Time Out

Time Out
PART V.


__ADS_3

Lumina meringis perlahan, sebelum menggeliat dengan kaku. Gadis itu membuka matanya perlahan, menampakkan netra cokelat yang jernih. Kening yang berkeringat dan udara yang pengap membuat Lumina terbangun.


Matanya mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam pupilnya. Dirinya masih berada di dalam mobil milik Lucifer, namun pria itu tidak ada entah kemana. Bahkan mesin mobilnya mati, membuat Lumina kehabisan oksigen.


Lumina bangkit dan merasakan kakinya yang berdenyut sakit. Dirinya menggedor-gedor kaca mobil mencari pertolongan. Disini sangatlah pengap.


Ia tahu jika Lucifer mengunci dirinya dalam mobil. Ia juga tahu jika pria itu tidak tahu dirinya sudah sadar. Namun tetap saja Lucifer harus disalahkan disini, karena meninggalkan Lumina sendirian di dalam mobil—dengan mesin yang mati dan pintu yang terkunci. Sementara Lucifer, orang itu malah asik mabuk diluar sana.


'Brengs*k!'


Bukan di sebuah bar, Lucifer hanya minum-minum di etalase restoran yang memang menyediakan bir dan v*dka. Lumina meringis kecil, tangan kecilnya mencoba untuk mengetuk kaca mobil itu brutal.


Merasa usahanya sia-sia, karena tidak ada respon dari Lucifer maupun orang yang berjalan lalu-lalang. Lumina kini mati-matian mencari benda logam, agar suara ketukannya terdengar lebih nyaring.


Tapi sepertinya pria tak berperasaan itu sudah menyadari jika Lumina terbangun dalam mobil. Lucifer segera berdiri dan membayar minumannya dengan perasaan kesal kebalikan dari wajahnya yang memasang raut datar. Gadis itu benar-benar menganggu waktu bersantainya!


Lucifer sedikit berlari menuju parkiran, dirinya membuka pintu mobil kasar dan mendapati Lumina sedang terisak.


'Gadis ini benar-benar mudah menangis.' Pikirnya.


Lumina menangis. Kulitnya diterpa udara pengap, dirinya kira ia akan mati tadi.


Tangan kekar Lucifer dengan cepat menyalakan mobinya dan pendingin suhu agar sirkulasi oksigen dalam mobilnya kembali normal. Netra tajam Lucifer melirik Lumina yang basah karena keringat. Kemudia tangannya mengulurkan air mineral pada gadis itu.


"Ini, berhenti menangis. Aku benci suara kebisingan!"


Oh, ayolah. Sesulit apa kata maaf bagi Lucifer? Dia bahkan hampir membuat anak seseorang mati kehabisan napas, namun dia masih tetap bersikap dingin?


Merasa tak terima, Lumina menunjukkan kekesalan dengan menangis lebih keras. Tangannya menepis air pemberian Lucifer.

__ADS_1


"Sial*n! Bisakah kau diam, hah?!" Lucifer membentak Lumina lantang, membuat gadis bertubuh kecil itu tersentak dengan suara tangisnya yang tertahan. "Argh, damn!" Lucifer mengacak rambutnya kasar. Ia berusaha mendapat fokusnya, dirasa alkohol dalam dirinya mulai bereaksi.


Lucifer menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sementara Lumina hanya duduk dengan kepala menunduk dan kedua tangan terkepal di pangkuan. Gadis itu memalingkan wajahnya ke jendela dengan mata sembab.


Keadaan disana senyap, tanpa ada satu patah katapun yang keluar dari mulut keduanya. Walau sesekali Lumina melirik Lucifer yang sedang mengemudikan mobil dengan raut datarnya.


Lumina bahkan belum mengetahui nama pria di sampingnya itu dengan benar. Ia hanya mendengarnya samar ketika seseorang memanggil pria itu saat kesadarannya hampir hilang. Dan orang itu menyebut nama pria disampingnya Lucifer.


Memang ada ya orang yang bernama Lucifer? Walau benaknya bertanya-tanya, Lumina hanya bisa terdiam. Di benak Lumina, pria itu adalah orang terkejam dan dingin yang belum pernah ia temui. Lihatlah sudah dua puluh menit berlalu, tapi pria itu tak kunjung menoleh atau mengangkat suaranya.


"H-hei," merasa jenuh akhirnya Lumina membuka percakapan terlebih dahulu. Ia melirik pria yang memiliki tatapan menyeramkan menurutnya. Lucifer masih menatap lurus ke depan, dan tak menghiraukannuya sama sekali.


"L-Lucifer?" Cicit Lumina pelan.


