
Remy memberi kode pada kami untuk berjalan melewati salah satu penjaga diam-diam. Aku mengangguk, lalu menunduk sedikit sambil diikuti Loren dibelakang.
Setibanya kami disisi lain, aku kembali mengintai di balik pagar dan mengamati tenda paling besar yang hendak kami sergap.
Tenda itu didirikan diatas sebuah susunan kayu yang membentuk sedemikian rupa hingga menjadi sebuah fondasi. Di atasnya terdapat tenda putih yang telah kusam dan berubah warnanya menjadi kecoklatan.
Pintu masuk tenda tersebut tidak dijaga, itu memudahkan kami untuk masuk kedalam. Akan tetapi di sekitar tenda terdapat belasan penjahat yang berkeliaran disana.
“Bagaimana caranya kita masuk? Terlalu banyak orang disana.” kata Remy dengan nada sedikit panik.
“Kearah mana pasukan penyergap kita pergi barusan?” tanyaku pada mereka berdua.
“Ke timur.” Jawab Loren cepat.
“Baiklah, kalian pergi lah ke timur dan beritahu mereka untuk memulai serangan lebih awal. Itu akan mengalihkan mereka dan setelah para penjaga ini pergi aku akan masuk kedalam tenda.”
“Tidak!” protes Loren. “Aku akan menemanimu. Terlalu berbahaya pergi sendiri!”
Aku mendengus. “Hati-hati, Remy. Jangan sampai tertangkap.”
Remy mengangguk dan akhirnya pergi menghilang kedalam kegelapan. Aku dan Loren saling pandang, mengeluarkan pedang kami dan mengecek pistol masing-masing.
“Loren.” Panggilku saat dia tengah memasukan peluru kedalam pistolnya.
Loren mengangkat wajahnya memandangku, “Ada apa?”
“Usahakan jangan mati. Akan sangat menyebalkan kalau Baron selanjutnya adalah sepupu laki-lakimu.”
Loren tersenyum, “Aku janji tidak akan mati hari ini, Tuan Muda.”
Aku tertawa kecil.
Kami pun akhirnya menunggu dalam kegelapan. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya suara tembakan musket dibunyikan.
Para penjahat yang duduk-duduk di depan tenda langsung bangkit dan lari kearah sumber suara. Melihat kesempatan ini aku dan Loren langsung menerjang kedalam tenda yang sudah tanpa penjagaan.
Namun sesaat aku masuk, aku menemukan seorang pria muda, berkisar 20-an, dengan penutup mata di mata kirinya dan rambut yang acak-acakan.
Pria itu menatapku keheranan. Namun aku tidak punya banyak waktu untuk memandanginya. Pria itu tengah mengolesi pedangnya dengan sesuatu, baunya yang semerbak dan membuat mual membuatku menduga kalau itu racun.
Aku segera mengeluarkan pistol untuk menembaknya, namun sebelum itu semua pria tersebut mengeluarkan botol lain dari balik jubahnya dan membantingnya ke lantai. Itu adalah bom asap.
Dalam seketika isi tenda langsung penuh dengan kabut putih tipis-tipis. Aku bersyukur ini bukan lah asap beracun. Aku mengantongi kembali pistolku. Menempelkan punggungku pada punggung Loren yang kini saling beradu.
Satu-satunya yang bisa kudengar adalah suara langkah kaki. Bergerak kesana-sini, jaraknya semakin dekat kepadaku. Aku menyiapkan pedang.
Saat jarak itu sudah benar-benar dekat, aku langsung menebaskan pedang saberku ke arah depan. Benar saja, pria itu berada di depanku tengah mengendap-ngendap.
Namun seranganku yang barusan di halau dengan mudah olehnya. Loren yang masih memegang pistol langsung menarik pelatuknya dan menembak kearah pria tersebut yang hanya selisih setengah meter dariku.
Pria itu melompat mundur kedalam asap dan peluru tersebut meleset. Aku dan Loren kembali memunggungi. Kami kembali menajamkan pendengaran masing-masing.
Di tengah itu semua, aku bisa mendengar dengan jelas suara senapan musket yang ditembak berurutan. Sudah pasti dari infanteri kami.
Beberapa detik kemudian, kabut putih yang mengisi akhirnya perlahan menghilang. Aku bisa melihat dengan jelas kembali.
