The Red Fox: Separuh Jiwa

The Red Fox: Separuh Jiwa
Dunia di dalam selembar kertas


__ADS_3

Thomas kemari hanya untuk mengunjungi ruangan sisi manusianya karena ingin tinggal di sana. Hanya saja semuanya penuh dengan darah, daging dan belatung. Juga, bukan lagi tempat yang nyaman baginya untuk tinggal di sana.


Sebagai ucapan selamat tinggal kepada mereka, Thomas mengambil sebuah kertas lalu menggambarkannya sebuah bunga mawar untuk keluarganya yang telah menggantung diri mereka. Sedikit doa dan dia pergi keluar dari jendela apartemen. Tapi Thomas terhenti, dia melihat kertas itu menyala di atas gambar pektogram yang ada di lantai. Tidak sengaja dia berhasil memecahkan apa yang sebenarnya mereka cari.


Sebuah cakar yang tajam keluar dari kertas itu. Lalu bergegas memegang Thomas dan memaksakannya untuk masuk kedalam kertas "Tidaak-". Kemudian kertas itu berhenti bersinar


...****************...


Tentunya perpustakaan di malam hari tetap terbuka. Di momen inilah Henry Hastin menyukai untuk mengunjunginya di hari yang gelap. Karena suasananya yang tenang tanpa gangguan apapun. Seorang ilmuan sepertinya harus membaca lebih banyak agar mengetahui ilmu-ilmu lalu mencobanya menjadi satu. Seperti eksperimennya yang telah berjalan bertahun-tahun. Tentunya dia tetap harus mempelajarinya


Jarak antara perpustakaan dan rumah Henry sedikit jauh. Setidaknya tidak sejauh saat Henry tinggal di perbatasan antara kota dan hutan. Jika bukan karena William dia tidak akan pindah ke dalam. Mengorder taksi mungkin ide yang bagus agar cepat sampai ke perpustakan, tapi Henry lebih memilih untuk jalan kaki saja. Gratis dan juga Henry memikirkan kesehatan dirinya


Dalam perjalanan dari rumahnya Red menyusul dari belakang untuk ikut ke perpustakaan bersamanya. Tapi Henry melarangnya karena seekor rubah atau hewan tidak dapat masuk ke dalam sana, kecuali mereka dalam tipe antropomorfik. Ya... meskipun jarang sekali hewan antropomorfik yang berada di sekitar kota Titanium. Sedangkan Red itu sendiri adalah seekor rubah tegak/upright yang memiliki kesadaran manusia “Apa? kenapa?”


“Yah, itu sudah aturan kawan”


“Hey, aku sudah pergi kesana berkali-kali dan tidak ada yang melarangnya”


“Tapi ini beda lagi, soalnya sudah pernah kejadian soal kehilangan buku”


“Serius? masalah Eddy lagi? dia sudah tiada Hen”

__ADS_1


“Tetap saja Red, mereka tetap melarangnya” Red terhenti dan merajuk. Henry masih tetap saja jalan sambil memikirkan apa yang akan terjadi jika eksperimennya di tinggal sendiri di labolatoriumnya. Kemudian ide muncul di dalam pikirannya “Baiklah red, daripada kamu ngambek gitu, lebih baik kau jaga saja labolatorium di sana. Di sana juga ada buku yang mungkin kamu sukai”. Telinganya langsung naik ke atas “oh benarkah?”


“iya, tapi jaga jaga ya… takutnya dia kabur”


...****************...


Setelah sampai di perpustakaan, Henry di sambut oleh pustakawan. Seperti biasa dia memperingati Henry untuk tidak membuat berisik.


Langsung dia menaiki tangga hingga lantai ke tiga. Dengan bergegas buku yang berada di hadapannya dia ambil. Selagi buku itu di tangannya, buku itu di ambil paksa oleh seekor rubah berjenis silver. Rubah ini keliatan sangat aneh. Dari tampangnya saja sudah mendeskripsikan sifatnya. Sering kali kehilangan keseimbangan, tubuhnya sering kali bergetar, bahkan matanya saja tidak bisa bergerak dengan normal.


