Thousand Kill

Thousand Kill
Chapter 3~ Third Person?


__ADS_3

PERINGATAN.


Seluruh cerita dalam novel ini merupakan fiksi dan tidak nyata. Tokoh dan karakter hanya dibuat sesuai imajinasi. Mohon pengertiannya dan Terima Kasih.


Hari esok tiba, hari ini Inspektur menyuruhku untuk ke kantor, pada kalender, hari ini adalah hari sabtu, akhir pekan, akan ramai orang di pasar hari ini. Marry akan kesulitan, namun dia pasti sudah terbiasa. Aku pun memulai hari ku dengan susu coklat kesukaanku yang dibuat oleh Marry. Seperti biasa, Inspektur yang begitu semangat menelpon lagi. "Hei Natan! Apakah kau baru bangun? Aku butuh bantuanmu segera di kantor ya!" Padahal aku baru bangun, dia membuatku begitu sibuk seakan akan aku harus sibuk. Aku langsung menutup telponnya dan pergi keluar dan mencari taksi untuk pergi ke kantor polisi, seperti biasa, Darry sangat nyenyak, namun dia akan dibangunkan oleh Marry nantinya.

__ADS_1


Sesampainya aku di kantor polisi, ternyata Inspektur Brown memiliki rekan baru bernama Edward Watson, dia orang baru di sana. "Perkenalkan, saya Edward Watson." katanya padaku. "Natan, ini rekan baruku. " kata Inspektur. "Oh, baiklah, senang bertemu dengan mu Eddy." jawabku. "Bagaimana kasus kali ini pak? " kata Eddy dengan penuh semangat dan harapan. "Aku dan Pak Holmes sedang menyelidiki kasus ini, kau sebaiknya jangan terlalu ikut campur dahulu, kau disini hanya untuk melakukan apa yang kuperintahkan saja." jawab Inspektur. "Baiklah pak!" jawabnya dengan semangat yang membara. Setelah itu dia pergi ke tempatnya, aku dan Inspektur lah yang tersisa. "Apa ada perkembangan pada kasus sekarang Inspektur? " "Belum, Holmes. " "Baiklah kalau begitu. Namun, apa tidak ada TKP yang tepat Inspektur Brown? " "Mungkin ada, kalau tidak salah rumah Connor dan Trevor, kita tidak bisa membawa Willy, karena dia sedang ditahan, namun apabila Willy meninggal saat ini, bisa dipastikan bahwa ini memang pembunuhan berantai, bukan Holmes? " "Ya dan kemampuanmu semakin tajam ya, Inspektur."


Sesudah berbincang beberapa waktu, kami pergi ke rumah Trevor, ternyata di ruangan dapurnya bercecaran banyak darah, dan ada darah dimana mana. Pada kaca di sekitar wastafel, tertulis suatu kata yang ditulis dengan darah, kata itu adalah 'Ca' dan sebagian lagi sudah rusak, jadi sambungan kata itu rumit untuk diketahui, mungkin saja itu adalah nama pembunuh, pikirku. Tulisan itu agak besar, dengan begitu, mungkin saja itu ditulis oleh Trevor atau Willy , agar kami tahu nama pembunuhnya, namun seharusnya Willy lah yang tahu, karena dia masih selamat dalam kasus ini. Mungkin Willy akan diajak berbincang oleh Inspektur setibanya kami di kantor polisi nanti. Waktu sudah menunjukkan pukul 10, aku dan Inspektur lupa untuk makan sarapan, jadi kami singgah ke kafe Jack si Mata Biru, untung saja paman Jack tidak hadir pada saat perampokan hari itu. "Tahukah Holmes? Mungkin makan bacon akan enak hari ini. " katanya. *Tidididit* Seperti yang sudah kuduga, Darry menelponku dan mengatakan "Holmes, aku libur hari ini, aku akan membantu dalam kasusnya hari ini, dimana kalian?" kata Darry. "Kami ada di kafe Jack si Mata Biru. " jawabku, lalu kututup telponku itu. "Mengingat Darry menelponku, Inspektur, aku hari itu berkunjung ke Rumah Sakit St. Bartolomeus, dan banyak korban akibat orang ketiga pada kasus ini. Mungkin saja 'Ca' adalah orang ketiga atau Third Person. Dan korban yang berada di rumah sakit adalah bahan eksperimen untuk cara pembunuhan 'Ca'. " "Ya, mungkin saja dan berarti kasus kali ini adalah hasilnya bukan, Holmes? " "Ya, Tepat sekali, kalau begitu kita makan terlebih dahulu. "


