
Sepasang netra cokelat Caramel menatap pemandangan pohon sakura dari jendela kelas yang berada di lantai dua. Bunga-bunga mungil berwarna merah muda dengan latar belakang langit biru benar-benar akan memanjakan mata bagi siapapun yang memandang. Caramel tersenyum mengingat kejadian dua hari yang lalu.
Taehyung and his box smile.
Caramel bukanlah tipe gadis yang menjadi most wanted di sekolah. Ketenaran Caramel sebagai siswi hanyalah sebatas penyandang beasiswa akademik. Namun, itu bukanlah sesuatu yang merugikan bagi Caramel. Selama Caramel dapat mempertahankan prestasi itu, dia tidak akan mudah untuk merasa rendah diri.
"Cara, kau sudah belajar untuk ujian minggu depan?" tanya seorang siswi bernama Yeonjin.
"Aku sedang mempelajari itu." Caramel menjawab dengan nada ramah.
Yeonjin tersenyum lega. "Baiklah. Nanti jangan lupa untuk membantu teman-temanmu, ya."
Caramel tersenyum dan mengangguk. Lalu, Yeonjin pergi begitu saja.
Simple.
Terkadang, Caramel merasa hidupnya tidak adil. Orang-orang datang dan pergi semau mereka. Banyak yang datang saat butuh dan pergi ketika dibutuhkan. Sampai saat ini, Caramel bahkan belum mempunyai seorang sahabat. Teman-teman di kelas pun hanya sebatas teman di sekolah.
Tidak apa-apa. Lebih baik fokus dengan impianmu.
***
Caramel berlari menuju apartemen. Hujan kembali turun secara tiba-tiba dan mengguyur Caramel yang lupa tidak membawa payung. Gadis itu tidak menyadari keberadaan Taehyung yang sedang memberikan ekspresi aneh.
Setelah membersihkan diri dan memakai baju hangat, Caramel meringkuk di ranjang dalam balutan selimut tebal. Matanya menatap ponsel dengan malas. Tak berselang lama, suara ketukan pintu terdengar. Caramel menghela napas sebelum membuka pintu.
Siapa, sih, yang bertamu hujan-hujan begini? gerutu Caramel kesal sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Begitu pintu terbuka, wajah Taehyung yang tersenyum menjadi hal utama yang menarik perhatian si pemilik apartemen.
"Kak Taehyung?" tanya Caramel tak percaya dengan kedua alis nyaris bertautan. Taehyung memainkan sebelah alisnya. "Apa aku mengganggumu?" tanya lelaki itu ketika melihat Caramel yang telah memakai piyama.
Caramel menggeleng. "Tidak. Silakan masuk, kak," ujar Caramel sambil menggeser tubuhnya agar Taehyung bisa masuk. Lelaki itu duduk di sofa ruang tamu dan menepuk sisi kosong di sebelahnya. "Duduklah," pinta Taehyung.
Caramel menutup pintu, lalu beranjak duduk di sebelah Taehyung. Ada yang aneh dari Taehyung. Lelaki itu tiba-tiba terasa dekat dan akrab di mata Caramel.
__ADS_1
"Aku lihat kau pulang basah kuyup, kau tidak membawa payung?" tanya Taehyung sambil memperhatikan wajah Caramel.
Caramel tersenyum dan menggeleng, membuat Taehyung menggelengkan kepala tak habis pikir. Akhir-akhir ini cuaca memang tidak menentu, bisa-bisanya Caramel tidak membawa payung. Taehyung memperhatikan wajah Caramel yang terlihat lebih pucat. "Kalau tidak mengeringkan rambut dengan benar, nanti kau bisa terkena flu."
Tanpa bertanya, Taehyung mengambil alih pekerjaan untuk mengeringkan rambut Caramel. Rona merah tiba-tiba menjalar di pipi gadis itu. Melihat itu membuat Taehyung tergerak untuk menyentuh wajah Caramel. Gadis itu semakin memerah karena perlakuan Taehyung.
"Sedetik yang lalu kau pucat, tapi beberapa detik setelahnya wajahmu memerah, coba sini kuperiksa," ucap Taehyung sambil menempelkan telapak tangannya ke kening Caramel. "Kau mungkin akan terkena demam sebentar lagi," gumam Taehyung merasakan suhu tubuh Caramel yang terasa panas di tangannya.
Kak Taehyung, aku rasa demamku akan semakin parah jika tanganmu tidak segera menyingkir, batin Caramel.
"Kau sudah makan?" Taehyung menurunkan tangannya dari pipi Caramel. Lelaki itu menatap Caramel yang hanya terdiam. "Caramel?" panggil Taehyung ketika Caramel tidak merespons.
"Eh, kenapa, Kak?" Caramel mengerjap bingung.
Taehyung tertawa. Gemas dengan perilaku Caramel, Taehyung mengusak kepala gadis itu pelan.
"Kau punya ramen?" tanya Taehyung sambil berjalan menuju dapur.
"Ada, kau mau?" Caramel berlari menghampiri Taehyung. "Akan kubuatkan kalau Kak Taehyung mau," tawar Caramel.
