
Caramel memasukkan kotak bekal ke dalam ranselnya. Lalu, tanpa sadar tangannya mengambil kotak bekal lain yang terpanjang rapi di rak piring. Dia akan memberikannya pada Taehyung sebelum berangkat sekolah.
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Cklek
"Neighbor? Masuklah," ucap Taehyung. Lelaki itu tampak rapi dan mempersilakan Caramel untuk masuk.
"Eh itu, lain kali saja kak. Aku hanya ingin memberikan ini. Aku memasak lebih, jadi kubagikan saja denganmu," ucap Caramel menyerahkan kotak bekal berwarna biru.
Taehyung terdiam, tampak menimbang keputusannya sebelum mengambil kotak bekal yang diberikan Caramel.
"Terima kasih, Neighbor. Kebetulan aku memang belum sarapan. Tapi, kau tidak perlu repot-repot begini sebenarnya," ucap Taehyung sambil tersenyum kotak.
"Ah, bukankah tadi aku sudah bilang padamu? Aku hanya memasak lebih. Kalau begitu aku pergi dulu, kak," jawab Caramel.
Taehyung mengarahkan tangannya ke atas kepala Caramel, mengacak surai cokelat gadis itu, membuat pemiliknya tertegun tanpa Taehyung sadari.
"Alright. Belajar yang rajin, Neighbor. Hati-hati di jalan."
♡♡♡
Caramel memainkan ponselnya sambil menikmati susu kotak kesukaannya. Pandangannya tertuju pada teman-temannya yang masih bermain di kolam renang. Sebenarnya Caramel suka berenang, namun saat ini kondisinya berbeda. Teman-temannya pasti akan berbuat hal tidak menyenangkan jika dirinya terlalu berbaur. Selama ini, alasan kenapa Caramel tidak menjadi bahan bullying adalah karena gadis itu selalu menjaga jarak.
"Kenapa tidak bergabung?" tanya seseorang dengan yang memakai almamater.
Caramel menoleh dengan tatapan bingung.
"Hei, aku berbicara denganmu, sweetheart," ucapnya lagi.
"Kau... siapa?" tanya Caramel dengan kedua alis bertaut.
"Aku Jungkook, kau tidak mengenaliku?" Jungkook menatap Caramel dengan jenaka. Sementara yang ditatap semakin menautkan kedua alisnya.
"I'm Kookie, don't you remember me?"
Caramel nyaris melepaskan kotak susu di tangannya lantaran terlalu terkejut. Ditatapnya lelaki itu dengan lekat. Jungkook, benarkah dia teman masa kecilnya yang itu?
"Tidak mungkin, kau-"
Tatapan Jungkook melembut. Tangannya terangkat mengusap tetesan air yang tiba-tiba telah mengalir di pipi Caramel.
__ADS_1
"Sweetheart?"
Caramel meremas kotak susu di tangannya. Perasaannya tiba-tiba bergejolak.
"Apa aku sedang bermimpi lagi?" lirih Caramel. Tatapan nanarnya membuat Jungkook merasakan sesak.
Tiba-tiba, suara pluit yang nyaring pertanda jam olahraga berakhir menarik perhatian Caramel. Gadis itu berdiri dan segera menuju ruang ganti. Namun, baru beberapa langkah, Caramel berhenti dan menoleh menatap tempat istirahatnya kembali. Namun, apa yang dilihatnya membuat hatinya sesak tanpa bisa diajak berkompromi.
Jungkook tidak ada. Jungkook tidak di sana.
Caramel menunduk. Perlahan, tubuhnya mulai bergetar. Air matanya luruh membasahi pipi. Gadis itu menangis dalam diam. Rasa sesak di dadanya membuat Caramel ingin menyerah.
"Kookie, bagaimana bisa? Bagaimana ini? Bagaimana aku bisa kembali melangkah?" isak Caramel.
Para siswa yang berlalu-lalang memperhatikan tingkah Caramel dengan tatapan terganggu. Cukup lama Caramel bertahan di posisinya. Setelah lelah, gadis itu berusaha mengatur nafasnya agar kembali tenang. Jungkook tidak akan suka jika dirinya seperti ini.
♡♡♡
"Cara, hari ini kita akan memiliki teman baru," ucap Jackson sambil berlalu membawa nampan kosong ke dapur.
Caramel yang sedang menghitung biaya pengeluaran bulanan menghentikan aktifitasnya sejenak.
"Benarkah kak? Wow, kapan? Apa yang lain sudah tahu?" tanya Caramel.
Jackson menyempatkan diri untuk mencubit pipi Caramel sambil membawa pesanan pelanggan.
