
"Kenapa kenaikan kelas harus di rolling sih kelasnya," keluh siswi berambut cokelat sepunggung. Ia tahu bahwa dirinya sangatlah susah untuk bergaul dengan orang baru. Sedangkan teman-temannya yang sewaktu masih kelas sebelumnya hanyalah memanfaatkan kepintarannya saja.
Ia hanya bisa berjalan memasuki kelasnya dengan kepala menunduk, terlihat murung? Ya, begitulah kenyataannya karena ia tahu bahwa sekarang nasibnya sedang tidak baik-baik saja. Sejak hari pertama ia masuk kelas XI MIPA 1 ia sudah di tandai dengan siswi primadona sekolah, dan siswi itu kerap kali melakukan perundungan kepadanya, siapapun tak berani melawannya, ia hanya bisa menangis dan menangis setiap harinya. Begitulah nasibnya.
"Halo, Andini!" Mendengar suara itu, sang pemilik nama pun mendongakkan kepalanya, badannya bergetar hebat.
"Kenapa Dini sayang? Takut ya?" tanya siswi yang diketahui dari name tag nya bernama Zoya Azahra.
"Kenapa takut? Kita kan ngga ngapa-ngapain." Dini semakin bergetar kala bahunya dipegang Arsila. Refleks Dini menghempaskan tangan Arsila dengan kencang.
"Oh, dah berani ngelawan ya!" Arsila pun menjambak rambut panjang Dini yang terurai. "Mau keliatan paling cantik makannya rambutnya di urai hah?!"
Dini memekik kesakitan, yang lain hanya menonton tak berani membantu, mereka tak mau berurusan dengan geng satu itu.
"Kenapa sih pagi-pagi buta udah pada ribut di depan kelas?!"
Seketika kaki Dini pun lemas kala matanya bertatapan dengan siswi yang paling cantik di SMA Jandah, bahkan kaka kelas kalah cantik dengannya.
"Oh, Elo yang bikin keributan?" tanya siswi yang kerap dipanggil Bella. Suaranya pelan namun banyak penekanan, seolah-olah Dini akan dihabisi kali ini.
"Wah, bandonya bagus banget!" puji bela usai mengambil bando milik Dini. Dini pun bergegas mengambilnya tetapi ia kalah tinggi dengan Bella.
"Jangan Bella! Bawa sini! Itu punya Dini! Itu pemberian dari mama Dini!"
"Oh dari mama!" Bella pun berseringai, kemudian mengisyaratkan kepada kedua temannya untuk menahan Dini.
"Lepasin!"
"Udah diem lo! Ngga usah bawel!"
"Andini.." panggil Bella bernada sembari tersenyum senang.
"JANGANNNN!!!" Teriak Dini membuat Arsila dan Zoya menutup mulut Dini rapat-rapat.
"Satu" 'Krak'
"Dua" 'Krak'
"Tiga" 'Krak'
Tak sadar air mata menetes membanjiri pipi Dini. Dengan sekuat tenaga Dini melepaskan diri dari Arsila dan Zoya. Lalu mengambil bandonya yang patah dilantai.
"Yuk, cabut!"
Nandini yang tersulut emosipun menyerang Bella dari belakang. Ia menendang Bella hingga tersungkur ke lantai.
"SI*L!" umpat Bella.
"LO KIRA GUE NGGA PUNYA NYALI! SINI MAJU LO ANJ**G! B*NGS*T KAYA KALIAN TUH NGGA PANTES SEKOLAH DISINI!"
Arsila dan Zoya pun mendekati Andini, dengan cepat mereka menyerang Dini dari dua arah. Dini sempat memukul wajah Sila namun tidak dengan Zoya.
__ADS_1
Dini pun memukuli Sila dan menjambak Sila dengan membabi buta. Zoya pun mencari cara untuk menahan tangan Dini, ia pun menjambak rambut Dini sangat kencang membuat Dini melepaskan pukulannya ke Sila.
Dengan cepat Bella menghampiri Dini, satu tamparan terdengar jelas di sepanjang koridor. Bella pun melayangkan tangannya berkali-kali ke pipi mulus Dini. Dini pun menangis kesakitan.
"TOLONGGG! SAKITTT! HUWAAA!"
"TAU LO SAKIT! MAKANNYA JANGAN BERANI -BERANINYA LO BERURUSAN SAMA GUE!"
Bella yang belum puas pun ingin melayangkan kembali tangannya. Namun, seseorang menahan tangannya. Ia pun menoleh ke samping untuk melihat orang yang berani menahannya.
"Berapa pukulan?" tanya siswi berambut sebahu kepada Dini.
Dini pun kaget melihat wajah orang yang sering dibicarakan teman-temannya waktu masih kelas sepuluh. 'orang aneh' itulah sebutan dari teman-temannya. Ia masih ingat bahwa orang itu bernama Meisya.
"Lo di tampar berapa pukulan?" tanyanya lagi masih tetap menahan tangan Bella.
"Woy lepasin gue!" Bella dengan sekuat tenaga melepaskan tangannya dari genggaman Meisya tapi ia benar-benar kalah kuat dengan Meisya. Ia merasa sedikit ketakutan. Bella hanya bisa melotot ke arah Dini agar Dini tidak memberitahukannya.
"Berapa?"
"Kutu Buku, Lo ngga usah ikut campur ya! Mending Lo baca buku di perpustakaan sono!"
"Ngga usah takut. Berapa kali?"
"A-A-A ngga tau!" jawab Dini takut Bella nambah beringas kepadanya.
"Oh, sepuluh!"
