
Aku masih menodongkan pistol flintlock tepat ke dahi Jerome dan memperhatikannya lekat-lekat. Mata Jerome terbelalak lebar runtuh kepercayaan diri.
Ketegangan ini membuat mulutnya menganga lebar, sulit melepaskan kata-kata keluar dari tenggorokan. Semua itu diperparah dengan suara gedoran pintu yang semakin keras.
Sir Ingard masih berjaga menghadap pintu dengan pedang saber di tangannya.
Suara pintu yang semakin kencang membuatku semakin tidak nyaman. Aku menodongkan
pistol lebih dalam ke wajah Jerome dan berkata dingin, “Bicara, Jerome.”
“A-Aku
tidak tahu! Aku sama sekali tidak tahu sumpah!”
Aku memperhatikan raut wajahnya yang sama sekali tidak berubah. Jelas dia ketakutan. Dia juga nampak sama bingungnya seperti kami.
Setelah pikir panjang beberapa saat akhirnya aku memutuskan untuk mempercayai Jerome. Akan tetapi aku tidak menurunkan penjagaanku, aku mengarahkan pistol kearah pintu dan memberi kode pada Ingard untuk membukanya.
Sir Ingard mengangguk lalu dengan cepat membuka pintu.
“Luca, kau harus kebawah sekarang!” kata Remy dengan nada panik setelah pintu dibuka.
Aku menatap Remy tajam. Begitu juga Remy sebaliknya. Setelah agak lama, aku pun tertawa kecil. Remy yang tidak paham dan merasa aneh langsung bertanya, “Boleh aku tahu kenapa kau menodongkan pistol kepadaku?”
“Hanya salah paham, Remy.” Aku melirik pada Jerome lalu tersenyum simpul. “Kita akan melanjutkan soal ini nanti.”
Dengan begitu kami berjalan keluar ruangan dan mengekor Remy kebawah. Sesampainya kami dibawah aku menemukan lingkaran kerumunan di tengah ruang penjamuan.
Mereka tengah mengitari seorang wanita paruh baya dengan gaun kuning penuh noda bumbu dapur. Topinya menyatakan kalau dia adalah juru masak.
“Wanita malang, anaknya diculik pagi ini saat dia sedang bekerja. Penculiknya meninggalkan secarik kertas dan potongan rambut anak kecil tersebut. Mereka ingin tebusan.” Jelas Remy padaku.
Aku mengangguk paham lalu berjalan menembus kerumunan. Setibanya aku di depan sana mata sayup wanita itu dengan cepat mengenali statusku.
Dia bangkit dari duduknya dan berlari kearahku. Namun para pengawalku dengan cepat menahannya, cukup kuat dan tidak terlalu kasar hanya untuk menjauhkannya dariku.
Dia nampak tidak masalah, lalu dengan cepat merengek melapor padaku, “Yang Terhormat, aku mohon selamatkan Francis! Dia hanya anak kecil! Dia tidak pantas mendapat perlakuan ini!”
__ADS_1
Aku memberi kode pada pengawalku untuk melepaskan wanita ini lalu perlahan menuntunnya kembali duduk di bangku. Tubuhnya yang kecil ringkih teras begitu lemah saat aku membawanya duduk.
Disana pelayan dengan cepat menyajikan segelas anggur untuk menenangkannya. Aku menunggunya sampai tenang. Setelah itu baru bisa diajak bicara.
“Kapan Francis diculik?” tanyaku.
Wanita itu menyeka air matanya dan menjawab, “Pukul 6 atau 7 pagi ini saat aku sedang bekerja.”
“Boleh aku minta kertas yang mereka tinggalkan?”
Wanita itu mengeluarkan sepucuk kertas yang tertulis begini;
Anakmu di tangan kami. Temui kami pukul 3 sore hari ini di depan hutan Alpis dengan 100 keping koin emas atau kau akan menemukan jasad anakmu di saluran pembuangan 5 hari dari sekarang
Surat singkat yang padat. Para penculik ini tentunya tidak main-main dan cukup serius dengan penculikan mereka.
Untuk menculik anak kecil yang pasti berontak dan membawanya diam-diam keluar kota tanpa disadari orang-orang, mereka pasti sudah menyusun rencana ini sejak lama.
Aku bangkit dari tempatku duduk, berjalan kearah Sir Ingard lalu menunjukkan surat tersebut. Sir Ingard membaca baik-baik lalu berkata, “Apa kita harus berjaga di sekitar Alpis sekarang, Tuan?”
Aku menggigit apel hijau yang masih kubawa sejak tadi dan menggigit cukup dalam.
Loren yang berada dekat situ dan kebetulan mendengar jawabanku langsung meninggalkan kerumunan dan berjalan kearahku, “Luca, kau tidak bisa meninggalkan wanita malang ini! Aku bahkan tidak yakin dia punya 100 keping emas untuk menebus bayaran!”
Aku memandang jengkel kearah Loren. Gadis temperamental ini selalu membuatku gusar sejak kecil. Kami tumbuh bersama, jadi aku dengan jelas mengenal sifat keras kepalanya. Aku pun menjelaskan apda Loren, “Aku tidak bilang akan meninggalkan mereka. Aku hanya meminta Sir Ingard tidak berjaga di sekitar hutan sekarang ini.”
Aku berjalan menuju tangga sambil diikuti Sir Ingard, Loren yang belum puas kembali mengikuti penuh dengan rentetan pertanyaan, “Lalu? Apa kau tidak berniat menolong mereka?”
