
"Sial*n!" Lucifer menghela napasnya kasar. Wajahnya yang semula bersemangat kini berubah menjadi datar—dengan wajah yang memerah menahan emosi.
"Aku terlalu malas membuang peluruku yang mahal hanya untuk membunuh gadis kecil sepertimu," ujarnya dingin. Ia menatap gadis yang masih terisak sembari menggoyangkan tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Bahkan piyama merah mudah gadis itu sudah berubah warna menjadi merah karena darah.
"Aku juga terlalu malas untuk menghabisi orang yang bukan targetku. Kau tidak ada hubungannya denganku," lanjutnya kejam. "Yah, sepertinya aku salah target. Dan malah menargetkan keluargamu, maaf."
Lucifer mengucapkan itu dengan nada datar. Tak ada satu kalimat pun yang tulus dari mulutnya, bahkan dengan tanpa dosanya ia mengucapkan 'maaf'.
Gadis itu berdiri dari duduk bersimpuhnya. Tangannya sudah kotor karena darah, dan bau besi berkarat menguar di penciumannya. Ia menatap pria yang memandangnya datar itu dengan uraian air mata.
"Kau!" Teriaknya di sela isakannya. "Apa salah kekuargaku, hah?! Hiks ... dasar iblis! Kau membunuh mereka. Penjahat!"
Dengan sisa keberaniannya. Gadis itu mencoba memberikan pukulan pada Lucifer. Air matanya yang mengalir deras, membuat pandangannya memburam. Namun emosinya sudah ada di puncak kepala, meski tubuhnya gemetar ketakutan.
Lucifer dengan santainya menghindar. Hei, apa gadis itu tidak sadar? Ia bahkan hanya setinggi dadanya dan melayangkan pukulan padanya? Lucu sekali. Menurutnya, ini hanya membuang waktunya saja. Ia harus cepat menjalankan rencananya.
Kedua tangan kekar milik Lucifer mencengkeram pergelangan tangan mungil gadis itu, hingga si empunya memekik kesakitan.
"Kuberi kau kesempatan untuk kabur!"
BRUKH!
Dengan tidak berperasaannya, Lucifer menendang gadis itu hingga tersungkur. Luka lecet kini menghiasi lutut gadis itu. Lucifer menyeringai, ia berjalan melewati gadis itu dan mengambil sesuatu di dalam lemari dapur. Dengan santai Lucifer menumpahkan seluruh bensin ke semua ruangan itu.
"Akan ku hitung hingga sepuluh. Larilah sejauh mungkin, sebelum aku benar-benar membunuhmu!"
Lucifer menyalakan pematiknya.
Wajah bak dewa Yunani itu mengukir seringai tajam. Kemudian menutup matanya dan mulai menghitung.
"Satu."
"Dua."
Sebenarnya gadis itu belum benar-benar memahami situasi. Ia masih mengira jika ini semua adalah mimpi. Tetapi, instingnya memerintahkannya untuk terus berlari sejauh mungkin. Ia harus menyelamatkan diri dengan cepat walau tanpa keluarganya.
__ADS_1
"Tiga."
Gadis itu berlari sekuat tenaga tanpa alas kaki—sehingga kakinya yang mulus terus tergores dan lecet karena ranting dan batu yang dirinya injak. Walaupun terasa perih, gadis berpiyama merah muda itu terus melanjutkan larinya. Dirinya terus berlari sambil berteriak meminta tolong, walaupun ia tahu jika itu semua sia-sia. Karena di sekitarnya hanya ada pepohonan yang rimbun.
Kejadian mengerikan ini terjadi hanya dalam hitungan detik. Jika saja ia bisa memutar waktu, ia kan berkumpul bersama keluarganya dan mengesampingkan hobby-nya.
Brugh!
Karena terlalu cepat berlari di jalan yang menurun, dan tanpa pecahayaan yang cukup hanya di terangi oleh cahaya bulan. Gadis itu tersandung—terperosok hingga masuk ke jurang sedalam tiga meter.
Gadis itu menjerit histeris, kedua kakinya mati rasa. Darah, goresan, dan telapak kakinya di penuhi oleh goresan dan lebam. Dirinya terisak lantaran tidak sanggup menahan rasa sakit yang menusuk hingga dadanya ini.
Andai saja ini semua tidak terjadi, ia akan bersenang-senang dengan keluarganya. Padahal beberapa menit yang lalu, ia sedang melukis keluarganya dan akan di perlihatkan tepat pada 12 malam. Dimana tahun akan berganti.
Kenapa hal ini harus terjadi padanya?
Rasa sakit yang semula bersarang di kakinya kini menyebar ke seluruh tubuhnya. Gadis itu menangis, padahal selama 17 tahun hidupnya ia jarang sekali menangis. Apakah ini semua adalah akhir hidupnya? Ia sudah kehilangan semua keluarganya.
Blarrr!!!
