
Caramel membaringkan tubuh menatap langit-langit kamar sederhana yang terbias cahaya hangat dari lampu tidur di atas nakas. Pikirannya kembali melayang pada percakapannya dengan Taehyung. Caramel menyentuh pipinya.
Panas, pikir Caramel.
"Ah, bodoh. Kenapa efek Taehyung bisa sehebat ini?" Caramel menggulingkan tubuh dengan heboh.
Tidak menyadari situasi, tubuh Caramel berguling melewati batas dan terjatuh dari kasur. Suara pekikan menggema pelan di kamar sederhana itu. Caramel terjerembab dengan wajah mencium karpet.
"Hahaha," tawa Caramel meledak begitu menyadari kebodohannya. Dia pun beranjak ke atas kasur sambil mengusap sudut matanya yang berair dan berusaha memejamkan mata. Namun, bayangan Taehyung seakan tidak ingin pergi dari benak Caramel.
***
Caramel mematut dirinya di depan cermin kecil. Rambut panjangnya dicepol dengan ikat rambut berwarna pastel. Bibir mungilnya terpoles liptint berwarna bibir dan membuat paras manis Caramel semakin indah dipandang. Dia adalah tipe gadis yang menyiapkan kebutuhan sekolah di malam hari. Alasannya karena Caramel tidak ingin ada buku mau pun alat tulis yang tertinggal.
Setelah siap, gadis bersiap menuju sekolah. Tepat ketika pintu apartemen Caramel terkunci, Taehyung keluar dengan terburu-buru. Aroma parfum maskulin merebak di udara merebut atensi si gadis SMA.
"Pagi, Kak," sapa Caramel.
Taehyung yang baru menyadari keberadaan gadis itu kini tersenyum cerah. "Pagi, Cara. Mau ke mana?"
"Kakak pikir ke mana lagi? Apa aku terlihat seperti akan bolos ke suatu tempat?" tanya Caramel.
"Dandananmu terlalu mencolok. Aku kira kau akan kencan dengan dandanan ala anak SMA?" Seringai Taehyung pun muncul.
Taehyung mengendikkan bahu sambil memegang tali tas punggung yang tersampir di bahu bidangnya. Lelaki itu tampak menawan dengan kaos polos yang senada dengan celana pensilnya dan kemeja denim berwarna navy. Rambut Taehyung tertata rapi, tapi sangat mendukung penampilannya pagi itu.
Definisi orang ganteng selalu bebas, puji Caramel dalam hati.
"Mungkin Kak Taehyung yang akan pergi kencan. Parfummu bahkan tercium dari radius sekian kilometer."
Taehyung menjawil dagu Caramel dengan seringai tampannya, membuat gadis itu melotot tidak terima.
"Ih, Kak Taehyung pedo!"
Lelaki berahang tegas itu mengangkat kedua alis ketika Caramel mengatakan sesuatu dengan bahasa yang tidak dia mengerti. Lalu, dengan keingin tahuan tingkat tingga, Taehyung bertanya, "Bahasa planet mana yang kau gunakan barusan?"
Caramel berpura-pura tersinggung. "Planet alien!" jawabnya ketus.
Caramel segera berjalan meninggalkan Taehyung yang menatap gadis itu dengan tatapan aneh. Lalu, sepasang kaki panjang Taehyung berlari menyusul Caramel. Dia tentu mudah untuk mengejar gadis bercepol itu. Memiliki tinggi seratus delapan puluh sentimeter menjadi kelebihan tersendiri bagi Taehyung.
"Oh, ya? Berarti kau juga alien?" goda Taehyung sambil memasang wajah ketakutan.
__ADS_1
Caramel memperhatikan wajah aneh Taehyung. "Kalau aku alien, kenapa? Kak Taehyung takut? Pergi sana!"
"Ah, tetangga cantikku sepertinya merajuk." Taehyung merangkul bahu Caramel. Gadis itu melepasnya, tapi Taehyung kembali membiarkan tangannya bertengger pada bahu mungil itu tanpa persetujuan si pemilik.
"Jadi apa arti bahasa alienmu itu?" tanya Taehyung ketika mereka menunggu bus di halte. Tak butuh waktu lama, bus pun datang.
"Kau kepo." Caramel menjawab dengan bahasa Indonesia sambil segera memasuki bus.
Mereka duduk berdampingan di atas kursi yang cukup untuk dua orang. Caramel duduk di dekat jendela. Taehyung memaksa Caramel karena lelaki itu mengatakan bahwa duduk di pinggir lebih rawan terhadap pelecehan. Kata-kata manis yang diucapkan Taehyung sukses membuat hati gadis itu menghangat.
Taehyung memperhatikan Caramel. "Cara," panggil Taehyung ketika Caramel mulai memasang earphone untuk tidak mengacuhkannya. Caramel beryanyi pelan mengikuti lagu yang mengalun.
Taehyung melepas satu earphone dan mendekatkan diri pada Caramel. "Cara, eres hermosa," bisiknya pelan.
Bulu roman gadis itu segera meremang. Caramel mengusap telinganya yang terasa geli mendengar bisikan seorang Taehyung. Salah tingkah, Caramel refleks memukul bahu Taehyung dengan wajah merah padam.
"Aw! Sakit!" pekik Taehyung. Dia tentu bergurau karena pukulan Caramel seperti pukulan anak bayi baginya.
"Apa-apaan, sih?" gerutu Caramel.
"Jangan mengabaikanku," balas Taehyung dengan ikut menggerutu.
Taehyung berdecak dan menahan lembut pergelangan tangan Caramel. "Kau iya."
"Aku tidak."
"Kau iya."
"Aku tidak."
"Kau cantik."
"Aku tidak- Eh!"
