, si Kiki ade kelas kita yang kemarin-"
"Gue kemarin dah bilang gue ngga mau tau tentang dia lagi sama gengnya, jadi jangan bahas mereka lagi!"
"Emm tapi ini penting!"
"Gue sibuk, thanks!"
"Mereka bantu kita, kita ngga dikeluarin dari sekolah! Kita terbukti ngga bersalah!"
Meisya terkejut, baru semalam mereka bertengkar, sekarang anak kecil yang songong itu membantunya.
"So, boleh ke sekolah sekarang?" tanya Meisya yang sudah rindu ruang melukis.
"Katanya ngga boleh masuk kelas, kalau mau sekolah udah telat juga."
Meisya pun mulai merapikan isi tasnya. "Kelas kan bukan sekolah?" Ia pun bergegas berganti baju tanpa mandi terlebih dahulu.
"Eh, maksudnya?" tanya Dini kebingungan.
"Ayo berangkat! Kita ketemuan di gerbang belakang!"
"Eh tapi kan-"
"Lo kangen perpus kan?"
"Iyaaa!"
Meisya tersenyum miring. "Rumah lo dimana?" tanya Meisya kala melihat motor sedang menganggur dirumah.
Dini yang bingung hanya ber hah hoh hah hoh doang, Meisya pun menyuruh Dini untuk mengirim lokasi rumahnya. "Gue jemput sekarang! Gue sampe situ lo harus udah selesai!" Meisya pun mematikan telepon dari Dini.
"Hai, Noka!" Meisya menyapa sambil mengelus-elus motor pemberian darinya untuk orang yang paling ia sayang.
......................
^^^Me:^^^
^^^Gue izin bawa motornya yaa^^^
Baby boy:
Oke, silahkan tuan putri
Jangan bikin dia lecet ya
^^^Me:^^^
^^^Oke!^^^
^^^Makasihh!^^^
Baby boy:
Giliran ada maunya manis bet
__ADS_1
Emng mau kemana??
......................
Meisya langsung memasukkan smartphone nya ke dalam tas tanpa membalas pesan orang tadi.
Sebelum izin ia sudah meminta alamat Dini, dan untung saja alamat rumah Dini searah dengan rumahnya.
...****...
Terlihat disamping jalan gadis dengan gaya rambutnya yang cepol membuat orang yang lewat merasa gemas dengan dirinya.
"Neng Dini mau ke sekolah? Mau saya anterin ngga?" tanya ojek keliling langganan Dini.
"Eh, makasih pak tapi ngga usah!" tolak Dini tersenyum.
"Ngga papa neng, karna neng pelanggan setia, kali ini gratis!" jelas ojek keliling yang dikenal bernama pak Sarjo.
"Hehe, makasih banyak ya pak tapi maaf banget ya pak saya bareng sama temen saya." tolak Dini secara halus dan sopan. "Kalau mau ngasih gratisan boleh hari lain deh pak, hehe."
"Ya sudah saya mau nyari penumpang lagi ya neng."
"Oh iya pak, silahkan, makasih pak."
Usai tukang ojek melenggang pergi Dini pun melihat lokasi Meisya yang dikirim waktu tadi, ternyata bentar lagi hampir sampai.
"BRUUUMMMMMMM!!!"
"BRUUUUMM"
"BRUMM"
Dini terkejut siapakah yang ada didepannya saat ini. Motor sport berwarna hitam begitupun yang mengendarai. Serba hitam.
Dini terkejut, ternyata Meisyalah yang mengendarai motor sport itu. "Meisya?" tanyanya memastikan, Meisya pun menutup matanya pelan lalu membukanya kembali yang menandakan benar.
"Ambil helm lo!"
Dini pun tersadar, ia pun kembali masuk ke dalam rumah mencari helm pink kesayangannya.
"Ngga sekalian make celana panjang?" tanya Meisya yang melihat rok Dini yang mini.
"Eh iya lupa!" Dini pun ingin berlari masuk ke dalam rumahnya tetapi Meisya menghentikan langkahnya.
"Dah, gue males nunggu lama. Pake ini buat nutupin!" Meisya memberikan jaketnya yang ada didalam tas.
Dini pun menalikan jaket Meisya untuk menutupi pahanya. Ia pun segera naik ke motor Meisya, merapikan jaket Meisya yang disengaja dipanjangin bagian depan bukan belakang.
"Pegangan!" suruh Meisya ke Dini. Meisya pun menyalakan mesin motornya.
"BRUMMM"
"BRUMMM"
"UDAH SIAP?"
"UDAH!"
Meisya pun melajukan motornya pelan. "BRUMMM!"
"BRUUUMMMMM!"
"BRUUUUMMMMMMMMMMMM!"
Namun semakin lama semakin kencang membuat Dini yang awalnya memegang baju Meisya menjadi memeluk Meisya karena takut jatuh. "Jangan mati sekarang ya Allah, hamba belum nikah, belum ngerasain nananinu!" ucap Dini dalam hati.
