
MATA yang tajam, hidung yang mancung bagaikan sebuah ukiran, bibir tebal yang selalu membuat garis lurus. Sempurna. Hanya kata itu yang cocok menggambarkan wajah bak dewa Yunani itu.
Tak ada cela sama sekali. Membuat para gadis berlomba-lomba menarik perhatiannya. Namun pria dengan pahatan muka sempurna itu terlampau dingin, jarang ada kata yang keluar dari mulutnya. Jarang ada ekspresi yang tergambar di wajah tampannya.
Hanya datar dan tatapan tajam yang dingin membuat orang di sekitarnya merinding.
Karena itu semua orang memanggilnya ...
Lucifer.
Pria itu—Lucifer—tidak pernah memberitahukan namanya. Seolah pria itu menyimpan rahasia besar di balik namanya. Dari itu semua orang memanggilnya Lucifer. Pria yang menyimpan segudang misteri. Seperti sosok mistik di benak mereka.
Lucifer sendiri tak pernah menghiraukan mereka. Dia tak menolak namun juga tak pernah menyetujui panggilan mereka pada dirinya. Ia terlalu nyaman untuk menutup mulutnya.
Namun nyatanya, pria misterius itu bukanlah sosok sempurna. Ia juga mempunyai sisi gelap yang orang lain tidak tahu. Hanya dirinya sendiri. Tidak ada yang tahu jika ia adalah ...
Pembunuh bayaran.
Maka dari itu Lucifer selalu bungkam jika ada yang bertanya soal 'apa pekerjaanmu?' Dia sama sekali tidak tertarik dengan pertanyaan yang menurutnya tidak berbobot itu.
"Aku sudah bilang jika aku adalah pembunuh bayaran, bukan pembunuh berantai yang bisa membunuh siapa saja!" Siapa yang menyangka jika Lucifer, sosok mistik yang mereka bicarakan itu bisa menyampaikan rasa kesalnya. Walaupun itu disampaikan dengan nada yang sangat datar dan hampir tak bernada sama sekali.
Suara desisan dari pria yang mempunyai sorot tajam itu membuat seseorang yang duduk di hadapannya menegang. Orang itu bahkan menelan ludahnya gugup.
"M-ma-maksudku bukan begitu. Hanya saja boss bilang kalau--"
"Beda. Kami berbeda!" Potong Lucifer. Ia meraih gelas bir yang sudah tersedia di meja klien nya. "Aku membunuh untuk mendapatkan uang, sedangkan mereka hanya untuk kesenangan," ia meminum bir itu seraya menyorot tajam pada klien nya.
"J-jadi apa kau bersedia?" Tanya orang itu dengan gugup. Padahal jelas jika ia lebih tua daripada pemuda yang sekarang sedang bersandar sambil memainkan gelas minumannya, tapi kenapa aura pemuda itu sangat mencekam?
"Asal kau tahu, aku tak di bayar murah untuk menghabisi nyawa seseorang," Lucifer menyeringai lebar.
Sang lawan bicara mengangguk. Pria yang menjadi klien nya itu menggeser laptop nya dan mulai mengetikkan sesuatu disana, setelah mungkin berhasil. Pria itu memutar laptop nya menghadap Lucifer.
Lucifer menaikkan sebelah alisnya seakan bertanya.
"Masalah perusahaan, heh?" Sinisnya.
__ADS_1
"Iya. Kurasa boss-ku itu tidak mau peringkat perusahaannya menurun. Beliau ingin perusahaannya tetap di peringkat satu, namun baru-baru ini perusahaannya tergeser oleh perusahaan yang baru saja berdiri," jelas James—orang yang menjadi kliennya. Sudah bisa ia tebak, jika pria itu hanya seorang titahan dari pemilik perusahaan yang sedang menuju kehancuran itu.
Lucifer menunduk, menyembunyikan wajahnya yang terlihat menyeramkan saat ini. Inilah mengapa ia menyebut jika orang-orang itu serakah. Mereka tidak pernah bersyukur atas apa yang mereka punya.
"Apa website itu mempunyai nama?" Tanya Lucifer masih dengan nada datar. Ia menegak bir itu hingga habis tak bersisa.
James berujar ragu, "Kelihatannya dia orang yang sangat pintar. Bahkan ia memasukkan satu inisial dalam web-nya. Kudengar dia juga memiliki seseorang yang sangat handal dalam meng-hack."
Iris gelap milik Lucifer menyorot pada James. "Biar kulihat!" Lucifer menyipitkan matanya.
Keheningan menyapa mereka untuk sesaat. Hanya terdengar bunyi jarum jam yang berdetak dan suara binatang malam yang mengisi keheningan. Lucifer mengetukkan jarinya di dagu, seolah sedang berpikir.
