
Gadis cantik berambut pirang kini telah mengubah warna rambutnya menjadi warna cokelat. Hanya karena kejadian kemarin membuat Roselyn berjaga-jaga untuk mengganti warna rambutnya.
"Kak Rose!"
Merasa terpanggil Rose pun menatap ke sumber suara melalui cermin besar yang ada di kamarnya, ya karena dia sedang berdiri di depan cerminnya.
"Kenapa?" tanya Rose seraya menyisir rambutnya yang telah berganti warna.
"Ngapain rambutnya di ganti warna? Masih kurang rambut pasangannya? Apa mau gue beliin lagi?"
"Ngga usah. Uangnya buat lo jajan aja atau ngga buat upgrade laptop kesayangan lo itu."
"Trus kenapa ganti warna? Udah bagus rambut kakak kaya gitu malah ganti warna."
"Kaya biasanya, kakak dikejar tapi bedanya kemarin ada yang tau rambut kakak."
"Emang ngga dibunuh?"
"Sialnya kakak kenal sama dia, kakak pernah punya hutang budi sama dia." Rose pun berganti posisi agar bisa berhadap-hadapan dengan adiknya. "Seenggaknya warna ini masih cocok buat kakak kan Nathan?" tanyanya sembari memamerkan rambutnya yang sedikit bergelombang ikal dibawahnya nan kemilau.
"Not bad."
Nathan pun pergi meninggalkan Rose yang masih girang dengan gaya rambutnya yang baru. Kadang Nathan heran, betapa bedanya sifat kakaknya sewaktu menyamar dan aslinya. "Waktu gini aja kek bochil polos ngga berdosa, giliran nyamar malah kaya psikopat tanpa tau namanya dosa." Nathan pun melirik kembali kedalam, ia masih melihat kakaknya yang berias diri di depan cermin. Melihat kakaknya riang membuat hatinya juga senang. "Seenggaknya gue masih bisa liat senyumnya itu. Entah tulus apa engga satu orang pun ngga boleh renggut senyumnya yang udah lama hilang itu."
Rose yang tau Nathan sudah kembali ke kamarnya, ia pun menutup pintu kamarnya. Ia kembali merebahkan diri ke kasur yang sudah lama ia tinggal.
Rose hanya berpura-pura riang agar Nathan tidak khawatir dengan dirinya. Ia takut jika Nathan tau maka dirinya tidak diperbolehkan untuk kerja part time lagi.
'Kring-kring'
"Udah dapat infonya!"
"It's okay no problem, buruan kirim."
Rose pun mematikan ponselnya, kemudian melihat pesan yang dikirimi oleh seseorang.
"Kayanya bakal seru!" ucapnya tersenyum penuh arti saat membaca informasi yang ia dapatkan.
__ADS_1
...****...
Malam indah dengan lampu kota yang terang benderang tetapi tidak dengan jalan lalu lintas yang dipadati oleh kendaraan beroda empat dan dua.
"Ck" decak Kiki kesal karena terkena lampu merah alias macet.
"Sabar aja Ki, lagian nyokap lo disono aman-aman aja," ungkap Deva teman Kiki.
Kiki tidak sendirian melainkan bersama ketiga sahabatnya, yaitu Deva, Leo dan Bagas. Ya, kali ini Kiki tidak membawa motor sport melainkan Mobil Alphard milik mamanya.
Awalnya Kiki hanya ingin sendiri menjemput mamanya yang masih di Rumah Sakit. Namun, ketiga sahabatnya itu ingin juga menjemput sekaligus menjenguk mamanya, yah meskipun telat.
"Tante Lauren beneran udah boleh dibawa pulang Ki?" tanya Leo jika mengingat apa yang diceritakan Kiki kemungkinan besar Lauren akan dirawat kembali.
"Kata dokternya gitu sih, katanya nyokap gue penyembuhan dirinya cepet banget." Kiki juga berpikir sama dengan Leo, tetapi ia juga berharap apa yang dikatakan dokter itu benar.
Sesampainya di tujuan, mereka pun keluar dari mobil. Kiki pun mengunci mobilnya lalu berjalan paling terakhir. Hingga sampai di depan lift saat melihat dua sahabatnya ia menyadari sesuatu. "Loh, Bagas mana?"
