
“Masyakarat yang kelaparan, akan menjadi tumor di sistem kerajaan. Masyarakat yang tidak puas dengan para bangsawan, akan berhenti percaya pada kerajaan. Dan masyarakat yang membenci para bangsawan, akan menunjukkan kebenciannya. Para cendikiawan di era raja-raja tua, digulingkan oleh rakyat. Dipimpin oleh rakyat. Sebelum akhirnya negara mereka ditaklukkan oleh gabungan raja-raja tua di seluruh pelosok negeri. Saat ini, kita sedang melihat kebangkitan orang-orang untuk yang kedua kalinya.”
Aku menatap keluar jendela menuju halaman belakang. Disana Lucy tengah melompat-lompat bersama Boro anjing kesayangan kami. Aku tersenyum melihatnya.
Setelah mendiamkan Anspald, tutorku cukup lama, aku berbalik menghadapnya yang tengah duduk di sofa di ruang belajar ini. Aku memandangnya, kemudian bertanya, “Mereka tidak akan menang.”
__ADS_1
Anspald mengangguk, “Tentu saja. Mereka tidak memiliki tentara atau mampu bersaing dengan tentara kerajaan. Mereka tidak menguasai ilmu berperang. Mereka tidak memiliki senjata atau amunisi yang mumpuni untuk melawan kerajaan.”
Anspald menajamkan sepasang mata kemudian melanjutkan, “Tapi bagaimana kalau ada seseorang yang cukup hebat yang mampu memimpin orang-orang biasa tersebut? Melatih mereka, membimbing agar mereka menyerang lokasi strategis dan menguasai pasokan senjata milik kerajaan. Apabila muncul orang seperti itu di tengah masyarakat, harus kupastikan, agar Tuan Muda khawatir soal perkara ini.”
Aku tersenyum lalu mengambil tempat di hadapan Anspald. “Aku sudah memikirkannya.Hal ini akan menjadi sesuatu yang besar. Mereka yang sebelumnya diatas, harus turun kebawah. Tapi itu bukan hal yang buruk. Di era kekacauan mendatang, akan muncul pahlawan-pahlawan baru yang akan mengisi buku sejarah kerajaan kita. Itu akan sangat menarik, Anspald.”
__ADS_1
“Aku paham betul Anspald, kau terlalu berlebihan, aku tidak mungkin akan sekonyol itu. Lagipula, kau terlalu skeptis dengan kejadian ini. Apabila memang masyarakat akan memberontak, maka sudah tugasku sebagai bangsawan untuk menegakkan keadilan.”
“Dan keadilan seperti apa yang akan kau berikan?”
Aku tersenyum simpul, “Hukuman bagi yang membangkang dan hadiah bagi yang membantu.”
__ADS_1
Anspald menatapku lekat-lekat kemudian menghela napasnya berat. Dia meletakkan cangkir tehnya kembali dan bilang, “Kau seorang anak yang berbakti. Ksatria berkuda yang hebat dan kemampuan berpedang yang mumpuni. Kau diberkahi wajah rupawan Countess Gyda, Ibumu, Ayahmu Count Monte menurunkan bakat analisisnya. Kau tumbuh menjadi bangsawan sempurna dengan ambisi yang menggebu. Satu-satunya yang bisa menghalangi kau menjadi seseorang yang hebat adalah dirimu sendiri, Luca. Jangan dengarkan isi hatimu. Kau seseorang yang pintar dan terpelajar, gunakan otakmu. Membunuh orang-orang yang memberontak tidak akan menyelesaikan masalah. Kalau kau membunuh semua pemberontak, siapa yang akan menanam di ladang? Siapa yang akan menjadi tentara di masa yang akan datang? Kau harus memikirkan itu semua tanpa terpengaruh isi hatimu.”
“Anspald.” Kataku dengan nada naik satu oktaf. “Jangan merendahkanku seperti itu. Kau mungkin guruku, tapi kau tidak punya hak untuk merendahkanku seperti itu. Kau bukan bangsawan Anspald, kau tidak akan paham apa artinya harga diri seorang bangsawan. Kami superior karena nenek moyang kami berjuang mempertahankan negeri ini. Kami keluarga Bonnemaux, sudah selama 500 tahun mengapdi pada raja dan kami bersumpah akan terus mengapdi. Aku tidak akan membiarkan pemberontakan masyarakat biasa menggulingkan kerajaan. Meski itu artinya harus membantai ratusan ribu dari mereka. Kerajaan ini, tidak akan jatuh sampai aku mati.”