Taehyung terpingkal-pingkal melihat wajah bersemu milik Caramel. Tangannya bahkan harus memegang perut dan pipi karena terlalu terhibur dengan respons Caramel. Gadis itu pasti sedang tersipu dan kesal di waktu yang bersamaan. Taehyung segera mengabadikan momen ini dengan ponsel keluaran terbarunya yang berwarna hitam metalik.
Caramel yang berniat menggoda Taehyung kini menjadi benar-benar kesal. Dia berusaha meraih ponsel Taehyung, tapi lelaki itu memiliki seribu cara untuk menyembunyikan ponselnya. "Hapus, Tae!" sungut Caramel tanpa menggunakan panggilan sopan yang biasa dia gunakan di negara asalnya.
Taehyung semakin menggoda Caramel dengan memperlihatkan wajah lucu setiap melihat foto gadis itu di ponselnya. Namun, Caramel terus berusaha merebut ponsel pintar itu. Tangan gadis itu terulur berusaha meraih sesuatu yang tersembunyi di belakang punggung Taehyung. Wajah mereka terpaut beberapa sentimeter. Embusan napas hangat dari keduanya beradu memberi efek beku.
Wajah polos Caramel membuat jantung Taehyung berdetak kencang. Taehyung mencubit hidung mancung Caramel "Jangan menatapku seperti itu. Banyak orang yang masuk ICU setelah menatapku lebih dari tiga detik."
__ADS_1
Caramel mendengkus, lalu menjauhkan tubuhnya dari Taehyung. Namun, gerakannya kalah gesit dari Taehyung. Lelaki itu menarik Caramel dalam rangkulannya. "Uuh, baby-ku marah?"
Wajah Caramel tak tertolong. Gadis itu hampir menangis karena kelimpungan menghadapi sensasi demam merah jambunya. Kembali digoda membuat Caramel memberontak ingin dilepaskan. "Lepas!"
"Ssstt! Jangan berontak. Aku jadi ingin melakukan hal yang lebih padamu." Taehyung menatap Caramel agar gadis itu menyadari keseriusannya.
"Ih, pedo!" teriak Caramel sambil menjambak rambut Taehyung.
***
Caramel telah memikirkan masa depannya dengan matang. Dia ingin melanjutkan studi di perguruan tinggi. Dia ingin mengambil pendidikan kedokteran. Namun, kondisi ekonominya sama sekali tidak memungkinkan sekali pun Caramel bekerja di bermacam-macam restoran selama seminggu penuh. Dia menelungkupkan kepala di meja. Pikirannya terasa penuh sesak tak beraturan.
Bagaimana jika di Universitas Roman? Kau bisa bertemu Taehyung.
"Kenapa jadi si pedo lagi?" Caramel mengacak rambutnya frustrasi.
Tak berselang lama, dia memekik senang. "Ah, apa boleh buat?"
Walau masih belum pasti memilih pendidikan kedokteran, tapi Caramel akan terus belajar. Ujian Nasional di depan mata. Akan tetapi, ada hal lain yang harus dirinya persiapkan, yaitu ujian masuk perguruan tinggi. Daya saing di Korea selatan sangat tinggi. Jika ingin lolos seleksi, maka harus mempersiapkan semuanya dengan matang sejak jauh-jauh hari. Itulah yang Caramel lakukan. Beruntung shift malam sudah berakhir karena bosnya memotong jam kerjanya sejak lelaki paruh baya itu mengetahui betapa dekatnya jadwal ujian nasional.
Caramel juga selalu ditugaskan bersama Taehyung jika dia mendapat shift malam. Entah siapa yang mengidekan hal ini, yang jelas Caramel senang setengah mati. Melihat Taehyung berada dalam jarak pandangnya membuat semangatnya terisi tanpa bisa dicegah.
"Aish, sejak kapan aku jadi bucin?" Caramel menegakkan kepalanya, mendapati Taehyung duduk manis di hadapannya dengan apron abu-abu di tubuh atletis lelaki itu.
"Aku melihat ada kebakaran di depanku. Jadi, aku membawakan ini," ujar Taehyung sambil menggeser segelas minuman dingin berwarna kuning ke depan Caramel.
Dengan wajah berbinar, Caramel menyambut minuman kesukaannya dengan riang. "Terima kasih, Kak Taehyung!"
"Kau sudah selesai?" Netra Taehyung melirik beberapa buku di meja Caramel.
"Belum," jawab gadis itu.
"Ya sudah." Taehyung mengambil buku-buku tebal di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas Caramel tanpa mempedulikan tatapan tak setujunya.
"Kak, kenapa kau bereskan? Aku masih harus belajar." Caramel menatap Taehyung tak mengerti. Taehyung terlihat aneh sekarang.
Taehyung menatap Caramel dalam. Dengan lembutnya lelaki itu melepas ikatan di rambut Caramel agar rambut yang dicepol sejak pagi itu tergerai dan membebaskan kepala gadis itu. Terlalu lama mengikat rambut akan membuat kepala sakit.
Taehyung tersenyum lembut sambil mengusap kepala Caramel. "Ayo, kita pulang! Kau tahu? Kau butuh istirhat yang cukup jika ingin diterima di Universitas Roman. Terlalu memforsir diri hanya akan membuat otakmu cepat rusak. Belajarlah dengan bertahap. Aku yakin otakmu sudah kelelahan sekarang."
Jika ada sesuatu yang Caramel butuhkan sekarang, itu hanyalah Taehyung. Lelaki dengan semiliar pesona yang tak kunjung habis. Lelaki yang memiliki sifat empat dimensi. Lelaki yang mampu memahaminya disaat rangkaian kata tak sempat tercurah mewakilkan batin.
__ADS_1