Merasa terpanggil, Lucifer menurunkan kecepatan mobilnya. Ia merespon panggilan Lumina dengan datar, "Apa?"


"Ja-jadi benar namamu Lucifer, ya?"


Lumina terdiam, ia tidak tahu harus mulai bicara darimana. Sungguh, ia kesalahan terbesar memulai percakapan dengan Lucifer. Padahal dengan susah payah Lumina memikirkan kata-kata yang akan ia ucapkan pada pria itu, namun Lucifer malah meresponnya dengan singkat.


Kepalanya menunduk saat sadar jika ia hanya sendiri sekarang. Tak ada sanak saudara, semuanya terjadi begitu cepat hingga Lumina belum mencerna apa yang terjadi. Matanya mulai berkaca-kaca kembali, namun ia tidak berniat meluruhkan air mata itu.


"Apa masih lama? Kakiku sakit," lirihnya. Tubuhnya gemetar, bukan hanya rasa sakit yang ia rasakan namun rasa takut juga mendominasi. Ia berdoa semoga keputusan yang ia buat tidak salah.


Lucifer membuang napas. "Ambilkan aku botol itu, lalu buka!" Bukannya menjawab pertanyaan Lumina, ia justru menyuruh Lumina untuk mengambil sebuah botol yang terletak di samping gadis itu.


Lumina meraih botol itu, tangan kecilnya membuka tutup botol seperti apa yang diperintahkan Lucifer. Kematian keluarganya oleh pria itu menimbulkan trauma. Sehingga ia takut jika dirinya tak menuruti perkataan pria itu, maka dirinya juga akan dibunuh.


Bau khas kelapa tercium ketika Lumina berhasil membuka tutup botol tersebut. Ia mengulurkan botol itu pada Lucifer.

__ADS_1


"Untuk apa ini?" Tanya Lumina pelan.


"Pereda mabuk," jawab Lucifer singkat. Ia menegak minuman kelapa itu dengan cepat dan langsung habis dalam sekali tegukan. "Kakimu masih sakit?"


Setelah mendengar pertanyaan dari Lucifer, Lumina sedikit lebih tenang. Jujur saja, Lumina tidak suka dengan kesenyapan.  "Eum, sedikit. Apakah masih lama?"


"Tidak. Kita sudah sampai," Lucifer memarkirkan mobilnya di depan apartement dimana ia tinggal. Lumina mengedarkan pandangannya ke sekitar, cukup sadar jika itu adalah apartement yang besar dan merah.


Lucifer mematikan mesin mobil dan keluar dengan santai. Ia mengitari mobil dan membuka pintu penumpang. "Naik," titahnya seraya membungkukkan punggungnya.


Lumina mengangguk. Dengan ragu tangannya memegang pundak tegap itu dan naik perlahan ke punggung lebar itu.


"Perhatikan kakimu, Nona!" Tegur Lucifer dikala perban di kaki Lumina meneteskan darah.


Wajah Lumina berubah panik, ia takut dengan darah. Dan kejadian berdarah yang menimpa keluarganya, enggan untuk ia ingat kembali. Peristiwa menyedihkan dan mengerikan, sukses membuat Lumina semakin takut akan darah dan suara tembakan.


Lucifer memasuki lift dengan Lumina yang digendongannya. Kamarnya berada di lantai 16. Lumina diam tak membuka suara sedikit pun, membuat Lucifer menyeringai. Aura yang dihasilkan pria itu sungguh berbeda sekarang, sangat salah jika Lumina ikut dengannya. Ia tak akan segan-segan, walaupun itu seorang wanita ataupun anak kecil.


"Aku tidak mau tahu, mulai malam ini jangan pernah merepotkanku lagi. Membawamu saja sudah sangat merepotkan untukku!" Sarkas Lucifer. Seolah memiliki banyak kepribadian, kepribadian Lucifer berubah seiring dirinya masuk ke kamar apartement.


Tubuh Lumina di hempaskan begitu saja ke sofa berwarna cokelat yang tersedia disana. Gadis itu meringis, ia mengangguk perlahan.


"Jawab, bukannya hanya mengangguk-ngangguk tak jelas!" Sentaknya dengan tangan yang mencengkeram dagu gadis itu.


"I-iya," bisiknya. Dagunya mulao terasa sakit karena dicengkeram begitu erat. Ia memiliki firasat yang sangat buruk ketika senyum miring tersungging di wajah tanpa cela itu.


"Bagus. Seterusnya kau bekerja padaku, aku akan melatihmu. Dan jangan pernah kabur, atau kau akan menerima kematian yang sangat mengerikan!"


...\=\=\=\=\=...

__ADS_1


...-TBC-...


__ADS_2