
Lucifer melepaskan cengkeramannya pada dagu gadis itu. Ia melihat ruam kemerahan tercetak di pipi Lumina, namun ia tak peduli. Itu bukan urusannya.
Lucifer menjatuhkan dirinya ke sofa yang sedikit jauh dengan Lumina yang sedang mengusap pipinya pelan. Pria itu memejamkan matanya dengan punggung yang disandarkan ke sandaran kursi. Tenaganya sangat terkuras hari ini, bukan hanya tenaga namun juga emosi.
Drtt ... Drrrttt ... Drrttt ...
Getaran dari ponselnya membuat Lucifer menggeram kesal. Ia mengumpat kasar seraya berjalan menjauhi ruang tamu.
Lumina yang masih di posisi semula hanya bisa menatap kepergian Lucifer dengan helaan napas lega. Namun perasaan lega itu tak berlangsung lama saat Lucifer membanting ponselnya ke lantai dan berjalan ke arahnya penuh amarah.
"Argh! Brengs*k!!!"
Keinginan Lumina untuk bertanya langsung ciut saat mendengar umpatan penuh amarah pria itu.
"Fu*ck!"
BRAK ...
TRAK ...
BRUGH ...
Tak hanya membanting ponselnya, Lucifer bahkan membanting benda-benda yang ada di sekitarnya. Sepertinya guci dan lampu hias membuat Lumina berjengit kaget.
"Sial," iris tajam Lucifer menatap Lumina dan berjalan mendekati gadis itu.
Lumina semakin menunduk dengan tubuh yang gemetar. Ia takut. Dan napasnya tercekat kala sebuah tangan kasar mencekik lehernya tanpa sebab. Lumina memberontak, berusaha melepaskan lilitan tangan Lucifer dari lehernya. Matanya kembali berair.
"A--hk—"
Tubuh Lumina tersentak ke belakang. Tangannya masih mencona menahan tangan Lucifer yang mencekiknya. Namun itu semua tak membuahkan hasil, bahkan cekikkan itu semakin bertenaga, membuat napasnya terengah.
"Khh," Lumina berusaha untuk berbicara, namun sia-sia ia merasa napasnya sangat sesak dan menyakitkan.
Dan ketika Lumina mengira jika nyawanya akan berakhir malam ini. Tubuh Lucifer di dorong oleh seseorang sehingga cekikan pada lehernya terlepas.
__ADS_1
"Jangan gila Lucifer! Ada apa denganmu?! Ini bukan dirimu!"
Lucifer tersungkur ke belakang. Ia menatap tajam Alex yang sedang melindungi Lumina, dengan menjadi tameng gadis itu. "Kau sudah susah-susah membawanya dan menyuruhku untuk mengobatinya. Lalu kenapa kau malah mencekiknya? Kau mau membunuh orang yang tak berdosa lagi?!" Amuk Alex.
Tubuh Lumina sangat gemetar, gadis itu bahkan terbatuk-batuk dengan mulut yang meraup oksigen sebanyaknya. Alex melirik gadis itu prihatin, lalu menatap Lucifer dengan tajam.
"Tidak. Aku tidak ingin membunuhnya," bisik Lucifer pelan sambil mengatur napasnya yang memburu. "Aku hanya sedang emosi tadi."
Alex mendelik tajam. Ia mengeluarkan pistol miliknya dan menodongkannya tepat di hadapan Lucifer. "Mundur!" Perintah Alex. Ia takut jika Lucifer menyerang Lumina seperti tadi, apalagi pria itu masih belum mengontrol emosinya.
Lucifer menghela napas pelan, ia mengangkat tangannya ke udara. "Lihat? Aku tidak membawa apa-apa. Lagipula gadis itu urusanku, bukan urusanmu!" Ujarnya dengan sedikit penekanan.
"Sebaiknya kau turunkan pistol itu sebelum situasi berbalik!" Itu bukanlah ancaman, namun akan berbeda jika Lucifer yang mengatakannya. Alex masih mempertahankan tangannya, sementara Lumina bergidik ngeri. "Baiklah. Baik, aku berjanji tidak akan menyerang kalian. Puas?"
Alex perlahan menurunkan senjata yang ia pegang, dan kembali memasukkan pistol itu ke saku jaketnya. Alex tahu betul, jika Lucifer bukanlah orang yang akan mengingkari janjinya. Itu terbukti dari dahulu. Termasuk saat Lucifer berjanji akan membunuh atau membalas dendam.
