
Saturday, 21:00 malam
Lucifer berdiri tak jauh dari villa keluarga Cristhoper. Matanya yang jeli mengamati setiap sisi bangunan, dan mengamati titik-titik tertentu. Sudut bibirnya terangkat, di wajahnya tergambar senyuman mengerikan yang siap menjalankan tugasnya.
Lucifer seperti mempunyai dua kepribadian dalam tubuhnya. Tenang dan dingin di siang hari. Gesit dan mengerikan di malam hari. Seperti nama julukannya, ia seperti iblis yang penuh dengan daya muslihat.
Ia senang, karena bangunan ini sangat jauh dari keramaian. Misinya semakin mudah. Apalagi posisinya di puncak pegunungan. Sempurna, batinnya.
Dirinya berjalan memasuki halaman villa itu dengan santai tanpa memperdulikan apapun. Di dengarnya suara keramaian dan tawa dari dalam villa tersebut.
"Keluarga yang harmonis," gumam Lucifer. Ia mengeluarkan desert eagle miliknya yang sudah terisi penuh dengan peluru.
"Halo uangku," ujarnya diiringi dengan senyum lebar yang mengerikan.
BRAK!
Lucifer menendang pintu penginapan itu sangat kuat. Sehingga pintunya terbuka—dan memperlihatkan ekspresi bingung dan panik keluarga yang menurutnya harmonis.
"Selamat datang di deadlist. Dan selamat menerima kiriman paket timah dari neraka!"
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Malam yang tadinya hening kini diwarnai dengan suara tembakan dan ringisan dari keluarga itu. Lima tembakan dilepaskannya ke arah keluarga yang tengah makan malam bersama. Tembakan pertama mengenai tepat ke wajah seorang wanita yang diketahui berumur empat puluh lima tahun.
Dan dipastikan wanita itu langsung tewas seketika.
Tembakan kedua juga tidak meleset. Timah panas dan ganas milik Lucifer mengenai jantung pria tua berumur lima puluh tahun. Tembakan ketiga pun berhasil mengenai mata seorang anak kecil berumur sembilan tahun.
Namun, tembakan ke empat dan ke limanya meleset. Hingga hanya mengenai kaki seorang pria dan wanita dengan wajah panik dan histeris mencoba melarikan diri.
Hell, siapa yang bisa melarikan diri dari seorang Lucifer?
__ADS_1
Lucifer menyeringai, ia membidik pria yang sedang berusaha melindungi sang wanitanya. Dapat dipastikan jika mereka itu adalah sepasang suami istri. Mereka berdua mencoba berlari ke lantai atas, yang langsung di bidik oleh Lucifer.
Dor!
"Sial*n!" Tembakan ke enam pun gagal. Padahal Lucifer yakin sudah membidik dengan akurat. Peluru itu meleset dan memecahkan sebuah jendela besar.
prang!
Dor!
Dor!
Lucifer yang geram langsung menembak habis pelurunya. Dan itu mengenai perut si pria. Ia menyeringai, tinggal satu orang lagi.
Dor!
Wanita itu pun tewas dengan tubuhnya yang menimpa si pria tadi. Sepasang suami-istri yang malang.
Suara langkah kaki berderap dari arah tangga membuat Lucifer mengalihkan atensinya. Seorang gadis dengan piyama merah muda terlihat berlari ke arah mayat sepasang suami istri tadi dengan bercucuran air mata.
Pria berbibir tebal itu menaikkan alisnya. Bukannya mereka tidak punya anak gadis?
"Ayah, Ibu. Bangun, hiks ..." gumam gadis itu sembari terisak.
"Argh!" Geram Lucifer. Ia kesal karena momen menyenangkan ini terganggu oleh telepon dari klien bodohnya itu.
"Ayah! Ibu! Kumohon, bangun!! Hiks, hiks, hiks ..."
Dirinya dengan cepat mengangkat panggilan telepon itu, dengan mata tajamnya yang masih mengawasi gadis kecil yang sedang bersimpuh dan menangis histeris di samping mayat suami-istri itu.
"Ada apa?!"
Lucifer mendengar penjelasan James yang tiba-tiba menelponnya. Dan betapa kesalnya Lucifer, setelah mengetahui bahwa—data dan lokasi yang ia tuju ternyata keliru. Dan keluarga ini, bukanlah kuarga Cristhoper si sial*n itu. Si James sial*n itu juga salah mengiriminya lokasi. Ah, benar-benar!
