
PERINGATAN.
Seluruh cerita dalam novel ini merupakan fiksi dan tidak nyata. Tokoh dan karakter hanya dibuat sesuai imajinasi. Mohon pengertiannya dan Terima Kasih.
"DORRR. Terdengarku suara tembakan yang mengerikan." kata Connor, saksi di sana. "Apa itu saja? " kata rekanku, Darren Thomas Smith. "Ya, aku sangat pasti." kata Connor dengan ketakutan dan penuh kesedihan sebab temannya, Willy baru saja meninggal dalam kasus yang kami selidiki ini. "Jangan takut Connor, kami tidak akan membunuhmu, kami hanya bertanya." kata Darren."Jangan paksa dia Darry." kataku, William Natan Holmes."Aku tau kau bukan pelakunya Connor, tetap tenang dan rileks." kataku."Namun apa kau betul betul hanya melihat 1 orang saja? " kata Darry. "Ya. Setahuku namanya adalah Trevor." katanya. "Baiklah Connor, terimakasih atas kesaksianmu, namun asal kau tau saja, jika kau membocorkan hal ini, lihat saja nantinya apa yang terjadi padamu. " kata Darry dengan tatapan penuh kecurigaan. "Ba Baiklah, aku tidak akan membocorkan 1 kata pun. " katanya.
Setelah membicarakan perihal itu, kami pun pergi ke kafe Jack si Mata Biru untuk mengetahui sesuatu hal tentang Trevor.
Ketika mengetahui bahwa Trevor ternyata sudah meninggal semalam, aku jadi tau bahwa Trevor bukanlah dalang kasus ini.
Kasus ini berawal dari Darren dan aku yang ingin pergi ke kota Manchester untuk berjalan jalan tidak lama kemudian, Inspektur Brown meneleponku, berkata "Ya Tuhan, Natan! Dimana kau? Aku sudah lama dan lelah menunggumu di kantor polisi selama 3 jam, Aku juga punya kehidupan Natan!" Darry kemudian mendengar hal itu dan berkata "Kau membuat janji yang kau tak bisa tepati lagi Natan, kau tak boleh begitu." Aku mendengar omelan kedua orang yang bersemangat menjalani hidup mereka. Kemudian kami pun balik ke London, dan ke kantor polisi dimana Inspektur Brown berada. "Maaf membuatmu menunggu Inspektur Kevin Brown." Kata Darry, tatapannya seperti menghina perilakuku ini. "Ada kasus baru yang mungkin membuatmu sangat bahagia kali ini dan kau tak akan melupakannya,Natan. " kata Inspektur Brown, Darry menjawab "Kau bukan sekali berkata seperti itu Inspektur." Dia membelaku sembari aku lagi berpikir.
__ADS_1
Kasus kali ini tidaklah mudah, karena pembunuhan terjadi disekitar London, dan kasus ini melibatkan beberapa orang yang telah meninggal. Dan perkataan Connor ternyata benar, Trevor terlibat dalam kasus ini. Namun kematiannya seperti pembunuhan. Itulah kuncinya, mencari pembunuh Trevor. Pada saat ini tidaklah mungkin kita bisa berbicara pada Trevor. Jadi, kami berencana untuk berbincang sejenak dengan Penny Johnson, mantan pacar Trevor. Karena berbicara padanya, kami mendapatkan informasi baru, dan sedikit membantu kami dalam penyelesain kasus Trevor.
Sebenarnya masih banyak yang terkait kasus ini, tapi entah mengapa intuisiku berkata bahwa Connor dapat dipercaya untuk menyelesaikan kasus ini dan dia pasti berkata hal yang benar. Karena hal itu, kami pun menelpon Connor untuk bertemu lagi di kafe Jack si Mata Biru dan kami ternyata bertemu dengan Penny disana. Kami langsung menyapanya dan kami pun berbicara 4 orang, Aku, Darry, Connor dan Penny, Jujur, karena Darry adalah mantan dokter jantung, aku sangat terbantu olehnya dalam kasus ini, karena dia juga seorang yang mempelajari ilmu psikologi, dia sangat ahli dalam menilai orang dalam berbicara, bahkan ia lebih mahir dibanding psikolog profesional.