"Aku emosi, karena James sial*n itu mengatakan jika boss brengs*knya itu belum akan membayarku, sebelum aku menemukan dan membunuh keluar Cristhoper!" Marahnya. Pria itu berdecih, ia mengacak rambutnya kasar. "Sial*n!" Sambungnya mengumpat.
Alex yang mendengar hal itu langsung tersulut emosi, dirinya mengguncang tubuh Lucifer keras. "APA?! Kau gila? Hanya karena itu kau akan membunuh gadis kecil ini, hah?" Pria yang bernotabe dokter itu menepuk pipi Lucifer lumayan keras. "Sadar, bodoh!"
"Sekarang jelaskan, darimana kau tahu password apartementku, hah?" Tanyanya penuh penekanan. Lucifer bahkan menyilangkan tangannya di depan dada.
"Damian yang memberitahu."
"Sial*n!" Umpat Lucifer. "Kalau begitu kau bisa menjaga anak ini hingga besok? Aku harus melacak dan menghabisi orang yang sudah mengagalkan rencanaku," baru saja Lucifer berdiri, sebelah tangannya di genggam oleh tangan mungil yang sedikit gemetar.
Lucifer menoleh dan menatap Lumina datar. "Apa?"
"Tidak bisakah kau menunggu besok? Aku akan tidak akan meminta apapun lagi darimu."
Bukannya Lumina naif, hanya saja yang saat ini ia percayai hanyalah Lucifer. Walaupun pria itu yang sudah membunuh keluarganya, namun pria itu juga yang sudah mengobatinya. Meskipun beberapa menit lalu pria itu mencekiknya hingga ia hampir kehabisan napas.
Dan Lumina ragu untuk tinggal bersama pria yang berdiri di hadapannya, bahkan ia belum tahu siapa nama pria itu.
"Kalau kau mau ... ambilah uang rekening di tabungan punyaku," ujarnya pelan. Lucifer menengadahkan tangannya tanpa basa-basi, anggaplah ini bayaran sebagai nyawanya yang terselamatkan. "Ah, sebentar," Lumina merogoh sakunya, berharap dompet kecil itu tak terjatuh saat dirinya sedang melarikan diri.
__ADS_1
Beruntungnya, Lumina berhasil menemukan dan mengambil kartu ATM yang ada di dompet kecilnya. Ia menyerahkan kartu itu secara suka rela pada Lucifer. "Pin nya 071030."
Lucifer mengambil kartu itu dan langsung menyimpannya. "Baiklah. Tapi ingat, besok aku akan pergi dan mungkin pulang larut malam. Jadi, jangan coba-coba kau kabur!"
"Sekarang, apa urusanmu datang kesini dokter?" Atensi Lucifer teralih pada Alex. Ia menatap pria itu dengan tatapan curiga.
Alex mengeluarkan sebuah kotak hitam, lalu memberikannya pada Lucifer. Dirinya yang menerima itu langsung membukanya tanpa ragu. Sebuah pistol jenis terbaru dengan penyimpanan yang besar terpampang dihadapannya, membuat Lucifer menyeringai lebar.
"Dari Clora untukmu dan aku pergi dulu. Jika kau membunuh gadis itu karena emosi maka aku akan membunuhmu karena tidak sengaja memberimu racun," ujar Alex sebelum benar-benar pergi dari hadapan mereka berdua.
Kehingan menyapa keduanya untuk kesekian kalinya. Sepergi Alex, ruangan itu terasa lebih dingin dua kali lipat daripada tadi. Jujur saja, leher Lumina masih terasa sakit karena cekikan itu dan ia berani bertaruh jika lehernya lebam saat ini.
"Aku tidak sengaja mencekikmu," ujar Lucifer datar.
"Iya," balas Lumina pelan dengan tatapan yang mengarah pada perban di kakinya.
Lucifer memutar bola matanya malas. Hal yang tidak pernah ia tunjukkan selain pada Alex dan Damian.
"Daripada kau tidak berguna, lebih baik persiapkan dirimu untuk menerima pelajaran dariku," ujarnya sambil bangkit.
"Aku tidak ingin tinggal bersama orang bodoh yang merepotkan,
"Lalu, mulai besok bekerjalah untukku di deadlist,
"Tidak ada penolakan atau aku akan langsung membunuhmu!"
BRAK!
Pintu cokelat itu tertutup kasar meninggalkan Lumina yang sedang mematung di atas sofa. Pria itu masuk ke dalam ruangan yang ia yakini sebagai kamar.
"Aku tidak tahu apakah ini keputusan yang tepat atau tidak. Tapi, aku akan berusaha mempercayaimu walaupun itu terasa sulit."
...\=\=\=\=\=...
...-TBC-...
__ADS_1