Ledakan keras terdengar dari arah villa milik almarhum neneknya. Disana terlihat Lucifer yang keluar tanpa luka sedikitpun, lalu bersiap memasuki mobil.
"Cih," ia berdecih pelan. Lucifer melihat gadis itu terperosok ke bawah jurang. "Dia mau bunuh diri atau apa?" Geram Lucifer pelan. Entahlah, tapi yang bodoh disini adalah dia.
Mengapa ia malah turun ke jurang dan menghampiri gadis itu? Bukankah seharusnya ia sudah berbaik hati dengan membiarkan gadis itu pergi.
"Hei, kau sudah mati?"
Lucifer berjalan mendekati gadis yang tersungkur tanpa bergeming itu. Dirinya mengernyit, menyalakan flashlight di ponselnya dan menyoroti gadis itu. Lumayan terkejut, Lucifer melihat pergelangan kaki gadis itu yang terluka parah. Sepertinya, kaki gadis itu mengalami pendarahan.
"Hei!"
Lucifer menggunakan kaki kanannya untuk menendang pelan tangan mungil itu, guna memastikan apakah gadis kecil itu masih hidup atau sudah mati? Apa pedulinya.
Namun diluar dugaannya, jari mungil gadis itu bergerak menandakan bahwa dirinya masih bernapas, dan bernyawa. "Hiks ..."
__ADS_1
"Oh, masih hidup ternyata."
"T-tolong hiks ..."
Apa? Jujur, Lucifer akui dirinya saat ini dirinya terkejut karena perkataan yang lolos dari bibir mungil itu. Lihatlah, betapa naif-nya gadis ini.
"Apa kau sadar dengan perkataanmu? Kau meminta orang sudah membunuh keluargamu untuk menyelamatkanmu?"
Gadis itu hanya terisak. Tubuhnya seperti sudah remuk. Ia tidak bisa menggerakan kakinya.
Lucifer menatapnya datar. "Matilah kau disini!" Disaat dirinya akan berbalik sebuah tangan mungil menahan kakinya, yang menyebabkan ia berhenti sejenak. "Apa?"
Gadis itu terlihat kesusahan untuk membuka suaranya. Tangannya gemetar, gadis berusia 17 tahun itu benar-benar terlihat menyedihkan.
"K-kau bilang ... ka-kami bukan ta-targetmu, 'k-kan?" Napasnya tersenggal sesaat sebelum melanjutkan perkataannya, "Hiks ... k-kau ba-bahkan sud-sudah membunuh ... kel-keluagaku. M-maafmu bahkan ti-tidak tulus,"
"Jadi kumohon, bawalah aku sebagai permintaan maafmu pada keluargaku. Kumohon, jangan biarkan aku mati disini," isak gadis itu. Tangan mungilnya masih mencengkeram kaki Lucifer. "Kumohon, aku harus hidup hiks ... setidaknya untuk keluargaku. Aku harus tetap hidup hiks ..."
Lucifer terdiam. Sial, bocah ini benar. Tapi apa harus ia membawanya? Itu hanya akan merepotkan dirinya saja.
"Tidak. Kau akan merepotkanku," ujar Lucifer dingin. Gadis itu menggeleng, berusaha meyakinkan Lucifer. "Tidak. A-aku tidak akan merepotkanmu. K-kumohon ..."
Lucifer berjonkok di depan gadis itu. Dirinya menatap gadis itu dalam. "Apa kau yakin akan meminta bantuan pada orang yang sudah membunuh semua keluargamu? Apa kau tak akan menyesal, hm?"
Gadis itu mengangguk walaupun terpaksa. Dirinya benar-benar harus bertahan hidup, untuk mempertahankan garis keluarganya. Walaupun ia harus hidup sebatang kara karena sanak saudaranya sudah meninggal. Dirinya harus bertahan demi Ayah dan Ibunya. "A-anggaplah ini sebagai permintaan maafmu. Jadi ku-kumohon, ini sakit sekali hiks ..."
Lucifer menyeringai. Tatapannya berubah tajam. "Di dunia ini tidak ada yang gratis. Bantuanku juga tidak gratis," ia memiringkan kepalanya dan menatap remeh gadis kecil itu. "Apa yang kamu punya untuk membayar bantuanku?"
"A-aku ... aku akan bekerja padamu. J-jadi kumohon ini sa-sakit hiks ..."
Sebenarnya jika bukan karena 'sebagai permintaan maaf' Lucifer benar-benar enggan untuk menyelamatkannya. Dirinya sudah bertekad untuk tidak menganggu kehidupan orang lain yang tidak punya urusan dengannya. Namun, hari sial ini malah datang. Jadi ia harus bagaimana lagi?
"Naik ke punggungku aku akan membawamu bersamaku."
Baiklah, untuk kali ini saja ia bersikap baik pada seseorang. Jangan ada lain kali. Dan jangan sampai mereka berdua sama-sama menyesal pada akhirnya.
__ADS_1
...\=\=\=\=\=...
...-TBC-...