"Aaaaaaaghhh" teriak Bella kesakitan, baru sekali tetapi sangat terasa sekali.
'Plak' "Satu setengah!"
Meski banyak perlawanan dari Bella, Meisya tetap bisa menamparnya sembari menahan kedua tangan Bella.
Dini tak tinggal diam, ia mencoba melepaskan diri dari Zoya yang akhirnya berhasil, ia pun membalas Zoya dan menahannya agar Zoya tak bisa membantu Bella.
'plak' "Tiga"
'plak' "Tiga setengah"
"Arghhh, lepasin!"
Bella pun sempat terlepas dari Meisya, tetapi Meisya malah dengan gampang menjatuhkan Bella hingga tersungkur dilantai. Meisya pun menduduki badan Bella lalu melanjutkan aksinya yang belum selesai, bahkan lebih mudah sekarang.
Bella yang ingin melawan ia tak bisa menjambak rambut Meisya karena tangannya dikunci dengan kaki Meisya. Bella pun berteriak kesakitan, ujung bibirnya pecah, bahkan darah mengalir dari bibirnya.
"tujuh" 'plak'
"Tujuh set-" Meisya melihat kearah tangannya yang melayang. Siapa yang berani memberhentikannya.
"Cukup! Lo ngga boleh ngebully temen lo sendiri!"
__ADS_1
Meisya pun membaca name tag lelaki itu. "Dia bukan temen gue!" tatap Meisya seperti ingin membunuh Bella. Bella pun pingsan setelah Meisya terpaksa menyelesaikan aksinya.
"Lo ikut gue!"
"Kemana?"
"Lo tau kan kalau pembullyan itu dilarang disekolah! Jadi kita ke BK!"
"Bro! mending ke UKS dulu, mereka harus di obatin dulu."
Melihat luka memar yang ada ditangan perempuan itu membuat lelaki itu menghela napasnya.
"Oke, UKS!"
...****...
Usai diobati Dini berjalan mendekati Meisya yang tengah melihat pemandangan diluar lewat kaca. Ia ikut duduk disebelah Meisya.
"Emmm, anu, makasih ya Meisya! Tanpa Meisya pasti tadi Dini ngga bakal bisa menang dari mereka. Makasih ya!" ucap Dini tulus.
Meisya pun menoleh ke arah Dini, ia melihat Dini menundukkan kepalanya sambil memegang bandonya yang rusak. "Lain kali lawan. Jangan mau jadi boneka mereka," ucapnya sembari menolehkan pandangannya kembali.
"Tapii.. Dini takut!"
"Jangan takut, kalau lo takut lo bakal jadi boneka mereka selama lo masih disekolah ini."
Dini termenung memikirkan perkataan Meisya, ya apa yang dikatakan Meisya itu ada benarnya juga. "Meisya, apa Meisya mau jadi teman Dini?" Entah angin dari mana Dini mendapat keberanian untuk berkata seperti itu, dirinya pun terkejut dengan ucapan spontannya. "Ah, anu, kalau Meisya ngga mau juga ngga papa."
Meisya pun menolehkan wajahnya ke arah Dini, kini ia bisa melihat wajah Dini. Dari matanya, Meisya bisa melihat ketulusan Andini. "Sorry, gue ngga bisa. Lebih baik lo jangan deket sama gue."
Dini tersenyum pahit, ia tau kalau permintaannya sudah pasti ditolak. "Iya ngga papa kalau Meisya ngga mau. Maaf ya, tadi Dini refleks minta berteman mungkin karna Dini ngga punya teman sama sekali terus cuma Meisya yang peduli sama Dini. Entah kenapa Dini jadi punya keberanian buat bilang ke Meisya."
Bohong jika Meisya selama ini tidak memperhatikan Dini. Dari awal masuk mereka sekelas, tetapi Andini mempunyai banyak teman. Namun, semenjak kenaikan kelas mereka sudah tidak bersama Dini lagi. "Temen lo waktu dulu pada kemana?"
Dini terkejut, orang secuek Meisya ternyata memperhatikan dia. "Mereka cuma manfaatin Dini. Waktu Dini masih kaya mereka dekat sama Dini, trus setiap ada tugas pasti mereka liat jawaban punya Dini. Sekarang giliran Dini lagi susah, trus di bully sama gengnya Bella ngga ada satu orang pun yang bantu Dini. Yah, karena sekarang beda kelas juga mungkin jadi mau manfaatin Dini pun susah, guru yang ngajar juga ada yang beda pasti tugasnya juga beda."
Meisya hanya bisa diam, ia tak tahu harus merespon bagaimana. Ia juga sekarang berpikir apakah ia harus mempertimbangkan permintaan Dini karena ia tau Dini juga adalah orang baik.
"Oh iya, Dini minta maaf ya udah ngira kalau Meisya itu orang jahat. Tapi kenyataannya Meisya yang berani nolong Dini. Sekali lagi makasih ya Meisya." Tampak senyum tulus terlukis di wajah Dini, meskipun banyak memar di pipinya tak mengurangi keimutannya.
'Krieett'
"Kalian berdua sekarang ikut ibu ke ruang BK! Bella sama temen-temennya udah habis dari ruang BK."
"Baik, Bu!" jawab mereka kompak.
"Ayo Meisya!" ajak Dini yang ingin bergegas duluan. Namun, ia berhenti kala Meisya menahannya. "Gue mau jadi temen lo asalkan lo bisa kasih tau info tentang cowo-cowo yang ngelaporin kita tadi."
"Okay! Siapp!!!"
..._🌹🌹🌹🌹_...
__ADS_1