Kemungkinan, orang selanjutnya adalah Willy, namun dia masih berada di penjara, kalau ia mati, berarti 'Ca' ini adalah pelaku semua korban ini. Namun, anehnya, mengapa Trevor tidak menulis nama Willy? " tanya Darry. "Itu sangat mudah Smith, tentu saja karena Willy bukan pembunuhnya! Bisa dibilang berarti Connor melihat 'Ca' mirip dengan postur badan Willy." "Kita mendapatkan bukti baru Holmes. " "Ya, kalau begitu, ayo kita tanyakan hal ini pada Willy di penjara Inspektur. "

__ADS_1


Kami pun pergi ke penjara, dan menanyakan beberapa pertanyaan pada Willy. "Apakah kau tau siapa Trevor? " "Tidak Inspektur, aku saja baru mendengar namanya. " "Berarti memang 'Ca' adalah pelakunya Holmes. " bisik Darry padaku. Aku hanya mendengar saja, karena aku belum tahu, dan tidak baik menuduh orang bukan? Setelah mengajukan beberapa pertanyaan lainnya, jam sudah menunjukkan pukul 15 sore, dan kami belum makan siang, waktu sangat cepat berlalu. Kami pun pulang ke rumah masing masing. Sungguh hari ini tidak terlalu menyenangkan bagiku, tapi bagi mereka yang semangat menjalani hidup, pasti menyenangkan


Pada pukul 19 malam, Marry terlihat pucat, dan kulitnya seperti memar, sepertinya dia sakit, jadi aku dan Smith membawanya ke rumah sakit. Tidak lama kemudian dia meninggal. Setelah itu, kami mengecek teleponnya dan dia mendapatkan pesan bahwa Willy meninggal, dari nomor yang tidak dikenal. Mungkin Marry adalah ibu Willy saat ini. Memang intuisi seorang ibu tidak pernah salah, karena ketika kami mengecek telepon Marry, Inspektur meneleponku dan mengatakan hal yang sama. "Hei Natan! Willy benar benar meninggal di dalam penjara dan setelah diperiksa, ternyata dia amti keracunan makanan dalam penjara, padahal tahanan lainnya baik baik saja. " Aku terkejut dan senang sebab aku tahu sekarang, siapa pelakunya. Namun akan sulit untuk menemukannya tanpa bantuan Inspektur tentunya, jadi aku dan Smith langsung pergi ke kantor ada malam itu.


Sesampainya aku dan Smith di kantor, "Apakah ada karyawan baru baru ini yang menerima pekerjaan di sini?" tanyaku dengan cepat. "Ya tentu saja, yang pertama adalah Edward Watson, Calvin McDonald, Carius Wilson, Caren Garcia, Marvey Rodriguez, Marca William dan Gosney Davis. " kata Inspektur. "Ada 3 tersangka pada kasus ini sekarang. yang pertama adalah Calvin McDonald, Carius Wilson dan Caren Garcia. " jawabku dengan cepat karena berharap kasus ini selesai dengan segera. "Apakah karena berinisial 'Ca'? " tanya Darry dengan lugunya. "Tentu saja Smith! Mengapa bingung? " "Haha, aku mungkin terlalu lelah dan terpukul atas kematian Marry." kata Darry. "Ya, kau sangat memiliki hati yang bermoral. Tidak sepertiku yang hanya ingin menyelesaikan kasus dan tidak mempedulikan yang lain. " "Tak apa Holmes, kau memang terlahir untuk hal ini. Lihat saja sisi baiknya! Kau dapat membantu kepolisian dan memeiliki kesempatan untuk terkenal!" "Terkenal bukanlah tujuanku Smith, tunjuanku adalah bersenang senang dalam menyelesaikan kasus karena kasus lah yang membuat hidupku lebih sedikit berarti. " "Kalian memang unik! Holmes dan Smith! Kalian rekan yang luar biasa." "Ya, terserah kau saja Inspektur. " jawab Smith dengan wajah sedih akibat terpukul. "Sampai Jumpa Inspektur. Aku mau makan malam dulu, aku sudah sangat lapar. " "Baiklah aku juga, aku juga ingin istirahat dan makan, sangat melelahkan bekerja di kepolisian." katanya.

__ADS_1


__ADS_2