__ADS_1
...****...
"Untung aja kita ngga telat bikin laporan bro!" Bagas menghela nafas lega usai mendengar kakel imutnya itu hari ini ingin berangkat ke sekolah. Bagas pun bergoyang senang padahal sedang membawa tumpukan buku tugas anak kelas.
Kiki hanya diam seribu bahasa. Jujur, dia malu karena kejadian hari ini dirinya membantu kakak kelasnya yang katanya akan dikeluarkan nyatanya hanya di beri peringatan pertama dan diberi sanksi tak boleh masuk sekolah.
Masalahnya bukan itu, tetapi ia terlanjur marah-marah mengira Meisya kakak kelasnya itu dikeluarkan. Namun, ia tak menyesal karena ia telah membela yang benar. Ia hanya meluruskan semua permasalahan.
Kiki tersenyum tipis kala mengingat kakak kelasnya yang bernama Bella dan kedua temannya dihukum dan diberi sanksi tak boleh masuk sekolah selama seminggu. Ya, itu perbuatan Kiki, ia yang memintanya dengan semua bukti yang ia dapat sambil mengancam kepala sekolah membuat kepala sekolah tak bisa berkutik.
Kiki pun tersenyum lagi kala membayangkan kakak kelas itu berterima kasih di depannya.
"Ki!" panggil Bagas syok melihat Kiki berjalan sambil senyum-senyum sendiri. "Lo ngga kerasukan kan?" lanjutnya bertanya.
Kiki terkejut, mukanya begitu datar, ia melirik ke arah Bagas lalu meninggalkan Bagas yang malah bengong memperhatikan dia.
"Kiki!!!" terdengar suara gadis dari arah belakang. Sang pemilik namapun menoleh ke belakang, sebelum menolehpun Kiki sudah tau siapa yang memanggilnya.
"Hah, hah, hah, ini hah.. ngumpul tugas hah..."
"Ke Bagas." Kiki pun kembali berjalan tanpa menghiraukan teman sekelasnya itu yang bernama Cika.
Bagas yang melihat Cika terabaikan langsung tertawa renyah melihat ekspresi kesalnya Cika. "Makannya jangan gatel sama dia, mending sama aku aja!" genit Bagas sebelas duabelas dengan Cika.
"Idih! Najis!" sarkas Cika sembari menaruh kasar buku tugasnya di tumpukan paling atas.
Bagas semakin ketawa melihat wajah Cika yang kesal. "Ternyata manis juga tuh anak!"
Bagas pun kembali berjalan. Namun, ia berhenti ketika sadar ia kehilangan Kiki. "Loh, kemana tuh anak?"
...****...
Seperti biasa, sepulang sekolah Deva memasuki ruang seni dengan kunci yang diberikan oleh guru seni. Meskipun dia anak baru tetapi dia mendapat kepercayaan dari guru seninya. Ia malas mengikuti ekstrakulikuler melukis tetapi ia suka melukis di ruangan itu.
Ia terkejut kala melihat seseorang sedang melukis di dalam ruangan itu. Ia menoleh ke sekitar, tak ada siapapun kecuali dia dan yang ada didepannya saat ini. Penasarannya semakin menjadi membuat ia berani mendekati seseorang yang ada dibalik kanvas putih itu.
"Kak Meisya?" Jujur saja terbesit rasa senang dihatinya kala melihat Meisya ada depannya saat ini.
"Oh, hai!" sapa Meisya, tangannya dan matanya kembali fokus ke lukisannya.
"Bukannya besok ya boleh masuknya?"
"Oh, itu peraturan sekolah bukan gue." Meisya pun menaruh kuasnya, ia mulai memandang mata Deva. "By the way thanks ya, berkat lo sama temen-temen lo gue bisa masuk sekolah lebih cepet!"
Senyum tipis terlihat di wajah Meisya membuat jantung Deva berdetak lebih cepat. Deva tak tau apa yang dia rasakan saat ini, ia tak bisa berkutik sama sekali.
Meisya pun mengambil tasnya lalu bergegas pergi karena ia telah menyelesaikan lukisannya.
"Eh, lukisan lo ketinggalan!"
"Oh, iya, itu buat si kucing garong, tolong kasih ke dia, ucapan terima kasih dari gue."
"Kiki?"
"Siapa lagi kalau bukan dia yang sifatnya kaya kucing garong!"
Entah mengapa hati Deva terasa sakit, ia bertanya-tanya ada apa dengan hatinya saat ini.
"See you next time Deva!"
Tanpa sadar Deva tersenyum usai mendengar ucapan Meisya yang terakhir. Sadar Dev! ucap Deva kemudian mengalihkan penglihatan ke lukisan Meisya.
"Kiki yaaa." ucap Deva dengan tatapan seribu arti.
..._🌹🌹🌹🌹_...
__ADS_1