Namun detik itu juga mendadak sebuah ujung pedang sudah berada di depan mataku, aku segera menunduk kemudian balas menebas dengan pedangku.
Tebasanku hanya berhasil menyobek permukaan jubah pria tersebut.
Kami berdua mundur beberapa langkah menjaga jarak. Kini aku bisa melihat sosok yang kulawan dengan jelas.
Akan tetapi belum ada beberapa detik, pria tersebut langsung menyongsongku lagi karena sadar Loren tengah membidiknya dengan pistol.
Aku menangkis lagi serangannya, pria ini terus mendekat, memperkecil ruang di anatara kami agar menyulitkan Loren untuk menembak.
Permainan pedangnya menggunakan satu tangan, sama halnya denganku. Namun jelas dari gerakkanya bahwa itu adalah gerakan yang diciptakan sendiri.
Dia tidak mengikuti aturan dasar seni berpedang. Pria ini hanya orang biasa yang mencoba terlihat seperti bangsawan.
Setelah agak lama, aku akhirnya menemukan titik lemahnya setelah dia mencoba mengayunkan pedang. Aku menangkis serangannya, mengfokuskan kekuatan serangan balikkku di pelipisnya, dan seperti yang kuduga, dia menangkis.
__ADS_1
Alhasil, pria itu terhempas mundur beberapa langkah namun tetap bisa berdiri kokoh.
Disaat jarak tercipta, Loren dengan cepat menembak. Suara pistol bergemuruh, namun takdir berkata lain.
Pria itu berhasil mengsejajarkan pedangnya sehingga peluru yang harusnya mengenai jantungnya malah terbelah dan hanya menyobek permukaan rusuknya.
Dia mengerang kesakitan dan langsung melakukan serangan balasan dengan melempar bom asap untuk kedua kalinya.
Aku dengan cepat mengingat letak pintu keluar barusan dan menghalaunya dengan tubuh. Kalau ada satu hal yang mau dilakukan orang yang baru saja terluka maka itu adalah melarikan diri.
Aku memposisikan diri sejajar dengan arah yang kukira adalah pintu keluar.
Setelah beberapa detik, akhirnya kabut menghilang dan aku sadar kalau tempat yang kujaga bukan lah pintu. Aku dengan cepat mencari Loren dan menemukan sosoknya juga sama bingungnya denganku.
Tidak ada lagi tanda-tanda pria tersebut. Dia melarikan diri. Merasa agak aman, Loren segera berlari kearahku, mengecek lengan dan leherku. “Syukurlah kau baik-baik saja, Luca. Itu tadi sangat berbahaya.”
Aku tersenyum, mengusap puncak kepalanya dan menenangkannya.
“Apa kita akan mengejarnya?” tanya Loren.
Aku menggeleng. “Terlalu beresiko. Kita tidak pernah tahu kemana dia bersembunyi. Mengerjanya mungkin hanya akan menuntun kita pada jebakkan lain yang sudah mereka siapkan.”
Aku berjalan menuju meja kerja di dalam tenda, melihat dan mengecek setiap lembar kertas di atasnya. Loren pun mendekat dan ikut melihat-lihat. Disana, aku menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Tumpukkan kertas yang ada disini bukan sembarang dokumen, ini adalah surat. Para penjahat ini saling berkirim surat, saling bekerja sama dengan kelompok lain yang ada. Ini adalah sebuah jaringan.
Aku terus membaca surat-surat yang terdapat di seluruh meja dan akhirnya tiba pada satu konklusi, “Loren, mereka ini bukan sekedar pelarian yang mencoba bertahan hidup.
Mereka sedang merekrut, hidup berkelompok, dan mencoba membangun kekuatan. Jumlah mereka lebih banyak dari yang kita bayangkan.”
Loren menelan ludah setelah mendengar penjelasanku.
“Para penjahat ini berkomunikasi satu dengan lain. Mereka sedang menyusun rencana.” aku menunjukkan 20 surat lain yang ada di atas meja. “Ini semua ditulis oleh masing-masing ketua kelompok pelarian. Kalau masing-masing dari mereka memiliki 100 pasukan. Itu berarti kita bukan sekedar berhadapan dengan penjahat biasa. Orang-orang ini, mereka merencanakan pemberontakan.”
Loren memandangku dengan penuh takjub. Dari arah pintu masuk, mendadak Remy dan Sir Ingard masuk ke dalam.
