
...~Bunga Tak Akan Tumbuh...
...Di Tanah Gersang ~...
...~Meisya Salsabila~...
Kiki berjalan gembira ria bersama Bagas, mereka melenggak-lenggokkan badannya dengan tempo yang sama. Leo dan Deva hanya mengekor dari kejauhan, jujur mereka malu dengan saat ini menjadi perhatian siswa siswi yang tengah pulang melewati lapangan.
"Pacarku memang dekat..." Bagas pun mengganti lagunya yang awalnya lagu pagi pulang pagi.
"ASEK!!!" sorak Kiki biar makin asik.
"Lima langkah dari kelas~" lanjut Bagas menyanyi.
"Uww!"
"Tak perlu kirim surat!"
"SMS JUGA NGGA USAHH!" teriak mereka berdua bernada kompak.
Deva yang melihat goyangan mereka berdua merasa sangat malu. "Untung pake masker." Leo pun mengangguki perkataan Deva yang menandakan ia juga setuju. Sebenernya mereka berdua sudah terbiasa dengan sifat dua temannya itu tetapi tidak untuk sekarang.
"Putus sarafnya dipending, let us go home!" Leo menyeret Bagas agar segara pulang sebelum Bagas dan Kiki berulah lebih memalukan.
"Wet! Wet! Woy! Tolongin gue Kii!!!" Bagas memberontak tetapi ia kalah tenaga dengan Leo.
"Ayo kakak Kiki ganteng! Kita pulang!" Kini giliran Deva membereskan Kiki. Kiki yang digandeng Deva dengan logat seperti lekong membuat Kiki bergidik merinding.
"LEPASIN ANJIRRR!!! GUE GELII!" Bulu kudu Kiki pun berdiri, ia bergidik merinding.
Deva pun ketawa setelah sukses menjahili Kiki. "Ayo pulang!" ajak Deva kini kembali bersuara normal tetapi sedikit menahan tawa, tangannya ia masukkan ke dalam sakunya.
Tanpa sadar mereka telah menjadi pusat perhatian kaum hawa. Banyak kaum hawa yang teriak-teriak kegirangan saat melihat senyum Deva yang kelewat manis. Ada juga yang terpana dengan wajah dingin Leo yang semakin tampan ketika menyeret Bagas. Bahkan ada yang ketawa sejak tadi melihat Bagas dan Kiki bergoyang ria hingga Bagas diseret Leo.
"Mereka berempat tuh lucu-lucu yaa, seneng deh liat adkel yang fresh gemesinn kaya ginii!!!"
"Yes, true that! Tapi gue suka yang dingin itu tu, katanya namanya Leo!"
"Oh iya benerr, katanya juga anak paling tampan sih diangkatannya. Tapi kalau gue lebih sukanya ama yang paling belakang itu tuh, mukanya tuh bikin gemes tauu!"
Meisya yang mendengarkan pergosipan itu pun sejak tadi melihat ke arah yang dimaksud. Dari Leo yang dingin hingga yang sekarang digosipkan yang paling gemesin.
Meisya mencari yang paling berada dibelakang, ternyata Kikilah yang digosipkan. Ia melihat Kiki tersenyum saat bercanda bersama teman-temannya. Mata mereka pun tak sengaja bertemu. Dengan kode tangan yang menunjuk ke arah lukisan membuat Meisya paham apa yang dimaksud Kiki. Ucapan terima kasih. Senyum Kiki begitu ngembang bak kue panggang.
"Eh dia senyum ke arah sini kan? Ke gue ya? Kyaaa manisss bangettt!!!" celoteh gadis yang ada dipinggir Meisya.
"Meisya, maaf ya lama!" Dini meminta maaf atas keterlambatannya. Dini melihat arah mata Meisya memandang. "Cie ciee!" ledeknya.
Tanpa membalas ecengan Dini, Meisya langsung melenggang pergi usai mengatakan, "Ayo pulang!"
"Meisya suka ya sama Kiki, cieee cieee!" ledek Dini sembari berjalan keluar bersama Meisya.
Meisya tak membalas perkataan Dini membuat Dini takut. Ia takut jika Meisya risih dan tak mau berteman dengannya. "Maaf ya kalau canda Dini bikin Meisya ngga nyaman." Pandangan mata Dini mulai melihat ke bawah.
__ADS_1
"Bunga tak akan tumbuh di tanah gersang!"
Dini tak paham apa maksud Meisya, Ia pun menghentikan langkahnya, ia mulai berpikir.
"Itu jawaban gue!" Meisya pun mulai meninggalkan Dini didepan gerbang sekolah.
Dini meratapi dirinya yang bodoh. "Dini hodoh!!! Ya Allah, emang punya teman satu aja ngga boleh ya?" tanya Dini mengeluarkan air matanya.
"BRUMMM BRUMMMM"
"Dini! Ayo!"
Dini terkejut, orang yang dipikirkannya kini ada didepannya, ia kira Meisya akan langsung pulang. "Meisya ngga marah sama Dini?" tanyanya.
"Ngga, tapi gue bakal marah kalau lo nangis lagi!"
