The Saga Of Luca The Conquérant

The Saga Of Luca The Conquérant
CHPTR: I MASALAH DI KOTA ESPERN


__ADS_3

Saat itu umurku hanyalah 15 tahun. Di hari-hari mudaku itu aku ingat betul kalau aku seorang bocah yang hobi berkuda. Sebagai seorang bangsawan Bonnemaux, aku mewarisi darah berkuda leluhurku.


Berkuda merupakan olahraga sekaligus ajang pembuktian bakat. Kuakui kalau kuda memang hewan yang menarik. Mereka besar, lincah, dan memiliki semangat luar biasa.


Antusias mereka saat berpacu membuat siapapun terpukau.


Maka saat tinggiku sudah cukup untuk naik ke sadel, aku belajar menunggangi kuda. Kuda pertamaku adalah kuda lokal Bensten bernama Nero. Sehari aku menungganginya selama 4 jam.


Waktu yang singkat memang, semua itu karena Papaku, Count Monte Bonnemaux, ingin aku belajar di rumah juga.


Belajar geografi, politik, filosofi, ilmu perang dan manajemen merupakan makananku sehari-hari. Tutorku sendiri adalah seorang professor dari ibukota bernama Anspald.


Dia pria tua yang lucu.


Punya pemikirannya sendiri, sering kali bicara sendiri dan nampak kangen pada masa mudanya. Aku ingat betul bagaimana kami sering membicarakan sejarah dulu.


Anspald selalu bilang kalau kerajaan Albelon adalah hasil dari perpaduan antara ambisi dan darah. Pendiri kerajaan kami, Leopard I si penakluk merupakan seorang Duke, bangsawan terkuat dari kekaisaran Frisia.


Pada tahun 1006 E.B. Leopard menyerang kerajaan Aenglae yang saat itu sedang dilanda perang saudara. Setelah menakulukan Aenglae, Leopard melepaskan diri dari Frisia dan mendirikan kerajaanya sendiri, kerajaan Albelon.


Sejarah penaklukan Leopard I selalu menjadi cerita favoritku. Ambisinya yang tidak mengenal batas membuatnya menjadi raja.


Saat itu pun aku sadar bagaimana sifat ambisius bisa membawa orang ke tempat-tempat yang tidak pernah kita duga. Karena nasib, berada di tangan kita sendiri.




*


Pada  musim panas tahun itu, aku menggantikan Papa dalam melakukan inspeksi di seluruh tanah county kami.


Bersama 50 prajurit, 5 diantaranya ksatria berkuda, dan dua anak baron (bangsawan di bawah count) bernama Loren dan Remy.


Remy seumuran denganku, sementara Loren setahun di atas kami. Kelompok inspeksi kami datang dari satu kota ke kota yang lain untuk mengecek persediaan makanan, kondisi jalanan, serta mengatasi keluhan-keluhan lain dari masyarakat setempat.


Kota pertama kami adalah Espern. Kota Espern merupakan kota paling kaya di seluruh county kami.


Masyarakatnya membayar pajak sesuai waktu dan industri di kota ini meningkat setiap tahunnya. Kota yang baik. Setibanya kami di pusat kota, ratusan pasang mata dengan cepat tertuju pada kelompok kami.

__ADS_1


Baju besi kami yang lengkap dengan pedang di pinggang menyilaukan mata semua yang memandang. Anak-anak mulai datang beriringan menonton kami layaknya parade.


Saat akhirnya kami tiba di pusat kota, di sebuah taman kota berdiri sebuah gedung kokoh yang luar biasa besar sebagai lambang kejayaan kota.


Gedung tersebut adalah kantor walikota Espern. Aku segera turun dari kuda dan salah satu ksatria memegangi kudaku agar aku tidak jatuh.


Seorang pria tua, botak dan berjanggut, gendut bukan kepalang dengan aroma alkohol di sekitarnya datang menemuiku.


Dia menurunkan kepalanya sedemikian rupa lalu membuka kedua tangannya seolah menyambut kemudian berkata, “Selamat datang di kota kami Yang Terhormat, saya Jerome, walikota terpilih Espern dan saya pribadi benar-benar tersanjung atas kedatangan anda pagi ini.”


 Aku mengangguk. Memandang ke sekitar pada kerumunan lalu berbalik pada Jerome. “Terimakasih. Kau walikota yang baik, Jerome. Masyarakat disini kelihatan tentram, jalan-jalan disini juga dalam kondisi yang baik. Akan kupastikan kau mendapat penghargaan dari Count Monte.”


Jerome menundukkan kepalanya lebih dalam lalu membalas, “Terimakasih, terimakasihbanyak, Yang Terhormat, saya hanya melakukan tugas saya sebagaimana mestinya.”


Aku tersenyum mendengar balasan tersebut, “Baiklah, bagaimana kalau kita masuk dan membicarakan beberapa hal di dalam. Hari mulai panas dan beberapa dari kami harus ada yang ke kamar kecil sepertinya.”


Semua orang di kelompok kami tertawa kecil sambil melihat kerah Remy.


“Tentu saja, Yang Terhormat, silahkan, lewat sini.”


Kami pun masuk ke dalam mengikuti Jerome. Di dalam sana, kami dituntun kedalam ruang penjamuan dan berbagai kemewahan yang paling baik langsung ditawarkan.


Melihat tamu-tamunya puas dengan pelayanannya, Jerome tersenyum lebar di ujung ruangan.


Aku melewati salah satu pelayan, mengambil sebuah apel hijau dari bakinya laluberjalan kearah Jerome dengan Ingard ksatria pengawalku dibelakang.