Aku bisa melihat emosi yang menggebu-gebu dari mata Sir Ingard. Tapi aku tidak punya waktu untuk ini sekarang. Aku harus secepatnya kembali ke Bensten dan melapor pada Papa.
***
Kuda yang kupacu memasuki halaman depan mansion, setelah akhirnya sampai di pintu depan, aku menarik pelanaku untuk menghentikan kuda. Setelah kuda berhenti dengan benar aku melompat turun dan para pelayan segera meraih pelana kudaku.
Salah satu pelayan mencoba membuka baju besiku namun segera kutepis. Aku tidak punya waktu untuk ini. Aku berjalan masuk kedalam mansion dan menemui kakak perempuan dan adik perempuanku, Lady Mira dan Lady Lucy, tengah menyulam di ruang tamu yang luas.
Lucy yang pertama kali menyadari keberadaanku langsung berlari kearahku lalu memelukku erat-erat.
“Kak Luca, kenapa kakak kelihatan berantakan? Bukannya kakak hanya pergi inspeksi? Apa sesuatu terjadi?” tanya Lucy dengan nada khawatir.
Aku tersenyum, mengusap kepalanya agar dia tenang lalu memandang kearah Kak Mira. “Dimana Papa?”
“Dia sedang kedatangan tamu di ruang kerjanya.”
Aku mengangguk kecil lalu kembali menatap kearah Lucy. “Lucy, kau mau membantuku?”
Lucy mengangguk cepat.
“Aku belum tidur semalaman. Maukah kau ke dapur dan membantu bibi Jimu membuatkanku kopi? Aku suka kopi buatanmu.”
Lucy mengangguk mantap, “Baik, Kak!” lalu lari penuh semangat ke dapur.
Sementara itu aku langsung berjalan menuju ruang kerja Papa di lantai atas. Sekujur tubuhku terasa berat dan lelah. Setelah penyergapan kita di lembah tersebut, kami akhirnya memenangkan pertarungan.
Terimakasih berkat maneuver dari pasukan penyergap yang sudah susah payah memanjat tebing, kami akhirnya berhasil menang tanpa ada korban jiwa.
Pasukan kami berhasil meringkus lebih dari 40 kriminal. Sisanya mati dalam pertarungan.
Setelah mengurus dan mendata semua tahanan semalaman, aku akhirnya meninggalkan Sir Ingard mengurus sisanya. Menjelang matahari terbit akhirnya aku tiba di Espern dan lanjut berkuda hingga sampai di mansion kami.
Aku tiba di depan ruang kerja Papa. Dengan jelas aku bisa mendengar samar-samar pembicaraan mereka. Setelah menunggu beberapa detik, akhirnya aku membuka pintu dan masuk kedalam.
Semua di ruangan tersebut langsung terdiam dan melihat kearahku. Para pedagang itu jelas sekali kelihatan terganggu dengan kemunculanku yang tiba-tiba.
__ADS_1
“Maafkan aku, Tuan-tuan, ini adalah anak ketigaku dan putra keduaku, Luca.” Papa bangkit dari kursinya seraya memperkenalkanku.
Aku membungkuk sedikit memberi hormat pada mereka yang lebih tua lalu kembali diam.
Sadar kalau aku masih menggunakan baju besi, yang berarti ada sesuatu yang sangat penting, Papa langsung berkata, “Sepertinya pembicaraan kita harus ditunda sampai makan siang, Tuan-tuan sekalian. Silahkan.”
Papa menemani pria-pria tua itu sampai diluar, setelah berpisah, dia menutup pintu, lalu kembali duduk di belakang meja kerjanya. Dia menatapku penuh teliti lalu berkata, “Apa yang terjadi di Espern?”
Aku mengeluarkan tumpukkan surat yang kutemukan tadi malam kemudian menyerahkannya pada Papa. Papa sendiri langsung membaca dengan khidmat. Dalam diamnya, matanya nampak mengerikan.
“Apa kau melawan mereka semua?” tanya Papa.
“Tidak. Aku kesana untuk menyelamatkan seorang gadis kecil yang diculik. Namun aku menemukan surat-surat ini dan langsung kesini sekarang juga untuk menginformasikannya.”
“Berapa jumlah mereka yang kau lawan?”
“100.”