Dini pun mengusap air matanya kasar, ia pun langsung naik ke motor sport hitam itu tanpa memedulikan pandangan disekitarnya.
"Nih, pake!" Meisya memberikan helm dan jaketnya ke Dini.
Mereka pun langsung pulang dengan motor laju sedang.
Sesampainya di depan rumah Dini, ia ingin menanyakan perihal yang tadi, ia pun menanyakannya, "Meisya, jawaban tadiii..."
"Itu jawaban gue dari pertanyaan lo tentang perasaan gue ke Kiki."
Dini pun lega, ia mengira itu jawaban untuk dirinya sendiri yang menyebalkan. Namun, ia juga bingung dan penasaran dengan maksud dari kalimat yang dilontarkan Meisya. Tak mau mengambil resiko ia hanya bisa diam tak bertanya lagi.
"Ah iya, makasih ya Meisya, hati-,hati aja dijalan!"
...****...
Berjalan perlahan mendekati air pantai. Ingin rasanya ikut terhanyut air dan menyatu bersama lautan. Namun, kakinya kaku untuk melangkah.
Mata sayu gadis cantik yang bernama Meisya ini memandang sampai manakah ujung air laut itu, namun ia hanya mendapati matahari terbenam diujung sana yang sungguh cantik sekali.
"Aku jadi teringat kamu."
Meisya teringat sosok laki-laki yang sering mengajak ke pantai itu, hal yang mereka suka dari pantai itu yaitu pantainya sepi pengunjung dan mereka bebas bermain bersama sepuasnya.
"Kalau kata orang cinta waktu masih kecil itu cinta monyet tapi kenapa sampe sekarang rasa itu masih ada?"
Angin kencang menerpa rambut cantiknya yang ia gerai. Meisya pun mulai berjalan kecil di tiap tepi pantai. Sampai akhirnya ia membuat istana pasir, ia membuat sepenuh hati dengan ingatan yang begitu melekat.
"Kak, ayo bikin istana dari pasir!"
"Siaappp, nanti kalau udah gede aku bakal bikin rumah istana buat kamu. Nanti kita tinggal bareng disana!"
"Janji yaa!"
"Iyaa, Janjiii!!!"
"Yeayyy!!!"
__ADS_1
tanpa sadar air matanya mengalir deras. "Sial!" ucapnya seraya mengusap air matanya.
Meisya pun menulis kata 'I MISS YOU' di pasir pantai. "Maafkan aku kak! Huhuhu!!! Gara-gara akuu! huhuhuuuu hiks! Maafkan aku!" tangisnya pecah kala mengingat tragedi kecelakaan itu. Cukup lama ia menangis hingga pengunjung lain yang melihatnya jadi kebingungan.
"ting!"
suara notifikasi terdengar jelas dibalik saku celananya. Meisya hanya mengacuhkannya ia masih ingin menenangkan diri. Bukan membalasnya ia malah menonaktifkan ponselnya.
"Permisi neng, ini ada pesanan buat neng dari temen neng."
"Dari siapa ya Bu?"
"Itu ada suratnya neng!"
"Makasih Bu, tapi ini buat Ibu aja. Saya kenyang!"
"Jangan gitu atuh neng, ngga baik loh nolak rezeki mah. Kata akang kasep tadi suruh baca suratnya dulu."
Meisya pun membaca isi suratnya dalam hati.
to: cewe
Minum yang seger biar mood lo balik. Gue ngga suka liat tatapan lo yang datar kek papan triplek tapi gue lebih ngga suka liat lo sedih. Btw ini tanda makasih gue karna udah dibuatin lukisan muka ganteng gue wkwk.
^^^Kiki ganteng^^^
Meisya terkekeh membayangkan kenarsisan adek kelasnya yang satu ini. "Ganteng kek sekuteng baru bener," gumamnya.
"Iya neng, gimana neng?"
"Eh ini Bu, Saya terima ya Bu pesenannya, makasih Bu."
"Iya, sama-sama neng!"
Dari kejauhan tampak lelaki ikut tersenyum memandangi Meisya yang manis saat tersenyum. "Ternyata bisa senyum juga tuh anak!"
"Woy! Lu lama amat sih? Noh, si Kiki sama Leo udah nunggu dari tadi!" Bagas sedikit kesal karena ia disuruh mencari Deva ketika ia sedang menggoda janda pirang.
Deva senyum-senyum sendiri lalu menutup mukanya seraya menepuk pundak Bagas. "Tadi udah gue pesenin sekarang lagi dibawa kesana!" Deva mulai berjalan menuju tempat kumpul mereka.
Bagas membeku melongo heran dengan tingkah Deva. Tidak seperti biasanya. Bagas pun paham, langsung saja ia meledek Deva, "Cieee, cewe mana nih yang bikin lo salting?" Dan seperti biasanya, Deva tak menanggapinya.
"Eh, Dev, sialan gue malah ditinggal!"
..._🌹🌹🌹🌹_...
* Andini
Kalau ngga sreg sama yg kupilih jd karakter Andini kalian bisa bayangin sesuka hati kaliann yaa😊
Si Meisya di eps eps kedepannya aja yaa🤣
__ADS_1