
Hujan mengguyur kota Seoul tanpa henti sejak pukul 9 malam. Caramel bersama beberapa rekan kerjanya lebih memilih menunggu hujan reda, termasuk Taehyung. Lelaki itu tampak sudah akrab dengan semua rekan kerjanya walau ini adalah hari pertamanya bekerja.
Kini, Caramel sedang mengerjakan tugas sekolahnya ditemani segelas milkshake blueberry favoritnya. Ini bukan pemandangan aneh bagi rekan kerjanya, karena Caramel memang sering memanfaatkan waktu senggangnya di restoran untuk belajar. Taehyung yang melihat Caramel begitu konsentrasi pun akhirnya berjalan mendekat dengan segelas milkshake strawberry di tangannya.
"Apa yang kau lakukan, Neighbor?" sapa Taehyung.
Caramel menghentikan kegiatannya sejenak. "Aku mengerjakan tugas sekolahku, kak Taehyung."
Taehyung duduk berhadapan dengan Caramel dan mengangguk. "Baiklah, kerjakan dengan benar!"
Caramel hanya tersenyum lebar dan kembali pada kegiatannya. Setelah 1 jam berlalu, minuman keduanya telah kosong, namun hujan belum juga reda. Satu per satu rekan kerja mereka berpamitan hingga hingga hanya tersisa mereka berdua di dalam restoran.
Melihat Caramel yang sibuk dengan dunianya, Taehyung yang bosan pun mulai mengantuk. Menyadari hal itu, Caramel menyudahi kegiatannya dan menatap Taehyung yang menjadikan lipatan lengannya sebagai bantal.
Ada perasaan bersalah yang menjalar di hati Caramel.
"Kak Taehyung?" panggil Caramel.
Taehyung menegakkan tubuhnya untuk menatap Caramel. "Ya?"
"Bagaimana ini? Di luar masih hujan dan sekarang sudah hampir jam 12 malam," tanya Caramel sambil menggigit kukunya.
"Tidak apa-apa, kita bisa menunggunya sampai reda," jawab Taehyung dengan santai.
"Really? Tapi ini sudah terlalu malam," ucap Caramel setengah tidak percaya.
"Aku tidak mau menerobos hujan, Neighbor. Tidak di saat hujan lebat dan tidak bila denganmu," jawab Taehyung final.
Caramel mengerjap mendengar kalimat terakhir yang Taehyung ucapkan. Hatinya mulai menghangat tanpa izin.
"Lagipula, Pak Choi sudah memberikan kunci restoran ini padaku. Kita bisa menginap di sini," tambah Taehyung.
Caramel menatap Taehyung tak percaya. Bagaimana bisa bos mereka mempercayai karyawan baru seperti Taehyung secepat ini? Belum lagi fakta bahwa menginap dengan lelaki yang bukan suami atau saudaramu di saat hujan sama sekali bukan jalan keluar yang benar. Tapi, menerobos hujan lebat tengah malam juga hanya akan mencari penyakit.
"Tapi, kita, kan..."
Caramel mulai kebingungan menyampaikan dilemanya karena takut Taehyung menjadi salah paham.
__ADS_1
Taehyung menatap Caramel dengan alis terangkat. Sebuah seringai kembali tercetak di bibirnya. "Hei anak kecil, pasti pikiranmu sudah kemana-mana, iya, kan?"
"Apa? Tidak! Aku tidak berpikir negatif sama sekali!" Caramel menyangkal dengan cepat.
"Berpikir kemana-mana tidak harus negatif, kecuali kau memang berpikiran negatif. Lagipula, wajahmu sudah seperti kepiting rebus," ucap Taehyung yang tak kuasa menahan tawanya.
Caramel menyembunyikan wajahnya di atas buku-bukunya yang berserak di meja. Tak berselang lama, gadis yang mencepol rambutnya sejak mengerjakan tugas itu kembali mendongak.
Taehyung memperhatikan Caramel sambil bertopang dagu. "Ada apa? Kau berubah pikiran?" tanyanya.
"Baiklah baiklah, karena aku besok harus sekolah, jadi tidak boleh sakit," jawab Caramel dengan pasrah.
"Nah, anak manis, kalau begitu sebaiknya kita tidur sekarang," ajak Taehyung sambil menarik Caramel agar mengikutinya.
"Kak Taehyung, bisakah kau memilih kata yang lebih baik? Kenapa kata-katamu ambigu sekali?" tanya Caramel.
Tawa Taehyung lepas begitu saja mendengar pertanyaan polos dari Caramel.
"Hahaha. Apanya yang ambigu? Memang benar, kan? Kau tidur di sofa putih, aku di sofa merah, kita sama-sama tidur, iya, kan?" jelas Taehyung yang membuat wajah Caramel memanas.