"ck!" decak Kiki malas kembali lagi ke tempat parkir.
"Biar gue aja, lo sama Deva duluan!" Leo pun segera berlari menuju arah parkiran. Ia takut jika sepupunya kenapa-napa.
"Lo ngga papa?" tanya Leo khawatir.
Bagas pun hanya memberikan jempol karena ia masih ingin mengatur napasnya.
"Kenapa ngga telpon?" tanya Leo lagi.
Usai mengatur pernafasan Bagas pun menjawabnya, "Smartphone gue habis baterai, jadi gue ngga bisa nelpon."
"Makannya kalau hobi tidur tuh duduknya pinggir sopir, ini mah malah tidur paling belakang." Yah meskipun banyak orang yang bilang Leo cuek dan dingin tetapi tidak bagi para sahabatnya. Kadang kala Leo memperlihatkan sifat pedulinya yang berbeda dari biasanya. Namun, memang caranya juga berbeda.
"Iya iya,"
"Kalau gue tadi telat lo bakal mati kehabisan oksigen tadi."
"Seenggaknya gue ngga mati, yah tapi tangan gue sakit buat ninju kaca mobil tadi."
__ADS_1
Leo pun melihat tangan sepupunya memar memar, kemudian melihat kaca mobil yang sama sekali tidak ada retakan. "Lemah!" julidnya seraya berbalik badan meninggal Bagas.
"Woy! Bantuin gue bangun dulu kek!"
Leo pun kembali ke arah Bagas. "Kunci mobilnya." ucapnya usai memberikan smart key mobil itu, kemudian berjalan kembali tanpa membantu Bagas sama sekali.
...****...
Benar apa yang dikatakan Leo, dokter menyarankan Lauren untuk dirawat kembali karena Lauren pingsan kembali.
Kiki pun duduk sembari menggenggam tangan wanita yang sangat ia sayangi. "Maafin Kiki Ma!" ucapnya lirih.
Melihat Kiki seperti itu, membuat Deva menjauh tak ingin mengganggu, ia pun menyalakan televisi dengan suara paling kecil.
Deva terkejut dengan siaran televisi yang langsung menyorot berita kebakaran. Pasalnya kebakaran itu terletak digedung yang tak jauh dari sekolahannya.
Deva berpikir. Mendengar kalau dugaan terjadinya kebakaran itu dikarenakan sulutan api yang membakar bahan yang cepat terbakar disana, sedangkan ia pernah kesana tidak ada apapun didalamnya, bahkan aman waktu Bagas merokok.
"Kenapa bengong?" Deva terkejut kala Kiki menepuk pundaknya.
"Liat aja berita!" tunjuknya menuju ke arah televisi.
DEG! Kiki diam mematung pasalnya ia tau kemarin ia baru dari sana dan terjadi perkelahian bukan kebakaran.
Seribu kata telah melintas kesana kemari di otak Kiki yang kecil daripada tubuhnya. Kini ia ikut fokus mendengarkan berita yang kurang masuk akal untuknya.
"Gue pernah kesana tapi ngga ada bahan yang mudah terbakar. Bukannya ini aneh ya?" Deva pun akhirnya membagikan beban pikirannya kepada Kiki.
Kiki juga baru teringat ia pernah mencoba merokok disana tetapi tidak terjadi apa-apa. "Kalau omongan lo bener berarti emang ngga masuk akal, kalau juga konsleting listrik disitu dah ngga ada saluran listrik. Btw, waktu kapan lo kesana?"
"Seminggu yang lalu bareng si Bagas."
Kiki akhirnya kembali mengingat kejadian kala itu. Ia pun mengingat kata-kata gadis yang bertemu dengannya.
"Sekarang mending lo pergi dari sini dan jangan balik lagi, kalau ngga lo bakal ikut mati disini!"
Kiki berpikir kemungkinan besar itu yang dimaksud oleh gadis itu, tetapi kenapa? Terus bagaimana dengan para laki-laki yang masih ada di dalam gedung? Apakah selamat atau masih di dalam gedung? Jadi itu maksud dia?! pikir Kiki masih bertanya-tanya.
__ADS_1
Roselyn, sebenernya lo siapa?!!
..._🌹🌹🌹🌹_...