“Dan berapa banyak pasukan kita yang tewas?”
“Tidak ada. Beberapa terluka, tapi tidak cukup parah. Mereka masih bisa berjalan.”
Papa menaikkan alis. “Sepertinya teori-teori perang yang kau pelajari bersama Anspald kau terapkan dengan baik. Kerja bagus, Nak.”
Aku membungkuk memberi hormat kepada Papa.
Papa kembali membaca surat-surat tersebut kemudian menyimpulkannya, “Berarti para penjahat ini sedang mengumpulkan orang-orang untuk masuk kelompok mereka. Jumlahnya mencapai 2000 dan sepertinya mereka dipimpin oleh orang-orang berkapabilitas. Ini berbahaya.”
Aku mengangguk, “Dan ini hanyalah koleksi para penjahat di County Bensten dan Louth. Kita tidak tahu apa ada kelompok lain di luar sana.”
Papa mangguk-mangguk. “Kau benar… Kau benar…”
Mendadak, pintu ruang kerja Papa diketuk. Papa bertanya siapa, tapi tidak dijawab. Beberapa detik kemudian Lucy muncul dengan nampan berisi segelas kopi hangat. Aku tersenyum melihatnya, begitu juga Papa. Aku segera menerima kopiku lalu menyeduhnya. Lucu sendiri segera lari mengitari meja dan duduk di pangkuan Papa.
“Enak, Kak Luca?” tanya Lucy penuh semangat.
“Yang terbaik.” Jawabku.
“Pergi lah beristirahat, Luca. Nampaknya inspeksi tahunan di seluruh County Bensten harus kita tunda sampai masalah ini mereda.”
Aku mengangguk, lalu undur diri meninggalkan ruangan tersebut. Sesampainya diluar, baru lah aku merasa sekujur tubuhku lelah bukan main.
Aku menghela napas berat, menyeruput kopi hangatku lalu turun kebawah. Sesampainya aku dibawah, aku menemukan Hansel, kakak tertuaku, pewaris tahta County Bensten, Count selanjutnya, tengah masuk ke pavilum utama dari arah dapur bersama teman-teman saudagarnya. Dia agak kaget melihatku disini.
“Luca! Kukira kau masih dalam tugas inspeksimu?” Hansel mendekat, menelitiku lalu bilang, “Ya Tuhan, ada apa dengan penampilanmu? Apa kau baru saja bergumul dengan ****-**** di lumpur?”
Aku menatap Hansel tajam-tajam. Pria ini selalu bertingkah konyol dan sebisa mungkin mempermalukan orang lain. Tapi tidak, tidak denganku.
“Kulihat kau gagal berburu, Hansel. Lagi.”
Hansel mendengus gampang, “Siapa bilang kami berburu?”
“Sepatu boot penuh lumpur, sarung tangan tebal, bahkan busur dan panahnya. Kau pembohong yang buruk, Hansel.”
Hansel menatapku jengkel namun belum sempat dia membalas aku mendahului, “Tapi tidak heran. Kelompok berburumu adalah anak-anakmanja yang tahunya menghabiskan uang orang tua mereka.” Aku menatap salah satu anak yang cukup gemuk dengan bola mata hijau yang khas. “Kau yang disana, kau anak walikota Espern, pria gendut bernama Jerome, ‘kan?”
“Eh…? Eh— iya…”
“Aku baru saja dari Espern kemarin. Ayahmu punya bisnis yang cukup menarik rupanya. Kau tentu tidak pernah mencoba dagangan Ayahmu, ‘kan?”
“Eh… A.. Aku tidak pernah, Yang Terhormat. Sumpah.”
Aku tertawa kecil. Namun cemoohanku kepada si gemuk itu ternyata melukai harga diri Hansel juga. Hansel langsung menyambar kerahku, tapi aku tidak membiarkannya lama-lama.
Aku segera menangkap pundaknya dan melayangkan tendangan dengan lutut ke perutnya.
Hansel dengan cepat jatuh ke lantai dan meringis kesakitan.
Kalau aku mau, aku bisa menghajarnya. Tapi aku terlalu malas untuk itu. Aku memandang keseluruh teman Hansel lalu tersenyum kearah mereka.
Mereka pun membuang muka dan hanya menunduk. Dengan begitu, aku sekali lagi memantapkan posisiku di keluarga tercintaku ini.
__ADS_1