Keduanya kemudian merebahkan diri di sofa masing-masing. Suara lebatnya hujan yang menghantam aspal seakan menjadi lullaby bagi Taehyung dan Caramel. Gadis itu tersenyum dalam diam. Entah mengapa, membayangkan dirinya bersama Taehyung sepanjang malam membuatnya bahagia. Perutnya tergelitik di dalam sana, wajahnya memanas, dan kepalanya terasa nyaris pecah karena dopamin seakan memenuhi otaknya.
'Apakah aku jatuh cinta?'
Caramel menggeleng. Tidak mungkin, dia bahkan baru mengenal Taehyung.
'Siapa yang bisa menolak perlakuan lembut Taehyung?' tanya Caramel dalam hati sebelum kegelapan menariknya ke dunia mimpi.
"Bagaimana bisa kau tidur dengan baju pendek seperti ini? Kau ingin sakit, hm? Seharusnya kau membawa mantel."
Samar-samar, Caramel mendengar seseorang berbicara di dekatnya. Namun, rasa kantuk yang melingkupinya terlalu kuat. Di ambang kesadarannya, Caramel merasakan tubuhnya diselimuti sesuatu yang membuatnya tak lagi kedinginan.
"Sleep tight," bisik seseorang.
Pancaran sinar mentari pagi memaksa masuk melalui pori-pori kelambu tebal berwarna hitam. Taehyung membuka matanya dan menatap asing pada seluruh interior ruangan. Setelah nyawanya terkumpul, barulah lelaki itu menyadari semuanya.
Taehyung menoleh dan mendapati Caramel yang tertidur seperti putri tidur. Selimut yang dipakai gadis itu bahkan tidak berubah sejak tadi malam.
__ADS_1
Taehyung mendekati sofa dimana Caramel tertidur lelap di atasnya, berniat membangunkan gadis itu karena waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi.
"Neighbor, bangun," Taehyung berjongkok di depan Caramel dan berbisik agar tidak mengagetkan gadis itu.
"Hei, bangun," kali ini Taehyung menepuk pelan pundak Caramel.
"Neighbor?" panggil Taehyung sekali lagi. "Sudah jam 5, bukankah kita harus kembali ke apartemen karena kau harus ke sekolah?"
Caramel menggeliat dan membuka matanya perlahan. Tangannya tergerak menggosok matanya yang terasa berat. Rasa kantuk masih menyelimuti membuat Caramel enggan untuk bangun. Gadis itu mengerjap menatap Taehyung yang berada tepat di depannya.
"Morning," sapa Taehyung dengan senyum kotaknya.
Caramel mengerutkan kening heran. "Kakak! Kau sedang apa?! Kenapa bisa ada di kamarku, sih?"
Taehyung menatap Caramel dengan kedua alis terangkat. "Hei, kau lupa kita semalaman di sini?"
"Apa?! Apa maksudmu?!" tanya Caramel sambil bersandar pada sandaran sofa.
Taehyung memilih melipat selimut yang dipakai Caramel dan mengabaikan pertanyaan gadis itu.
"Kak Taehyung, kenapa kita tidak pulang dan justru tidur di restoran?" tanya Caramel dengan panik.
Taehyung mengembalikan selimut mereka ke sebuah ruangan khusus dan kembali ke tempat Caramel dengan sebotol air mineral. "Minumlah, sepertinya nyawamu masih belum terkumpul," ujarnya sambil menyerahkan sebotol air.
Caramel menerima air mineral dari Taehyung dengan perasaan kacau. Lalu, tanpa banyak protes, dia meminum air dalam botol itu sampai tersisa setengah.
"Sudah lebih segar?" tanya Taehyung yang dibalas tatapan aneh Caramel.
Taehyung mencubit pipi Caramel dengan gemas. "Ayo pulang dan bersihkan dirimu. Masih ada 3 jam untuk bersiap ke sekolah," ajak lelaki itu.
"Apa?! Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku, kak," jawab Caramel yang tidak terima ketika Taehyung mengabaikan kebingungannya.
"Cih." Taehyung berdecih. Satu tangannya terulur pada Caramel.
"Ayo! Sekarang kita harus pulang dulu karena kau harus pergi ke sekolah, Neighbor. Kita bisa bicarakan ini nanti kalau kau tetap tidak mengingatnya," ucap Taehyung dengan sedikit membujuk.
Caramel kembali membuka mulut, hendak menjawab sebelum akhirnya kembali menutup mulutnya. Sambil berusaha mengingat apa yang telah terjadi, tangannya tiba-tiba meraih tangan besar Taehyung. Lelaki itu tersenyum melihat kedua tangan mereka yang saling menggenggam.
__ADS_1
"Dasar, Neighbor."