Pria itu menatap layar laptop sangat serius. Matanya berkilat licik seiring sudut bibirnya yang terangkat. Jari-jari panjang pria itu mengetikkan sesuatu yang tak dapat dimengerti oleh James. Lucifer memang seorang profesional yang handal, James aku itu. Bahkan aura pria itu sangat kuat.
"pft," James mengangkat kepalanya. Ia menatap ngeri Lucifer yang terlihat sedang menahan tawanya.
"Ah ****! Aku benci nama samaran yang cupu seperti ini," umpatnya dengan seringai yang terpampang. "Jadi, berapa kalian akan membayarku?"
"Satu milyar."
Lucifer menarik seringainya lebih lebar. "Itu sangat fantastis. Tapi, apa kau yakin jika boss mu itu akan membayarku sebesar itu untuk membunuh satu orang?"
"Damn klienku ini memang sadis. Hahahaha,"
James meneguk ludahnya sekali lagi. Suara tawa pria itu seperti pengantar kematian baginya. Ia sekarang mengerti, mengapa orang-orang menyebutnya Lucifer. Pria itu memang seperti iblis dimatanya. Penuh intrik dan nafsu.
James memakai tas kantornya dengan terburu. Pria itu ingin cepat keluar dari ruangan yang gelap dan hanya di terangi oleh cahaya lilin ini.
"Aku sudah melakukan riset terhadap keluarga target. Kau akan beraksi besok malam, tepat jam 12.00 malam. Keluarga mereka sedang berlibur di sebuah villa jauh dari perkotaan."
"Oho, aku sangat beruntung saat ini. Baiklah, aku akan menyiapkan segala hal."
...***...
Ceklek...
Pintu berwarna cokelat itu terbuka menampilkan seorang pria tinggi dengan setelan jas serba hitamnya. Ia melepas dasi yang melingkari kerah bajunya. Pria itu bahkan sudah membuka jas hitamnya dan membunganya sembarang.
__ADS_1
Tepat saat pria itu sedang membuka satu per satu kancing baju kemeja putihnya, sebuah tangan kecil melingkari pinggangnya. Pria itu tersenyum kecil, tangan besarnya meraih tangan mungil itu. Ia mengusapnya perlahan dan mendapati sebuah cincin yang melingkar di jari manis tangan mungil itu.
"Aku merindukanmu. Kau selalu pulang malam saat aku sudah tertidur, dan kau juga selalu berangkat pagi sebelum aku terbangun. Kau jahat sekali," suara lembut itu mengecil di ujung kalimat.
Pria itu membalikkan tubuhnya. Ia meraih tubuh kecil itu dalam pelukannya. Ia tahu jika istrinya ini sedang menangis, karena punggung kemejanya yang basah.
Tangan besar pria itu mengusap lembut rambut panjang yang selalu ia favoritkan dari istrinya. Bukan hanya rambutnya, ia juga suka semua yang ada dalam diri istrinya itu.
"Maaf," bisiknya pelan.
Wanita manis itu mendongak menampakkan wajahnya yang basah karena air mata. "Kau janji tidak akan begitu lagi, Cristh?" Ia menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan pria yang lebih tinggi darinya.
Cristh menyambut uluran jari itu, sementara satu tangan yang lain memegang pinggang istrinya. "Aku janji."
Stella tersenyum saat suaminya menyatukan kening mereka. Ia mengalungkan tangannya ke leher Cristh. Momen seperti ini jarang sekali ia rasakan semenjak menikah dua minggu lalu. Karena perusahaan suaminya itu sedang melaju sangat pesat, kebersamaan dirinya dan Cristh pun berkurang.
Cristh tersenyum. Masih dengan keningnya yang menyatu, ia menggerakkan badannya ke kiri dan kanan seolah mereka sedang berdansa. Mereka terkekeh bersama.
"Jika ada musik, pasti lebih menyenangkan lagi. Iya, 'kan?" Stella tersenyum lebar. Ia senang. Sangat senang.
Cristh mengangguk. Pria itu memiringkan wajahnya dan mengecup bibir istrinya sekilas. "Kau mau jalan-jalan?"
Stella memiringkan kepalanya dan mata yang berbinar. Mereka masih berdansa dengan perlahan. "Kemana?"
"Villa yang ada di puncak pergunungan. Suasana sangat sejuk disana, sekalian buat bulan madu kita yang sempat tertunda," pria dengan pahatan wajah sempurna itu mengecup pipi Stella lembut.
Stella memejamkan matanya. Saat dirasa kecupan suaminya semakin merambat ke leher. "Baiklah," ujarnya.
Cristh mendongak dan tersenyum lembut pada Stella. Lalu, mengecup kening istrinya.
Tidak ada yang tahu jika bahaya sedang mengintai mereka disana. Dan tak ada yang tahu jika malam yang indah dan tenang ini akan menjadi malam terakhir bagi mereka untuk berlempar pandang.
Tenang sebelum badai menerpa.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
...-TBC-...
__ADS_1
...
...