 “Yang Terhormat.” kata Jerome menundukkan kepala lagi.


“Apa kita bisa ke kantormu sebentar Jerome. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan.”


Jerome mengerutkan dahi tidak yakin. “Apa ada sebuah masalah Yang Terhormat? Atau apakah pelayananku kurang baik? Atau kah mungkin…”


Aku memotong omongan Jerome dan berkata, “Ini soal bisnis kecilmu baru-baru ini, Jerome.”


Jerome nampak terkejut. Wajahnya berubah serius dan kesadarannya kembali penuh. Dia menjadi was-was dengan perkataanku barusan dan nampak khawatir. Aku membalasnya dengan senyum.


Jerome pun dengan penuh pikiran langsung menuntun kami berdua keatas dan masuk ke dalam kantornya. Disana, Jerome segera duduk di balik meja kerja sementara Ingard mengunci pintu saat kami semua sudah masuk.


Di hadapan bocah 15 tahun, Jerome nampak ketakutan. Aku berjalan melintasi ruangan luas tersebut menuju jendela dan menyibakkan tirainya.

__ADS_1


Aku bisa merasakan mata Jerome mengikutiku dan nampak was-was sepenuhnya.


Sambil memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang di jalanan aku berkata, “Jerome, apa kau familiar soal peraturan kerajaan tentang obat-obatan dan larangannya?”


“Cukup paham, Yang Terhormat.” kata Jerome sambil melepas satu kancingnya.


“Berarti kau sadar kalau Ruffe adalah obat-obatan illegal untuk diperjual-belikan.”


“Te-Tentu saja, Yang Terhormat. Kota kami sama sekali tidak mengijinkan toko-toko obat untuk menjual barang tersebut. Kalau Anda tidak percaya, Anda bisa mengecek datanya, sebentar ya, aku rasa aku punya kertasnya di sekitar sini.” kata Jerome mulai mencari-cari dalam lacinya.


Aku berjalan mendekatinya lalu duduk di kursi di hadapannya. Jerome berhenti mencari dan nampak lebih ketakutan sekarang.


Dia memandangku dengan tidak percaya dan aku pun berkata, “Kau menjual Ruffe, Jerome. Kau menyita semuanya dan menjadi satu-satunya bandar di kota ini.”


Jerome menelan ludah. Menyeka keringatnya lalu melakukan pembelaan. “Sa-Saya sama  sekali tidak paham maksud anda, Yang Terhormat…”


Aku menghela napas. “Ruffe adalah obat-obatan keras. Pemakainya mendapatkan halusinasi hebat. Dipakai terlalu banyak dan itu akan membunuh. Kau, Jerome, kau menyita semua barang haram itu dari para pedagang dan itu hal yang bagus. Namun kenapa malah menjadi bandarnya? Apa yang salah denganmu? Apa bayaranmu sebagai walikota masih kurang?”


Jerome terdiam. Dia tidak mencoba membalas lagi. Aku melanjutkan. “Hukuman mati adalah hukuman bagi pengedar Ruffe dan cambuk 100 kali untuk pemakainya.”


Jerome mengangkat wajahnya dan mulai kelihatan panik. “Yang Terhormat, kumohon, ampun saya kali ini, saya janji tidak akan menjual lagi!”


Aku menghela napas. “Tenang, Jerome. Aku tidak akan membunuhmu. Apa penghasilanmu dari bisnis ini cukup banyak? Cukup untuk memberi makan seisi kota?”


Jerome kelihatan bingung. “Saya rasa lebih dari cukup.”


“Kalau begitu bagus lah. Kau boleh melanjutkan bisnis kotormu ini. Hanya saja, ada beberapa peraturan yang mesti kau pahami. Pertama, tidak boleh menjual pada anak kecil. Kedua, tidak boleh menjual di pusat kota. Ingard akan memberikanmu daftar lokasi operasional yang diijinkan. Dan ketiga, kau akan memberikan potongan sebesar, hmm, bagaimana kalau 60%? Itu angka yang bagus. Potongan ini akan menjadi komisi kami. Bagaimana menurutmu?”


Jerome memandangku dalam diam. Aku kembali tersenyum. Aku pun memberi kode pada Ingard untuk menyerahkan daftar lokasi operasional. Jerome pun langsung membaca dengan teliti lalu berkomentar, “Yang Terhormat, semua lokasi operasional ini ada di tempat perjudian dan rumah-rumah prostitusi…”


“Ya. Kau benar.”


Jerome nampak masih bingung, aku pun mulai menjelaskan, “Kebanyakan orang yang pergi ke tempat-tempat tersebut bukan lah orang baik, Jerome. Kau pasti tahu itu. Mereka bukan pedagang jujur, atau petani yang taat pada keluarganya. Aku disini hanya membantu mereka mengakhiri hidup mereka jadi lebih cepat. Kalau mereka bosan hidup, kita akan menawarkan kematian paling indah yang bisa dibayangkan. Bukankah mati gara-gara overdosis dan dalam halusinasi kedengaran cukup baik?”


Jerome terdiam dan nampak ngeri dengan jawabanku. Belum sempat Jerome membalas, mendadak pintu kantor di gedor oleh seseorang. Ingard dengan cepat melepaskan sarung pedangnya.


Aku menatap Jerome tajam lalu mengeluarkan pistol flintlock dari celanaku dan menodongkannya pada dahi Jerome.


“Jerome, apa kau menjebak kami?”

__ADS_1


__ADS_2