Setelah berbincang agak lama, kami jadi tahu bahwa Trevor merupakan anak yatim piatu dari panti asuhan Gray Arnold. Dia kidal dan pecandu narkoba dan alkohol , namun pernah menempuh pendidikan sampai perkuliahan dan berhenti. Dia juga memiliki beberapa teman yang dekat, seperti Jane, Peter dan Kenny mereka sama sama dari panti asuhan Gray, mereka akrab sekali namun, hanya Penny lah yang tau bahwa Trevor merupakan pecandu narkoba dan alkohol. Dari sini bisa dikatakan bahwa Trevor merupakan orang yang memiliki sifat tertutup, dan mungkin Penny, adalah awal mula Trevor memakai narkotika. Atau bisa saja Penny adalah pengedar narkoba itu sendiri.
Usai berbincang dan pulang dari kafe, aku dan Darry ingin pergi ke kantor polisi Inspektur, Sesudah sampai di sana, Inspektur mengatakan "Hei Natan, Connor yang menjadi saksi, tewas akibat kecelakaan sekarang ini." Darry menjawab "Apa!? Kami baru saja berbicara dengannya tadi siang kira kira jam 13." Aku berpikir dengan cepat, aku merasa bahwa pembunuhan ini adalah pembunuhan berantai yang di buat buat oleh seseorang, dan melakukan rencana yang sangat tepat dan mungkin pasti terjadi, tak lama kemudian, Darry berkata padaku "Aku sudah telat untuk bekerja Natan, kau harus pulang sendiri ke rumah, sampai jumpa!" katanya dengan penuh semangat. Aku memilih untuk tidak pulang dan berbincang pada Inspektur.
"Well, aku sangat tau itu Pak Holmes, kau mengingatkanku pada istriku yang sering mengomel." jawabnya padaku.
"Jangan samakan aku dengan istrimu pak. Aku bukan istrimu, dan tidak akan pernah."
__ADS_1
jawabku.
"Haha kau memang unik Holmes! Aku sudah menduganya sejak awal kita bertemu!" katanya, aku tahu dia mengalihkan pembicaraan.
"Bukan saatnya bercanda Pak Brown. Mungkin ada orang yang akan mati beberapa saat lagi. Kita harus siaga dan tidak boleh lengah. " "Kau betul Holmes. "
*Tidididit* Telepon Inspektur berbunyi dengan harapanku ada pembunuhan dan benar saja ada pembunuhan terkait kecelakaan Connor, ternyata Connor ditabrak mobil yang dikendarai oleh Jane, teman Trevor, dia ternyata sengaja menabrak Connor karena memiliki dendam, Jane mengetahui bahwa Connor lah yang membunuh Trevor. Ketika Jane ditangkap, aku dan Inspektur pergi ke ruang introgasi untuk menanyakan pembunuhan Connor dan Trevor.
Sesampainya kami di ruangan itu, asumsiku benar, bahwa kasus ini memang pembunuhan berantai, dari awalnya, Trevor memang membunuh seseorang, namun rekan Connor menembaknya dan Connor mengaku bahwa dia mendengar suara tembakan dan mengaku sebagai saksi, namun alibinya sangat sempurna sehingga sulit untuk dicurigai. Trevor membunuh kakak Connor, bernama Mary. Connor tidak senang dengan hal itu, sebab itu dia membunuh Trevor dengan membuat hal itu seakan akan menjadi kecelakaan, karena yang menembak Trevor bukanlah Connor, namun rekannya Willy, mereka bekerja sama, namun pada saat Willy dan Trevor saling membunuh, Connor hanya mengintip agar bisa menjadi saksi. Dan benar saja, dia memang mengatakan hal yang benar. Namun dia harus sembunyi dari kepura-puraan tersebut. Jane yang mengetahui hal tersebut dan dia tidak tahu dari mana, dia berkata padaku bahwa ada yang mengiriminya pesan, dengan nomor yang tidak dikenal. Pada nomor tersebut ada hal yang ganjal, karena nomor tersebut seolah olah ada kodenya. Jane yang merupakan kawan masa kecil Trevor tentu tidak senang dan menabrak Connor.
Usai mengintrogasi Jane, aku berkata pada Pak Inspektur, "Mungkin asumsi ku benar pak, ada pembunuhan berantai disini dan pasti ada yang merancangnya, yang pasti ada orang ketiga, bukan korban dan pelaku." Pak Inspektur Brown menjawabku dengan mata yang memandangku dengan penuh keadilan "Kau benar Holmes, kita maju selangkah dan mendekati orang ketiga."
__ADS_1