
Kemarin merupakan hari keluarnya Lauren dari rumah sakit. Dengan hati yang damai Kiki mengajak ketiga sahabatnya ke kafe yang didirikan oleh mamanya. Ia rindu. Sudah lama ia tidak kesana sekaligus mengenalkan kafe milik mamanya yang tersayang.
"Welcome to LAUREN CAT CAFE!" ucap Kiki membanggakan kafe milik mamanya.
"Si anak mama berulah lagi!" celetuk Deva.
"Mau gue anak mama apa anak apalah bomat, sekarang yang penting kita masuk bro."
"GAS BRO!!!" Bagas pun bersemangat, padahal tadi ia masih setengah sadar karna habis bangun tidur. Ia tidur sepanjang perjalanan.
Mereka masuk lalu mulai memesan. Mereka takjub karena di kafe bisa dibedakan jadi beberapa ruang, ada yang spesial untuk ruang belajar, untuk pecinta kucing yang ingin bermain bersama kucing dan ada ruang terbuka dengan tanaman bunga yang cantik sebagai hiasannya. Mereka mengira hanya ada kucing karena dari nama kafenya.
Sekarang mereka dilantai 3, spesial untuk nongkrong.
"Your cafe is perfect bro! Tapi kenapa kok ngga terkenal ya?" tanya Bagas yang selalu update tentang hal yang viral.
"Ntahlah, kayanya karna kafe lama sih. Sekarang kan udah banyak cafe yang lebih keren, gitu." Kiki memang sedikit menyayangkan kafe yang di dirikan mamanya ini sepi pelanggan.
"Sans Bro! Jangan lupakan gue yang selebgram ini." jelas Bagas dengan bangganya. "Leo! Ayo ikut gue!" Tau maksud Bagas, Leo pun ikut membantu Kiki dengan cara menjadi fotografernya Bagas.
Kiki pun tersenyum senang melihat sahabatnya membantu bisnis mamanya.
"Jangan viralin kalau kafe ini masih milik keluarga gue ya Gas!"
"Siaaapp!!!"
Dari belakang pelayan berjalan membawa pesanan mereka. "Ini kak pesanannya!" ujarnya sopan.
"Oke, thanks ya!" ucap Deva ramah.
"Eh? Lo cewe yang waktu itu berantem kan?"
Kiki yang awalnya fokus ke Bagas dan Leo kini memperhatikan pelayan kafe yang ada di hadapannya saat ini.
"Elo!" geram Kiki melihat gadis yang ada didepannya saat ini.
"Apa kakak mau mesan lagi?" tanya gadis itu dengan tersenyum. Wajahnya begitu tenang.
"Ngapain lo kerja disini?!" tanya Kiki emosi.
"Tentu saja cari uang!" Gadis itu pun tersenyum lalu izin pergi kalau ia sudah tak dibutuhkan.
"Lo dipecat!" Sahabat Kiki yang masih berada ditempat itupun terkejut mendengar seruan Kiki.
__ADS_1
Gadis itupun membalikkan badannya kembali, sekarang tatapannya berbeda dengan yang awal, begitu datar. "Maaf, anda siapa ya berani memecat saya seenaknya? Apakah anda pemilik cafe ini?"
"Kalau iya emang kenapa?" tanya Kiki merasa menang.
"Apakah anda mempunyai bukti bahwa anda pemilik cafe ini?" tanya gadis itu tidak percaya.
"Okay! Gue bakal nyuruh manajer cafe ini kesini!"
"Santay, bro! Ngga usah sampe kaya gini!" Bagas mencoba melerai perdebatan mereka berdua.
"Ngga usah ikut campur ya kalian!" Bagas pun enggan melerainya lagi, ia pun memilih pergi mengajak Leo tetapi ia menyuruh Deva untuk memantau Kiki dan gadis itu.
Tanpa pikir panjang Kiki langsung menelpon manajer cafe itu, lalu menyuruh manajer itu ke tempat mereka sekarang.
"Apakah pekerjaan saya tidak becus sampai membuat saya harus dipecat?" Dari ekspresi gadis itu tampak sekali bahwa ia sangat kesal.
"Gue ngga mau ngasih pekerjaan buat orang yang suka ngebully temennya sendiri. Lo itu cuman sampah yang ngga layak hidup!"
Gadis itu geram mendengarnya. "PLAK!"
Suara tamparan terdengar nyaring ditelinga Deva yang mendengar dan melihatnya juga. Ya, gadis itu menampar Kiki.
Kiki terbelalak melihat kelakuan gadis yang ada didepannya saat ini. "Lo!"
"Gimana rasanya pipi lo waktu ditampar? Sakit? Gimana juga perasaan lo waktu ditampar didepan orang? Malu?"
Gadis itu tersenyum miring sembari menatap mata Kiki dengan mata meremehkan. "Gue tau perbuatan gue salah tapi seenggaknya gue ngga sebodoh lo yang bisanya ngehakimin gue karna liat kejadian itu tanpa tau kejadian sebelumnya."
Kiki terkejut, apa yang dikatakan gadis itu ada benarnya, waktu itu ia langsung memarahi gadis itu tetapi ia di hina dan tak boleh ikut campur dengan urusan gadis itu.
