
Hutan Alpis yang berjarak 7km dari sini dapat ditempuh dengan cepat terimakasih karena kondisi jalanan yang baik. Aku sekali lagi mengecek arlojiku, sepuluh menit hingga pukul 3.
Pasti sempat. Disebelahku, Ibunda Francis nampak gelisah dan sama sekali kelihatan tidak nyaman dengan kecepat berkuda kami.
Wanita tua itu terus mencengkram baju besi Sir Ingard, sebisa mungkin mencoba tidak jatuh tergelincir. Melihat ini aku hanya tersenyum.
Kuda yang kutunggangi kupacu lebih cepat dan semenit kemudian akhirnya kami tiba di lokasi yang telah ditentukan. Sir Ingard berhenti di sebelahku, membantu Ibu Francis turun lalu kembali naik ke atas kuda.
Aku menatap wanita itu lekat-lekat, “Ingat, kau kesini sendiri. 100 keping emas yang kau dapatkan adalah hasil curian dari majikanmu. Kami tidak akan keluar sampai kami tahu pasti anakmu ada dan baik-baik saja.”
Wanita itu mengangguk paham, aku menarik pelanaku lalu pergi meninggalkan wanita itu seorang diri di hadapan gerbang menuju hutan.
Dari tempat yang telah ditentukan, kelompok kami menunggu dengan seksama. Mengamati segala disekitar serta mawas diri terhadap kedatangan para penculik.
Aku menempatkan Loren dan Remy bersama sebagian besar infanteri musket kami. Mereka akan menembak setelah aku memberikan aba-aba.
Sementara aku sendiri bersama Sir Ingard dan empat ksatria berkuda yang lain akan menunggu di timur, cukup jauh agar kuda-kuda kami tidak terdeteksi tapi cukup cepat saat hendak menyerang para penculik.
Setelah kami berada di posisi masing-masing, aku menerima teropong yang diberikan Sir Ingard dan mulai mengamati ibu Francis dari kejauhan.
Wanita itu masih berdiri dengan kikuk menantang hutan. Hari itu matahari bersinar terang seperti biasa. Namun sinarnya nampak kesulitan menembus lebatnya dedaunan pohon-pohon disini.
Aku mengamati sekali lagi, ada sesuatu yang bergerak di antar semak-semak. Tidak lama kemudian, para penculik muncul.
Jumlah mereka sekitar 20 orang. Mereka berjalan beriringan, mengecek keadaan sekitar dan satu-persatu mulai menunjukkan diri.
Beberapa diantara mereka ada yang memegang senjata musket, sekitar 5 orang. Sisanya kapak tebang, pisau, dan pedang tua karatan.
Mereka berjalan mendekati ibu Francis. Penampilan mereka yang kumuh dan menyeramkan membuat ibu Francis bergetar. Namun keinginan agar anaknya kembali jauh lebih kuat. Untuk itu dia tetap kuat.
Mereka mulai berbicara. Ibu Francis tanpa pikir panjang langsung mengeluarkan emas pajak dari kantor Jerome. Para penculik itu langsung menyambar emas tersebut lalu menaikkan penjagaan mereka.
Kini giliran Ibu Francis yang menuntut anaknya.
Para penculik terdiam. Mereka tidak membalas omongan Ibu Francis. Setelah agak lama, salah satu penculik, mungkin pemimpin mereka, tiba-tiba berjalan mendekat, menjelaskan sesuatu, dan apapun yang dia katakan, berhasil membuat ibu Francis jatuh berlutut di tanah.
Disaat itu lah, aku sadar bahwa para penculik ini tidak membawa Francis membawa mereka. Mungkin lebih buruk. Aku mengarahkan pistol flintlock-ku ke langit lalu menembakkannya.
Para penculik tiba-tiba langsung memasang posisi bertahan. Mereka meninggalkan ibu Francis dan mengambil tempat berlindung di balik pagar dan gerbang menuju hutan.
Namun belum sempat mereka menemukan sumber suara pistol tersebut, puluhan musket dari dalam hutan di ledakkan, suara bak petir menyambar-nyambar dari segala penjuru, dan dengan begitu 5 pencuri seketika langsung tumbang tak berdaya.
Peluru-peluru yang menembus pelipis dan dada langsung membunuh mereka seketika.
__ADS_1
Para penculik akhirnya sadar bahwa mereka disergap. Beberapa dari mereka yang memegang musket mulai menembakkan secara acak ke dalam hutan.
Sementara mereka yang hanya bersenjata jarak dekat hanya bisa bersembunyi dari peluru-peluru infanteri terlatih kami.
Di tengah adu tembak yang mematikan tersebut, ibu Francis masih terbujur lemah di tanah.
Nampak shock dengan apapun berita yang tengah dia temukan.
Asap yang mengepul dari senjata musket infanteri yang ditembakkan perlahan mulai mengisi seluruh area dengan jarak radius 50 meter.
Infateri kami terus menembak sesuai aba-aba yang diberikan kapten mereka. Isi ulang, bidik, tembak. Lakukan terus sampai seluruh penculik itu mati.
Aku mengangkat teropong, mengecek keadaan di medan pertempuran yang tidak jauh dari tempatku sendiri. Aku menemukan para pencuri mencoba melarikan diri.