Taehyung menggeleng dengan mata menyipit. "Hari ini aku akan merawat baby girl sampai sembuh."
Taehyung tergelak. " Nah, itu kau tau," jawab Taehyung membuat Caramel diam-diam merasa kecewa. "Jadi, duduk dan menunggulah dengan manis, baby girl."
Astaga, Caramel. Begini saja kau sudah salah tingkah. Ingat! Kak Taehyung hanya lapar, bukan serius ingin merawatmu. Caramel membatin memperingatkan dirinya.
Tak ingin terlalu lama terbawa perasaan, Caramel akhirnya beranjak menuju ruang bersantai untuk menonton televisi sambil menunggu Taehyung selesai. Suara panci terbentur beberapa kali membuat Caramel menahan tawa. "Kak, apa kau baik-baik saja?"
Taehyung menjawab dari dapur, "Harusnya kau ajari pancimu Cara, dia tidak mau menurut dan terus bergerak," jawab lelaki itu.
Caramel tergelak. Selera humor Taehyung boleh juga. Tak berselang lama, Taehyung kembali dengan dua cup ramen dan mengambil tempat di sofa kosong di sebelah Caramel. Caramel bersorak ketika Taehyung memberikan satu cup ramen untuknya.
"Terima kasih. Sepertinya ini enak sekali," goda Caramel.
Taehyung meletakkan telapak tangannya yang berukuran besar di kepala Caramel, lalu menggoyangkan kepala gadis itu pelan. "Berani sekali kau menggodaku, bocah."
__ADS_1
Caramel menatap Taehyung dengan mata menyipit. "Aku bukan bocah," elak Caramel. Taehyung mencebikkan bibir dan mengendikkan bahu, lalu mulai menyantap ramen.
"Kak Taehyung tidak ada shift malam?" tanya Caramel sambil mie berkuah pedas itu.
Taehyung menggeleng. "Kau?"
"Aku libur hari ini." Jawaban Caramel membuat Taehyung penasaran.
"Kenapa?" tanya Taehyung.
"Hari ini aku ujian dan mendapat nilai sempurna, pak bos selalu memberiku hadiah. Kebetulan hujan deras, jadi aku meminta libur sebagai hadiahku."
Taehyung menggigit bibir bawah menahan perasaan gemas ketika Caramel berbicara dengan mulut penuh. "Baiklah, dasar anak emas! Kalau begitu habiskan makananmu," tutur Taehyung.
Caramel tersenyum senang. Bersama Taehyung lebih menyenangkan daripada libur bekerja. Malam ini Taehyung datang dan mereka makan bersama. Itu membuat Caramel merasa sangat bahagia.
"Enak sekali!" komentar Taehyung ketika ramennya tandas. Caramel yang duduk di sebelah Taehyung mengangguk setuju. Entah karena ramen itu memang enak atau karena Taehyung yang memasaknya.
Sesuatu yang berat tiba-tiba menimpa pundak Caramel. Sang pemilik bahu menoleh dan mendapati Taehyung bersandar sambil memejamkan mata. Perut Caramel tergelitik.
"Ih, berat!" Caramel menggerakkan pundaknya agar Taehyung menyingkir. Namun, lelaki itu justru memperbaiki letak pipinya agar nyaman. Caramel sungguh tidak ingin terjerat pesona Taehyung, tetangga barunya yang tampan.
"Ah, aku kenyang sekali, Cara. Pinjamkan pundakmu sebentar saja," gumam Taehyung tanpa membuka mata.
"Menyingkir, Kak, kau itu berat," tolak Caramel kekeuh.
Taehyung hanya menggumam tanpa merubah posisi sedikit pun. Caramel akhirnya menyerah dan membiarkan Taehyung bersandar. Gadis itu memainkan ponsel demi meredam kegugupan yang dia rasakan.
"Cara, kau berencana kuliah di mana?" tanya Taehyung mengalihkan perhatian Caramel dari ponsel yang gadis itu pegang.
Caramel terdiam. Dia ingin melanjutkan kuliah. "Aku belum tau, Kak," jawab Caramel seadanya.
"Bagaimana kalau di Roman University? Bukankah itu salah satu universitas ternama?" Taehyung bertanya penuh semangat.
Caramel mengangguk setuju. Roman University adalah universitas berstandar internasional, tapi biaya perkuliahan di sana tergolong mahal. "Aku rasa aku tidak bisa, Kak. Bukankah di Roman biayanya mahal?"
__ADS_1
"Kita bisa bertemu terus jika kau kuliah di sana, karena aku sedang kuliah semester lima. Kau tidak perlu takut. Ada banyak program beasiswa yang bisa kau pilih. Kau, kan, pintar, Cara. Aku yakin kau pasti bisa." Taehyung sedikit mendongak untuk melihat wajah Caramel.
Caramel tidak membalas tatapan lelaki itu. Taehyung tidak menyadari jika Caramel kehilangan fokus karena kalimat pertama yang lelaki itu ucapkan. Seakan menaiki roller coaster, perut Caramel terasa diaduk-aduk dengan fantasi masa depan yang indah.