Di tengah tangga naik menuju kantor Jerome aku berhenti dan berbalik menatap tajam kearah Loren. “Kapan kau berniat menjahit mulut kotormu itu dan diam?”
Setelah bilang begitu Loren pun langsung menundukkan wajahnya dalam-dalam dan diam. Aku mendengus, lalu lanjut mendaki tangga.
Aku kembali masuk ke ruangan Jerome, mendapatkan pria itu masih terdiam kaku di kursinya. Merasa agak panas, aku melonggarkan lapisan terluar baju besiku.
Sir Ingard dengan cepat membantuku lalu meletakkannya di atas meja di pojok ruangan.
Aku berjalan kembali pada Jerome, duduk di bangku yang sama kemudian bertanya, “Jadi apa yang kau ketahui tentang kelompok penculik di kota ini, Jerome? Apa kalian memiliki semacam serikat kriminal begitu disini? Apa kau mendapat potongan juga dari aktifitas mereka?”
__ADS_1
Kali ini Jerome menjawab cepat dengan nada membela yang benar, “Demi Tuhan, Yang Terhormat, saya sama sekali tidak pernah mendengar apapun soal itu.”
Aku memperhatikan raut wajah Jerome baik-baik. Dia mengatakan hal yang sesungguhnya.
“Tentu saja. Kau bukan penculik. Kau hanya pengedar Ruffe.” aku menggigit apel hijau tersebut lagi, lalu bicara pelan-pelan, “Berapa banyak kasus penculikan seperti yang sekarang tahun ini?”
“Ini yang pertama di tahun ini, Yang Terhormat.”
“Apa tidak ada kelompok pencuri di kota ini?”
“Sejauh yang saya tahu tidak ada, Yang Terhormat.”
Aku mangguk-mangguk. “Kalau begitu ini akan susah.”
Jerome memandangku lekat-lekat. Tatapannya mulai terasa bersahabat dan penasaran. “Boleh saya tahu kenapa, Yang Terhormat?”
Aku memandang Jerome hati-hati, lalu setelah merasa pasti aku menjelaskan, “Menurutmu apa yang harus kulakukan?”
“Tentu saja menolong gadis tersebut, Yang Terhormat. Anda memiliki 50 prajurit, 5 diantaranya ksatria andalan Count Monte sendiri. Dengan bantuan penjaga kota kita pasti bisa meringkus mereka semua.” kata Jerome dengan semangat menggebu.
“Dan bagaimana caranya kita meringkus mereka?”
Jerome tersenyum lalu mulai menjelaskan, “Kita akan berjaga di sekitar hutan. Perjalanan kesana hanya memakan waktu 30 menit, Yang Terhormat. Anda bahkan bisa memasang barikade agar tidak ada yang bisa masuk atau keluar kota menuju hutan. Dengan begitu kita bisa menangkap para penculik itu dengan cepat!”
Aku tersenyum mendengar penjelasannya. Kemudian membalas, “Terimakasih, Jerome. Silahkan keluar sekarang. Aku akan meminjam ruanganmu sebentar.”
Jerome memandangku heran, tapi kali ini dia tidak bertanya dan hanya diam. Setelah Jerome keluar, aku berkata pada Sir Ingard, “Panggil seluruh prajurit kita kesini. Loren dan Remy termasuk. Setidaknya mereka bisa belajar sedikit dari inspeksi ini.”
Sir Ingard mengangguk paham lalu berjalan keluar. Tidak lama kemudian, semuanya sudah hadir disini. Ruangan mendadak penuh dan terasa sesak.
Aku memutar kursiku menghadap mereka semua yang berdiri. Aku berkata, “Kita akan menyelamatkan Francis pukul 3 nanti. Kita tidak bisa berjaga di hutan karena mustahil para penculik itu ada disana sekarang. Mencari dan menanyai orang-orang juga akan percuma sekarang. Tapi ada satu hal yang kita ketahui. Para penculik ini, adalah amatiran. Ini adalah percobaan pertama mereka dan mereka akan jadi lebih hati-hati. Kita tidak boleh meremehkan sifat hati-hati ini. Mereka pasti punya mata-mata di sekitar sini dan setiap omongan kita pasti akan diperhatikan. Jadi jaga omongan kalian di depan orang-orang Espern. Apa yang akan kita lakukan adalah mengirim ibu Francis ke hutan Alpis dan mengikutinya dari jarak yang cukup dekat. Setelah kontak dengan penculik di pastikan, kita akan menyergap mereka dan menyerang tempat para penculik tersebut. Ada yang ingin ditanyakan?”
Semuanya diam dan kelihatan paham. “Baiklah kalau begitu, bubar sekarang dan berusaha lah tidak mencurigakan.”
Semua prajurit melakukan salute militer lalu berjalan beriringan keluar ruangan. Saat akhirnya semua sudah diluar, tersisa Loren disana. Aku memandangnya dan tersenyum. Loren pun berjalan mendekat lalu berkata, “Maaf, aku terlalu gegabah. Aku tidak menyangka kalau mereka akan punya mata-mata disini.”
Aku mendengus. “Aku juga tidak tahu mereka punya mata-mata. Hanya berhati-hati. Tidak ada ruginya bukan?"
__ADS_1
Loren tersenyum, “Ya, kau benar Luca. Kau memang bisa diandalkan.”
Aku menggigit apel hijauku sekali lagi dan tersenyum kearah Loren.