Beberapa bahkan sudah lari meninggalkan teman-temannya yang masih berjuang melawan infanteri kami.
Aku menyimpan teropong di pelana lalu berkata pada Sir Ingard, “Kita akan menghentikan para penculik itu sebelum mereka masuk lebih dalam kedalam hutan. Sisakan beberapa untuk diinterogasi dan beri signal bagi para infanteri untuk memasang bayonet dan serang.”
Terompet di tiup, para infanteri yang mendengar signal tersebut segera menghentikan tembakan mereka. Keadaan sunyi sejenak. Namun bukan sunyi tanpa arti.
Mereka tengah memasang bayonet dan bersiap melakukan serangan telak dari jarak dekat kepada para penculik.
Di tengah kesunyian tersebut aku menghentakkan kudaku, memimpin sekolompok ksatria berkuda menembus lebatnya dedaunan hutan hanya demi mengejar sisa-sisa penculik yang mencoba melarikan diri.
Akibat kecepatan kuda berlebih dan ketidakstabilan peganganku, aku hanya mampu mengenai satu penculik di kaki.
Pasukan berkuda kami terus berpacu, melompati pagar menuju hutan lalu mulai mengejar para penculik yang sudah melarikan diri.
Setelah masuk kedalam hutan, aku sadar kalau para penculik ini sudah berpencar. Aku segera memerintahkan agar kami membagi dua tim dan mengejar para pencuri kedua arah yang berbeda.
Dari kejauhan, aku dapat dengan jelas mendengar suara jeritan dan raungan kematian. Pasukan infanteri kami pasti sudah berhadapan dengan sisa-sisa penculik tersebut.
Setelah berkuda beberapa menit akhirnya kami menemukan dua penculik yang mencoba melarikan diri.
Salah satu dari mereka ada yang mencoba menyeberangi sungai, salah satunya lagi naik keatas pohon untuk bersembunyi. Aku segera mengeluarkan pistol dan menembak pada dia yang mencoba memanjat pohon.
Menculik tersebut langsung jatuh ke tanah dan berguling kesakitan.
Sementara itu sisa pasukan berkuda kami mengejar satu lagi yang tengah menyeberangi sungai.
Penculik tersebut memegang senjata musket, lengkap dengan seragam infanteri yang sudah rusak dan usang. Dia pasti adalah desertir yang meninggalkan pasukannya.
Sir Ingard memacu kudanya kearah desertir tersebut lalu dengan satu gerakkan terlatih menganyunkan pedang sabernya dan membuat satu garis vertikal di punggung pria malang tersebut.
__ADS_1
Penculik itu menjerit kesakitan dan akhirnya jatuh menghantam batu-batu sungai yang licin.
Melihat pengejaran kami berakhir, aku memutuskan untuk turun dari kuda dan berjalan mendekati penculik yang barusan kutembak saat hendak menaiki pohon.
“To-Tolong jangan bunuh!” kata penculik itu ketakutan.
Aku memandangnya lekat-lekat. Matanya menggambarkan ketakutan akan kematian. Aku mengeluarkan pedang saberku untuk berjaga. Meskipun penculik ini terluka, dia tetap bisa menyerangku kapan saja.
“Tuan muda!” teriak Sir Ingard seraya menghentikan kudanya disampingku dan segera turun. “Anda baik-baik saja?”
Aku mengangguk pada Sir Ingard lalu membalikkan pandangan pada penculik tersebut. “Dimana gadis yang kalian culik tadi pagi?”
“Saya tidak tahu!”
Aku mengerutkan dahi, mengangkat pedangku dan menekannya pada luka bekas tembakkan di kaki penculik tersebut. “Aku tidak sedang bercanda. Katakan dimana gadis bernama Francis tersebut.”
“Sudah dibilang tidak tahu! Bos hanya menyuruh kami menemui ibu wanita tersebut! Dia tidak bilang apa-apa lagi, selain itu!” kata penculik dengan nada paling kasar.
Aku memandang penculik tersebut lekat-lekat. Garis wajahnya seimbang. Dia tidak sedang berbohong. Pria ini tidak tahu apa-apa.
“Dimana tempat persembunyian kalian?” tanyaku.
Penculik itu membuang wajah menolak menjawab.
Merasa jengkel, aku membenamkan pedang saberku ke dasar kaki pria tersebut. Si penculik langsung melolong kesakitan dan akhirnya membuka mulut.
“Di puncak gunung! Pintu masuknya ada di balik air terjun! Tolong jangan bunuh aku!”
“Berapa jumlah kalian?”
“100 orang.”
Sir Ingard disebelahku langsung menarik napas dalam. Aku melanjutkan interogasiku.
“Apa kalian punya meriam?”
“Tidak.”
“Darimana kalian dapat musket dan bubuk mesiu?”
“Kami mencurinya dari Louth bulan lalu!”
Aku mendadak teringat sesuatu. Sebulan yang lalu penjara di daerah Louth diledakkan dan para narapidananya melarikan diri. Yang kami hadapi ini ternyata bukan hanya sekedar penculik, mereka adalah kriminal terlatih.
__ADS_1
Aku segera bangkit dan menghadap Sir Ingard, “Kirim seseorang ke kota. Beritahu Jerome kita butuh lebih banyak orang disini. Kita akan menyerang persembunyian mereka malam ini juga.”