"Gue, Meisya Salsabila, mulai sekarang gue keluar dari sini!" Meisya melenggang pergi meninggalkan Kiki dan Deva yang ada disana.
Deva yang menjadi saksi percekcokan mereka berdua juga bingung. Ia juga terkejut pasalnya baru kali ini ia mendengar Meisya banyak bicara.
Sebenernya Deva sering bertemu dengan Meisya di ruang seni karena Meisya sering masuk ke dalam ruang seni. Namun, mereka hanya sekali berinteraksi, itupun hanya menanyakan guru seni sedang berada dimana. Bahkan Deva baru tau namanya hari ini.
Melihat langkah Meisya yang menjauh membuat Deva berani mendekati Kiki. "Apa yang diomongin dia ada benernya bro, lo harus cari tau dari akarnya biar tau dia salah atau engga!"
Kiki hanya terdiam, ia merenung apakah dirinya yang salah? Hatinya pun bertanya-tanya tetapi otaknya merasa benar dan bukan kesalahan.
"Gue denger dia nolongin temen sekelasnya yang sering ditindas di sekolahan, simpelnya dia nolongin siswi yang kena bully dengan cara yang sama," jelas Deva.
Kiki masih tak paham ia pun meminta Deva untuk menjelaskan lebih detail. "Lo tau kan kalau pembullyan itu susah dihentiin?" Kiki berdehem menandakan ia paham dan setuju. "Iya kalau yang dibully itu orang yang lebih kaya dari yang ngebully, apalagi orang tuanya berpengaruh buat sekolahan, bakalan habis tuh anak yang suka ngebully. Beda cerita kalau kebalikannya atau sama-sama bukan orang yang berpengaruh di sekolahan." Deva membuat Kiki mulai paham alur ceritanya.
__ADS_1
"Kalau gitu kenapa ngga pindah sekolah aja yang siswi kena bully itu?" tanya Kiki masih belum mendapat titik terang.
"Bisnis keluarganya bangkrut, dia ngga punya biaya buat pindah sekolah, btw siswi kemarin namanya Andini," serobot Bagas ikut bersuara karena dialah rajanya gosip.
"Gue juga kalau jadi kak Meilin -"
"Meisya bego!" celetuk Deva geram.
"Oh, iya, gue lupa namanya, oke lanjuttt, so kalau gue jadi kak Meisya gue juga bakal balas kekerasan dengan kekerasan."
"Kenapa harus kekerasan? Emang pihak sekolah tugasnya apa?" tanya Kiki masih tak paham dengan pikiran teman-temannya yang sama dengan Meisya.
"Sistem sekolah kita itu b*ngs*t! Bella anak konglomerat, bokapnya salah satu donatur di sekolah. Sedangkan Dini, bokapnya bangkrut. Sepintar-pintarnya Dini sampai mengharumkan nama sekolah, ia bakal kalah sama Bella yang bokapnya donatur. Lapor ke ruang BK sama aja cari mati." Leo pun sekarang ikut bersuara.
"Dini udah ngelawan tapi kalah anggota. Kak Meisya yang ngga tahan akhirnya turun tangan." Deva sedikit murung setelah menjelaskan hal itu karena ia tau apa yang akan terjadi kedepannya.
"Yahh, kedepannya ngga bisa liat Kak Dini yang imut itu lagi dongg!" Bagas pun ikut sedih merasa kehilangan kakel imutnya.
"Hah, gimana sih maksudnya?" tanya Kiki yang makin tak paham.
"Lo pura-pura bodoh apa beneran bodoh sih Ki?!" sarkas Bagas sudah mulai emosi.
"Minum dulu, Gas!" Leo pun memberikan Bagas minuman agar amarahnya reda.
"Kak Meisya sama kak Dini 99% bakal di keluarin dari sekolah! Setau gue mereka orang ngga punya," jelas Deva sambil menyeruput es nya untuk meredakan amarahnya juga.
"Jadi, maksudnya mereka bakal dikeluarin karna bela diri sendiri. Trus gimana sama yang pembully asli?"
"Tetep sekolah sampe tamat!" sarkas Leo yang ikutan greget.
"Ngga fair dong kalau gitu! Harusnya yang pembully yang keluar dari sekolah bukan yang di bully!"
"Dibilangin sistemnya sistem b*ngs*t!" ujar Leo santay tapi tajam sembari meminum kopi pesanannya.
"99% mereka keluar berarti 1% nya mereka bisa sekolah lagi. Sebenernya gue ada cara, tapi ...." Deva pun menggantungkan perkataannya. Ia melihat ke arah Kiki, membuat teman lainnya tahu apa yang dimaksud oleh Deva.
"Apa nih?!"
"Lo mau ngga ikutin cara ini?"
Kiki yang merasa bersalah dengan Meisya pun mengiyakan pertanyaan Deva. Dengan itu Deva menceritakan cara agar Meisya dan Dini tak dikeluarkan dari sekolahan.
"Siapin mental lo buat besok, Bro!" tepuk Bagas ke pundak Kiki menandakan percaya kepada Kiki.
__ADS_1
"Kita liat aja besok!"
..._🌹🌹🌹🌹_...