Caramel menunjukkan wajah masam. Kenapa harus memberitahu jika tidak berniat menceritakan secara keseluruhan? Itu hanya akan mengundang rasa penasaran.
"Jackson menyebalkan," ucap Caramel sedikit keras agar Jackson mendengarnya.
Hari itu seperti hari-hari pada umumnya. Caramel membuatkan minuman untuk para pelanggan dengan senang hati. Salah satu alasan mengapa gadis SMA seperti Caramel diterima bekerja di restoran seperti ini adalah karena kemampuannya dalam mengerjakan beberapa hal sekaligus. Selain itu, Caramel sangat teliti dalam menghitung pemasukan dan pengeluaran restoran.
Sesekali, Caramel kembali teringat pada Jungkook. Teman masa kecilnya yang menghilang sejak rumahnya dibakar oleh para mafia. Sejak tiga tahun yang lalu, Jungkook benar-benar tidak meninggalkan jejak apapun. Ada yang mengatakan bahwa seluruh keluarga di rumah itu meninggal di tempat. Caramel tidak ingin mempercayainya, namun faktanya rumah megah itu nyaris rata dengan tanah.
Sejak dulu, kedua orangtua Jungkook selalu melarangnya berteman dengan Caramel. Namun, lelaki pemilik bunny smile itu tidak peduli dan tetap menjadi bahu untuk Caramel yang terpaut satu tahun lebih muda darinya.
Andai Jungkook masih ada, lelaki itu pasti akan bersekolah di Jeguk High School dan menjadi teman satu-satunya.
"Perhatian untuk para karyawan! Kemarilah!" ucap Pak Choi.
Lamunan Caramel terhenti. Matanya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 6 sore, dimana restoran akan ditutup untuk istirahat para karyawannya selama satu jam.
Caramel melirik Jackson dengan tatapan Apa ini tentang karyawan baru itu?
"Jadi, anak-anakku yang kusayangi," jeda Pak Choi.
__ADS_1
Salam pembuka itu sontak mengundang tawa seluruh karyawan.
"Hari ini ada satu karyawan baru yang akan membantu kalian. Aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik dan profesional," jelas Pak Choi.
Lelaki paruh baya itu menoleh ke arah pintu ruangannya. "Karyawan baru silakan masuk."
Caramel membulatkan matanya tak percaya.
Kak Taehyung?
"Halo, aku Taehyung. Terima kasih kepada Pak Choi yang telah menerimaku di sini. Mohon bantuannya semua," ucap Taehyung dengan senyuman ramah.
Ketika matanya menemukan Caramel, Taehyung tersenyum jenaka.
"Hello Neighbor," sapa Taehyung tanpa suara.
"Baiklah, sekarang restoran ini kembali dibuka. Bekerjalah dengan sepenuh hati. Semangat anak-anakku." Pak Choi mengepalkan tangannya di udara dan menepuk pundak Taehyung sebelum memasuki ruangannya.
Setelah kepergian bos mereka, para karyawan mendekati Taehyung untuk berkenalan. Lalu, mereka kembali pada dunia masing-masing karena pelanggan kembali berdatangan.
"Neighbor, kau tidak menyambutku seperti mereka?" tanya Taehyung ketika Caramel tidak menyapanya.
Caramel tersenyum kecil. "Aku penasaran kenapa kak Taehyung bisa bekerja di sini. Aku akan membombardirmu dengan pertanyaanku nanti," jawabnya sebelum kembali ke belakang meja kasir.
Taehyung mengikuti Caramel dan berdiri di sampingnya.
"Kak Taehyung? Kenapa kau di sini?" tanya Caramel.
Taehyung mengendikkan bahu. "Pak bos menyuruhku membantumu."
"Woah, really?" tanya Caramel antusias.
Taehyung mengangguk. "Dia bilang, aku harus membantu anak SMA yang bekerja di sini."
"Ah pak Choi benar-benar," gumam Caramel.
"Walau aku karyawan baru, tapi aku tetap lebih tua darimu, jadi tunjukkan sopan santunmu padaku, Neighbor," ucap Taehyung sambil tersenyum puas.
Caramel mendengus mendengar ucapan Taehyung. Walau tak dapat dipungkiri bila dirinya sangat senang dengan fakta bahwa Taehyung menjadi teman kerjanya. Tanpa Caramel sadari, Taehyung kini menatapnya dengan senyuman tipis.
'Aku tidak menyangka dapat akrab begitu saja dengan gadis ini. Padahal, sejak dulu aku tidak pernah memiliki teman wanita.'
Bonus Pict
__ADS_1