“Hey, itu bukuku!!” kata Henry dengan kesal. Rubah itu justru mengejeknya dengan menjulurkan lidah ke wajahnya, lalu berlari entah kemana. Kembali lagi dia mengambil sebuah buku di rak buku sampingnya. Rubah itu kembali dan melempar bukunya ke kepala Henry “Aw… Hey!”. dan lagi, dia kabur entah kemana. Saat pandangannya mengarah pada rak buku di depan wajahnya, tiba-tiba rubah itu muncul duduk di sana sambil menatap Henry dengan matanya yang hampir lepas dari kepalanya “AAaaaAa!” membuatnya terkejut hingga terjatuh. Rubahnya tertawa melihatnya “hahahaha…..” Henry segera bangkit “Dasar kau!” lalu mencekik rubah itu. Saat mencekiknya dia baru sadar kalau tangannya menembus tubuhnya “Apa yang-”


Penjaga perpustakaan menghampiri Henry dengan ekspresi marah. mengingatkan kepadanya yang ke terakhir kalinya karena dia sudah pernah sering di tuduh sebagai pembawa kerusuhan di perpustakaan.


...****************...


Sementara itu di labolatorium...


Entah apa yang membuat semua labolatorium milik Henry berantakan. Bahkan kepala William Static ada di sana juga "eh, lupakan saja aku. Henry memotong kepalaku karena aku membuatnya marah. hehehe, cukup adil" Red terdiam menatapnya seolah olah dia shock "apa? ada yang salah? tenang aja, nanti tubuhku kembali dan mengangkatku. Ooh ohhh.... bagai kalau kertas yang di sana? aku dari tadi telingaku mendengar ada yang mau keluar dari buku itu" mereka kedua terdiam yang cukup canggung. Red masih tidak menyangka apa yang sebenarnya telah terjadi "Bisakah kau lupakan saja aku dan urusi kertasnya, hehe" Red menggelengkan kepalanya dengan cepat agar menyadarkan dirinya yang masih lagi shock "Baiklah.....?"


Red tidak melihat hal apapun yang aneh di sana "huh, ini cuman kertas hidup yang biasanya di gunakan Henry untuk-" dan Red di tarik masuk oleh kertas itu "RED! BERTAHANLAH KAWAN, AKU DATANG!

__ADS_1


...


hmm... sepertinya aku harus tunggu tubuhku mengambilku. ayolah, aku tidak bisa menyelamatkannya kalau aku hanyalah sebuah kepala saja. aha! itu dia.


...


MASUK LEWAT PINTU BODOH!"


...****************...


Thomas terjatuh dan mendarat di sebuah genangan lumpur yang dalam. Dia tenggelam, berenang juga tidak ada gunanya. Beruntungnya ada sebuah Nightmare yang muncul dari bawah lumpur dan tidak sengaja mengenai Thomas untuk muncul ke permukaan.


Nightmare itu melempar Thomas ke tepian lumpur. Kemudian makhluk itu masuk lagi ke dalam untuk kembali tidur "syukurlah sepertinya aku sudah kembali ke tempat asalku"


Sementara itu Red terjatuh di sebuah danau yang begitu dalam. Untungnya dia bisa berenang dengan sempurna hingga ketepian. dia sedikit mengintropeksi wilayah di sekitarnya dan akhirnya dia mengetahui dunia seperti apa yang dia injak saat ini "huh, Orpheus. Aku pikir semua ini hanyalah mitos. Ternyata selama ini berada di dalam kertas". Tentunya dia tau kalau makhluk Nightmare dan bayangan di sini suka menargetkan seekor rubah menjadi mangsa mereka


"Aku pernah mempelajari bahwa mereka ini sangatlah itu kejam. Selalu muncul pada malam hari di dunia ini. Apakah dunia ini yang Henry cari-cari?"


Red bergegas mencari sebuah bahan bahan untuk membuat sebuah cahaya. Yaitu sebuah bunga kunang. Serbuk sari mereka benar-benar bersinar tiada henti jika kegelapan di sekitar mereka. Bahkan mahkota bunga itu bisa dibuat sebagai obat.


Biar segera mencari tahu cara keluarnya atau dari dunia Orpheus. Karena dirinya yang bisa berdiri tegak tidak sekuat antropomorfik. Bahkan tubuhnya yang sangat kecil sulit sekali untuk menahan beberapa makhluk bayangan dan para Nightmare itu

__ADS_1


__ADS_2