Lucifer menyumpah serapahi kliennya dalam hati. Rahangnya mengatup tegas, netra tajamnya semakin mengerikan.
"Sial*n! Aku sudah hampir membunuh semua anggota keluarganya. Jangan bercanda, James!"
Dirinya menghela napas kasar setelah mendengar jawaban dari James. "F*ck"
__ADS_1
...***...
Sementara itu di tempat lain, sepasang suami-istri sedang menggerek kopernya di lantai bandara. Stella menatap bingung pada Cristh yang menampilkan wajah tegang. Benaknya bertanya-tanya, ada apa dengan suaminya? Kenapa Cristh membatalkan acara liburan mereka ke villa dan malah mengajaknya berlibur di luar negeri? Apa ada suatu hal yang terjadi?
"Cristh, ada apa?" Stella menghentikan langkahnya. Ia memegang tangan suaminya lembut. "Kau seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu. Kau baik-baik saja, 'kan?"
Cristh menghela napasnya panjang. Sebenarnya ia tidak sedang baik-baik saja, bahkan saat ini jantung memompa kencang. Namun, ia tak mau memperlihatkan sisi lemahnya pada istrinya tercinta. Ia berbalik menatap istrinya. Senyum kecil muncul di bibirnya sehingga Stella pun otomatis ikut tersenyum.
"Tidak. Aku tidak-apa, kupikir liburan di luar negeri tidak ada salahnya juga. Sewaktu kita sekolah dulu, kau bilang kalau kita menikah mau liburan di Roma, 'kan?"
Cristh balik mengenggam tangan mungil itu. Akan ia lakukan segala hal agar istrinya bisa tetap aman dan terlindungi. Termasuk melarikan diri di luar ke luar negeri. Cristh bukanlah orang bodoh, dan orang-orang yang bekerja padanya juga bukanlah semacam kelas teri.
Pria itu tahu jika bahaya sedang mengincar dirinya dan keluarganya. Maka dari itu, ia mengubah rencananya. Stevan—orang yang bekerja sebagai tangan kanannya mengatakan jika sistem keamanannya sudah diterobos masuk oleh seseorang misterius. Padahal ia sudah merangkai koding keamanan itu dengan serumit mungkin.
'Siapa orang yang bisa melakukan itu semua?' Pikirnya.
Stella memiringkan kepalanya. Lagi-lagi suaminya melamun. Sekarang, ia semakin yakin jika sesuatu telah terjadi. Tadi sore juga Stella sudah sangat heran karena tiba-tiba Cristh membeli tiket pesawat untuk keluarganya dan keluarga pria itu. Tapi, apa yang terjadi sebenarnya.
Stella menangkup wajah suaminya, sehingga memutus lamunan Cristh. "Aku tahu pasti terjadi sesuatu. Dari dulu, kau tak bisa berbohong padaku. Dan aku selalu tahu kalau kau sedang berbohong. Katakan Cristh, apa yang sebenarnya sedang terjadi?"
Cristh terdiam. Bola matanya menembus bola mata Stella yang bening. Ia bisa melihat jika istrinya itu sangat mengkhawatirkannya. Cristh tahu susah sekali untuk berbohong pada Stella.
"Sesuatu telah terjadi Stell," ungkapnya frustasi. "Sistem keamanan kita di bobol masuk. Dan kita dijadikan target oleh orang itu. Semua akan mati, jika kita tidak pergi dari sini, Stell!"
"A-apa?" Stella tergagap.
"Iya, Stella. Aku harus melindungimu dan keluarga kita. Aku akan berusaha mencari tahu dengan Stevan, siapa yang telah membobol keamanan kita,"
Stella mengerjapkan matanya. Ia memeluk pinggang suaminya erat. Di usapnya punggung tegap itu lembut. "Jangan khawatir, aku ada disini. Kita akan memecahkan masalah ini bersama, karena kita adalah sepasang suami-istri. Jadi kita harus saling melindungi."
Air mata lolos dari pelupuk pria itu. Ia mendekap Stella erat. Cristh sangat beruntung karena mendapatkan Stella. Wanita yang selalu mengerti dirinya dan selalu membantunya dari permasalahan yang rumit.
"Terima kasih," bisiknya parau. Ia bisa merasakan Stella mengangguk di dadanya.
Sampai suara dari speaker meleraikan pelukan mereka. Stella tersenyum pada Cristh.
"Kita harus menjalani semua bersama."
"Iya."
__ADS_1
...\=\=\=\=\=...
...-TBC-...